
Litha membolak-balik draft skripsinya yang dicoret-coret oleh dosen pembimbingnya. Semalam ia tidak konsen menyusun Bab III sebab pikirannya hanya terfokus di wasiat Nenek.
'Litha, tumben sekali, banyak yang harus kau perbaiki'' Kata-kata Pak Munir masih terdengar di telinganya,.
Ddrrrttt ..... Dddrrrtttt..... Ddrrrrrrtttt....
'Tuan Muda Yang Mulia' memanggil dengan mode getar. Litha membiarkan panggilan itu sampai selesai. Tidak ingin mengangkatnya.
🙋 Hahahahaha.... ternyata Litha tidak mengganti nama kontaknya 🙋
"Mau apa kau meneleponku? Kau penasaran ya dengan jawabanku. Hah! Dasar Tuan Muda Congkak!"
Ponsel Litha tidak berhenti bergetar, nada panggilan masuk kembali dari kontak yang sama. Sampai panggilan yang keempat kalinya, Litha menyerah.
"Kau ini memang suka memaksa. Satu lagi kuberi kau julukan, Tuan Pemaksa!"
Baru sepersekian detik ditekannya button hijau dilayarnya, suara nyaring langsung menyahut.
"Hei, Nona, kau mau mati ya? Kenapa tidak mengangkat teleponku! Bukannya sudah kubilang tidak lebih dari dua kali nada panggil kau harus menjawabnya!"
"Heh, Tuan! Memangnya aku istrimu? Kita belum menikah saja kau sudah kasar begitu."
Entah darimana Litha mendapatkan pencerahan untuk membentak balik calon suaminya.
🙋 Lah emang Litha bersedia menikah ya? 🙋
"Kau ini!!! Benar-benar mau mati kau rupanya hah!!! Datang ke kantorku sekarang juga! Aku mengosongkan agendaku hanya untuk bertemu denganmu."
"Siapa yang perlu? Bukannya Tuan yang mau menemuiku, kenapa aku yang harus datang ke kantormu?"
"Dasar perempuan gila! Aaarrrrrgggghhhhhh....."
Raungan kemarahan dilanjutkan dengan suara benda jatuh ditangkap telinga Litha.
"Nona, sebaiknya kau ikuti saja apa yang Tuan Muda katakan. Datanglah kesini sekarang, Nona."
Eh, ada suara lain di seberang yang menyahut.
"Ya... ya... aku akan datang. Bilang pada Tuanmu, kalau dia ingin menemui perempuan gila dia harus gila terlebih dahulu."
"Nona... ini bukan waktunya bercanda!"
"Hah! Tuan sama asistennya sama-sama cepat emosi. Hahahahahaha......"
Tiiitttt......
Litha menutup panggilan teleponnya tanpa permisi.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Litha mendongakkan kepalanya menatap ke puncak gedung pusat Pradipta Corp. Ia berdecak kagum melihat tulisan besar dan logo perusahaaan yang megah.
"Selamat siang Mbak, saya mau ketemu Tuan Rayyendra." sapanya di resepsionis.
Si Resepsionis itu memandang Litha dari atas ke bawah, ah ya.... penampilan khas mahasiswa yang melekat di badan Litha terlihat aneh di mata si resepsionis.
"Kalau mau bertemu dengan pim-pi-nan harus membuat janji dulu," ketusnya, kata pimpinan ia tekan dengan begitu jelas, sangat jelas terlihat merendahkan Litha.
"Ck! Ini perusahaan, mau bosnya sampai anak buahnya semuanya sama! Sombong!"
"Saya sudah membuat janji, Mbak, Pim-pi-nan Mbak sendiri yang membuatnya untuk bertemu denganku." Litha juga menekan kata pimpinan.
Bukannya dipersilahkan, malah pandangan meremehkan yang Litha dapatkan.
"Pimpinan siapa yang membuat janji denganmu?"
Tiba-tiba suara wanita lain muncul. Seorang wanita cantik dengan setelan kantor lengkap dengan blazer merk designer ternama berdiri di belakang Litha.
"Selamat siang, Nona Ramona," ucap Si Resepsionis memberi hormat.
Litha berbalik, Ramona melihatnya dengan sinis.
__ADS_1
"Tuan Rayyendra," jawab Litha acuh.
"Sejak kapan dia mau bertemu denganmu? Kau ini ternyata tidak tahu diri, semakin serakah, dari rumah utama sekarang menginjakkan kaki di gedung kantor."
