
Ninda menunggu di area parkir, Bona akan menjemputnya untuk makan siang bersama keluarga Santoso di sebuah restoran. Tadi malam sepulang dari apartemen Ray dan Litha, Tante Rista langsung memintanya untuk makan siang bersama ketika Bona mengatakan saat itu ia sedang bersama Ninda.
"Ini pertama kalinya aku akan menemui keluargamu sejak sandiwara kita berakhir. Aku merasa canggung, lebih tepatnya tidak enak karena kemarin aku membohongi mereka, tapi mereka masih sudi menemuiku. Kalau saja itu orangtuaku, kau tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rumahku, bahkan di pagar rumahku," kata Ninda saat Bona melajukan mobilnya.
"Untungnya mami papiku tidak seperti orangtuamu yang menyeramkan. Mereka sangat menyukaimu sama sepertiku."
"Heh! Kau menyukaiku? Ku luruskan, bukan menyukaiku tapi kau penasaran denganku, mengapa kedua orangtuamu bahkan adik kembarmu sangat menyukaiku. Aku juga tidak tahu kenapa aku mau saja menurutimu, hhhhhhhh .... " ucap Ninda sembari memijat dahinya dari tangan yang bertumpu di pintu mobil.
"Hahahaha ... itu artinya justru kau yang menyukaiku," pungkas Bona tergelak.
"Cih! Sejak kapan aku menyukaimu? Aku menurutimu karena keluargamu yang hangat menyambutku, jauh berbeda dengan kau yang tidak jelas."
"Tidak jelas bagaimana?"
"Ya tidak jelas, katamu sudah tidak ingin berhubungan dengan Airin tapi masih saja berkomunikasi dengannya. Untung saja sekarang dia tidak tahu kalau kau masih berhubungan denganku, kalau tidak habis sudah aku diterornya."
"Tenang saja, dia tidak akan menerormu."
"Yakin sekali. Ah, sudahlah, aku tidak mau membicarakannya lagi," ujar Ninda malas.
Bona melirik sekilas, bahasa tubuh Ninda dan suaranya menyiratkan bahwa ia serius dengan apa yang dikatakannya, tidak ingin mebahasnya. Ia tahu benar luka bathin Ninda yang terbentuk sejak SMA, luka bathin yang tidak diketahui siapapun kecuali sepupunya, Evan, dan dia tentunya karena diberitahu Evan.
"Ya sudah, dia akan menjadi salah satu Voldemort, yang namanya tidak boleh disebut di depanmu, seperti Mona, hahahaha ... "
Ninda tertawa karena ia mengingat perang dingin antara Ray dan Litha tadi malam. Bona lega mood Ninda sudah kembali, ia tidak mau dimarahi maminya karena membawa Ninda dalam keadaan mood yang berantakan.
"Aku tidak menyangka Ray jadi anggota ISTI, hahahahaha ....... "
"ISTI?"
"Ikatan Suami-suami Takut Istri, hahahahahaha .... Baru kali ini kulihat mukanya bingung tidak berdaya dan takut-takut. Rayyendra yang cool, arogan dan ditakuti orang tinggal sejarah kalau berhadapan dengan Litha. Kuakui sahabatmu itu hebat sekali selain bisa mengambil hati Nyonya Besar sampai cucu kesayangannya dijodohkan dengannya, dia juga bisa membuat Tuan Muda Pradipta bertekuk lutut. Ck,ck,ck ... "
Istilah ISTI yang baru didengar Ninda membuatnya terbahak-bahak sampai menggoyang-goyangkan lengan Bona yang memegang setir.
"Dia memang hebat, sampai sepupuku juga masih menunggu jandanya hahahahaha.... "
Giliran Bona yang terbahak, "Aku tidak bisa membayangkan jika Ray bertemu dengan Evan dan berteriak seperti kemarin, Lithaaa..... kutunggu jandamu, hahahahahahaha ...... "
Bona dan Ninda tertawa, menjadikan Ray dan Litha bahan cerita yang tidak ada habisnya hingga tidak terasa mereka sudah sampai di restoran yang dituju. Mata Ninda membulat tak percaya membaca tulisan Grey Savanna Restaurant.
__ADS_1
Hatinya seketika bergemuruh tidak karuan, karena mengundang seseorang untuk makan di tempat prestisius seperti ini menandakan ia adalah seseorang yang spesial. Ninda sangat ingat sewaktu Litha cerita ia diajak makan oleh mendiang Nyonya Besar disini, rupanya jauh sebelum wasiat itu ada, Litha sudah memiliki tempat spesial di hati Nyonya Besar. Apa itu artinya ia juga memiliki tempat spesial bagi Keluarga Santoso?
