
"Mas ... Lihat!!!"
Litha menunjuk ke arah langit, dua orang sedang melakukan paralayang di udara, mereka berputar-putar mengendalikan angin yang membawa mereka. Ada sesuatu yang mereka bawa, seperti sebuah spanduk yang bertuliskan ...
Litha memekik menutup mulutnya, matanya terbelalak kaget saat membacanya,
Happy Brithday, Litha ...
dan paralayang satunya lagi,
*Rayyendra l**ove you more, and more* ...
"Aaaaa ... Mas itu untukku? Ada namaku, ada nama Mas juga!" teriak Litha bersorak mengangkat kedua tangan dan melambaikannya pada kedua paralayang itu.
Ray mengangguk sembari tersenyum, ia berdiri dan merangkul istrinya, tapi Litha melangkah maju. Ray panik karena istrinya semakin dekat dengan tebing.
AKU MENCINTAIMU, RAYYENDRA ...
SANGAT MENCINTAIMU ...
Teriakan lantang Litha membuat Ray terkejut dan terdiam. Istrinya menyatakan cintanya pada dunia, menghapus keraguannya yang sempat terlintas, keraguan bahwa ia bukanlah tujuan dan rumah bagi istrinya. Ada sebulir bening di sudut matanya. Ia maju menghampiri istrinya dan memeluk dari belakang.
"Apa yang membuatmu berpikir untuk berteriak seperti itu?" Ray meletakkan dagunya di pundak Litha dan mengelus sejenak perutnya.
"Tidak ada. Aku hanya mengatakan apa yang ada di hatiku. Aku memang sangat mencintaimu, dan aku tidak bisa membayangkan aku hidup tanpamu."
"Lith, kau membuatku menangis."
"Ishhh ... Aku tak pernah melihatmu menangis kecuali saat pemakaman Nenek dan memintaku kembali di rumah sakit."
"Kau tidak percaya?"
Litha menggelengkan kepalanya, "Hanya moment yang sangat emosional yang bisa membuatmu menangis,"
"Dan ini memang sangat emosional buatku. Lihat aku!"
Litha menolehkan wajahnya hingga netra mereka saling bertatapan, ada air yang luruh dari mata tegas lelaki itu, ia memang menangis.
"Mas ..."
Ray langsung menahan tengkuk Litha dan mencium istrinya dengan pelan namun dalam sedalam perasaannya. Litha membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Ray, menyambut ciuman penuh perasaan suaminya. Mereka berhenti sejenak memberi jeda untuk bernafas dengan saling menatap penuh cinta sembari tersenyum, lalu melanjutkan kembali rajutan rasa dengan ciuman yang lebih panas.
.
.
.
Waktu beranjak malam, pasangan suami istri itu sudah kembali ke rumah, Litha segera mandi dan berganti baju. Suaminya sempat-sempatnya meminta jatah di dalam mobil meski Litha susah payah menyesuaikan dengan kondisi perutnya. Ray juga mandi di kamarnya sendiri di lantai dua, sesegera mungkin ia harus lebih dahulu selesai dari istrinya.
"Pak Is, buatkan sesuatu yang hangat buat Litha makan, ia baru saja menghabiskan tenaganya, Selesai dia makan barulah Pak Is membawanya kesana," perintah Ray sebelum berlalu ke halaman belakang rumah yang terdapat kebun dan peternakan kecil yang ditata apik. Disana dulu merupakan tempat favorit istrinya kala sedang tidak menemani Nyonya Besar.
.
.
.
"Huh, Si Tuan Pemaksa itu tidak bisa menahan naf*sunya sama sekali. Apa tidak bisa menunggu sampai di rumah saja baru melakukannya, ckckck ..." gerutu Litha keluar kamar menuju dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia sangat lapar setelah beradu hasrat dengan suaminya. Kini ia sudah lebih segar dengan dress selutut berwarna peach muda.
"Sup krim ayam jamur untuk Anda, Nyonya. Silahkan menikmati."
Litha terperangah, ia belum mengutarakan maksudnya tapi makanan hangat sudah tersedia di meja.
"Wah, terimakasih Pak Is. Kok tahu saya lagi lapar?" seru Litha langsung menarik kursi dan menyendok sup itu.
