Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kerajaan Sungai Bulan (Part 2)


__ADS_3

Sungai Bulan? Putri Mahkota? Shinayang?


"Berbahaya kalau ia tahu Tuanku Putri memiliki anak. Karena anak-anak Tuanku Putri bisa menjadi ancaman menghalau langkahnya menjadi Raja Pursawarman ke-15," ujar Bibi Rima.


"Apa?!? Tapi-- kenapa?"


"Saat ini Pangeran Drana belum menjadi Raja karena Raja Pursawarman ke-14 belum wafat. Jika sebelum wafat Tuanku Raja mengampuni kesalahan Tuanku Putri, maka istrimu yang akan menjadi Putri Mahkota menggantikan posisi Pangeran Drana."


"Eh, Apa!!!"


Ray terloncat dari duduknya, berdiri. Mendengar istrinya menjadi Putri Mahkota, cerita apalagi ini? pikirnya.


"Seharusnya Tisha yang menjadi Putri Mahkota karena dia anak pertama, namun syarat utama menjadi Putri atau Putra Mahkota Kerajaan Sungai Bulan harus sehat sempurna secara fisik dan mental. Kondisi Tisha sekarang ini menggugurkan peluangnya untuk menjadi Putri Mahkota meskipun dia sembuh, maka secara otomatis istrimu lah yang akan menerimanya."


"Shitt!" Ray mengusap kepalanya dengan kasar.


"Karena itulah Bibi meminta Nak Rayyendra untuk melindungi mereka terutama Litha dan Vania. Bibi mohon agar fakta ini hanya sampai disini, jangan diteruskan ke siapapun lagi. Semakin banyak yang tahu maka peluang identitas Tisha, Litha dan Nia akan semakin besar terkuak. Bibi sangat khawatir akan keselamatan mereka, Pangeran Drana sangat ambisius dan rela melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya. Setidaknya rumah besar ini aman untuk menjaga Litha."


"Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga fakta ini."


Bibi Rima merasa beban yang selama ini menekan pundaknya kini hilang entah kemana. Ia yakin Litha akan aman bersama Rayyendra.


"Tapi Bi, ada yang membuatku bingung. Berapa lama Bibi dan ibu mertuaku menghilang tanpa kabar dari Ayah mertuaku?"


"Kurang lebih satu tahun."


"Apa yang membuat ibu mertuaku yakin kembali padanya setelah satu tahun menghilang? Bisa saja waktu itu ia sudah memiliki pengganti. Betapa menyedihkan ketika ibu mertuaku diusir dan di buru hingga memalsukan kematiannya lalu mendapati ayah mertuaku sudah bersama wanita lain."


Bibi Rima tergelak keras, "Apa yang Nak Rayyendra lakukan jika hal yang sama terjadi pada Litha yang menghilang tiba-tiba tanpa kabar? Apa Nak Rayyendra langsung mencari penggantinya?"


"Emmm ... Hatiku sudah terikat pada Litha, Bi. Kemanapun dia aku akan tetap menunggunya kembali. Tidak ada yang bisa menggantikan Litha."


Tawa Bibi Rima menggema di malam yang sepi, "Itulah hebatnya kami, perempuan Ragnaya. Konon, kaum perempuan suku kami setelah memenangkan perang besar di masa lalu hingga membentuk Kerajaan Sungai Bulan diberikan kutukan sekaligus anugerah oleh leluhur. Dikatakan kutukan, karena bagi setiap lelaki yang mencium kami akan menjadi candu yang mematikan apalagi kalau sampai menyetubuhi kami, hatinya akan terikat dengan perempuan yang ia setubuhi sampai mati. Celakalah bagi lelaki yang berniat mempermainkan perempuan Ragnaya, karena ia tidak akan pernah bisa memalingkan hatinya untuk perempuan lain meski ia ingin."


Tenggorokan Ray tercekat, kering tersendat. Otaknya membawanya pada ingatan malam dimana ia memaksa Litha untuk memuaskan hasrat buasnya, setelah itu entah ada hubungannya atau tidak dengan yang Bibi Rima katakan, yang jelas setelah itu pikiran dan hatinya hanya dipenuhi nama Litha.


"Apa aku terkena kutukan?" bathinnya.


"Itu cara leluhur kami melindungi anak-anak perempuannya, karena dahulu banyak kaum pendatang di tanah kami yang terpukau dengan kecantikan alami yang kami miliki. Tapi ... kami pun juga menjadi anugerah bagi lelaki yang bisa mengambil hati perempuan Ragnaya. Jika hati kami sudah dimiliki oleh seorang lelaki, kesetiaan kami tidak perlu diragukan. Kemanapun kau pergi dan berapa lama perginya, perempuan Ragnaya tidak peduli, ia akan tetap menunggu lelaki itu. Bahkan dalam keadaan sudah meninggal pun, perempuan Ragnaya tidak akan pernah mencari pengganti," jelas Bibi Rima.


Sekali lagi Ray tercekat, hatinya terobrak-abrik tidak karuan mendengarnya.


