
#Malam hari di Rumah Utama Keluarga Pradipta#
"Istriku dimana, Pak Is?" tanya Ray hendak menjemput Litha sepulangnya dari kantor.
"Nyonya di taman barat, Tuan."
"Malam-malam begini?"
Pak Is hanya mengangguk dan tersenyum.
"Oh iya, Pak Is. Dalam tiga hari lagi kami pindah kembali ke rumah utama. Litha kesepian di apartemen kalau aku ke kantor. Tapi kasihan kalau kamar kami di atas karena perutnya sudah tambah besar. Jadi, kami akan tempati kamar Nenek. Pak Is tahu, kan yang harus di lakukan?Terutama barang-barang pribadi Nenek, tolong berikan tempat yang baik untuk disimpan."
Pak Is dan Abyan saling berpandangan, "mulai lagi," bathin mereka. Kamar Nyonya Besar lebih besar dari kamar Rayyendra dan masih ada barang-barang Nyonya Besar, tentu waktu yang diperlukan tidak bisa sebentar.
Ray berlalu dengan santainya meninggalkan Pak Is dengan wajah pias menuju taman barat.
"Dia pikir Pak Is turunan Bandung Bondosowo kali ya, pppffftttt ... " sahut Abyan, ia sebenarnya kasihan dengan Pak Is yang diberikan perintah seenaknya tapi ia juga tidak bisa menahan tawanya.
.
.
.
"Malam-malam begini apa yang kau lamunkan disini?" Suara Ray membuyarkan lamunan Litha.
"Aaaaaaaaa ... Suamiku sudah pulang," pekik Litha merentangkan tangannya minta dipeluk.
Ray sangat senang ia disambut istrinya seperti ini, sepertinya Pak Sas berhasil membujuknya agar tidak ngambek lagi karena cemburu. Dipeluknya erat dan agak sedikit mengangkat tubuh Litha yang tambah berat. Satu kecupan menandakan mereka telah bertemu kembali setelah menjalani hari masing-masing.
"Jika Nenek merindukan Tuan Besar--"
"Kakek. Kau mengandung cicitnya, sebut saja Kakek."
"Ah, iya." Litha terkekeh. "Jika Nenek merindukan Kakek, Nenek pasti duduk disini sore hari hingga matahari terbenam. Tapi kalau aku lebih suka melihat gelapnya langit malam, entah ada bintang atau bulan atau tidak ada sama sekali."
"Kau merindukan siapa?" hati Ray begitu hangat meski angin malam berhembus agak kencang.
"Tentu saja, Suamiku. Siapa lagi? Meski kadang Ayah dan Ibu juga."
__ADS_1
"Lain kali pakai sweater agar tak masuk angin," kata Ray melepas jas kantornya dan memakaikan ke Litha.
"Makasih Mas, duduklah dulu." Litha menarik tangan suaminya dan memintanya duduk, ia pun juga duduk di samping suaminya.
"Aku suka aroma jasmu, selain itu aku merasa dilindungi. Jas ini yang menutupi sebagian tubuhku yang terbuka saat hampir diperkosa."
Ray tersenyum kecut, emosinya terpantik. Meski begitu ia bersyukur malam itu bisa melindungi seseorang yang ternyata menjadi istri yang sangat dicintainya. Jika ia mengingat kejadian malam itu, amarah Ray begitu membara. Litha menyandarkan kepala di pundak kokoh suaminya sambil mengusap perutnya.
"Lith, aku ingin membuka kembali kasus kakakmu."
"Apa!" Litha mengangkat kepalanya dari posisi bersandar menatap suaminya. Ray tersenyum mengangguk.
"Ba-- Bagaimana kau tahu tentang kasus kakakku?" hati Litha berdegup kencang, ia takut cerita tragis Tisha dan ayahnya mempengaruhi cinta Ray padanya.
"Kau kira aku buta akan istriku? Aku tahu semuanya, bahkan kronologisnya hingga ayah mertuaku meninggal."
Litha menutup mulut dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, dimundurkan badannya menjauh, hal ini yang ia takutkan. Ia takut Ray tidak bisa menerima bagian hidupnya yang ini. Matanya sudah berkaca-kaca
"Lith, kau kenapa? Kenapa menjauhiku?" tanya Ray bingung. Ditanya begitu Litha malah mengeluarkan air mata. Sontak Ray memeluk istrinya.
"Maaf, aku membuka luka lamamu," bisik Ray di telinga Litha yang kian terisak. Ray memberi waktu untuk istrinya menangis sembari mengelus-ngelus punggungnya sampai Litha sendiri mengurai pelukan suaminya.
"Ti-- Tidak apa-apa, Mas. Hanya saja kejadian itu sangat merusak mentalku."
Ray terhenyak, "Kakakmu yang diperkosa kenapa mentalmu ikutan rusak?"
"Saking kejadian itu berpengaruh padaku, aku tidak ingin mengingatnya atau mengungkitnya. Aku kehilangan Ayah karena Ayah mengungkitnya dan aku kehilangan jiwa Kak Tisha karena dia selalu mengingatnya," kata Litha lirih mengarahkan pandangannya ke langit malam.
