Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pengakuan Dianggap Seorang Ayah


__ADS_3

# Rumah Utama Keluarga Pradipta #


Pukul 22.45 waktu setempat, Sasmita memanggil Lidya dan Iskhak di dapur rumah utama. Ia memberitahu kalau ia akan segera menjemput Nyonya dari tempat pesta ulang tahun.


"Lidya, Nyonya pasti membutuhkan bantuanmu setelah aku menjemputnya. Bersiaplah. Dan juga Is, pasti Lidya akan membutuhkan bantuanmu dalam melayani Nyonya."


"Kenapa Nyonya tidak pulang sekalian dengan Tuan?" tanya Iskhak.


"Nyonya kelelahan, dan Tuan masih ada urusan," jawab Sasmita mengenakan jasnya.


"Pakailah kacamatamu, jangan berlagak sok muda terus. Malam ini tidak ada cahaya bulan, penerangan di jalan hanya mengandalkan lampu jalan. Kau pasti kesulitan tanpa kacamata," saran Lidya.


"Ck. Kacamata menurunkan wibawaku, aku seperti orang tua yang dikasihani jadinya. Apa kata Nyonya nanti? Melihat asistennya yang tua dan tidak bisa melindunginya, pasti akan membuatnya malu di depan para tamu di pesta. Sedikit kabur di malam hari bukan berarti aku tidak bisa melihat."


"Aku sudah menurutimu agar tidak memberitahu Nyonya kalau kau seharusnya memakai kacamata. Jadi, pakailah malam ini, untuk keselamatanmu dan Nyonya. Apa kau tidak takut menyetir dengan keadaan rabun senja begitu?"


"Aku menguasai jalanan ibukota. Tenanglah, antara rumah dan hotel tidak lebih dari 15 KM. Aku bahkan lulus tes mengemudi dengan mata tertutup."


"Sombong sekali!" seru Lidya jengkel tidak berhasil membujuk kakaknya untuk memakai kacamata.


"Aku pergi dulu. Kalian jaga rumah utama baik-baik."


"Tentu saja, Sas. Kau ini seperti mau pergi jauh saja."


Sasmita menepuk bahu Iskhak, lalu menatap adiknya dan berkata, "Bilang pada Abyan, lupakan gadis dokter itu, carilah wanita lain dan berkeluarga lah dengan baik, seperti Tuan Muda dan Nyonya. Jangan sampai dia seperti pamannya yang hanya mengenang satu hati yang tak bisa dimiliki."


"Haissshh ... Kau katakan saja sendiri! Aku sangat kesal kalau membahasnya dengan Abyan. Sekarang dia berani mengatakan untuk lebih baik menyuruhku mencari pengganti ayahnya daripada mengurusinya."


Sasmita dan Iskhak tergelak.


"Sudah, pokoknya katakan saja padanya besok atau kapan, terserah padamu. Aku pergi dulu," pamit Sasmita.


"Mas Sas ..." panggil Lidya ketika Sasmita membuka pintu mobil, hatinya entah kenapa menjadi berat melepas kepergian kakaknya kali ini.


Sasmita menoleh, "Ada apa?"


Lidya menggeleng, "Kacamatamu ada di laci dashboard mobil. Pakailah kalau memang dibutuhkan, jangan gengsi. Setidaknya untuk malam ini saja. Nyonya pasti akan memakluminya."


Sasmita tersenyum, "Kau meremehkan sekali kemampuanku, Adik Kecil."


Ada rasa haru menyeruak Sasmita memanggil Lidya dengan panggilan kesayangan kakaknya. Sampai usia berapapun Lidya tetaplah adik kecilnya Sasmita, adik yang ia lindungi dengan sepenuh hati meski hanya dari ibu yang sama.


...***...


Litha memeluk erat suaminya sebelum pergi dari tempat pesta. Ray mencium kening istrinya beberapa kali tak jua menghilangkan cemberut di wajah istrinya.


"Aku janji, akan pulang segera pulang setelah selesai urusanku. Kau baik-baik di rumah. Apa kau punya lingerie baru yang mau kau pamerkan?" goda Ray melihat istrinya merajuk karena ia pulang sendiri dengan Pak Sas.


"Dasar mesum!"


Ray tergelak, baru kali ini ia diumpat mesum tapi senang mendengarnya.


"Ya sudah, aku pulang duluan. Pinggangku rasanya mau patah dari tadi duduk saja."


"Setibanya di rumah, mandilah pakai air hangat dan minta tolong Bibi Lidya untuk memijat di bagian yang pegal, jadi begitu aku pulang aku akan membuatnya pegal lagi."