"Tadi Tuan Muda yang menyuruh saya untuk menyiapkan makanan hangat untuk Nyonya karena Nyonya baru saja kehabisan tenaga."
Uhukkk ...
"Nyonya, pelan-pelan saja makannya. Saya akan menunggu," ujar Pak Is tanpa merasa bersalah.
"Hhmmmppffhh ... Suamiku, kau memang tahu apa yang harus kau lakukan, bahkan tanpa aku mengatakannya kau pun sudah tahu, tapi tidak juga membuatku malu begini."
"Menunggu? Memang mau kemana?" tanya Litha setelah meneguk beberapa air putih.
"Setelah Nyonya menghabiskan makanannya, saya diperintahkan untuk membawa Nyonya ke halaman belakang."
"Oh ya... Apa dia mau memberiku kejutan lagi? Hari ini Suamiku sudah berkali-kali mengejutkanku sampai jantungku serasa melompat keluar."
Pak Is hanya diam, takut keceplosan.
"Oh ya, mana Bibi Rima dan Vania? Apa Pak Is melihat mereka?"
"Tidak tahu, Nyonya."
__ADS_1
"Sejak japan Pak Is mengenal kata tidak tahu. Ishhh ..." gerutu Litha pada pria paruh baya berbadan kurus tinggi itu.
Pak Is bukannya tidak mau menjawab, tapi ia tahu Nyonya Mudanya ini peka dengan suatu jawaban yang tidak beres, ia takut salah bicara karena Tuan Muda mewanti-wantinya agar jangan sampai istrinya tahu kejutan terakhir di hari ulangtahunnya.
.
.
.
Litha terkejut bukan main saat ia mengikuti langkah Pak Is menuju halaman belakang. Gemerlap lampu menghiasi taman yang biasanya hanya diterangi cahaya seadanya ketika malam hari. Litha bisa membaca dari kejauhan rangkaian tulisan selamat ulang tahun juga kelulusannya dari LED strip berwarna warm white.
Hatinya bergetar melihat sekumpulan orang yang sedang menunggunya dengan senyum lebar. Ia sangat-sangat merasa teristimewa hari ini oleh lelaki yang baru saja memaksanya bercinta di dalam mobil di atas ketinggian. Lelaki itu tersenyum hangat menyambutnya di tengah-tengah sekumpulan orang-orang itu dengan membawa sebuket bunga Lily putih di tangannya, bunga favoritnya.
"Jangan lari!!!" teriak Ray panik melihat istrinya berlari ke arahnya, Tapi Litha tidak peduli, hatinya sudah dibuat berantakan dengan kebahagiaan tiada tara oleh suaminya.
Sekumpulan orang yang terdiri Paman Tino, Bibi Rima, Vania, Abyan, Pak Sas, Bona, Ninda, Firza dan Sasha merasa hati mereka bercampur aduk antara tegang mendengar teriakan Ray dan bahagia melihat keharuan Litha berlari pada suaminya.
"Apa ini kejutan terakhir untukku? Mas jahat sekali hari ini ... Terlalu ... Membuatku takut." bisik Litha sambil berurai airmata dipelukan suaminya.
"Hari ini aku buat spesial hanya untukmu bahagia, kenapa jadi takut?"
"Aku takut jatah kebahagiaanku di dunia ini sudah dihabiskan hari ini. Aku takut besok yang tersisa hanya kesedihan. Aku takut ... "
"Bodoh! Menakutkan hal yang kita tidak tahu sama saja kau berputus asa. Tidak sesuai dengan perkataanmu tadi sore."
Litha mengurai pelukan, airmatanya diusap suaminya tapi ia malah memukul-mukul bahu suaminya dengan kesal.
"Cieeee ... Kak Litha malu-malu senang yaaa ... Ingat lho disini masih ada kita meski cuman ngontrak, hahahaha ..." seloroh Vania diikuti tawa yang lainnya membuat Litha merengut.
"Selamat ulang tahun, Litha. Kami menahan diri tidak mengucapkannya dari pagi karena Suamimu yang meminta," ucap Bibi Rima memeluk keponakannya. Satu-satu mengucapkan selamat pada Litha.
"Ray sangat egois, ia hanya ingin sendirian menikmati hari ulang tahunmu. Kami hanya diberi kesempatan sekarang, di malam hari saat hari kelahiranmu akan berganti," kata Firza.
