
Hening ....
Litha tidak tahu harus berkata apa, Firza apalagi.
Kotak perhiasan sekarang ada di tangan Firza.
"Apa dihatimu sudah ada seseorang?"
Litha masih tidak bergeming. Matanya juga masih menatap lurus ke depan.
"Aku tidak bisa melarang Kakak menyukaiku, tapi aku juga tidak bisa menjawab kalau Kakak meminta jawaban."
"Kau menggantung perasaanku, Litha."
"Aku tidak berniat seperti itu, Kak. tapi rasanya aku egois kalau aku memikirkan diriku sendiri saat ini."
"Kau memintaku menunggumu?" tanya Firza.
"Kalau kau memintaku menunggumu aku akan menunggumu meski seribu tahun, Litha," sambungnya, namun di dalam hati saja.
Firza menolehkan kepalanya ke arah Litha, mencari jawaban disana kalau-kalau Litha diam saja.
"Aku juga tidak bisa melarang Kakak, kalau mau menungguku, aku tidak bisa memastikan apapun saat ini."
"Baik. Tapi tolong jawab satu pertanyaanku, Lith ... agar aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Litha kali ini menoleh ke arah Firza, pandangan mereka bertemu. Ada segaris senyum samar di wajah cantik Litha.
"Apa kau memiliki perasaan yang sama denganku meski hanya sedikit?"
Litha tidak menjawab, ia hanya menaikkan garis senyumnya makin ke atas. Itu cukup merupakan jawaban bagi Firza. Setidaknya ia masih punya harapan untuk mengejar gadis pujaannya.
Kotak hitam kecil berisi kalung yang tadi diberikan ke Litha disimpannya lagi ke dalam saku dalam jasnya. Mungkin tidak sekarang ia memakaikan ke leher Litha, tapi ia yakin, suatu saat kalung tersebut akan menjadi milik seseorang yang namanya sudah terpasang disana.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Disinilah akhirnya Litha mengajak Firza untuk mengetahui alasan bahwa ia belum bisa menerima pernyataan cintanya. Sebuah gedung asri bercat putih, nampak sepi namun ramai di dalamnya.
"Rumah Sakit Jiwa Dharma Yasa?" tanya Firza kaget dan bingung.
__ADS_1
Litha hanya diam, ia keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung berlantai dua itu tanpa menjawab rasa penasaran Firza.
"Selamat sore, Suster," sapa Litha ramah pada suster di bagian resepsionis.
"Selamat sore juga Nona Litha, sepertinya hari ini bukan jadwal menjengukmu?"
"Hehehe... iya, tapi tidak apa-apa kan, kalau saya ingin menjenguknya sekarang?"
"Tidak apa-apa. Ingin bertemu dr. Siska juga?"
"Tidak, Sus. Saya ingin melihatnya saja."
"Baiklah, Nona Litha. Silahkan."
Suster itu mempersilakan Litha, Pertanyaan Firza belum terjawab meski ia mengamati pembicaraan mereka berdua.
Gadis itu berjalan dengan santai ke tujuannya, nampak ia sudah sangat akrab dengan situasi di gedung ini. Tapi kenapa? Siapa? Firza masih bertanya-tanya.
Litha memasuki sebuah ruangan, bertemu sebentar dengan suster jaga di situ, berbincang sejenak kemudian ia masuk ke dalam kamar 05.
Firza tercengang melihat pemandangan di hadapannya, seorang gadis yang sebenarnya cantik terlihat duduk dengan lutut ditekuk di atas dipan. Rambutnya lurus panjang namun berantakan dan tatapannya kosong.
Begitu gadis itu melihat Litha di ambang pintu, ia menyeru,
"Litha!!!"
Gadis itu menghambur, memeluk dan berceloteh tanpa henti pada Litha.
"Litha, Ayah kemaren datang. Ayah bilang dia ingin bertemu denganmu tapi kau sangat sibuk sekali. Kau ikut lomba apa saja? Pasti juara kan? Kakak bangga padamu, Litha. Oh, ya, Apa kau sudah makan? Disini --"
"Kakak ... Tenanglah, oke ... " ujar Litha menenangkannya.
"Litha sudah bertemu dengan Ayah, tapi Ayah pergi lagi karena Ayah juga sibuk," sambung Litha lagi.
"Ayah ... Ayah pergi lagi? Kemana? Apa perginya lama?"
"Tidak, sebentar saja, Kak Tisha tenang ya, nanti Kakak diantar sama dr. Siska bertemu Ayah lagi."
"Hehehehehehe .... "
__ADS_1
Gadis itu tertawa dengan menautkan kedua jari telunjuknya, seperti anak kecil yang senang mendengar ayahnya akan pulang.