Litha jengah mendengarnya, ia lalu meninggalkan Ramona begitu saja menuju sofa di loby gedung, tidak peduli umpatan yang keluar dari mulutnya. Litha mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
'Bukan salahku jika aku tidak menemuimu, Tuan. Mereka yang dibawah kantormu tidak percaya kalau aku calon istrimu.'
Litha menekan pilihan send di layarnya.
"Hahahahahaha.... lihat bagaimana mukamu membaca pesanku. Siapa yang mati hah!"
Dengan santai ia menunggu balasan pesannya, tapi tidak juga dibalas. Sedikit lagi ia menunggu sambil bermain game di ponselnya.
Tengah asyik-asyiknya naik level permainan, lengannya ditarik paksa menuju keluar kantor.
"Aaaaaauuuuuuwwwwwww....." pekik Litha berusaha melepas cengkraman tangan yang ada di lengannya.
"Cukup kau berulah! Masuk ke mobil!"
Litha yang masih bingung, juga sama dengan karyawan lainnya yang ada disitu menatap heran apa yang membuat presdir mereka menarik paksa seorang gadis keluar gedung.
Mobil sudah disiapkan Asisten Yan, Litha didorong masuk Ray, kemudian ia menyusul masuk.
"Kau membuat rumor apa tadi di loby hah!!!"
Litha tidak dapat bersuara. Rayyendra dengan kasar memegang leher Litha, lebih tepatnya sedikit mencekik. Nyali Litha seketika ciut, keberanian yang tadi menggebu hilang entah kemana. Ternyata keberaniannya hanya muncul jika tidak langsung berhadapan dengan Ray.
"Yan, jalan!" titahnya.
"Baik, Tuan."
Mobil melaju ke sebuah gedung pencakar langit, lagi-lagi di loby masuk apartemen tertera logo Pradipta Corp.
"Apa ada tempat dimana aku tidak menemui logo Pradipta Corp.?" gumam Litha takjub.
"Ki-- kita mau kemana, Tuan?" tanya Litha terbata, memasuki lift. Dilihatnya Asisten Yan menekan tombol angka tertinggi.
"A-- Apa?"
Rasa takut menyerang Litha, ia salah membangunkan Singa Ngamuk. Ray nampak tidak bercanda, wajahnya serius dengan apa yang dikatakannya, begitu juga dengan Asisten Yan.
"Tu-- Tuan. To-- tolong, saya hanya bercanda, ma-- maaf."
Litha sudah hampir kencing berdiri rasanya.
"Apa aku berpura-pura pingsan saja? Tidak! Tidak! Aktingku buruk, kalau kemarin diketahui Kak Firza aku aman, kalau si Singa Ngamuk duh..... mati aku. Ibu..........."
Litha memejamkan matanya, memanggil ibunya jika ia dilanda ketakutan.
"Kau yang menyuruhku untuk gila, kan, Nona? Bagaimana kegilaanku hahahahahaha...."
Ray dapat merasakan dingin di kulit Litha yang ia cengkram, namun ia menahan senyumnya mencoba tetap memancarkan aura dinginnya.
Ting........
Pintu lift terbuka, Litha masih ditarik paksa Ray menuju ke sebuah pintu, ditempelkannya jari telunjuknya, smartdoor itu langsung terbuka.
Litha memasuki sebuah ruangan, minimalis tapi sangat berkelas, begitu bersih, rapi dan elegan. Ia dihempaskan begitu saja ke sofa. Lalu Rayyendra duduk di hadapannya, Asisten Yan mengambil posisi di belakang Tuannya.
"Ini apartemenku. Tidak akan ada yang tahu kita disini."
"A-- apa?" airmuka Litha memucat
"Apa dia benar mau membunuhku?"
"Kau takut?" tanya Rayyendra dengan sedikit senyum.
Litha tidak bergeming, malah mengamati apartemen mewah milik Rayyendra.
"Ckckckck.... kira-kira berapa harta kekayaan Keluarga Pradipta ya? Wajar saja si Singa Ngamuk ini tidak akan menolak menikahiku."
__ADS_1
"Hei! kau dengar aku tidak?" Rayyendra melempar bantal sofa ke wajah Litha.
Kesadaran Litha kembali, ia tersenyum menyatakan bahwa ia mendengar Rayyendra.
"Apa jawabanmu?"
"Jawaban apa? Oooo.... wasiat Nenek? Bukannya ini belum tiga hari, aku masih memikirkannya."
"Jangan kelamaan, aku tidak bisa bekerja karna kehilangan konsentrasi. Wasiat Nenek menggangguku."