Litha tidak bisa banyak bicara karena hatinya terlalu senang. Suaminya memang tahu harapannya, keinginannya, dan seleranya. Litha tidak ingin diberikan perhiasan atau pun benda mewah lainnya, ia hanya ingin baju kebesaran berwarna hitam seorang Sarjana. Ia tidak perlu liburan keliling dunia dengan pesawat pribadi milik suaminya, cukup memandang dari ketinggian sudah membuatnya bahagia. Dan ia tidak suka pesta mewah nan megah, yang ia sukai adalah sebuah pesta kecil dengan orang-orang terdekatnya.
Litha tidak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya di jemari Ray, dan semua yang ada disitu memakluminya, Litha terlalu bahagia dengan semua perlakuan suaminya hari ini.
"Mas, botol apa itu?" tanya Litha ketika matanya tertuju pada beberapa botol whisky yang biasa Ray minum.
"Ennggg ... "
"Botol whisky. Sudah lama Ray tidak menyentuhnya, kuharap malam ini kau bisa memberinya sedikit kelonggaran untuk mencicipinya. Selama ini botol-botol itu sudah terganti dengan gelas-gelas susu coklat. Jadi, please biarkan Ray menemaniku minum, Nyonya Pradipta."
"Mas!"
"Aku tidak akan meminumnya jika kau tidak memberiku ijin, Sayang," sahut Ray mengusap punggung istrinya.
"Tenanglah Nyonya Pradipta, ia tahu batas minumnya, dimana batas ambang kesadarannya, Suamimu ini tidak akan berbuat sesuatu diluar kendalinya." Bona masih saja membujuk dengan menyebut Litha, Nyonya Pradipta agar dikabulkan permintaannya.
"Hah! Tidak, yang aku tahu dia minum dan kehilangan kendali atas dirinya sampai memper--" Litha menutup mulutnya, ia hampir keceplosan dengan suara keras.
Ray memandang istrinya tajam, ia tidak bisa memungkiri perkataan Litha karena itu memang faktanya, tapi yang membuatnya sedih adalah Litha masih mengingat jelas rentetan kejadian itu, meski ia berusaha keras membahagiakan Litha setelahnya, tetap saja bagi istrinya itu adalah kenangan pahit.
Paman Tino, Bibi Rima, Abyan dan Firza diam menunggu reaksi Ray, terutama Pak Sas dan Pak Is yang saling berpandangan dengan raut wajah tegang. Akankah kejadian itu akan menjadi noda dalam cinta mereka?
"Apa itu masih menghantuimu, Lith? Meski aku sudah berusaha keras mengubahnya menjadi penyesalan terdalamku?" tanya Ray datar menatap tajam manik istrinya.
Bagi yang tidak mengetahui kejadian sudah pasti bingung dengan maksud tujuan pembicaraan mereka karena yang nampak adalah mereka seperti sedikit bertengkar.
Litha serba salah, dia tidak bermaksud menyinggung malam itu lagi pada suaminya. Ia menanggap itu merupakan takdirnya di masa lalu yang terkait dengan takdirnya sekarang. Ia tidak pernah menyesali apapun takdirnya yang sudah terjadi meskipun jika ia dan suaminya bercerai pada saat itu.
"Semuanya gara-gara Bona yang mau mengajak Suamiku minum. Kalau kau mau minum ya minum saja sendiri! Dasar!" umpat Litha dalam hati, matanya sekilas melotot pada Bona. Ninda yang tidak tahu apa-apa bertambah bingung melihatnya.
"I-- itu tetap akan menjadi kenangan pahit selama aku mengingatnya, Mas. Tapi aku tidak pernah menyesalinya walaupun kau menceraikan aku saat itu. Itu sudah takdirku dan aku sudah menerima sepenuhnya bahwa itu adalah bagian dari kisah hidup seorang Litha."
Semua membelalakkan mata mendengar kata cerai yang mengungkit kembali cerita buruk antara mereka. Vania yang tadi dalam suasana hati yang sangat baik menjadi muram, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sama sekali tidak bisa berbohong meski ia menutupinya dengan memakan potongan buah.
