
"Kau masih menungguku rupanya." Rayyendra tersenyum melihat Litha duduk di sofa menunggunya sembari memainkan ponselnya.
"Cih, bukannya kau yang menyuruhku menunggumu dan melarang dua bodyguardmu menjagaku biar tidak kabur dan sekarang kau berkata aku yang menunggumu?"
"Apa terlalu lama bagimu menungguku rapat?" Ray mulai menggoda istrinya, ia lupa tadi ia baru saja menghadapi masalah berat perusahaannya.
Litha tidak menjawab, hanya meliriknya sekilas dan kembali bermain ponsel.
"Halo Asisten Yan... " sapa Litha tidak peduli dengan Ray yang sudah duduk di sampingnya.
"Ya, Nyonya." Abyan membalas sapaan Litha.
Tanpa ada ketukan dan suara tiba-tiba pintu dibuka seseorang, ada Bona Santoso dibaliknya. Ia sempat terkejut melihat Litha disitu.
"Ray, aku tidak menyangka Sebastian curang seperti itu. Apa yang kurang kau berikan padanya sampai dia nekad memalsukan semua dokumen?" cerocos Bona, ia langsung duduk di hadapan Ray.
"Entahlah."
"Tapi Sebastian benar-benar keterlaluan, Ray. Kau tahu, semua ditektur di rapat tadi ingin dia mendapat ganjarannya, bahkan kalau perlu dibawa ke ranah hukum."
"Sidang disiplin masih tiga hari lagi. Aku dan Firza akan mendiskusikannya."
Mendengar nama Firza disebut menarik perhatian Litha hingga ia bertanya, "Apa tadi Kak Firza ikut rapat? Berarti dia sudah ada disini sekarang ya?"
Muka Ray yang awalnya tidak menunjukkan senyum karena kehadiran Bona yang tiba-tiba dan membahas Sebastian kini makin datar karena istrinya menyebut kakak angkatnya.
"Kenapa kalau dia disini? Kau mau menemuinya?"
"Tentu saja. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku ingin menyapanya, beberapa kali aku meneleponnya setelah aku menikah tapi tak pernah diangkat."
"Hah!!! Kau meneleponnya di belakangku?" suara Ray agak meninggi, ia tidak suka mendengar istrinya berinteraksi dengan laki-laki lain.
Litha, Abyan dan Bona menatap Ray bingung. Ada apa dengannya? Ray yang yang dilihat seperti itu makin salah tingkah, lalu ia berkata, "Siapa tadi nama anak magang itu?"
"Kak Leon maksudmu?" Litha menjawab santai padahal hati Ray sedang tergerus panas.
"Ya, Leon siapa?"
"Leonanda Saputra."
"Yan, kau cari anak itu. Bawa berkas-berkasnya padaku."
"Untuk apa?" sahut Abyan dan Litha berbarengan, Bona merasa ada sesuatu yang aneh.
"Aku hanya mau melihatnya saja. Apa ia layak atau tidak untuk diangkat menjadi karyawan tetap karena aku melihatnya mengobrol di jam kerja."
"Apa?" Litha tidak percaya dengan yang diucapkan suaminya.
"Maaf Tuan, apa Anda tidak berlebihan mengurusi karyawan magang?"
"Tidak, hanya untuk dia saja. Aku tidak peduli yang lainnya."
Benar apa yang dikatakan Asisten Yan, suaminya ini benar-benar berlebihan. Dia hanya menyapanya sebentar karena tidak sengaja bertemu, itupun disela Ray. Bagaimana bisa dianggap pelanggaran?
"Tuan Muda Suamiku, apa sebenarnya yang mau kau lakukan padanya?" Litha memanggil Ray dengan mesra karena ada maunya.
__ADS_1
"Tuan Muda Suamiku? aishhhhh.... telingaku sakit mendengarnya." Bona bicara sendiri dengan suara yang sangat pelan.
Buufffhh ...
"Tutup telingamu kalau tidak suka!" ketus Ray melempar bantal sofa ke Bona.
