Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pesta Ulang Tahun (Part 4)


__ADS_3

"Apa maumu sebenarnya? Kau ingin aku yang menolaknya di depan Nenek hah. Kau cerdik juga rupanya tapi tidak cukup cerdik untuk mengelabuiku."


Rayyendra tersenyum licik mengetahui niat Litha.


"Nona Litha, maukah kau berdansa denganku?" Rayyendra mengulurkan satu tangannya ke Litha untuk mengajaknya berdansa.


"Tidak begini konsepnya Tuan Muda! Kau harus menolaknya, ayo katakan pada Nenek kau akan berdansa dengan kekasihmu saja!"


pekik Litha dalam hati, tubuhnya tidak bereaksi hanya matanya saja yang melotot ke arah Ray sampai-sampai mau keluar.


"Huahahahahahahahaha......."


Seketika tawa Ray pecah, terdengar ke seluruh ruangan. Mata-mata yang sudah sedari tadi memperhatikan makin keheranan melihat Tuan Muda Pradipta tergelak dengan keras, tidak ada sejarah yang menyebutkan CEO yang dingin itu bisa tertawa nyaring seperti saat ini.


"Kenapa Nona? Kali ini kau yang ingin menyerah hah?!?" Ray mengucapkannya penuh penekanan dengan kepala yang condongkannya ke samping wajah Litha.


Pemandangan yang terlihat di mata orang lain, Tuan Muda sedang menggoda seorang gadis membuat Ramona naik pitam, ia tidak tahan, ia harus mengambil sikap, bukankah dia yang dikenal sebagai kekasih Tuan Muda, dan pemandangan ini telah mencoreng harga diri Ramona. Ia melangkahkan kaki menuju meja VVIP.


"Tidak pernah ada kata menyerah sebelum aku berjuang Tuan Muda ...." Litha menyambut tangan Ray.


Ssssssss......


Kontak fisik pertama antara Rayyendra dan Litha. Tangan yang saling bersentuhan mengalirkan rasa yang tidak biasa, entah siapa pemilik rasa di antara mereka.


"Lakukan yang terbaik, jangan sampai Iskhak kupecat karenamu!" bisik Nyonya Besar mengintimidasi Litha sebelum berjalan maju ke tengah arena,


Litha yang diperingatkan seperti itu berubah pias, ya, ada Pak Is yang dijadikan taruhan Nyonya Besar, nasib seorang manusia yang tidak lagi muda.


"Kau berubah pikiran?" Rayyendra menyadari perubahan wajah Litha.


"Tidak Tuan, wajahku memang seperti ini, suka berubah dengan sendirinya," sahut Litha cuek. Ray merasa gadis yang diajaknya berdansa ini adalah gadis tidak waras.


Langkah Ramona yang hendak mendekat ke meja VVIP terhenti demi melihat pria yang dicintainya menggandeng tangan gadis pencuri gaunnya ke tengah arena lantai dansa. Bola matanya seakan mau meloncat dan serasa kepalanya mau meletus berteriak 'Pencuriii!!!'


Nada musik pengantar dansa dimulai dari awal lagi. Litha kini berhadapan dengan orang yang paling ia hindari di dunia, tapi sekarang telapak kanan dari orang tersebut menyentuh belikat kirinya, bagian tubuh yang baginya termasuk intim. Terlebih pandangan mata Rayyendra melekat di tulang selangkanya, kerah sabrina dari gaunnya membuat leher dan bahu Litha menjadi bagian yang paling menarik.


"Mengapa kau diam saja? Tahu cara berdansa tidak?"


"Aku tahu."


Kini giliran Litha yang meletakkan tangan kirinya di bahu kanan Rayyendra. Ia gugup, jika kemarin ia belajar dansa dengan Pak Is tidak ada kegugupan sama sekali, mungkin saja karena saat ini ia pasti menjadi pusat perhatian karena menjadi pasangan dansa presdir.


Mengingat Pak Is, ia terkesiap, ia tidak mau menjadi penyebab Pak Is kehilangan pekerjaan. Ia perlahan bisa mengikuti ritme langkah kaki Rayyendra ke depan, ke samping lalu kebelakang dengan luwes.


Litha menari dengan rileks, walaupun baru pertama kali secara resmi ia berdansa, namun ia seperti sering melakukannya, tidak ada salah injakan kaki ke pasangan dansanya seperti waktu berlatih dengan Pak Is.