...----------...
"Sayaaaaannnggg .... " seru Litha setengah berlari dari ruang keluarga melihat Ray masuk dari pintu utama.
"Jangan lari!" teriak Ray membelalakkan matanya.
Langkah Litha berhenti dan tertawa ringan. Direntangkan kedua tangannya menyambut suaminya, "Kalau begitu kau saja yang berlari, aku sudah rindu."
Mendengarnya Ray langsung berlari dan menangkap Litha yang berdiri. Diangkatnya sedikit tubuh istrinya hingga kening mereka bertaut.
"Kau sudah merindukanku ya?" tanya Ray
"Sangat."
Litha mengecup cepat bibir Ray dan turun dari gendongan Ray, ia melirik Abyan kemudian tertawa, "Maafkan kami Asisten Yan yang mengusik kesendirianmu."
Ray tergelak keras mendengarnya melihat Abyan yang langsung melengos pergi meninggalkan mereka berdua. Pak Is dan seluruh pelayan di rumah utama terutama para pelayan yang sudah lama bekerja sejak Ray masih kecil bahagia mendengar tawa Ray yang membahana. Ray yang lahir tanpa pernah melihat ibunya menyisakan sebagian tawanya untuk ayahnya dan begitu ayahnya dan kakeknya hilang dalam kecelakaan pesawat terbang, hampir semua tawanya juga ikut menghilang. Hanya sedikit ia sisakan untuk neneknya dan tawa itu benar-benar menghilang ketika Firza diangkat sebagai kakaknya. Namun, kini seluruh tawanya yang hilang dibawa kembali utuh oleh seorang perempuan yang menjadi istrinya. Seandainya saja Nyonya Besar masih hidup dan melihatnya ... pasti ia sangat bahagia.
"Duduklah, Asisten Yan. Kita makan bersama," ajak Litha melihat Abyan berdiri saja.
"Tidak apa-apa, anakku yang menginginkan pamannya untuk duduk bersama. Ayo!"
Litha terus menyuruhnya dan Ray juga tidak menolaknya, tidak ada alasan untuk tidak duduk. Baru akan makan, suara langkah terdengar. Semua menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Firza!" pekik Litha berdiri. Ray cepat-cepat menggenggam tangan istrinya agar tidak berlebihan menyambut kakak angkatnya. Litha duduk kembali.
"Maaf, apa aku mengganggu kalian makan siang? Tidak kan? Tadi aku ke ruanganmu dan Sasha bilang kau makan siang di Rumah Utama. Aku belum menyapa kalian berdua sejak kalian kembali ke Ibukota," sahut Firza yang langsung mengambil tempat di samping Abyan, berhadapan dengan Litha.
Ray diam saja tapi wajahnya menunjukkan tidak suka. Firza tertawa melihatnya, "Ayolah adikku, biarkan aku makan bersama dengan kalian. Abyan saja bisa duduk semeja dengan kalian disini, masa aku tidak boleh?"
Abyan tak enak hati mendengarnya, Litha paham situasi ini tak nyaman bagi Abyan, ia lalu berkata, "Tidak apa-apa, anakku pasti senang sekali ia makan siang ditemani ayah dan paman-pamannya."
Setelah mereka selesai makan siang, mereka duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Abyan menyerahkan satu bundel map berisi file penawaran kepada AutoTech Inc. pada Litha sesuai permintaannya kemarin.
"Aku pernah menawarkan agar berdiskusi denganku saja karena Ray masih di Kota A, tapi utusan dari AutoTech Inc. menolaknya ia ingin bertemu langsung dengan Presdir Pradipta Corp. juga istrinya," kata Firza.
"Oh ya, ada yang ingin kuberikan padamu, Lith, dan kurasa harus di depan suamimu karena butuh izinnya untuk kau terima agar tidak ada salah paham," sambungnya yang membuat Ray menoleh dan menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
Firza menyerahkan sebuah kotak persegi berlapiskan berwarna merah. Litha masih mengenal kotak itu. Hatinya gamang, mengingat bagaimana reaksi suaminya nanti jika melihat isinya, karena Ray langsung menyambar kotak itu dan membukanya. Sebuah kalung indah dengan huruf yang menyusun nama istrinya bertabur berlian.
"Aku rela menyerahkan Litha padamu, Ray. Jadi, tidak ada gunanya aku menyimpan ini. Awalnya kuharap suatu hari nanti aku bisa memberikannya pada Litha tanpa ditolak lagi, tapi sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Cih. Apa maksudmu?"
