Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Tidak Jadi Menyesal


__ADS_3

# Rumah Utama Keluarga Pradipta #


Litha sangat antusias memasuki kediaman Keluarga Pradipta, disini lebih lapang dan lebih ramai ketimbang apartemen suaminya, meski apartemen di lantai 52 sudah tergolong sangat mewah untuk kelas apartemen. Ray yang melihat istrinya senang ia juga merasa senang.


"Mau kemana?" tanya Ray melihat Litha menuju ke arah tangga.


"Ke kamar."


"Kamar kita sudah aku pindahkan ke lantai bawah, kamar bekas mendiang Nenek agar kau tidak turun naik tangga. Tidak keberatan kan?"


"Kamar Nenek? Apa ini tidak berlebihan kita memakai kamar Nenek? Kita bisa memakai salah satu kamar tamu." Litha merasa tidak enak hati, ia merasa dirinya tamak menginginkan lebih padahal sudah banyak yang ia dapat.


"Tentu tidak. Apa kau ingin membuat kamar Nenek kosong selamanya? Aku tidak mau ada kamar hantu di rumah ini. Ayo lihat dulu, Pak Is sudah bersusah payah merenovasi ulang sesuai selera dan kebutuhanmu, bahkan bau cat yang tidak kau sukai bisa dihilangkan, entah bagaimana caranya."


Ray melirik Pak Is yang sudah tidak bertenaga, hampir 3 X 24 jam dia menahan mata, meskipun terlelap tidak lebih dari 3 jam, semua demi Nyonya Mudanya dan semoga berkenan hasil kerja keras Pak Is memandori semua pekerja yang juga bekerja keras.


.


.


.


"Whaaaaaaa ... Seperti kamar tidur di istana dongeng dan lihat Mas, semua ada di kamar. Home theater mini, mini bar, perpustakaan mini dan semuanya buku yang aku suka. Pak Is tahu dari mana seleraku, termasuk warna, tema dan dekorasinya juga isi buku?" Litha girang sekali melihat kamarnya.


"Jangan remehkan kemampuan Pak Is, Sayang. Dia Kepala Pelayan Rumah Keluarga Pradipta yang sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikannya."


"Pak Is memang hebat dan terbaik! Tapi ada spot kosong disitu, memang sengaja di kosongkan ya?" tanya Litha menunjuk area kosong lumayan luas tidak jauh dari ranjangnya.


"Aku yang meminta Pak Is agar area di dekat ranjang di kosongkan dulu. Nanti setelah usia kandunganmu memasuki 7 bulan kau boleh mendekornya untuk baby area."


"Whaaaaaa benarkah? Mas, satu yang aku kagumi darimu, perencanaanmu sangat detail. Makanya Pradipta Corp. bisa tumbuh dan berkembang makin besar karena kau mempunyai kemampuan itu. Terima kasih, Mas," ucap Litha mengecup pipi suaminya, lalu ia mengusap perutnya, "Lihat, Nak. Ayahmu sudah menyiapkan tempatmu di dunia ini, nanti Ibu yang mendekornya agar kau nyaman."


Ray terkekeh mendengar gumaman Litha berbicara pada perutnya sendiri. Ia pun membayangkan kamar ini akan diliputi kebahagiaan dan tentu saja Nenek juga akan bahagia melihatnya. Cucu menantu pilihannya menjadi ratu di kediaman keluarganya.


"Aku memang perencana yang baik, Sebelum kau mendekornya, area itu akan terlihat kosong, tidak bagus dilihat, jadi aku sudah memesan satu barang untuk sementara di taruh di sana," kata Ray menyeringai, Litha curiga ada sesuatu yang akan mengejutkannya.

__ADS_1


"Memesan barang apa?"


"Besok akan tiba. Kita bisa meresmikannya nanti."


"Iya barang apa?"


"Emm ... Sofa bercinta yang lagi viral itu."


"Aaaaaaaaaa ... Tidaaaaakkk!!!" pekik Litha yang diiringi tawa suaminya yang terdengar sampai dapur dimana Pak Is sedang membuat minuman buat Tuannya sambil menggeleng-gelengkan kepala karena teriakan Nyonya Muda.


.


.


.


Litha menuju ke dapur setelah mengantarkan suaminya kembali ke kantor. Dapur adalah bagian dalam rumah yang paling sering Litha sambangi, ada Pak Is yang kerapkali ia ajak bicara sejak masih ada mendiang Nyonya Besar.


"Pak Is, terima kasih banyak ya, sudah menghadirkan kamar yang begitu indah dan yang terpenting bau catnya tidak ada, hehehe ... "


Litha menggeleng, "Tidak, terima kasih, Pak Is. Ngomong-ngomong berapa lama Pak Is merenovasinya? Pasti butuh waktu lama karena kamar Nenek jauh lebih besar dari kamar Mas di atas."