"Dengan kata lain dalam apapun dan bagaimanapun kondisi dirimu, Nak Rayyendra, yakinlah,selama Litha bernafas, ia tidak akan pernah meninggalkan suaminya," sambung Bibi Rima mengusap pundak kuat milik Tuan Muda Pradipta.


"Heh, Bibi benar. Litha adalah kutukan juga anugerah buatku."


Ray tersenyum mengingat wajah istrinya yang sedang terlelap di kamar, "Tapi bukan itu saja. Aku memang jatuh cinta padanya, menyukai semua yang ia miliki, sifatnya, caranya berpikir, bersikap, berbicara bahkan tidur."


Bibi Rima tertawa kecil melihat pernyataan cinta Ray yang tidak disadarinya, "Ketiga anak perempuan Tuanku Putri, dididik ala wanita bangsawan Kerajaan Sungai Bulan. Semua yang Tuanku Putri dapatkan selama menjadi Putri Mahkota dulu ia terapkan juga di anak-anaknya. Termasuk tarian Raghi."


"Tarian Raghi?"


"Tarian ini hanya diajarkan pada keturunan Raja Sungai Bulan sebagai identitas bahwa mereka memiliki garis darah yang sama dengan Raja. Cukup sekali diajari saat usia 6 atau 7 tahun, saat jiwa anak-anak masih murni, gerakan tarian ini akan melekat di alam bawah sadar. Jadi meskipun mereka lupa, mereka cukup konsentrasi penuh menyebut kata kunci Ragnaya dalam kalbu, maka memori akan terbuka dan langsung mengingat setiap detil gerakannya.


Kelak setelah anak kalian nanti berumur 6 atau 7 tahun, lelaki ataupun perempuan ingatkan Litha untuk mengajarinya karena itu sebagai bukti identitasnya bahwa ia memiliki garis keturunan dengan Raja Kerajaan Sungai Bulan."


Hening.

__ADS_1


"Bi, aku sama sekali tidak menyangka istriku memiliki riwayat keturunan yang mengagumkan. Dan Bibi benar ia membuatku candu dan gila, bahkan sekarang pun aku merindukannya." Ray mengusap rambutnya pelan.


"Aryasena sangat menyadari bahwa ketiga putrinya mengalir darah perempuan Ragnaya, sebab itulah ia sangat menjaga sekali pergaulan Tisha, Litha dan Vania. Keinginan dan ketertarikan mereka pada lawan jenis dialihkan pada hal yang menyibukkan seperti belajar. Aryasena tidak ingin putrinya menjadi candu dan kutukan bagi lelaki yang bukan suaminya. Segala kontak fisik ketiga putrinya pun ia sangat batasi."


Deg ..


Ray terdiam, ia ingat saat mencuri ciuman pertama istrinya. Ciuman yang ia beri julukan bubur polos itu memberi kesan mendalam buatnya.


"Ah, ternyata benar aku sudah dikutuk karena memaksa menciumnya. Tapi tidak apa, itu kutukan yang menyenangkan." bathinnya.


"Sebab itu juga yang membuat Tuanku Putri tidak ingin melaporkan kasus Tisha. Ia yakin pelakunya telah terikat pada Tisha sampai mati. Ia tidak akan bisa beralih pada wanita manapun karena dalam pikiran dan hatinya hanya ada Tisha. Bagi Tuanku Putri itu sudah cukup menyiksanya sebagai hukuman, tapi tidak bagi Aryasena yang marah putrinya diperlakukan rendah seperti itu. Hati ayah mana yang tidak remuk melihat putri kebanggaannya hancur begitu?


Bibi sangat berterima kasih padamu, Nak Rayyendra, Litha sudah cerita tentang dibukanya lagi kasus Tisha karena Nak Rayyendra memiliki saksi kunci untuk memenjarakannya. Biar dia semakin tersiksa dengan penyesalan tiada akhir melihat Tisha di tembok penjara," kata Bibi Rima geram.


Ray tersenyum senang, merasa usahanya dihargai dan diharapkan.


"Padahal bisa saja ia meminta tolong pada Pangeran Brata Dharnika untuk menyelesaikan kasus Tisha, tapi ya itu, Tuanku Putri tidak ingin rahasia identitasnya terbongkar, meski Pangeran Brata pasti memihak dan menolong kami."


Mata Ray terbelalak kaget, "Maksud Bibi, Brata Dharnika Gubernur Provinsi BX?"


"Ya, dia adik satu ayah dengan Tuanku Putri, anak tunggal dari istri ketiga Tuanku Raja, dengan kata lain Pangeran Brata Dharnika adalah paman Litha dari pihak ibu. Pangeran Brata sangat dekat dengan Tuanku Putri sejak kecil, dialah yang melindungi kami dari buruan Pangeran Drana dan menolong membawa kami keluar dari pulau EX ke Ibukota, setelah itu kita tidak pernah berkomunikasi lagi karena kami sudah mati."


"Apa lagi ini? Paman Litha adalah Gubernur BX, orang yang sedang aku lobi untuk perluasan wilayah tambang untuk PT. Pradipta Jaya Coal. Oh, shitt!!!"


"Bibi, hari ini aku berencana memberi kejutan buat istriku, tapi nyatanya aku yang terkejut bukan main."


