
Ini pertama kalinya Litha masuk ke dalam kamar Tuan Muda Pradipta yang kini menjadi suami kontraknya. Ia tidak menduga sama sekali, di satu sudut kamarnya yang sangat luas terdapat lemari pajangan yang terbuat dari kaca seukuran dua pintu yang berisi penuh segala macam bentuk dan ukuran piala dan penghargaan atas nama Rayyendra Putra Pradipta.
Litha yang dulunya maniak lomba, sangat kagum, sangking kagumnya, ia tidak mendengar namanya dipanggil Ray. Litha nemplok seperti cicak di lemari pajangan itu, membaca dengan penuh rasa ingin tahu setiap tulisan di piala dan penghargaan tersebut.
Kening Rayyendra mengernyit melihat tingkah istrinya yang menurutnya aneh. Ditariknya kerah belakang kemeja Litha menjauh dari lemari itu sampai ke depan pintu ruang walk in closet.
"Kau tuli? Aku memanggilmu dari tadi. Siapkan bajuku, aku mau ke kantor. Semua bajuku ada di dalam, bajumu juga. Asisten Yan dan Pak Is yang mengaturnya. Mulai dari sekarang selama menjadi istriku pakailah yang ada di dalam. Semua punyamu dulu, jangan dipakai lagi. Jadi semua kopermu yang isinya pakaian, akan diletakkan di gudang belakang."
"A-- apa?" Litha baru menyadari kopernya tidak ada di dalam kamar, hanya koper Rayyendra saja di depan pintu yang tadi ditunjuknya.
"Sekalian kau bereskan baju yang didalam koper ya, Sayang. Aku mau mandi dulu. Mau ikut?" goda Ray, Litha menggeleng dengan cepat.
Litha menarik koper milik Ray ke dalam walk in closet kamar ini. Litha terperangah takjub. Semua jenis pakaian berbagai model dan warna, jam tangan, kacamata, sepatu, tas, ikat pinggang, topi dan aksesoris lainnya tertata begitu apik dan indah dilihat. Namun yang tidak dipercayai Litha adalah sisi kanan ruang itu menampilkan semua yang diingini para wanita. Berbagai atasan, bawahan, gaun, cardigan, dan jenis pakaian lain. Juga ada sepatu, tas, kacamata, topi, jam tangan hingga perhiasan dan aksesoris pelengkap penampilan terpampang nyata. Hebatnya lagi semua yang ada disitu memiliki brand-brand ternama di negerinya dan dunia. Bagaimana caranya Asisten Yan dan Pak Is mengatur pakaiannya?
"Ya Tuhan, ini kalau ditotal semua, harganya berapa?" gumam Litha sambil meraba semua benda disitu. Untunglah suaminya tidak melihat tingkah Litha yang norak.
"Mana bajuku?"
Tiba-tiba suara Ray menggema mengagetkan Litha yang lagi berjongkok menatap deretan sepatu wanita.
"Eh, iya, Sayang, maaf. Darimana kau muncul? Aku kaget lho ini," ujar Litha gelagapan dan terkejut, Ray muncul tiba-tiba di belakangnya.
"Hhhhhhhh, ya dari pintu kamar mandi. Ruangan ini punya akses yang pintunya hanya bisa dibuka langsung dari kamar mandi. Aku tidak suka memakai jubah mandi, jadi Nenek membuatkan pintu itu untuk langsung berpakaian." Rayyendra menjelaskan dengan menunjuk pintu yang dimaksud.
Litha mendengarkan namun pandangannya terpaku dengan apa yang dilihat di hadapannya, tubuh seksi suaminya hanya dibalut sepotong handuk yang diikat di pinggang. Dadanya yang lebar dan bidang, perutnya yang sixpack, dan otot lengannya yang kekar terpampang nyata di mata Litha. Belum lagi rambutnya yang basah tidak beraturan dan aroma segar menyeruak di indra penciumannya. Litha tidak tahu apa yang terjadi padanya, tidak tahu apa nama dari reaksi tubuhnya, yang ia mengerti hanya jantungnya yang berdetak keras dan kelopak matanya yang refleks menutup.