"Aaaaaa ... Punya suami maniak begini bikin repot sekali. Ayo, Pak Sas kita pulang sekarang. Kalau kelamaan aku meladeni bicaranya, juniornya tidak akan bisa turun."


"Kau!"


Mata Ray terbelalak mendengar Litha berkata seperti itu dengan entengnya di depan Pak Sas.


"Kenapa? Emang bener kan? Tuh lihat, sebelum kembali bergabung dengan mereka, turunkan dulu yang bangun di dalam celanamu, Mas."


Litha dengan cueknya langsung mengambil tasnya dan berjalan diikuti Pak Sas yang tertawa tanpa suara.


"Lithaaaa !!! Awas kau!"


.


.


.


Bona dan Ninda berjalan ke taman hotel menikmati malam yang merangkak menuju pun*caknya.


"Nin, Mami dan Papi mengundangmu makan malam. Kali ini kau mau datang, kan?"


Ninda mengangguk, ia merasa canggung, kekasihnya pun sama.


"Terimakasih Ninda, aku masih diberi kesempatan. Aku janji tidak akan membuatmu sedih, maafkan keegoisanku kemarin ya?" Bona tersenyum menatap wajah imut kekasihnya.


"Aku masih percaya padamu, Bon. Kalau kau memang serius padaku, luluhkan sepenuhnya hati orangtuaku dan kedua abangku."


"Pasti, Nin. Tapi-- kenapa mereka menakutkan sekali."


Ninda tertawa kecil, "Siapa suruh kau mendekati keluarga Kusuma. Kau tanya saja di daerah rumahku, siapa yang paling mereka takuti, Beny Kusuma, itu nama ayahku. Kau macam-macam denganku, habislah kau Bon."


"Apa menciummu termasuk macam-macam?" tanya Bona dengan senyumnya yang menggoda.


"Apa-apaan sih!"


"Aku tidak ingin dihabisi oleh keluargamu. Aku masih ingin hidup untuk membahagiakanmu, Nin. Jadi, aku hanya ingin memastikan macam-macam itu seperti bagaimana agar aku bisa menghindarinya. Apa menciummu termasuk macam-macam?"


Serrrr ...


Ninda bingung mau menjawab apa, seketika tangannya dingin, ia menjadi gugup, apalagi Bona melangkahkan kakinya mendekati Ninda hingga tiada berjarak.


"Bo-- Bona .. A-- apa uang kau lakukan?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sayang?"


.


.


.

__ADS_1


Litha sudah keluar gedung hotel milik keluarga suaminya. Saat ia menuju area parkir, ia melihat sepasang kekasih di taman hotel yang sedang memadu kasih meski tanpa cahaya bulan.


"Pak Sas, itu Ninda dan Bona, kan?"


Pak Sas memicingkan matanya, "Sepertinya bukan Nyonya."


"Beneran, itu Ninda dan Bona. Aku mau kesana dulu, Pak."


.


.


.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sayang?" Bona makin mendekatkan wajahnya, ia senang melihat semu merah di pipi Ninda, sangat menggemaskan.


"Engg ... engggg ..."


"A-- apa kau ingin menciumku?" tanya Ninda malu.


"Menurutmu?" Bona malah balik bertanya.


Ninda tidak menjawabnya, ia berjinjit memegang bahu Bona sebagai tumpuan, lalu diciumnya bibir lelaki yang tadi menggodanya. Bona tidak menyia-nyiakan kesempatan, ini adalah monet yang paling ditunggunya, Ninda yang memulai duluan. Jadi ia tidak akan dianggap macam-macam.


Bona menundukkan leher untuk memberi keleluasaan Ninda menciumnya sambil berdiri, menyesap aroma manis mocktail yang tadi diminum kekasihnya. Ninda hanyut dalam pagu*tan pria yang telah menyentuh hatinya.


"Ckckckck ... apa kalian tidak sadar kalian berciuman di tempat yang mudah dilihat orang."


Suara Litha mengagetkan Bona dan Ninda yang spontan mengurai ciuman intim mereka. Ninda menundukkan kepala malu, dipergoki sahabatnya berciuman.


"Ya, karena kami baru saja mendapat contoh langsung di--"


"Haishhh ... ya sudah, terserah kalian. Aku tidak akan mengganggu kalian, tapi aku hanya mengingatkan, setidaknya hubunganku dengan Mas Rayyendra sudah suami istri, kalau kalian?"


"Eh, apa maksudnya?" tanya Bona kaget, tapi Litha sudah berjalan menjauhi mereka ke area parkir.


