Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Cinta dalam Hidupnya


__ADS_3

Disaat itu pagi hari Kota A matahari bersinar dengan hangat, tidak panas dan tidak mendung. Litha sudah bangun dan sarapan khas makanan Kota A.


"Makanlah, jam 9 kami akan memakamkan ibumu." Bibi Rima duduk di samping Litha menatap wajah keponakan tercintanya.


"Bi, aku ikut ya?"


"Sebaiknya di rumah saja, kau belum begitu kuat. Nanti kalau disana kamu pingsan lagi gimana?"


"Nggak kok, Bi. Kemarin Litha pingsan karena gak makan seharian tapi sekarang aku sudah menghabiskan semangkuk soto, pasti kuat, Bi."


"Kamu gak mual, Tha? Biasanya kan orang hamil mual dan muntah di pagi hari."


"Nngggg.... sampai sekarang Litha belum mengalami sih Bi, biasa saja tapi memang ada beberapa jenis masakan tertentu yang baunya sangat menyengat dan tidak nyaman buat Litha."


Bibi Rima tersenyum dan mengusap kepala calon ibu muda itu, dia sudah tidak terlihat sesedih kemarin.


"Tha, Tuan Sasmita datang ingin bertemu denganmu."


Deg.


Hati Litha menegang, sebenarnya ia sudah tidak ingin ada keterkaitan dengan Keluarga Pradipta bahkan karangan bunga di depan rumahnya yang menumpuk ia minta Paman Tino agar memindahkan, ia tidak mau membaca tulisan huruf Pradipta. Tapi mau dipindahkan kemana karangan bunga yang banyak dan besar-besar itu?


"Selamat Pagi, Nyonya Muda. Maafkan saya baru dapat menghadiri pemakaman Ibunda." Pak Sas menyapa hormat menundukkan kepala.


Litha tidak menanggapi, ekor matanya melirik seperti mencari sesuatu atau seseorang di belakang Pak Sas.


"Apa Nyonya mencari Tuan Muda?" tanya Pak Sas spontan.


"Ah, apa? Tidak, Pak Sas. Jangan memanggilku Nyonya, sebentar lagi saya bukan Nyonya Pradipta lagi."


"Sampai kapanpun bagi saya, Anda tetap Nyonya Pradipta."


Raut wajah Litha tidak nyaman ketika Pak Sas meminta berbicara empat mata dengan Litha.


"Bagaimana keadaan Nyonya hari ini? Apa sudah lebih baik dari kemarin?"


Litha mengangguk, "Saya baik-baik saja, Pak."


"Syukurlah, Nyonya Muda dan bayi dalam kandungan Nyonya dalam keadaan baik-baik saja."


Litha terperanjat, "Bibiiii .... pasti Bibi atau Paman yang memberitahu Pak Sas, kan. Haduuuuhhh bagaimana ini? Tidak lama lagi pasti Ray akan tahu."


"Apa Tuan Muda sudah tahu kalau saya hamil, Pak?"


"Tuan Muda pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat, Nyonya," jawab Pak Sas.


"Nyonya tidak usah risau, saya akan menjaga Nyonya dan anak Nyonya, sekalipun Nyonya dan Tuan ditakdirkan berpisah. Saya akan menemani, menjaga dan melindungi dimanapun. Ini janji saya, terimalah janji saya, Nyonya," lanjutnya lagi dengan sikap hormat, berdiri dan menundukkan kepalanya .


Litha bingung, kenapa keadaannya malah jadi rumit begini. Ia ingin menjalani hidup normal ke depannya, toh juga ia tidak akan meminta apapun pada keluarga suaminya.


"Pak Sas, jangan begini. Saya tidak nyaman, kita akan kembali di tempatnya masing-masing seperti semula."


Litha sungguh tidak nyaman dengan janji Pak Sas, ia tahu jika seorang Sasmita berjanji, ia akan pegang janji itu dengan nyawanya.


"Lithaaaaa ...."


Tiba-tiba ada suara yang meneriakkan namanya. Ninda sudah ada di depan Litha memeluk erat tubuhnya.


"Kenapa kamu gak ngabarin kalau Ibu meninggal, untung kemarin aku menelepon Bibi Rima menanyakan kabarmu. Ternyata malah kabar duka kudapat. Aku langung naik kereta kesini sendirian, bahkan aku tidak ijin sama mama dan papa."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu kesini, Nin. Kalau mama papamu nyariin gimana?"


"Aku sudah ijin tadi sewaktu diperjalanan. Ya, dimarahi sih karena gak ijin sebelum pergi, biarlah daripada nanti Evan disuruh ikut menemani kalau aku ijin duluan," seloroh Ninda.


"Kamu sabar ya, Tha. Semoga Ibu diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aku tadi sudah melihat jenazah Ibu, wajah beliau tenang sekali, Tha. Kamu ikhlas ya, Tha..."


Litha tersenyum kecil dan mengangguk, "Terima kasih, Nin. Terima kasih sudah menyempatkan datang untuk melihat ibuku."