Ray memejamkan matanya mencerna kata-kata istrinya. Ia sangat yakin apa yang dikatakan Litha adalah benar adanya tapi tetap saja mengingat kejadian di luar kendalinya malam itu membuatnya jatuh ke dasar jurang penyesalan.
Abyan menghela nafasnya, ia harus melakukan sesuatu jika tidak ingin pesta yang seharusnya hangat menjadi dingin.
"Bon, kalau mau minum ya minum saja sendiri. Aku tidak tahu apa masalahmu hingga kau ingin minum tapi hormati keputusan Nyonya yang tidak ingin suaminya minum." Abyan menepuk pundak Bona dengan senyum bijaknya, lalu ia menghadap Litha berkata, "Nyonya, selama aku mengenal Ray, dia tahu dimana batas minumnya agar tidak kehilangan kesadaran. Jika ada satu waktu ia kehilangan kendali atas dirinya mungkin saja ada sesuatu didalamnya."
"Maksudnya?" tanya Ray dan Litha bersamaan.
Pak Is sudah mau pingsan rasanya. Apa mungkin Abyan tahu perbuatannya dan Pak Sas malam itu?
"Sesuatu yang menjadi penyebab atas takdir kalian hari ini ... Ray, kau tidak akan menyadari perasaanmu ke istrimu kalau kau tidak melewati takdir itu dan Nyonya juga tidak akan memiliki alasan untuk menerima cintamu karena Nyonya saat itu tidak yakin kalau kau memang jatuh cinta pada istrimu sendiri."
Abyan menatap keduanya, "Ayolah jangan membuat rumit cinta kalian yang sederhana. Cerita buruk masa lalu biar saja menjadi cerita lalu, itu tidak akan pernah terhapus. Nyonya sudah menerimanya bahwa itu bagian dari hidupnya. Itu sudah menjadi bukti kalau ia menerimamu seutuhnya, Ray." Dihela nafasnya sejenak, "Malam ini adalah malam yang bahagia, dan saatnya Kambing Guling Pradipta!!!"
Abyan berusaha membawa suasana yang meruncing menjadi hangat kembali, meski hanya ia yang bersorak dan bertepuk tangan. Diam-diam ada seorang remaja yang mengagumi caranya bertindak mencegah peperangan emosi dan pendapat dan akan berujung pada ego masing-masing.
"Pak Is, siapkan kambing gulingnya sekarang!" Abyan mengambil alih tanpa perintah Tuan Muda. Pak Is sigap maksud Abyan, "Siaapp, Asisten Yan."
__ADS_1
"Nyonya, apa Nyonya tahu mengenai Kambing Guling Pradipta?"
Litha menggeleng.
"Dinamakan Kambing Guling Pradipta karena Tuan Muda Pradipta sendiri yang membuatnya. Biasanya Kambing Guling Pradipta ini diadakan jika terjadi sesuatu yang membahagiakan dan hanya orang-orang terdekatnya yang ia undang untuk menikmati kambing gulingnya."
"Mas Rayyendra yang membuatnya sendiri? Bagaimana bisa?"
"Itulah kelebihannya dalam bidang kuliner, kambing gulingnya sangat enak. Nyonya tidak akan berhenti makan sampai kekenyangan."
"Benarkah? Mas, aku tidak sabar mau mencobanya," rengek Litha pada suaminya.
Ray tersenyum dan memandang Abyan penuh arti. Ia memang bergantung pada sahabatnya ini, Abyan tahu dimana saat ia membutuhkannya.
Suara musik diputar, suasana kembali hangat. Ray dan Litha kembali saling menautkan jemari mereka tapi tidak buat Bona dan Ninda yang malah terpicu bertengkar di salah satu sudut.
"Bon, kenapa kau selalu membuat masalah?"
"Aku membuat masalah? Mereka sendiri yang membuka luka lama kenapa aku yang disalahkan? Aku hanya meminta Ray untuk menemaniku minum karena aku lagi banyak masalah di klub."
"Padahal hari ini juga hari bahagiaku. Tapi tak sedikitpun kau antusias, semua tertutupi dengan masalah klubmu. Kau tidak datang menghadiri wisudaku, aku berusaha memakluminya tapi bisa tidak malam ini saja kau bersukacita denganku? Lupakan masalah klubmu dan buang botol minuman itu." Suara Ninda bergetar mengatakannya, ada kecewa tersirat disana.