"Karenanya aku takut untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, karena pemerkosa itu adalah mantan kekasih Kak Tisha. Karenanya juga, aku takut orang memandangku buruk jika mengetahui tragedi yang menimpa Kak Tisha. Aku berusaha menyembunyikannya dari siapapun selama ini karena aku--"
Ray kembali memeluk istrinya. Ia tidak menyangka kejadian itu secara tidak langsung mempengaruhi mental istrinya. Ia semakin geram pada Lucas dan Sebastian.
"Aku disini, Litha. Aku disini. Aku tidak memandangmu buruk, justru aku memandangmu hebat, kau kuat, kau tangguh bisa menghadapinya sendiri. Kau tidak perlu takut apapun. Ada aku, Suamimu. Kau lupa Suamimu ini Tuan Muda Pradipta, tidak ada lagi yang akan memandangmu buruk. Aku berjanji, aku akan membuat mereka membayar perbuatannya pada keluargamu."
Airmata Litha makin deras mengalir, suaminya menenangkan dengan lembut. "Sandarkan semuanya padaku, Lith. Percaya padaku, kau tidak sendiri, kita akan menghadapinya bersama. Jangan takut." Sekali lagi Ray menguatkan istrinya.
Setelah beberapa saat, Litha kembali mengurai pelukan suaminya dan mengusap pipinya. "Tapi aku tidak mau mengungkitnya kembali."
"Ada aku, Sayang. Kau tidak usah takut."
__ADS_1
"Jangan memaksaku, Mas. Aku menganggapnya masa lalu yang tidak perlu diungkap kembali. Mengetahui Mas tidak memandangku buruk saja itu sudah sangat lebih dari cukup buatku dan aku sangat bersyukur sekali."
"Tapi Lith-- "
"Sudah Mas. Aku tidak mau membahasnya lagi. Aku sudah kedinginan, kita pulang ya?"
Saat ini Ray tidak ingin memaksa, karena ini tidak mudah buat Litha menghadapinya, ia biarkan saja dulu. Dibantunya Litha berdiri dari duduk, "Tiga hari lagi kita pindah kembali ke sini, agar kau tidak kesepian kalau aku ke kantor sekalian untuk menjagamu."
"Benarkah?"
Mata Litha berbinar, sebenarnya ia lebih suka tinggal di rumah utama karena ada yang bisa diajak bicara tapi ia tidak pernah mengatakannya. Ia takut suaminya berprasangka ia menyukai materi kekayaan Keluarga Pradipta dengan meminta ini itu.
Ray tergelak, ia suka sekali melihat mata istrinya yang berbinar. Ia mengangguk dan langsung mendapat hadiah pelukan erat dari istrinya.
"Kau pintar sekali menyembunyikan rasa sakitmu dengan cepat, Sayang. Apa kau terbiasa melakukannya?" terasa perih mengiris bathin Rayyendra, dalam hati ia berkata lirih, "Inikah titik rapuhmu? Kau sangat hancur ketika aku menyinggungnya."
Sebelum mereka kembali masuk ke dalam rumah utama, Ray menarik Litha dalam pelukannya lagi. Dibenamkannya kepala istrinya pada dadanya, ia mencium dalam pucuk kepala istrinya, menyesapi aroma lembut rambut istrinya yang dihembuskan angin malam untuk beberapa saat. Litha pun menikmati detak jantung suaminya, suaranya sangat menenangkan baginya.
...***...
Boy, salah satu bodyguard atau penjaga klub malam Amore Club&Party memberikan paperbag pada bosnya, "Ini Bos, saya sendiri yang mencarinya. Bos tidak perlu khawatir."
Bona mengambil paperbag itu dan mengeluarkan isinya, "Boy, kau tidak rabun warna kan?" tanyanya ragu, alisnya bertaut.
Boy menggeleng, "Bos, warna pink ternyata banyak macamnya, mbak SPG menyebutnya gradasi. Diantara semua gradasi warna pink, ini yang paling cocok buat Bos, sesuai dengan kulit Bos yang putih seperti penyanyi Korea."
Bona membentangkan kemeja lengan panjang di tangannya, dibolak-balik, "Memangnya ini masuk warna pink ya?"
"Ya sudah. Terimakasih, Boy. Kalau Ninda datang suruh dia menungguku saja, aku akan segera turun. Dia terlalu suci masuk ke tempat ini," perintahnya pada penjaga berbadan kekar itu.
"Baik, Bos." Boy segera keluar dari ruangan kerja Bona di lantai tiga. sambil bergumam "Terlalu suci? Lalu kenapa gadis dibawah umur yang suci itu mau sama pemilik klub?"
Bona masih memandang ragu kemeja di tanganya. "Apa benar ini warna pink? Apa pencahayaan ruanganku yang agak berbeda ya? Ah, sudahlah. Mungkin ini salah satu jenis warna pink, aku pakai saja keburu Ninda datang."
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Doubel up-nya menyusul siang ya Kakak-Kakak Readers.
__ADS_1