Abyan mengkode mata ke Bona agar segera keluar ruangan tapi Bona pura-pura melihat ke arah lain. Ia ingin menyaksikan sandiwara langsung di depannya.
"Atau Yan hubungi HRD, katakan pada mereka, anak magang itu harus ditinjau ulang kembali saat evaluasi nanti."
"Ray, apa kau sedang bermain-main? Tapi kenapa aku tidak membaca ekspresi itu di wajahmu, sebenarnya ada apa ini?"
"Apa karena Kak Leon bicara denganku tadi sehingga kau sebut pelanggaran? Dia hanya menyapaku, bukan mengobrol."
Leon tadi sudah sangat optimis ia bakal diangkat menjadi karyawan tetap, Litha akan merasa sangat bersalah jika harapan Leon sirna hanya karena menyapanya barusan.
"Ini kalian bicara apaan sih? Siapa Leon?" Bona menyela mencari penjelasan.
"Tidak usah ikut campur!" ucap Ray dan Litha serempak. Abyan yang melihatnya tergelak karena wajah Bona seperti habis disiram air.
"Kalian tadi membicarakan apa?" tanya Ray pada Litha.
"Bukankah kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing, Tuan Muda Suamiku tidak lupa, kan?"
"Aku tidak lupa tapi aku tidak menyukainya."
"Apa aku harus peduli?"
Abyan menyadari perseteruan antara Tuan dan Nyonya Pradipta bukan sekedar pertunjukan. Ia mulai memasang sikap awas karena nada suara keduanya semakin meninggi.
"Tentu saja karena kau istriku!"
Belum selesai Litha menyanggah, Ray menangkup wajah Litha dengan kedua tangannya, disambarnya bibir Litha yang mengoceh dan ********** dengan gemas.
"Ray!" sergah Abyan memanggil langsung nama tuannya.
Litha hanya bisa mematung, namun matanya terbuka. Ia bisa melihat jelas ekspresi kaget Asisten Yan dan Bona, bahkan setelahnya Bona mengulum senyum menahan tawa. Ia sangat malu, malu sekali. Kulit wajahnya yang terang kini terlihat merah, berusaha sekuat tenaga untuk melepas ciuman Ray.
Plakkkkkk ....
Pipi Ray ditampar keras. Mata Litha nampak berair, ia merasa dipermalukan suaminya dihadapan teman-temannya dengan menciumnya seperti itu, sangat berbeda dengan ciuman sebelumnya di lift.
"Aku memang telah menyerahkan harga diriku padamu, tapi ingat! aku tidak menyerahkannya semua. Jaga batasanmu!" kata Litha, kemudian mengambil tasnya dan berjalan cepat keluar ruangan.
"Hah! Dia berani menamparku ternyata," ucap Ray mengelus pipinya yang ditampar Litha.
Bona nampak shock melihat Tuan Muda Pradipta yang tak pernah tersentuh kini mendapat tamparan dari seorang wanita biasa.
Abyan menghela nafasnya dan berkata pelan, "Seharusnya Anda tidak melakukannya, Tuan."
"Melihatnya mengoceh, sangat menggemaskan. Aku tidak tahan melihat bibirnya yang terus bergerak."
"Hah!!!" kaget Abyan dan Bona kompak.
"Ray, sejak kapan kau punya ketertarikan pada wanita? Bukannya kau hanya tertarik dengan tumpukan dokumen di atas mejamu?" kata Bona tidak habis pikir.
__ADS_1
Ray melirik Bona tanpa suara, lalu senyum-senyum sendiri.
"Kau sudah jatuh dalam perangkap yang kau pasang sendiri, Ray." ujar Abyan membathin.
Di dalam lift, Litha menangis. Kuncup bunga yang sedikit mekar harus layu kembali. Sikap Ray telah menggoyang hatinya, namun ia lupa bahwa hubungan mereka hanya berlandaskan perjanjian berjangka waktu. Setelah waktunya tiba semua harus kembali ke tempat asalnya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Begitu Ray beserta asisten dan sekretarisnya meninggalkan ruang rapat, semua menggunjingkan Sebastian. Ramona yang menyadarinya merasa malu dan segera ingin pergi, namun ayahnya mencegah.