"Maaf Bon, tadi aku kebablasan. Aku janji aku tidak akan mengulanginya. Maaf ya," ujar Ninda menunduk ia malu dipergoki Litha dan baru menyadari status mereka belumlah suami istri.


"Eh, tidak-- tidak begitu, Nin. Jangan meminta maaf, aku-- aku-- Aduuuhhh, bagaimana ini menjelaskannya, aaarrrgghhhh ...!!!" teriak Bona di keheningan tengah malam.


.


.


.


"Pak Sas, kok tumben jalannya pelan sekali?" tanya Litha memperhatikan mata Pak Sas sedari tadi menyipit, seperti memusatkan penglihatan selagi menyetir.


"Biasanya disini ada beberapa warung tenda dan warung kopi yang buka sampai dini hari. Kenapa malam ini tidak ada satupun yang buka. Mana jalanan gelap sekali, malam ini tidak ada cahaya bulan," gumam Pak Sas risau dalam hati.


"Nyonya, maaf, bolehkah saya memakai kacamata?"


Akhirnya Pak Sas harus mengalah dengan kondisi matanya yang memang tidak bisa diajak kompromi jika dalam keadaan gelap.


"Tentu saja. Apa Pak Sas memiliki rabun jauh?"


"Ehhmm ... tepatnya rabun senja, Nyonya," jawab Pak Sas mengambil kacamata di laci dashboard mobil lalu memakainya.


Agak lama Pak Sas tidak bersuara, "Saya tidak ingin Nyonya terlihat lemah karena asistennya terlihat tua dengan kacamata."


"Hah! Apa!?! ... Pak Sas, apa aku tidak salah dengar? Hahahahaha ..." ujar Litha terbahak.


Pak Sas diam.


"Siapa yang bilang Pak Sas terlihat tua mengenakan kacamata? Mana orangnya biar kucolok itu matanya hahahahaha ... Pak Sas adalah orang yang paling dipercayai Suamiku untuk menjaga istrinya tanpa melihat usia atau penampilan, hehehehe ..." Litha masih menyisakan tawanya.


"Tidak ada orang yang paling dipercainya selain Pak Sas, bahkan Asisten Yan pun tidak. Itu semua tidak ada hubungannya dengan kacamata. Ih, Pak Sas lucu deh ... Mana lihat?!?" Litha memajukan badannya mau melihat wajah Pak Sas berkacamata.


"Wuiihhh ... tambah keren Pak Sas! Kalau saja aku belum diketahui sebagai Nyonya Pradipta, bisa jadi aku masih dikatakan istri simpanan Pak Sas, hahahahahaha ..."


Entah kenapa hati Pak Sas menghangat mendengar celotehan ibu hamil yang tidak jelas.


"Pak Sas, dengar ya! Aku tidak khawatir Pak Sas mau terlihat tua atau tidak, itu tidak penting selama Pak Sas menyayangiku seperti putri sendiri."


"Nyonya ..."


"Hanya Pak Sas yang sudi memikirkanku dari semua orang-orang di rumah Keluarga Pradipta saat aku pergi dari sana, disaat Suamiku sendiri mengira aku wanita yang bisa dibayar. Bahkan Pak Sas rela bersamaku keluar dari rumah utama untuk menjagaku dan bayiku jika aku dan Suamiku bercerai. Meskipun Pak Sas mungkin melakukannya karena janji pada Nyonya Besar, tapi tetap saja, aku menemukan sosok Ayahku yang telah meninggal pada Pak Sas. Sosok yang melindungiku tanpa syarat."


Mata Pak Sas menghangat dan terasa basah. Ia tidak menyangka kesetiaannya pada seorang gadis muda yang dititahkan Nyonya Besar akan memberinya hal yang luar biasa yaitu sebuah pengakuan dianggap seorang ayah.


"Nak, nanti kalau kau sudah lahir, harus menurut sama Kakek Sas ya ... Kau tahu sejak usiamu 3 bulan di perut Ibu, Kakek Sas telah menjagamu," ucap Litha mengelus perutnya seakan bicara dengan jabang bayinya.


"Kata Nenek Rima, beliau berusaha menyelamatkanmu dengan menggendong Ibu dari pemakaman Nenekmu sampai rumah sakit sehingga tidak terlambat ditolong dokter. Kau berhutang nyawa padanya, Nak," sambung Litha lagi.


Ucapan tulus Litha sungguh membuat Pak Sas terharu, "Itu sudah menjadi tugas saya," sahutnya sedikit bergetar.


"Ishh ... Pak Sas kaku sekali. Apa Pak Sas menyayangiku? Maksudnya menyayangiku layaknya seorang putri kecil."