Rok gaunnya gemulai mengikuti irama langkah kaki Litha, dengan warna lembut menjatuhkan betis Litha yang mulus dan berkulit terang berkilau diterpa cahaya lampu. Meski hanya terlihat sedikit, justru menimbulkan rasa ingin melihat.


"Aku salut padamu," ucap Ray menyindir.

__ADS_1


"Terima kasih."


Ray mendengus, "*Ti*dak tahu diri'," bathinnya.


"Katakan padaku bagaimana kau bisa mengambil hati nenek?"


"Tidak ada."


"Apa yang kau inginkan dari nenekku? jangan pernah berpikir dia mau mengangkatmu menjadi cucu perempuannya."


"Sayangnya, nenek sudah pernah memintaku untuk memakai nama Pradipta di belakang namaku."


Deg..........


Gerakan Rayyendra berhenti, ia sempat menduga keinginan neneknya seperti itu tapi ia juga tidak menyangka neneknya akan melakukannya. Sudah cukup ia berbagi kasih sayang neneknya dengan Firza, kini ia sangat menentang keras jika harus berbagi lagi dengan gadis di depannya.


Tanpa aba-aba, pinggang Litha ditarik mendekat kearahnya, kini tubuh mereka bersentuhan walaupun tidak secara langsung di kulit. Wajah Litha dan Rayyendra hanya berjarak beberapa centimeter, bahkan nafas mereka satu sama lain bisa merasakan hembusannya. Litha salah tingkah, untuk pertama kali dalam hidupnya ia berinteraksi begitu dekat seperti ini dengan seorang pria


Glek.......


"Ya Tuhan.... keindahan ciptaanMu sungguh terlihat nyata, bisa-bisanya dari jarak sedekat ini aku mengagumi wajahmu, sial!" gumam Litha dalam hatinya.


"Lalu apa kau menerimanya?" Mata Rayyendra menusuk dalam manik Litha meminta penjelasan lebih.


"Menurutmu?" Litha balik bertanya, lalu ia melepaskan diri dekapan Rayyendra dan membuat gerakan memutar dengan tangan satu tangan diatas.


"Wowww.... gerakan dansanya indah sekali, sangat serasi dengan gaunnya." Bona terpesona melihat gerakan memutar Litha.


"Siapa tadi yang kamu bilang Yan? Miss Responbility? jadi gadis ini yang kau maksud waktu Ray marah-marah di klub?" kaget Bona, Abyan hanya menjawab dengan matanya.


Nyonya Besar yang melihat pertunjukan yang telah ia atur tersenyum, ia sangat puas malam ini, dan tentunya ia tidak jadi memecat Pak Is, walaupun tadi hanya ancaman kosong.


"Nyonya, anda sangat peka sekali melihat berlian yang tertutupi lumpur," ujar Pak Sas di samping Nyonya Besar dengan mata yang tetap melihat ke pusat arena dansa.


"Instingku selalu tepat kan, Sas. Jadi kuharap kau dan Iskhak mendukung instingku yang terakhir, karena dia tidak bisa bertahan tanpa kalian," sahut Nyonya Besar.


"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya."


Aura penuh kekaguman pada Litha, gadis misterius yang dihadirkan Nyonya Besar malam ini justru membuat Ramona merasa sangat terhina, apalagi ketika ia melihat Rayyendra menarik pinggang Litha ke arahnya makin membakar api cemburu.


"Mona, kau harus melakukan sesuatu. Kau lihat Tuan Muda sudah begitu intim dengannya padahal jelas-jelas di pesta ini ada kau. Status kekasih yang kau bangga-banggakan tidak ada gunanya sama sekali malam ini. Ayah pun mendapat ejekan memalukan dari yang lainnya."


Sebastian menarik rambut kepala bagian dalam hingga kepala Ramona menegang, ia mengancam putri kandungnya sendiri.


🍀 flashback on 🍀


Sebastian menghisap dalam rokoknya, ia sangat gusar dengan apa yang baru saja ia dapati di dalam ballrom. Putrinya sungguh tidak berguna, padahal ia sudah menyusun rencana sejak mendengar berita Tuan Muda akan melanjutkan pendidikannya di Amerika sepuluh tahun yang lalu. Sebastian sengaja membujuk anaknya untuk juga bersekolah disana dan merebut hati calon presdir Pradipta Corp.