"Mona kau ikut aku pulang ke rumah sekarang!"
"Tidak ... Tidak Ayah ... Aku akan ke ruangan Presdir sekarang, memohon untuk ayah seperti kemarin."
"Aku bilang, pulang sekarang!" bentaknya pada putrinya. Akhirnya Mona menuruti apa yang ayahnya suruh.
Di rumah, Sebastian melampiaskan kemarahannya pada putrinya yang dianggap gagal menjalankan misi sehingga akal bulus mengakali perusahaan ketahuan.
"Ayah, kenapa marah padaku? Bukan salahku kecurangan Ayah ketahuan."
"Setidaknya kau bisa memberiku info kalau ada penyidikan dari bagian audit seperti waktu itu jadi aku bisa bersiap diri dan kau tinggal merayu Tuan Muda untuk memakluminya."
"Apa Ayah menyuruhku mendekati Ray untuk ini? Untuk memuluskan rencana jahat Ayah?"
"Heh Mona! Kau itu sadar diri! Apa yang bisa kau lakukan untuk keluarga kita agar bisa memiliki harta selain memanfaatkan dirimu yang cantik. Ayah melakukan semua ini agar hidup keluarga Riguna terjamin sampai anak cucu."
"Lalu apa yang Lucas bisa lakukan? Dia hanya bisa menjadi beban keluarga!"
Sebastian mencekik leher Ramona dan berkata pelan namun tajam di dekat telinganya, "Lucas kupersiapkan untuk menjadi CEO dari perusahaan yang akan kubangun sendiri."
"Hahahahahahahahahaha ....."
Ramona tertawa dengan sisa suaranya karena lehernya masih dalam genggaman ayahnya.
"CEO? Hah CEO? Hahahahahahaha ..... apa yang bisa dia lakukan selain memerkosa anak gadis orang hahahahaha.... dan apa tadi, perusahaan yang akan Ayah bangun? Perusahaan dari uang haram yang Ayah maksud hahahahahaha .... "
Plakkkk ... Plakkkk ....
Ramona ditampar ayahnya tanpa ampun. Ibunya yang melihatnya dianiaya hanya diam saja dan melihatnya dengan tatapan kasihan. Mona kecewa dengan semua anggota Keluarga Riguna.
"Kalau saja kau bisa mengikat Tuan Muda dalam jeratanmu tentu aku tidak akan mengalami hal yang memalukan seperti di ruang rapat tadi. Dan kau dengar sendiri Tuan Muda sendiri yang menyeretku ke sidang disiplin. Ayahmu ini terancam dipecat Ramona!!!"
Sebastian berteriak di depan muka anaknya. Ramona hanya bisa menangis diperlakukan seperti itu. Mengapa dia yang harus bertanggungjawab? Ia sudah tersiksa dengan perasaannya sendiri ditambah lagi umpatan-umpatan dari sang ayah.
"Kau dengar!!! Dalam waktu 3 hari ini, terserah bagaimana caranya kau harus mendapatkan pengampunan ayahmu dari Tuan Muda dan aku akan memaafkan kesalahanmu," ancam Sebastian.
"Ke-- kesalahan yang mana? Aku tidak pernah melakukan kesalahan. Aku selalu menuruti kata-kata Ayah."
"Bodoh!!! Dari mana kebodohanmu diturunkan?!? Kau mau tahu kesalahanmu? Kau jatuh cinta pada Tuan Muda!"
"Kesalahan? Tidak! Itu bukan kesalahan, Ayah. Aku jatuh cinta padanya adalah sebuah anugerah bukan kesalahan, dia bisa memperlakukanku seperti seorang ratu."
Tangis Ramona pecah memenuhi rumahnya. Hatinya bagai terpenjara oleh ayahnya sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika cinta yang tumbuh subur harus dipangkas membabi buta, namun akarnya tetap kuat bertahan.
- Bersambung -
__ADS_1
NB ;
Maafkan Author, kalau chapter kali ini berasa kurang nyaman karena ada beberapa kali plak-ploknya 😁🙏