Pak Sas tersenyum, "Ya."


"Kalau begitu beri nasehat padaku dengan menyebut namaku langsung. Jangan ada kata Nyonya," pinta Litha.


"Nyo--"


"Eeehh ... barusan juga dibilang jangan pakai kata Nyonya. Kali ini saja, please ..."


Pak Sas tergelak, "Baiklah ..."


"Aku siap mendengarkan, Pak."


"Hiduplah dengan bahagia bersama suamimu, Nak. Apapun ujian dalam rumah tangga kalian, yakinlah tidak ada masalah sebesar cinta kalian. Bapak jadi saksi cinta kalian dari yang awalnya tersirat hingga--"


Pak Sas hampir saja keceplosan mengatakan 'hingga menyatukan kalian meski dengan cara yang tidak pantas'.


"Hingga apa Pak?" cecar Litha.


"Hingga-- tanpa sungkan lagi menunjukkan kalau kalian saling mencintai."

__ADS_1


"Terimakasih Bapak ..."


Bapak ...


Untuk kesekian kalinya, hati Pak Sas begitu hangat.


"Nyonya ..."


"Jangan sebut Nyonya! Paling tidak selama mobil ini masih berjalan."


"Li-- Litha, maafkan Bapak ... Bapak pernah melakukan kesalahan fatal padamu, Bapak tidak tahu apakah kesalahan Bapak akan termaafkan atau tidak. Tapi Bapak mohon suatu saat Litha sudi memaafkan Bapak agar Bapak tenang."


Pak Sas mengucapkannya dengan suara bergetar, ia terbawa perasaannya sendiri. Begitu menyakitkan jika teringat saat ia memasukkan obat perangsang ke dalam whisky Tuan Muda malam itu.


"Ke-- kesalahan apa Pak? Bapak tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun padaku," tanya Litha bingung.


"Nyonya."


Nada suara Pak Sas yang tadinya bergetar menjadi siaga. Meski ia sudah memakai kacamata, tetap saja ia picingkan kedua matanya. Suasana gelap karena hanya satu lampu jalan yang menyala, namun ia yakin sesosok bayangan yang menghadang dari jarak 20 meter itu milik siapa.


🍀 Flashback on 🍀


"Setiap pulang dari hotel saat pesta ulang tahun pasti mereka melewati jalan ini karena lebih menyingkat jarak dan waktu. Suasana sewaktu malam di jalan ini hanya diramaikan dengan beberapa warung tenda dan warung kopi." terang Sebastian menunjukan sebuah jalan di Google Map pada Ramona.


"Kalau ada tempat makan berarti kita tidak bisa menjalankan rencana kita," ujar Mona.


"Itu urusan Nick dan John. Mereka yang akan mengurusnya agar di malam itu tidak ada yang buka."


"Tapi-- apa anak buah ayah bisa menghadapi Ray dan Abyan? Kemampuan beladiri mereka sangat baik."


"Aku yang mengurus mereka berdua nanti." Sebastian menunjukkan senjata apinya yang didapat secara ilegal.


"Kau fokuskan pada perebut kekasihmu itu saja. Bawa dia ke tempat yang sudah kita atur."


"Ayah mau menembak Rayyendra?" tanya Mona kaget dengan senjata api yang diperlihatkan ayahnya.


"Jika terpaksa, tapi hanya kulumpuhkan, tidak untuk mematikan. Dan jangan mereka sampai mengenali kita."


"A-- Ayah ..." Mona menepis keraguannya yang mendadak muncul. "Misalnya kalau mereka tidak melewati jalan itu bagaimana?"


"Nick akan menyusup sebagai pelayan hotel. Dia akan memberi kita informasi yang akan menentukan rencana berikutnya. Yang penting jalan itu sudah kita buat sepi," pungkas Sebastian menepuk bahu putrinya.


"Yakinlah. Sedikit saja keraguanmu muncul, akan menggagalkan rencana kita, bukan hanya gagal tapi juga kita akan menerima akibatnya. Kau tahu sifat Tuan Muda, kan?" sambungnya lagi.


Ramona mendengus kesal, sakit hati membayangkan Ray akan membela dan melindungi mati-matian istrinya.


🍀 flashback off 🍀


Ciiiiitttt ...


Pak Sas mengerem mobil peninggalan mendiang Nyonya Besar tiba-tiba. Sebanyak 3 orang menghadang mobil, dua diantaranya memegang sesuatu yang bisa dijadikan alat pukul.


"Pa-- Pak, Bapak ... Si-- Siapa mereka? Mau apa mereka?" tanya Litha terbata-bstaketakutan.