Entah mengapa kalimat Litha membuat hati Pak Sas terenyuh, "Ah, seandainya saja Tuan Muda ada disini sekarang, tentu akan jauh lebih baik untuk hubungan kalian."


#Di Pemakaman#


Keluarga besar Litha ramai mengantar ibu Litha ke tempat peristirahatan terakhir, begitu juga mulut mereka ramai mengomentari Litha dan suaminya.


"Waduh, kok yo bojone Si Litha ora teko, padahal iki ibu mertuane yang meninggal lho. Ndak ada perhatiannya sama sekali, karangan bunga sing okeh ngarep omah yo untuk opo?"


"Iya ih, padahal aku arep ketemu, mau nitip Si Laras kerjo di ibukota."


"Lah, arep kerjo opo to Si Ratih di Ibukota? wong cuma tamatan SD arep kerjo."


"Kan, perusahaan gone bojone Litha, mosok sih ora diterimo."


Ehem ... ehem ...


Pak Sas yang mengerti omongan mereka, berdehem keras memberi kode untuk berhenti bergosip. Tidak elok bergosip ketika pemakaman berlangsung, apalagi yang menjadi bahan gosip adalah majikannya. Keluarga besar Nyonya Mudanya ini kebanyakan berpikiran picik, sangat berbeda dengan Nyonya Muda sendiri, beruntung orangtuanya sangat mengutamakan pendidikan dan itu terlihat jelas perbedaanya, antara mereka dan keluarga Nyonya Muda.


Litha dan Vania berpelukan, saling menguatkan melihat jasad Ibu masuk ke dalam liang lahat sebagai tempat peristirahatan terakhir. Ninda yang berdiri di samping Litha, juga mengusap-usap pundak Litha karena airmata Litha terus mengucur tidak terbendung.


"Ibuuuuuu....." rintih Litha tertahan. Ia memeluk Vania erat. Meski usianya lebih muda, Vania lebih kuat menahan tangisnya, justru ia yang menenangkan Litha.


"Kak, sudah Kak. Kakak jangan nangis lagi. Ibu sudah gak sakit, Ibu sudah tenang disana, asal jangan ditangisi seperti ini Kak. Ratapan Kakak akan menyiksa Ibu disana."


"Nia, Kakak merasa bersalah pada Ibu," ujar Litha masih terisak.


Litha menyandarkan kepalanya di bahu adiknya, masih terisak melihat tubuh almarhumah ibunya dikubur tanah. Ninda yang mendengarnya sangat iba, betapa terpukul sahabatnya ditinggal pergi Sang Ibu.


"Nia, aku kok lihat Ibu di bawah pohon itu, dia tersenyum pada kita. Nia, kau lihat tidak?"


Vania mengikuti arah yang ditunjuk Litha. Tidak ada apa-apa di sana.


"Tidak ada, Kak. Kak Litha hanya berhalusinasi karena terlalu sedih jadi Kakak seperti melihat Ibu. Ayo, Kak, kita pulang saja. Kakak harus istirahat."


Vania memeluk bahu kakaknya dan mengajak pulang. Sementara Paman Tino dan Bibi Rima sibuk menaburkan bunga, membenahi papan nisan dan lainnya.


"Nia ... kenapa pandanganku berputar ...."


Seketika Litha jatuh di pelukan adiknya. ia pingsan ketiga kalinya. Ninda panik, terlebih melihat darah segar yang mengalir di betis Litha.


"Litha...."


"Kak..."


Tanpa menunggu Pak Sas yang berjaga di barisan paling belakang langsung berlari ke depan, melihat Nyonya Mudanya jatuh di pelukan Vania. Paman Tino dan Bibi Rima juga kaget setengah mati, keduanya dilanda kepanikan ketika melihat darah di betis Litha.


Pak Sas mengangkat tubuh ringkih Litha dan berlari membawanya ke mobil, Ninda, Bibi dan Vania ikut ke rumah sakit sedangkan Paman Tino masih harus mengurus sisa - sisa pemakaman.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Rayyendra terduduk lemas setelah mengetahui istrinya hamil. Hati dan otaknya bertubi-tubi mengutuki dirinya. Dirinya yang egois, bergengsi besar, tidak peka dan bodoh.

__ADS_1


Ia teringat kembali tadi malam saat ia akan tidur. Di kepalanya selalu terngiang ucapan Litha, "


Aku trauma dengan kamar ini, isinya juga orangnya.


Tidak sengaja ia membuka laci nakas yang tidak pernah disentuhnya. Disana Ray melihat sebuah buku catatan yang didepan sampulnya tertulis besar dan jelas 'Tentang Tuan Muda Yang Mulia'.


Ray membuka buku yang berisi segala hal tentangnya. Mulai dari rutinitas harian, mingguan, bulanan. Kebiasaannya, hobinya, selera pakaiannya, makanan dan minuman favorit, cita rasa masakan yang ia suka, jenis bahan makanan yang merupakan pantangan dan anjuran, hal yang disukai dan tidak disukai sampai ke warna kesukaannya dan lainnya yang berkaitan dengan dirinya.