Ekspresi Litha biasa saja, bahkan nampak sangat tenang. Ia tersenyum meladeni dengan sabar gadis itu bicara yang tidak masuk akal karena Firza tahu ayah Litha telah meninggal.
Kini, Litha dan Firza duduk di bangku yang ada di taman Rumah Sakit itu. Memandang langit sore yang berarak menuju ke barat.
"Tidak ada yang pernah kuajak langsung kesini, Kak. Cerita pun hanya Ninda dan Nenek yang tahu."
"Siapa dia, Lith?"
"Kakak perempuanku. Kak Tisha, saudara kami yang paling cantik diantara kami bertiga, dia juga sangat pintar, dia masuk Fakultas Kedokteran universitas negeri di ibukota tanpa tes. Dia juga sangat baik dan sangat dekat denganku.
Kami sekeluarga sangat bangga dengannya, calon dokter di keluarga kami. Namun, ternyata takdir berkata lain. Suatu malam sehabis praktek di kampusnya, dalam perjalanan pulang ke kostnya, Kak Tisha ternyata diikuti mantan pacarnya, terjadi pertengkaran karena sang mantan tidak terima diputus Kak Tisha. Dia memperkosa Kak Tisha."
Sampai disini, suara Litha berubah. Ada sesak di hatinya yang serasa membuncah keluar. Ia melanjutkan kembali ceritanya.
"Apa yang dialami Kak Tisha membuatnya sangat depresi, merasa tidak berharga dan jijik dengan dirinya sendiri. Orangtua kami yang mengetahuinya di Kota A sangat terpukul sampai Ayah pergi ke ibukota mencari lelaki yang memperkosa Kak Tisha dan melaporkan ke kepolisian setempat. Aku yang waktu itu kelas 3 SMA melihat Ibu tiap hari menangis."
Litha menarik nafasnya dalam-dalam, pandangannya semakin menerawang ke langit yang semakin sore, mencegah kaca-kaca di matanya pecah.
"Ayah bilang saat itu akan membawa Kak Tisha ke psikiater untuk memeriksa kejiwaannya, dr. Siska yang menanganinya mengatakan dia harus dirawat intensif disini. Ayah menurutinya demi kesembuhan Kak Tisha. Tabungan, rumah, toko, mobil sudah habis terjual untuk membiayai perawatan Kak Tisha dan laporan di kantor polisi.
Sebulan lebih Ayah berjuang mencari keadilan sambil merawat Kak Tisha hingga akhirnya Ayah menjadi korban tabrak lari, tidak lama kasus pemerkosaan Kak Tisha ditutup polisi karena kurangnya bukti begitu juga peristiwa tabrak lari Ayah tidak bisa terusut karena kami tidak melaporkannya. Kami saat itu kaget, sedih, dan bingung sekali.
Kak Tisha yang awalnya depresi namun masih waras, setelah tahu Ayah meninggal, kejiwaannya makin terguncang, kata dr. Siska rasa bersalahnya pada Ayah yang membuatnya seperti ini.
Terapi dari dr. Siska yang membuka alam bawah sadarnya adalah untuk mengantarnya bertemu dengan Ayah karena ingatannya stuck pada saat Kak Tisha baru lulus SMA. Dimana Ayah dengan bangganya memasang iklan ucapan selamat di koran lokal untuk anaknya yang diterima di Fakultas Kedokteran universitas negeri favorit di Ibukota. Ingatan yang paling membahagiakan bagi Kak Tisha. Huhuhuhuhu...."
Pada akhirnya, Litha sudah tidak dapat menahan emosinya. Ia menangis tersedu. Memorinya tentang Tisha merenggut kedamaian hatinya, merampas kepercayaan dirinya dan menggerus rasa optimisnya.
"Huhuhuhuhuhu .... Kak Tisha baru akan bisa sembuh jika ia bisa menerima kepergian Ayah yang tanpa pamit huhuhuhuhu ......"
Firza memeluk Litha di bawah langit sore yang berpijar oranye, memberikan sandaran pada Litha agar ia tidak rebah. Dia dapat memahami bagaimana seorang gadis muda yang seharusnya bermimpi untuk impiannya. Namun, ia turunkan mimpi itu demi sebuah yang namanya keluarga.
Keluarga? Apa itu Keluarga bagi Firza? Ia yang dilahirkan tanpa mengenal ayah dan ibunya, hanya mengenal Nyonya Besar dan Rayyendra sebagai keluarganya.
Apa suatu saat dia bisa seperti Litha menempatkan keluarga di atas dirinya sendiri?
- Bersambung -
__ADS_1