Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Tidak Baik Ingin Banyak Tahu


__ADS_3

Pagi masih berembun, rombongan dari Ibukota sudah bersiap untuk kembali, kecuali Paman Tino. Litha memberikan sebagian besar tabungannya selama ini dan meminta agar membuka usaha di Kota A saja agar bisa menemani Bibi Rima dan ibunya.


Di pesawat yang telah mengudara, beberapa kali Bona mendekati Ninda, tapi tidak berhasil, bukan tanpa sebab, dia harus bisa melangkahi Nyonya Muda Pradipta dulu. Sedangkan Ray dan Abyan di bagian terpisah karena membicarakan perusahaan, sepertinya hal yang serius.


"Tha, kamu punya ide darimana sih merekam mati kutunya Bona, hahahahaha .... lucu banget, sekali lagi makasih lho, Tha, videonya sangat menghiburku. Aku yang tadinya benci banget sama dia jadi kasihan karena kau menganiayanya," kata Ninda.


"Dia pantas mendapatkannya! Psssttt.... kau harus memaafkannya kalau tidak dia akan menjadi manusia berkepala bibir hahahahaha..... " Litha tergelak setelah sekilas melihat Bona yang duduk sendiri dicuekin Ray dan Abyan, ia benar-benar membayangkan imajinasinya barusan.


Ninda pun tertawa keras, imajinasi manusia berkepala bibir pun menari-nari di kepalanya.


🙋 Ah, Bona ... kasihan sekali dirimu dinistakan oleh kedua wanita itu 😂😂 🙋


"Tha, share dong, malam pertamamu gimana? kan, bisa jadi pelajaran buatku nanti."


"Apaan sih!"


Wajah Litha merona kemerahan. Litha memang menceritakan bahwa pernikahannya adalah pernikahan kontrak dengan Ninda tapi tidak diceritakan detail isi perjanjiannya.


"Iiiiiiihhhh..... Lihat! wajahmu merah, kamu malu ya? ceritakan dong, Tha. Gimana, gimana?" suara Ninda keras dan heboh hingga Bona menoleh ke arah mereka berdua. Litha harus mencubit paha Ninda agar gadis itu diam.


"Nin, pelankan suaramu, kalau Tuan Rayyendra dengar gimana?"


Ninda tertawa dengan suara ditahan.


Litha kembali mengingatnya, memang malam pertamanya tidak seperti malam pertama pengantin lainnya. Sisi lain Ray yang baru dilihatnya sedikit mengubah pandangannya tentang Tuan Muda Pradipta itu.


Beberapa kali Litha terbangun memastikan dirinya tidak disentuh dan ia hanya mendapati suaminya yang tertidur lelap di sofa. Ray benar-benar memegang ucapannya hingga hari ini sehingga Litha merasa sangat dihargai sebagai wanita.


"Ayo dong, Tha, ceritain kamu ngapain kek, terus suamimu ngapain gitu."


Ninda tidak berhenti menggoda Litha. Bona yang melihatnya berkata , "Kalian berdua sama-sama cerewet, tidak bisa diam, hanya bisa dibungkam kalau dicium. Aku penasaran bagaimana Ray membungkam istrinya tadi malam?"


Dugh...


Kepala Bona terkena sesuatu, dilihatnya sebuah jeruk sunkist menggelinding tidak jauh dari kakinya.


"Bukan aku!" kata Litha dan Ninda barengan, namun matanya tertuju pada sosok Pak Sas yang berdiri.


"Sial apa aku beberapa hari ini. Setelah pulang aku harus mandi kembang." bathin Bona.


Bona tidak berani pada Pak Sas, jangankan dia, Ray saja segan padanya. Mantan asisten pribadi Nyonya Besar itu sangat irit bicara, selalu dalam keadaan siap dan eksekutor handal di tiap tugas yang diserahkan padanya.


"Tidak baik membicarakan urusan ranjang pada orang lain. Tabu!" ujar Pak Sas sembari berlalu, ucapan itu untuk ketiganya.


"Tuh, kan, semuanya dimarahi Pak Sas. Aku ke kamar kecil dulu ya, Nin. Kebanyakan minum aku, hehehehe..."


Litha menuju kamar kecil yang letaknya di sebelah tempat Ray dan Abyan sedang membahas pekerjaan yang tertinggal selama mereka di Kota A.


Sebenarnya Litha bukan orang yang suka kepo dengan urusan orang lain, tapi kenapa sekembalinya dari kamar kecil ia ingin mendengar mereka mendiskusikan sesuatu yang nampaknya serius.