"Aku ingin Nin. Tapi a--"
"Tidak perlu menjelaskannya kalau masih ada kata tapi. Terserah padamu saja, yang jelas ini hari bahagiaku. Ada kau atau tidak, aku tetap akan bahagia malam ini. Fu*ck you with your club, Bon ..." umpat Ninda kesal menjauh dari kekasihnya, ia bergabung dengan yang lainnya.
"Nin ... Ninda! Aaarrrggghhh ..."
.
.
.
Litha mencicipi kambing guling buatan suaminya, ia takjub dengan rasanya, sangat enak.
"Mas, enak sekali! Kalau aku sering-sering minta, Mas buatin ya?" pinta Litha sambil mengunyah daging kambing.
"Jangan berlebihan memakannya, Tha. Ingat, kamu sedang hamil," ujar Paman Tino mengingatkan
"Tidak masalah, yang penting kau juga sering-sering membuatku enak," sahut Rayyendra asal menanggapi permintaan istrinya
"Mau sering bagaimana lagi, hari ini saja sudah dua kali, pagi setelah bangun tidur dan sore tadi di mobil. Apa Mas tidak tahu susah payah aku menggoyangkan pinggulku karena perutku sudah besar dan ruang mobil yang sempit, lagi--"
Ray yang mukanya sudah memerah karena malu menutup mulut Litha dengan tangannya untuk menghentikan ocehan absurd istrinya.
"Oh Tuhan, Ray ... kau kejam sekali memintanya melakukan di mobil," seru Firza kaget.
"Aku-- Aku tidak dengar Kakak Ipar. Aku tidak dengar kalau dimobil Kak Litha kesusahan menggo--"
Teplak.
Paman Tino memukul lengan Vania yang sengaja menyindir kakak dan kakak iparnya. Litha baru menyadarinya setelah Vania yang angkat suara. Litha langsung membalikkan badan dan menjauhi mereka semua tanpa suara, mukanya sudah melebihi warna kepiting rebus.
"Lith, Litha!" panggil Ray di belakang mengikutinya.
"Kenapa kau lari? Aku yang lebih dibuat malu dengan kata-katamu tadi, lalu kau meninggalkanku seorang diri. Tega sekali kau Lith ..." sahut Ray lagi membuat Litha berhenti dan berbalik padanya.
"Maaf ... Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menjaga mulutku. Aku bukan saja malu sama mereka tapi sama Mas juga, duuhhhh ..." Litha menundukkan kepalanya, tidak berani mengangkat wajahnya.
Ray tergelak nyaring, ia gemas sekali dengan istrinya yang kadang bersikap sembrono, berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu berusaha tampil sempurna.
"Kau cantik sekali memakai dress warna ini. Warna yang sama saat aku pertama kali menyentuhmu." Ray tiba-tiba teringat sesuatu saat menatap lekat warna dress yang dipakai istrinya.
"Kapan ya? Sepertinya bukan warna ini deh, saat Mas menciumku waktu aku kalah mengupas telur."
Seketika Ray terbahak, "Ternyata kau terkesan sekali dengan ciumanku sampai ingat warna bajumu saat itu hahahahaha ... Aku curiga kau pasti selalu mengingat caranya aku menciummu kan,? hahahahaha ..."
Muka Litha yang sudah mulai menghilang kemerahannya, kini kembali memerah, "Kalau begitu kapan pertama Mas menyentuhku?"
"Kau ingat saja sendiri, aku akan memberitahumu setelah menggenapi hari ini dengan tiga kali bercinta."
"Mas!" Litha jengkel dan menginjak kaki suaminya hingga mengaduh kesakitan, ia lalu berjalan cepat menjauhi suaminya.
Saat tengah mengaduh Abyan menghampiri Ray dan berbicara serius. Ray terdiam sejenak lalu menepuk pundak Abyan.
"Hubungi Kapten Adi untuk bersiap berangkat secepatnya. Ibumu membutuhkanmu."
"Terimakasih Ray."
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Ada yang tahu kapan pertama kali Ray menyentuh istrinya? Hayoooo masih ingat tidak Kak 😁😁🤭🤭
__ADS_1