"Kenapa kau menutup matamu, Istriku?"
Ray menggoda istrinya dengan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Litha. Meski Litha tidak melihat, tapi dengan mencium aroma tubuh Ray ia tahu, suaminya sudah ada di depannya.
"Duh, kenapa sih ini orang? Apa dia punya kebiasaan aneh yang memamerkan tubuhnya?"
"Buka matamu!"
Litha tidak bergeming, tidak juga membuka matanya, hingga ia rasakan ada sentuhan dingin di bibirnya dan seperti ada sesuatu yang bergerak liar masuk ke dalam mulutnya.
"Aaaaaaaaa ...... kenapa kau suka sekali menciumku dengan tiba-tiba," teriak Litha di hatinya.
Terpaksa ia membuka matanya dan mendorong sekuat tenaga. Ray terkekeh, ia mengusap bibirnya sendiri dan tergelak, "Salahmu tidak mendengar kataku, hahahahahaha........ "
"Sekarang mana bajunya?"
__ADS_1
"Baju apa?"
"Ckckckck, dari tadi aku memintamu memilihkan baju, kau ingin membiarkan aku tanpa pakaian, atau kau lebih senang melihatku telanjang."
"Pikirannya selalu mesum, untung saja ada perjanjian sebelumnya, kalau tidak, hiiiii ..... aku tidak bisa membayangkan!" umpat Litha dalam hati.
"Aku tidak tahu baju yang harus kau pakai ke kantor seperti apa, Sayang."
"Sini," perintah Ray dengan menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya.
Litha menurut dan mendekati suaminya. Lalu ... Cup .... dikecupnya sebentar. Lagi-lagi Litha kaget dan matanya membulat. Ia langsung keluar dari walk in closet, meninggalkan Ray sendiri untuk mengenakan pakaian.
"Kenapa kau selalu menggemaskan kalau terkejut, bahkan untuk hanya kecupan saja kau kaget, hahahahahaha....... "
"Hari ini kumaklumi, tapi besok kau harus layani pakaianku. Segeralah belajar."
Masih ada sisa kaget di mata Litha, tapi ia mengangguk saja. Begitupun Ray masih menahan senyumnya di depan Litha, lalu ia memilih bajunya sendiri untuk ke kantor hari ini.
"Sejak kapan kau mendapatkan piala dan penghargaan itu?" Litha sedari tadi ingin menanyakannya, ia penasaran.
"Oh, itu kudapatkan semasa sekolah dan kuliah di Amerika."
"Itu kompetisi di luar sekolah. Pak Sas yang sibuk mencarikan dan mendaftarkanku ikut atas perintah Nenek, katanya untuk melatih mental juaraku."
"Ooooo ....... "
"Aku ke kantor dulu, kalau kau butuh sesuatu, cukup katakan melalui interkom disana." Ray pamit dan menunjuk di salah satu dinding ruangan.
Menikah dengan Rayyendra seperti membuka tabir satu persatu sosok yang sebelumnya dicap arogan, dingin dan berjarak dengan orang lain. Litha masih melihatnya di permukaan namun itu sudah membuat penilaiannya terhadap Rayyendra sedikit berubah.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Di saat Ray membawa Litha ke kamarnya, Pak Sas dan Pak Is terlihat di dapur membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Tugas kita yang sesungguhnya sudah dimulai, Is."
Pak Is hanya mengangguk saja. Ia menerima sebuah amplop coklat berlogo rumah sakit milik Pradipta Corp. dari Pak Sas.
"Ini panduanmu. Dokter Lena mengatakan kondisi Nyonya Muda sangat baik dan keinginan Tuan Muda tinggal disini sangat menguntungkan kita untuk mengaturnya. Berusahalah sebaik mungkin, ini tugas khusus terakhir yang diberikan langsung oleh Nyonya Besar pada kita."
"Sas, seandainya kemungkinan buruk Nyonya Besar terjadi, berapa lama waktu kita?"