Litha hanya diam saja, ia juga belum tahu harus menjawab apa, apa pria di depannya ini akan menjadi suaminya, hidup bersama dengannya, satu rumah, satu kamar, satu ranjang. Hiiiiiii.... Litha bergidik.
"Perempuan gila! Tiba-tiba bergidik." Rayyendra mengernyit aneh.
"Aku sudah memikirkannya. Aku tidak ingin menolak permintaan terakhir Nenek, itu akan makin membuatku hidup dalam penyesalan. Kita akan menikah," ujar Rayyendra serius.
Haaaa?!?
Litha dan Abyan pun terkejut bukan main. Sikapnya sebagai CEO memang mengharuskannya untuk berpikir dan mengambil tindakan dengan cepat. Hanya dalam semalam Rayyendra memutuskan untuk menikah dengan Litha.
"Maaf, Tuan. Bukannya hak jawab itu ada di aku ya? Kenapa Tuan yang memutuskan?"
"Bodoh!!! Kita menikah hanya sementara. Mengugurkan kewajiban wasiat Nenek saja. Apa kau tidak merasa bersalah kalau kau menolaknya?" Rayyendra bertanya balik ke Litha.
"Tentu saja aku merasa bersalah, tapi aku juga tidak mau menikah dengan orang sepertimu. Makanya aku belum tahu menjawab apa. Kak Firza yang kuharap membantuku sebagai pertimbangan juga tidak membantu. Aaaaaarrrrrgggghhhh..... Nenek, kenapa cucu-cucumu ini semua menyebalkan."
"Apa yang kau pikirkan?" Mata Ray menyipit tajam menatap wajah Litha.
"Eh... tidak... tidak ada. Ta-- tadi Tuan bilang hanya sementara, maksudnya bagaimana?"
"Kita buat perjanjian pra nikah. Kita menikah hanya sampai kepengurusan harta Keluarga Pradipta selesai di alih namakan ke namaku. Setelahnya kita bercerai tanpa ada tuntutan apapun. Sebagai imbalan aku akan memberikan kompensasi sebanyak 2 Milyar. Hubungan kita selesai dan tidak tersangkut apapun lagi sejak itu."
"Ray, kau pikir pernikahan ini bisnis apa?" wajah Abyan yang berdiri di belakangnya sangat terkejut.
"Heh!!! Penyesalan apa! Yang ada kau hanya ingin mengamankan harta Nenek dari Kak Firza. Kau sungguh licik, Tuan Muda. Otakmu itu hanya bagaimana mencari keuntungan terbanyak tanpa perasaan. Kau kira pernikahan bisa dinilai dengan 2 Milyar apa? Nilai itupun tidak ada apa-apanya bagimu."
Litha tersenyum sinis mendengar negoisasi presdir muda Pradipta Corp.
"Bagaimana? Apa kau setuju?" Ray menunggu jawaban Litha.
...--------...
Sisipan
'Bukan salahku jika aku tidak menemuimu, Tuan. Mereka yang dibawah kantormu tidak percaya kalau aku calon istrimu.'
Ray membanting ponselnya kedua kalinya.
"Kenapa lagi ini?" pikir Abyan memungut ponsel Ray di lantai.
"Heh! Ternyata kau sedang bermain-main denganku ya?" gumam Ray.
"Ray ... kenapa rubah licik itu ada di loby? Kau yang menyuruhnya kesini?" cecar Mona masuk ke ruang presdir tanpa ketukan pintu.
"Apa lagi ini?" Abyan tidak habis pikir.
"Kenapa kau kesini? Kan, sudah kubilang jangan menghubungiku sebelum aku menghubungimu duluan. Ada yang harus kuselesaikan," sentak Ray tidak suka dengan sikap Mona.
"Sayang, aku tidak bisa tidur tenang dari kemarin. Kau begitu menyiksaku."
"Cih." Abyan berdecih muak melihat rayuan Mona.
"Sudahlah, lebih baik kau kembali ke kantormu, ada yang harus kuselesaikan. Abyan, siapkan mobil!" Ray berjalan acuh meninggalkan Mona setelah mengambil jasnya, Abyan dibelakangnya mengikuti patuh.
"Ray .... Ray .... Kau mau kemana? Apa kau mau menemui rubah licik itu? Ray......!" teriakan Mona tidak dihiraukan Rayyendra.
"Aaaaaaarrrrrgggggghhhhhhhhhh........." Mona berteriak kesal setelah Ray menutup pintu. Dihentak-hentakkan kakinya dengan tangan mengepal.
...-------...
- Bersambung -
__ADS_1