Ray menutup kotak itu dengan kasar dan melemparkannya ke meja. Litha mengerti amarah suaminya yang mulai tersulut, digenggamnya tangan Ray dengan jemarinya dan diusap-usapkannya dengan ibu jarinya di punggung tangan Ray, memberi ketenangan.
Firza tergelak pelan, "Ray, kau bayangkan saja kalau aku menyimpannya untuk apa? Itu menandakan aku masih menyimpan rasa untuk istrimu. Apa itu yang kau inginkan? Kalaupun memberikan pada wanita lain juga mana bisa kecuali wanita itu memiliki nama yang sama dengan istrimu. Come on, Ray, jangan bersikap bocah. Anggaplah ini hadiah terakhir buat Litha, karena aku memesannya memang untuknya. Terserah mau diapakan, tapi mohon diterima saja dulu."
Litha sudah mau menerimanya karena kalung itu tidak berarti apapun, tidak seperti saat pertama kali Firza hendak memberikannya. Tapi ia tetap harus menghargai keputusan suaminya, misalkan Ray tidak bersedia menerima ia akan meminta maaf pada Firza.
Sementara itu hati Ray bergemuruh bagai ombak yang memecah karang. Egonya berkecamuk, sejujurnya ia tak sudi mengizinkan Litha menerimanya, tapi ia sangat respect dengan sikap Firza yang menghargai dirinya sebagai suami dari wanita yang ia cintai, ia bahkan meminta izinnya sebelum memberikan kalung itu pada Litha, padahal bisa saja ia melakukannya dibelakang tanpa sepengetahuan dirinya. Ray ingin segera menghilangkan gemuruh di dadanya kini, menepiskan rasa was-was jika Litha berada di sekitar Firza, karena cinta yang dimiliki Firza untuk istrinya. Bukankah Firza adalah bagian dari keluarganya yang akan terus berada disekitarnya dan Litha, ia tidak ingin terbelenggu dengan rasa cemburu pada kakaknya sendiri.
"Mas ... " Litha menyenggol siku suaminya yang diam sedari tadi.
"Hmmmmm .... Sebenarnya aku berat menerimanya, Za. Aku tidak rela istriku memiliki barang yang diberikan dari laki-laki selain suaminya sendiri. Tapi-- "
Kalimat Ray menggantung, jantung Litha yang berdegup kencang mendengarnya, berkali-kali diusap perutnya karena bayinya juga menendang-nendang. Abyan memutar-mutar bola matanya, bosan.
"Tapi-- kali ini pengecualian, aku mengizinkan istriku menerimanya dengan syarat Litha tidak boleh memakainya."
Litha menghela nafasnya dan Abyan menghentikan putaran bola matanya. Sedangkan Firza tersenyum, baginya tidak masalah, bahkan jika langsung dibuang ke tempat sampah, karena tujuan ia memesan kalung itu di London adalah untuk sampai pada si pemilik nama di kalung tersebut. Ketika kotak perhiasan itu sudah di tangan Litha, Ray ingat akan kalung dengan liontin berlian yang hendak ia berikan pada Litha.
"Ray, terima kasih sudah mau mengizinkan Litha untuk menerimanya dan juga makan siangnya. Aku tadi mau bertemu denganmu di kantor hanya untuk menyerahkannya," sahut Firza.
Firza segera meninggalkan ruangan itu, hatinya menahan gemuruh di dada, bagian ini adalah bagian yang paling menyakitkan dalam mencintai seorang Litha. Ia harus benar-benar melepaskan cinta pertamanya dan meyakinkan dirinya untuk terakhir kali bahwa Litha tidak berada pada garis takdirnya.
Firza menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan menunduk di setir mobilnya. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi, ia ingin melepaskan gemuruh di dadanya meski terasa sakit. Matanya memerah dan pada akhirnya basah, Firza melepaskan ikatan Litha di hatinya dengan airmata.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai Kakak-Kakak Readers, terima kasih masih mengikuti kisah romansa RayLitha sampai episode ini. Memang beberapa episode belakangan ini berasa datar dan bosan karena hanya mengisahkan cerita cinta pemeran utama. Author ingin membangun suasana sebelum alurnya menanjak.
Jadi tetap masukkan di list favorit ya biar up-nya kelihatan.
Untuk like, vote, komentar dan koinnya, terimakasih 🙏 Author selalu menantikannya sebagai mood booster tak ternilai.
__ADS_1
Jangan lupa juga tinggalkan jejak biar kelihatan karya ini punya pembaca dan wajib komentar yaaa meski hanya lanjut, up atau apalah 😘😘😘😘