"Tiga hari Nyonya."


"Haaahh!!! Tiga hari, siapa yang memberi perintah? Memangnya Pak Is itu titisan Bandung Bondowoso apa!"


Pak Is tergelak, ucapan yang sama seperti yang Abyan katakan, "Tuan Muda, Nyonya."


"Benarkah? Apa dia bermaksud mengerjai Pak Is, kemarin 2 hari, yang ini 3 hari tapi lebih luas."


Pak Is kembali tergelak, "Sejak kecil saya dan Pak Sas selalu menjadi sasaran untuk Tuan Muda kerjai."


"Iiihhh, Suamiku memang sudah punya sifat usil dari orok ternyata. Apa kamu nanti mewarisi sifat usil ayahmu?" Litha mengoceh dengan pandangan ke arah perutnya.


Pak Is tidak berhenti tergelak, suasana rumah benar-benar berbeda jika ada kehadiran Nyonya Muda, dengan semangat ia menanyakan lagi "Apa ada yang ingin Nyonya minum atau makan?"

__ADS_1


"Engg ... smootie orange, Pak."


Sambil menunggu, Litha minta diceritakan masa kecil suaminya yang ternyata lebih banyak cerita yang menyedihkan.


"Pantas saja Kak Firza waktu itu mengatakan ada bagian jiwa Suamiku yang kosong, mungkin itu karena memori bersama ayahnya terlalu sedikit dan tidak ada kenangan bersama ibunya bahkan untuk mengingat wajah ibunya saja harus dibantu foto. Sedangkan aku hidup sempurna dengan limpahan kasih sayang kedua orangtua dan saudara. Aku tidak bisa membayangkan sepinya kehidupan Suamiku selama ini, tanpa orangtua, tanpa saudara, hanya ditemani Nenek, Pak Sas dan Pak Is."


"Ini minumannya, Nyonya." Pak Is menyodorkan minuman sekaligus membuyarkan lamunan Litha.


"Pak Is, duduklah sebentar," pinta Litha.


"Eh, ada apa Nyonya?" tanya Pak Is gugup, ia mengambil tempat berhadapan dengan Nyonya Mudanya.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang Pak Is lakukan buat Suamiku dari kecil hingga sekarang. Perhatian dan kasih sayang tulus Pak Is padanya saat Suamiku kecil memang tidak bisa mengganti hilangnya sosok orangtua, tapi setidaknya Pak Is dan Pak Sas sudah membantunya untuk lebih kuat, terbukti dia sekarang menjadi seseorang yang disegani dan mampu membuktikan dirinya memang layak atas kemampuannya. Jangan pernah bosan untuk menyayanginya ya, Pak."


Pak Is kaget dan tak menyangka Nyonya Mudanya akan berterima kasih padanya untuk Tuan Muda, bahkan Tuan Muda sendiri saja belum pernah mengatakan terima kasih untuknya sampai sekarang.


Belum hilang rasa kagetnya, Litha menyambung kalimatnya, "Kelak anak kami lahir, dia pasti senang mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya dari Kakek Is dan Kakek Sas, hehehehehe ... Tapi kuharap ia tidak menuruni sifat usil ayahnya. Tidak bisa kubayangkan saat ia aktif-aktifnya bergerak, ia akan mengerjai dua kakeknya yang sudah tua hahahahahaha ... Makanya hiduplah dengan baik dan sehat Pak Is, biar anakku bisa mengerjai kalian nanti."


Ada rasa haru membuncah dalam hati Pak Is. Ia memang dianggap lebih dari sebagai kepala pelayan oleh Keluarga Pradipta tapi baru Litha yang menganggapnya dan Pak Sas adalah keluarga yang sesungguhnya. Sebutir bening jatuh di pipi Pak Is, hatinya sungguh terenyuh.


"Lah Pak Is kok nangis?"


"Tidak, tidak apa-apa Nyonya. Saya hanya terharu dengan yang Nyonya katakan tadi. Saya janji saya akan hidup baik dan sehat demi Tuan Muda Kecil."


"Tuan Muda Kecil, iihhh ... lucu banget kalau anak kami nanti disapa seperti itu hehehehe ... Aku ke dapur belakang dulu ya, mau menyapa Bik Tati dan para pelayan disana."


Litha pergi dengan membawa smoothie yang belum habis diminumnya. Melihatnya dari belakang, Pak Is bergumam, "Seandainya saja malam itu tidak terjadi, bisa jadi aku tidak merasakan hal yang membahagiakan seperti tadi, tidak ada Kakek Is dan Kakek Sas. Hehehehe ... sekarang malah aku mensyukurinya, tidak jadi menyesal. Untung saja Sas berani mengambil tindakan mencampurkan obat malam itu, hehehehe ... "


...***...


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Ditunggu double up nya yaa ...

__ADS_1


__ADS_2