__ADS_1
"Entahlah, aku masih mencari tahu, anak itu tidak mudah memberiku informasi. Bahkan untuk memastikan apakah kemungkinan buruk Nyonya Besar itu terjadi atau tidak, aku belum tahu. Ia masih menutup mulutnya. Interaksinya dengan Tuan Muda sangat erat."
"Ya, tidak kusangka mereka bisa sedekat itu, padahal kalau berkaca dari Tuan Firza, itu hal yang mustahil."
"Mungkin karena ia tidak diangkat cucu oleh Nyonya Besar. Tuan Muda kehilangan orangtuanya saat masih kecil hingga rasa kepemilikannya pada Nyonya Besar adalah mutlak tidak terbagi siapapun. Jika bukan ada nama Pradipta di belakang nama Tuan Firza, pastilah Tuan Muda sangat akrab dengannya."
"Sas, apa perasaan Tuan Firza tidak akan menjadi masalah nantinya?"
"Aku juga tidak tahu, Is, tapi sampai hari ini semua berjalan baik, bahkan Nyonya Muda pun terlihat baik-baik saja di samping Tuan Muda."
"Jangan lupakan Ramona, Sas. Wanita itu berwatak nekad," ujar Pak Is mengingatkan.
"Aku sudah memikirkannya. Pernikahan Tuan Muda akan viral besok di media sosial tanpa diketahui dengan siapa ia menikah supaya wanita itu menjaga sikap dengan pria yang telah beristri kalau tidak ia akan dicap pelakor, dan akhir-akhir ini pelakor sangat dibenci siapapun."
"Sas, kemampuanmu memang tidak diragukan," kata Pak Is menepuk pundak Pak Sas.
🍀 flasback on 🍀
Malam hari seusai acara pernikahan digelar, di saat Litha dengan kemarahannya mengeksekusi Bona, terlihat dua orang pria sedang duduk nongkrong di pinggir taman Kota A.
"Maaf Tuan, saya takut. Akibat kemarahan Tuan Muda Pradipta sudah santer dimana-mana apalagi kalau berkaitan dengan media," ucap seorang jurnalis media online Kota A yang disuruh Pak Sas untuk memberitakan pernikahan presdir Pradipta Corp.
"Kau yang tahu pasti cara bersembunyi setelah melemparkan berita di media sosial. Tuan Muda Pradipta sangat populer apalagi di kalangan muda dan para pebisnis. Berita ini akan segera viral, untuk sementara bersembunyilah paling tidak satu tahun. Aku akan memberimu uang yang lebih dari cukup selama persembunyianmu."
Pak Sas memberikan sebuah ponsel yang berisi beberapa foto acara pernikahan dimana wajah Ray terpampang jelas, sedangkan Litha dibuat blur atau kabur demi keamanannya, juga sebuah cek dengan nominal yang tidak bisa ditolak oleh jurnalis itu. Pada akhirnya jurnalis itu menerima dengan segala resikonya.
"Sebelum kau mempublikasikannya, pergilah ke luar kota yang agak jauh dari Kota A dan tunggulah beberapa hari, dari sanalah kau viralkan berita itu. Setelahnya buang ponsel ini, lalu bersembunyilah."
"Ba-- baik, Tuan."
"Kuperingatkan! tidak ada yang boleh mengetahui perintah ini bahkan keluargamu sendiri. Karanglah cerita kau mendapat uang dan harus pergi dari Kota A demi keselamatan kalian."
"Ba-- Baik, Tuan."
"Kau tidak perlu menghubungiku untuk mengurangi resiko. Cukup kau lakukan dengan baik sampai berita itu viral dalam minggu ini, maka kuanggap kau berhasil dengan tugasmu dan hubungan kerjasama kita selesai. Kalau kau coba-coba bermain denganku, ku pastikan bukan saja kau yang menyesal tapi seluruh keluargamu akan menyesal sampai dua generasi. Mengerti?"
"Sa-- Saya mengerti, Tuan."
🍀 flashback off 🍀
- Bersambung -
__ADS_1