"Maafkan Bibi, Nak. Kamu memang seharusnya tahu siapa istrimu sebenarnya. Bibi harap, perasaanmu tidak berubah sedikitpun padanya."


Ray tergelak, "Tidak akan, Bi. Apa Bibi lupa, keponakan Bibi itu perempuan Ragnaya yang sudah mengutukku. Aku tidak akan pernah bisa melepas ikatan yang sudah terikat ini. Dia canduku ... "


"Terimakasih, Bi, telah mempercayakan semuanya padaku sampai melanggar sumpah Bibi sendiri pada ibu mertuaku. Rasa sayang Bibi pada Tisha, Litha dan Vania sungguh tulus. Semoga ketulusan itu merubah takdir buruk menjadi takdir baik."


"Amin."


Bibi Rima mengusap pundak Rayyendra lagi. Ia berdiri dari duduknya dan beranjak kembali ke kamarnya, tapi sebelum membuka pintu, pertanyaan Ray membuatnya berhenti bergerak.


"Bi, siapa nama Bibi Rima yang sebenarnya?"


Bibi Rima tersenyum, sudah lama sekali ia tidak menyebutkan nama aslinya.


"Shira Kinanti."


.


.


.


Ray membelai wajah Litha, mulutnya yang sedikit terbuka dan mengeluarkan suara tidak mengurangi sedikitpun kekaguman lelaki yang sudah terkena kutukan perempuan Ragnaya itu.


"Kau magis buatku Lith. Aku terkena kutukanmu. Aku tidak ingin kau menjadi ratu di kerajaan manapun. Kerajaanmu disini, istanamu disini, karena rajamu ada disini," ujar Ray lembut mencium keningnya.


"Hemm ... ya, ya, aku memang ratumu, hemm ..."


Litha mengigau tapi menyambung kalimat suaminya sambil menyeka air liur yang keluar dari sudut bibirnya dengan punggung tangan Ray.


"Lith, kau jorok sekali, iyyuuuhhh ... " teriak Ray tertahan dan mengelapnya ke baju tidur Litha.

__ADS_1


"He- eh, jorok, iya, jorok ... hem ... "


"Astaga Lithaaa ... kapan otakmu itu bisa tertidur."


Ray memeluk tubuh istrinya gemas, mendusel-duselkan kepalanya di belahan favoritnya yang empuk dan lembut.


Tiba-tiba tangan Litha mengelus rambut suaminya,masih sambil mengigau, "Tidur, ayo tidur ... hemm ... tidurlah."


Ray tersenyum lalu mengeratkan pelukannya tertidur di dada istrinya.


.


.


.


Sementara itu di kamar lainnya,


"Maaf, Pak. Aku tidak mendiskusikan dulu denganmu. Aku langsung memutuskan untuk memberitahunya karena kuanggap tadi adalah saat yang tepat," ujar Bibi Rima tertunduk.


"Tidak apa-apa. Apapun keputusanmu pasti sudah kau pikirkan dengan matang. Aku mendukungmu. Lagian Tuan Muda memang harus tahu faktanya. Ia yang akan melindungi mereka kelak, menggantikan tugas kita."


"Apa Kakak Ipar akan marah padaku, Pak?"


"Kurasa tidak. Ia pasti bahagia melihat Litha sangat bahagia sekarang, juga Vania dan Tisha yang makin membaik keadaannya."


"Misalkan takdir buruk akan terjadi padaku apa Bapak masih bisa menerimanya?"


"Saat Bapak menikahi Ibu, Bapak menerima ibu seutuhnya segala kekurangan dan kelebihan. Jadi tidak perlu dipikirkan takdir buruk yang akan datang, itu semua rahasia Tuhan. Kita cukup berdoa saja minta dihindarkan, kalaupun tidak terhindarkan kita minta untuk dikuatkan menerimanya."


"Pak, terimakasih. Bapak sudah menerimaku apa adanya, perempuan yang tidak bisa memberimu keturunan."


"Hussshh. Jangan berkata seperti itu. Bapak sudah tidak bisa melihat wanita lain selain Ibu, mungkin kutukan perempuan Ragnaya memang benar ada," goda Paman Tino menghibur istrinya yang tadi tiba-tiba menangis dan membangunkannya karena telah melanggar sumpahnya pada Kakak Ipar.


"Sekarang ayo tidur, besok hari besar keponakanku. Kita akan disibukkan dengan rencana Tuan Muda."


"Ya, tapi jangan panggil Tuan Muda."


"Tidak bisa, Bu. Aku terbiasa memanggilnya Tuan Muda Pradipta."


"Terserahlah."


Paman Tino tertawa kecil, mendekap istrinya untuk tidur.


"Kau sudah terkena kutukan perempuan Ragnaya tapi kau juga sudah mengambil hatiku, Tino."


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Sudah terjawab misteri yang disembunyikan ibunya Litha ya, Kak.


Kalau suka jangan lupa dukungannya ya Kak, double up nih Kak 😁


Bukan sengaja dipanjangin tapi memang itu alur kerangkanya ✌️ konfliknya tetap fokus di konflik awal kok 😁


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2