"Kalau begitu atur jadwalku bertemu Mona, Yan,"


"Baik, Tuan."


"Oh ya, jangan sampai pernikahanku tersebar ke publik. Awasi ketat semua media elektronik dan cetak, juga media sosial."


"Baik, Tuan."


Litha mendengarnya cukup jelas meski hanya sepotong.

__ADS_1


"Ah, ternyata mereka bukan membahas pekerjaan. Apa Ray masih berhubungan Ramona? Apa Ramona tahu kalau Ray menikah denganku? Apa Ramona menerimanya? Aku tidak mendengar kabarnya sama sekali menjelang pernikahan. Dan kenapa Ray melarang pernikahannya diketahui publik?"


Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Litha tentang Ray dan Ramona.


"Kenapa aku ingin tahu? Bukankah kita sepakat tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Ahhh... sudahlah, ngapain juga ngurusin urusan orang." Litha bicara pada dirinya sendiri dalam hati.


"Tidak baik ingin banyak tahu, Nyonya Muda. Karena belum tentu yang kita dengar adalah kebenarannya."


Litha terkesiap, suara Pak Sas ada dibelakangnya, karena kaget


"I ... iya, Pak Sas," kata Litha dan beranjak pelan dari tempatnya menguping.


Litha kembali ke tempat duduknya di hadapan Ninda. Menatap gumpalan awan di antara birunya langit. Seketika ia teringat Firza, lelaki yang pernah meminta hatinya, lelaki yang dulu selalu ada disaat ia butuh bersandar. Bagaimana kabarnya disana?


Di London yang tujuh jam lebih cepat dari Ibukota, Firza menatap langit malam tanpa bintang. Hari ini ia lelah dengan pekerjaan di kantornya, ia disibukkan secara daring memimpin Pradipta Corp. karena presdirnya melangsungkan pernikahan. Sebagai wakil presdir secara otomatis tugas presdir ia ambil alih.


Dilihatnya beberapa foto yang dikirimkan Detektif Zeth. Litha sangat begitu mempesona dengan gaun pengantin, ia terlihat sumringah di foto itu. Bahkan keluarganya pun terlihat bahagia dengan pernikahan Litha dan Rayyendra. Ada lagi foto Litha tengah bergandengan dengan Ray di pelaminan, keduanya nampak serasi dengan senyum bahagia.


"Akhirnya kau menikah, Litha. Tapi mengapa hati ini masih belum bisa melepasmu?"


Firza hanya bisa menerbangkan asanya ke langit malam tanpa cahaya bulan. Asa yang tadinya begitu penuh, kini semakin berkurang dan ringan hingga terbang tanpa tahu mau kemana.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Litha sudah sampai di rumah utama, ia disambut hangat oleh seluruh penghuni. Para pelayan dan penjaga di rumah utama memperkenalkan diri mereka kepada Nyonya Muda Pradipta meski mereka sudah tahu sosok Litha.


"Nyonya Muda, segala keperluan Anda sudah saya siapkan di kamar Tuan Muda." Pak Is memberi tahu.


"Eh, apa?!? Kenapa saya satu kamar dengan Tuan Muda?"


"Ada yang salah Nyonya? setahu saya suami istri tidur dalam satu kamar," sahut Pak Is.


"Tapi --"


Litha berusaha bernegoisasi meminta tidur di kamar yang berbeda, tapi sudah dipotong oleh suaminya,


"Pak Is, mulai sekarang aku akan tinggal di rumah, tapi aku hanya mau dilayani sehari-hari oleh istriku sendiri. Dan untuk sarapan, aku hanya mau makanan yang dimasak istriku langsung."


Rayyendra sudah memberi titah, dijawab anggukan Pak Is.


"Haaaa.... dia sudah langsung mulai menjadikanku pelayan pribadinya. Astagaaaa.... aku akan melayani ***** bengeknya si Tuan Muda, mana tiap pagi aku harus membuat sarapan pula," gerutu Litha dalam hati.


Litha ingin membantah Ray, tapi ia sadar, bahwa memang itu bagian dari perjanjian kontraknya.


"Sayang, aku sangat lelah di pesawat, sekarang bisa kau pijati aku sebelum aku ke kantor?"


Rayyendra merangkul istrinya mengajak ke kamarnya di lantai dua.