Pak Sas masih bergeming, dengan lampu mobil yang masih tersorot ia mengamati salah satu sosok dengan tangan kosong, Pak Sas lalu mengangkat satu sudut bibirnya dan mendengus marah.


"Pak, kenapa Pak? Bapak kenal mereka?"


Pak Sas bukannya menjawab, ia malah mengeluarkan ponselnya dan menelepon keponakannya.


"Sial! Pasti anak ini mensenyapkan bunyi teleponnya lagi," umpat Pak Sas setelah berkali-kali menelepon tidak diangkat.


Kemudian dia mengetikkan sesuatu dengan cepat di ponselnya karena kedua orang yang membawa benda di tangannya tengah berjalan mendekati mobil mereka. Litha disergap rasa takut yang luar biasa, mukanya pucat dan badannya terasa dingin.


"Nyonya, biarkan mobil dalam keadaan menyala dan hubungi Tuan Muda agar segera kesini untuk menyelamatkan Nyonya, saya sudah mengirimkan lokasi di ponsel Abyan," kata Pak Sas memberi instruksi, tapi Litha seakan terpaku tidak bergerak. Dia sangat ketakutan melihat pemandangan temaram di luar mobil.


"Nyonya ..." Panggil Pak Sas tapi Litha masih diam saja.


"Litha!"


Barulah Litha menolehkan pandangannya ke depan,


"Pak ... aku takut ..." lirihnya pelan melingkupi perut besarnya. Keringat membanjiri keningnya. Matanya sudah berair.


"Nyonya, hubungi Tuan Muda sekarang agar segera kesini, lokasinya sudah kukirimkan di ponsel Abyan. Bertahanlah selama mungkin sampai Tuan Muda datang. Tetaplah di dalam mobil dengan mesin menyala. Mobil ini dilengkapi kaca anti peluru dan bodynya tahan terhadap benturan. Apapun yang terjadi Nyonya tidak boleh meninggalkan mobil ini sebelum Tuan Muda datang. Saya akan mengulur waktu mereka," Pak Sas mengulang kembali instruksinya perlahan agar Litha bisa mencerna dan melakukannya dengan baik..


"Mengulur waktu bagaimana?" tanya Litha sambil mengambil ponsel di tas.


"Saya akan keluar menghadapi mereka. Ingat Nyonya, apapun yang terjadi jangan keluar. Mobil ini pertahanan terakhir Nyonya sebelum Tuan Muda datang."


"Ti-- tidak, Pak ... Ja-- Jangan, jangan keluar. Mereka sangat berbahaya, Bapak bisa terluka. Bagaimana dengan saya nanti kalau Bapak terluka. Jangaaaannn ... Bapak jangan keluar, jangan ... " rengek Litha menangis seperti anak kecil yang tidak mengizinkan ayahnya pergi.


"Nyonya ... bertahanlah. Saya akan melindungi Tuan Muda Kecil sekali lagi," kata Pak Sas membuka pintu mobil lalu menguncinya.


"Tidaakkkk ...!!! Bapaakk ...!!!"


Litha segera menekan nomor suaminya, telepon tersambung.


"Ya, Sayang ... Kau sudah sampai di rumah?"


"Maass ... cepat kesini, tolong kami! Aku takut Mas ..." ujar Litha cepat dengan gemetar seraya melihat Pak Sas berhadapan dengan mereka.


"A-- Apa maksudmu? Kau dimana?"


"Pak Sas mengirimkan lokasinya pada Asisten Yan. Cepatlah kemari Mas, aku takut ..."


Seketika Ray panik dan memanggil Abyan, "Yan, cek teleponmu! Apa Pak Sas menelepon dan mengirimkan lokasi?"


Abyan langsung mengecek ponselnya. Betapa terkejutnya ia, 5 kali panggilan masuk dan satu chat yang berisi sebuah lokasi, "Ada Ray. I-- ini kan lokasi jalan pulang ke rumah. Ada apa?"


"Cepat kesana!"


Firza yang di samping Ray ikut bingung beserta para koleganya, "Ada apa Ray?"


"Mohon maaf semuanya, saya harus segera pergi." katanya pamit, lalu menepuk pundak Firza, "Sepertinya Litha dalam bahaya, Za, dia ketakutan."


"Apa!"

__ADS_1


Firza ingin lebih bertanya lagi tapi Ray sudah berada jauh bersama Abyan. Dia pun juga pamit dan menyusul adik angkatnya. Suasana pesta yang tadinya bahagia dan menyenangkan kini berubah mencekam.


- Bersambung -


__ADS_2