"Tidak kusangka ia merangkumnya dengan lengkap seperti jurnal ilmiah dengan nara sumber Pak Iskhak hahahahaha... " Rayyendra tertawa senang melihatnya.


Dibukanya lagi lembar demi lembar halaman yang semua hanya tentang dirinya hingga sebuah kartu jatuh dari dalam. Black Card atau kartu debit tanpa batas dengan prioritas VIP jatuh ke lantai. Litha tidak pernah menggunakan kartu ini, sebagai gantinya tiap malam Rayyendra memberinya banyak uang tunai yang mau tak mau harus Litha pakai, ia akan menghukum istrinya jika uang tunai di dalam dompetnya berkurang sedikit atau tidak berkurang.


Kenangannya terbentang dengan suara istrinya,


"Jangan kau tambahi lagi. Dompetku sudah tidak muat. Ini saja sudah kubagi-bagi dengan pelayan di rumah ini."


"Siapa suruh kau tidak pakai, belanja buat dirimu sendiri, belilah barang branded, jadi uang di dompetmu akan cepat habis."


"Tidak, tidak. Aku tidak mau memakai uangmu untuk keperluan pribadiku. Aku tidak mau berhutang banyak padamu."


"Kalau kau tidak mau, aku akan menghukum mu."


"Heh, aneh ... hukuman karena tidak menghabiskan uang hanya ada di Keluarga Pradipta."


"Kalau tidak habis, kau akan kucium."


"Aaaaaaa .... ya ... ya ... baiklah. Besok akan kuhabiskan, daripada aku dicium."


"Takut sekali aku menciummu, hehehehe...."


"Jelas aku takut, aku takut kau kebablasan."


"Hahahahahaha ...."


Banyak obrolan sebelum tidur ketika Litha masih sekamar dengannya, dan harus ia akui itu membuatnya nyaman dan segera ingin pulang ke rumah di petang hari. Litha memberikan banyak dampak yang baik bagi hidupnya, tidak seperti sekarang ini, yang tidak teratur dan kurang bergairah.


Rayyendra rindu dengan istrinya, ia tidak bisa hidup tanpa istrinya. Semua yang ada pada istrinya membuatnya lebih menikmati hidup, memberi hatinya ruang untuk tertawa dan kehangatan. Litha adalah hidupnya. Pada akhirnya Ray mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia jatuh cinta pada istrinya.


Hatinya begitu perih ketika mengetahui istrinya hamil akibat perbuatan rudapaksanya, namun hatinya lebih perih lagi ketika Litha tidak mau mengatakannya karena ia takut dirinya akan menolak anak itu. Litha akan hidup sendiri membesarkan anak mereka tanpa materi dan nama Pradipta, ia akan menghilang, benar-benar menghilang dari hidup Ray. Lalu apa yang akan terjadi pada Rayyendra? Bagaimana ia bisa hidup?


Pertama kali Rayyendra menangis untuk wanita selain neneknya. Ia menyesali semua perbuatannya, egonya, gengsinya dan segalanya. Litha hanya berusaha bertahan hidup dari badai kehidupannya. Ia tidak pernah punya pilihan, ia selalu menjalani garis nasibnya tanpa keluhan.


Ray menyesal terlambat menyadari bahwa ia jatuh cinta pada istrinya sendiri, istri yang dipilihkan oleh mendiang nenek yang sangat ia sayangi. Kini, yang tertinggal pertanyaan besar dalam hatinya adalah, masih adakah kesempatan buatnya untuk memperbaiki semuanya? Masih bisakah ia merengkuh cinta istrinya setelah berkali-kali ia sakiti? Maukah istrinya memaafkannya?


Ray menelepon Abyan, "Yan, hubungi Kapten Adi, siapkan pesawat ke Kota A dan sekarang kau kembali kesini menjemputku."


Rayyendra sudah memutuskan akan memperjuangkan istrinya kembali ke pangkuannya, mempertahankan rumah tangganya. Ia akan merebut kembali hati Litha sebelum dimiliki oleh lelaki lain.


Rayyendra akan mengemis cinta istrinya dan mengatakan bahwa Navia Litha Sarasvati adalah cinta dalam hidupnya.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hati Litha menerima kembali Rayyendra atau lebih memilih Firza ya? Bagaimana dengan keadaan janin dalam kandungannya?


Jangan lupa novel ini dimasukkan dalam rak buku favorit ya, biar tidak ketinggalan update-nya. Tapi Author harus bersemedi dulu sebentar ... karena Author kebawa perasaan sendiri 😌😌


Author sangat menghargai tips koin, vote, hadiah, like dan komentar yang diberikan.

__ADS_1


Terimakasih semuanya 🤗


Salam sehat buat kita semua ....


__ADS_2