"Ke kantor? Bukannya besok baru kau masuk kantor? Kita kan baru tiba dari Kota A? Apa dia mau ketemu Ramona ya? Jiaaaahhhh, mau ketemu wanita lain tapi minta dipijatin dulu, kenapa tidak sekalian kau minta pijat sama dia? Huh!"


"Kenapa wajahmu cemberut begitu. Kau tidak mau memijatku ya? Ya sudah, moodku lagi bagus hari ini, aku tidak akan memaksamu untuk memijatku. Biar nanti kusuruh Asisten Yan saja."


"Hah, Asisten Yan yang memijatmu? Asisten Yan atau Ramona?"


Ray bingung, wajah Litha tanpa sadar makin jutek. Apa ia salah bicara? Tidak, malah Ray bersikap sangat baik padanya.


"Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu? Padahal aku bersikap baik padanya? Apa dia lebih suka kalau aku memaksanya melakukan sesuatu. Ah, perempuan memang aneh, terserahlah, aku masih punya urusan lain."


"Siapkan bajuku, aku mau mandi dan ke kantor," perintah Ray pada Litha memasuki kamar yang sudah lama tidak ia tempati.

__ADS_1


"Baik, Sayang," kata Litha yang hanya bisa menuruti suaminya.


"My adventure sebagai pembantu akan dimulai dari sekarang. Semangat Litha!"


...-------...


Sisipan


Ray membaca laporan PT. Pradipta Jaya Coal, perusahaannya yang bergerak pada sektor pertambangan dan perdagangan batu bara, yang berpusat di salah satu pulau di negerinya. Ia sedikit terkejut melihatnya sekilas, karena ada indikasi kerugian.


"Kau sudah hubungi Sebastian, Yan?"


"Sudah, Tuan, yang dia katakan, dia juga tidak tahu menahu. Tim audit dari kantor pusat akan menyelidikinya lebih lanjut."


"Lakukan diam-diam. Kali ini aku tidak akan menolerirnya, meski dia ayah Mona. Dia sudah membuatku kehilangan muka di hadapan semua orang termasuk Nenek dengan kasusnya di London."


Wajar saja Ray berkata demikian, ia satu-satunya orang yang memaklumi kesalahan Sebastian Riguna waktu itu karena Ramona yang memohon di kakinya, padahal kesalahan Sebastian sangat berdampak pada ekspansi perusahaan ke depannya di benua Eropa, untungnya Firza bisa menanganinya dengan tepat dan cepat.


"Bagaimana keadaan Mona?"


"Dia tidak masuk kantor sampai hari ini. Saat ini dia tinggal di apartemennya. Aku sudah meneleponnya tapi dia ingin bertemu dengan Anda, Tuan."


"Heh, kenapa dia tinggal di apartemennya?"


"Entahlah, yang jelas saat ini dia takut bertemu dengan Sebastian karena Tuan menikah."


"Kalau begitu atur jadwalku bertemu Mona, Yan,"


"Baik, Tuan."


"Oh ya, jangan sampai pernikahanku tersebar ke publik. Awasi ketat semua media elektronik dan cetak, juga media sosial."


"Baik, Tuan."


"Apa hari ini Tuan ingin ke kantor?"


"Ya."


"Apa Tuan ingin bertemu Mona hari ini juga?"


"Tidak, nanti saja. Aku ke kantor hanya ke bagian audit saja untuk memastikan laporan ini," ucap Ray menutup laporan di tangannya.


"Yan, selama menikah dengan Litha aku akan tinggal di rumah utama."


Abyan sedikit terkejut, sudah bertahun-tahun ia tidak tinggal di sana padahal Nyonya Besar begitu merindukannya dan kenapa sekarang ia tiba-tiba ingin tinggal di rumah utama Keluarga Paradipta setelah Nyonya Besar tiada?


"Aku harus terlihat seperti menikah sungguhan bukan? Jadi, aku harus satu atap dengannya bahkan satu kamar. Aku takut kalau kami tinggal di apartemenku, aku tidak bisa mengendalikan diri."


Ray seperti tahu apa yang Abyan pikirkan, tapi jawabannya malah membuat asisten sekaligus sahabatnya itu makin bingung.


"Sejak kapan Ray memiliki hasrat pada wanita? Bahkan dengan Mona, selalu Mona yang agresif. Di dalam pikiran Ray hanya Pradipta Corp. saja," kata Abyan dalam hati.


"Setidaknya aku ingat mendiang Nenek kalau di rumah utama, Yan."


"Hah! Jawaban apa itu."


Mereka tidak sadar sepotong pembicaraan mereka dicuri dengar oleh Litha.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2