Meski lama, rencananya membuahkan hasil, setahun lalu Ramona menjadi kekasih Tuan Muda yang telah resmi menjadi presdir. Namun belakangan baru ia sadari bahwa ia telah kecolongan, ia lupa masih ada Nyonya Besar yang walaupun sudah tidak lagi menjabat presdir namun justru dialah adalah penentu segalanya di hidup Tuan Muda. Dengan segala cara ia mencari muka di depan Nyonya Besar, sayangnya usahanya tidak didukung putrinya sendiri yang terlanjur tergila-gila pada sosok Tuan Muda, dia tidak peduli dengan apapun, dia hanya peduli Tuan Muda saja.

__ADS_1


"Tuan Sebastian, masuklah, pesta dansa akan segera dimulai," ujar salah satu koleganya menepuk pundaknya.


"Ya," jawabnya seraya mematikan rokoknya dan segera masuk.


Terkejutnya bukan kepalang Sebastian melihat Tuan Muda menggandeng gadis itu ke tengah arena dansa. Nafasnya serasa berhenti di tenggorokan, matanya langsung memburu Ramona.


"Apa yang anak itu lakukan? Dimana dia?" geram Sebastian.


"Hei Tuan Sebastian! Tuan Muda berdansa dengan siapa? Biasanya dengan Nyonya Besar, kan?" tanya koleganya yang menyuruhnya masuk tadi.


Sebastian hanya diam.


"Wahhh... kalau begini Ramona punya saingan, dan kurasa kau harus berhati-hati, gadis itu nampaknya punya tempat di hati Nyonya Besar," celotehnya lagi.


Sebastian tidak bisa berkata apapun. Hatinya panas, matanya terus mencari Ramona.


"Wohooooo!!! Kau lihat itu Sebastian! Tuan Muda menarik gadis itu dalam dekapannya. Lihat! Lihat mereka ... sungguh intim sekali, bahkan aku belum pernah melihat Tuan Muda seintim itu dengan Ramona ckckckck ..."


Dengan hati yang sudah panas kini makin mendidih mendengar ejekan koleganya barusan. Tapi apa yang dikatakannya memang benar, Tuan Muda terlihat intim dengan gadis itu, saling berbicara dengan jarak yang sangat dekat, mereka berdansa dengan indah, melakukan kontak fisik dengan anggun.


"Aaaaarrrghhhhhhh ... " Sebastian menginjak kaki koleganya dengan keras melampiaskan amarahnya. Dilihatnya Ramona juga tidak jauh berbeda dengannya, hanya bisa menahan amarah di dada.


"Hei Sebastian!!! kau sudah gila ya menginjak kaki orang sembarangan..." pekik koleganya dengan menyebut namanya langsung sambil mengangkat kaki dan meringis kesakitan.


🍀 flashback off 🍀


Hati Ramona hancur, di depan matanya gaun dan kelasihnya diambil paksa, ditambah ayahnya yang gila dengan ambisinya sendiri. Ia merasa dirinya sangat menyedihkan malam ini, padahal sebelum berangkat ke pesta, ia sudah mencari sekuat tenaga gaun pengganti dan mengira ia akan menjadi bintang karena statusnya adalah kekasih presdir Pradipta Corp. Tapi itu semua musnah menjadi abu, tanpa sisa.


Rahangnya mengeras, kemarahannya memuncak. Dilangkahkan kakinya menuju toilet, ia ingin mendinginkan hati dan meredakan sakit jambakan dari ayahnya sendiri.


Dari meja VVIP, Nyonya Besar memperhatikan Sebastian dan Ramona.


"Sas, tetap awasi dia!" perintah Nyonya Besar, matanya mengikuti Ramona.


"Baik, Nyonya."


Tidak lama berselang alunan musik berhenti. Para pasangan dansa undur diri memberikan tempat bagi hadirin lainnya yang ingin berdansa. Termasuk Ray dan Litha yang membungkukkan badannya hormat, menyudahi dansanya.


Tepuk tangan meriah membahana hingga terdengar sampai ke toilet wanita. Ramona yang berada di dalamnya membereskan penampilannya, ia ingin segera keluar dari toilet dan berbuat sesuatu untuk membalikkan keadaan.


Namun, pintu toilet terbuka, seorang gadis dengan gaun peach masuk, Ramona terkejut, tapi gadis itu lebih terkejut lagi mendapati Ramona di dalam.


"Kau!"


Ramona menatapnya marah, melihat dari atas ke bawah, mencari kelebihan yang ada padanya jika dibandingkan dengan dirinya.


Litha canggung, tidak tahu mau bicara apa.


"Kau ... pencuri gaunku ...."

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2