Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kekacauan di Pernikahan (Part 2)


__ADS_3

"Hah! apa katanya tadi? Dia memanggilku Sayang didepan Asisten Yan dan si calon suami palsu."


Litha terkejut tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Abyan dan Bona juga sama, kaget.


"Bon, biar kukatakan salahmu dimana. Satu, kau merusak acara pernikahanku, harusnya yang menjadi pusat perhatian itu sang pengantin, aku dan Litha. Tapi kau malah mengalihkannya ke pengiring pengantin. Dua, kau mempermalukan seorang wanita hingga menimbulkan trauma yang besar, begitu kan Sayang? Tiga, baru saja aku mendengar langsung kau menghina istriku." Ray menguliti habis sahabatnya.


Bona benar-benar tidak percaya, bukannya mendapat pembelaan tapi malah semakin dipojokkan dengan disebutkan kesalahan-kesalahannya. Ada apa dengan Rayyendra? Abyan dan Litha pun juga keheranan.


"Kali ini biar istriku yang mengeksekusimu. Sayang, lakukan semaumu kepadanya, kalau dia menolak akan kubeli semua saham klub malamnya di bursa efek malam ini juga." lanjutnya.


Hah!


Bona dan Litha sama-sama membelalakkan mata mereka, sedangkan Abyan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu betul ini cara Ray bermain dengan seseorang.


"A-- apa maksudmu, Ray? Mengeksekusi bagaimana?" Bona merasa akan terjadi sesuatu yang mengerikan terjadi.


"Ya terserah dia." Rayyendra menjawab dengan arah mata yang tertuju pada istrinya.


Bona bergidik ngeri, setahunya jika seorang wanita marah, jangan didekati. Ini malah Ray menyuruh wanita yang sedang berapi-api mengeksekusinya.


"Apa saja boleh kulakukan, Tuan?"


"Kenapa memanggilku Tuan? Aku kan suamimu. panggil aku Suamiku atau Sayang atau apalah," sahut Ray jengah.


"Ba-- baik, Sayang." Rasanya Litha mau muntah mengucapkannya, tapi ya sudahlah ....


Litha melihat sekitarnya, ada dua buku daftar menu yang tebal dan keras di depannya. Ia tersenyum, lalu ia mengambil ponselnya di atas nakas.


"Asisten Yan, tolong direkam," perintahnya ambil memberikan ponselnya.


"Meskipun menggunakan kata tolong, kenapa aku seperti di perintah ya? Ckckckck, dalam waktu singkat auramu sudah menyamai aura seorang presdir, Nyonya."


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Bona, perasaannya tidak enak.


"Aku akan merekam aksiku untuk kukirimkan pada Ninda. Akan ku balaskan sakit hati dan rasa malu Ninda."


Litha berjalan memutari meja dengan mengambil buku daftar menu. Ray tersenyum lebar, ia menyukai pertunjukan ini.


Bukhhhh ....


"Ini untuk Pengacau yang sudah merusak acara pernikahan Tuan Muda, eh maaf Sayang, bukan, bukan, maksudnya pernikahan kami."


Litha memukul lengan kiri bagian atas dengan buku menu itu sekuat tenaga. Bona tidak bergeming meski terasa perih, ia hanya meringis kesakitan.


"Apa hotel ini menggunakan tripleks untuk membuat buku menunya. Sakit sekali wanita ini memukulku. Brengsek kau, Ray! Sengaja menggunakan kemarahan istrimu untuk menyiksaku," maki Bona dalam hati.


Ia sungguh tidak bisa berbuat apa-apa demi saham di klub malamnya agar tidak dibeli oleh Ray. Walaupun dalam keadaan bercanda, Rayyendra tidak pernah bercanda dengan apa yang dikatakannya.


Bukhhhh ....


Gantian Litha memukul lengan kanan bagian atas tidak kalah kerasnya dengan pukulan sebelumnya. Bona meringis lagi. kini kedua lengannya perih dan sakit, tapi ia tidak berani untuk sekedar mengaduh bahkan mengusap bekas pukulan Litha


"Ini untuk kau yang menghina istri dari suamiku, ya aku sendiri maksudnya ... Kau membandingkan aku dengan wanita lain. Kuperingatkan! Mau siapapun dia tidak akan pernah bisa lebih unggul dariku, karena aku yang dipilih langsung oleh Nenek untuk menikah dengan cucu kesayangannya. Jadi, Ramona bukanlah tandinganku!"


Prok ... Prok ... Prok ...

__ADS_1


Rayyendra bertepuk tangan mendengarnya. Litha mengatakannya tepat di wajah Bona tanpa ragu dan penuh percaya diri membela dirinya sendiri.


"Dan terakhir untuk wanita yang kau permalukan tadi sore, aku akan membuatmu merasakan apa yang Ninda rasakan."


Litha mengambil lipstiknya, di lukisnya gambar bibir besar di wajah tampan Bona.


Pppfffffttttt .... Ppppfffttt .....


Terdengar suara-suara tawa yang tertahan keluar dari mulut Abyan dan Rayyendra. Litha tidak peduli, ia mengambil kertas memo hotel dan menulis sesuatu.


"Katakan ini di depan kamera. Katakanlah dengan penuh ketulusan."


Litha mengambil ponselnya di Asisten Yan, ia yang akan merekam sendiri permintaan maaf si calon suami palsu. Bona membaca tulisan Litha, kemudian memandangnya, memohon haruskah ia membacanya. Dan Litha hanya mengangguk sekali, tidak lebih.


"Kepada Ninda, maafkan kecerobohan bibirku yang nakal. Terkadang ia tidak bisa dikontrol oleh otakku, entah apa yang membuatnya liar bagai hewan buas memangsa yang lemah. Kau lihat, bibirku --"


Bona ragu mau melanjutkan. Abyan dan Ray masih menahan tawa mereka, apalagi melihat Litha memelototi Bona agar melanjutkan kalimatnya.


"Bibirku sudah menerima kutukannya. Ia membengkak tanpa kendali seperti aku tidak bisa mengendalikan bibirku sendiri saat menciummu. Mohon maafkan aku, Ninda, karena kalau kau tidak memaafkanku, bibir ini akan semakin membengkak dan memerah memenuhi wajahku kemudian seluruh kepalaku. Jika sudah begitu aku --"


Kalimat Bona terputus lagi, Litha semakin memelototkan matanya hingga nyaris keluar.


"Aku akan menjadi manusia berkepala bibir." Bona mengucapkannya dengan mata tertutup kalimat terakhir di memo itu, ia sangat malu.


"Kau malu? Heh, Ninda merasakan malu lebih berkali-kali lipat dari ini."


"Huahahahahahahaha .... " Ray dan Abyan melepas tawanya yang sedari tadi mereka tahan.


"Brengsek kalian berdua!"


"Ya, ya, ya. Kau boleh memakiku sepuas hatimu selama aku tidak mendengarnya, hahahahaha .... " Ray menebak isi pikiran Bona dengan wajah kesal itu.


"Dosamu baru saja terhapus, jangan membuat dosa baru lagi," kata Litha enteng.


"Ray... ternyata Nenek tidak salah memilih Litha menjadi istrimu. Kegilaan kalian sama!" gumam Abyan yang masih terkekeh melihat wajah Bona.


"Istriku sangat pandai melukis wajah orang, hahahaha... Ahhh.... tidak disangka malam pertamaku sangat menyenangkan hahahaha ...."


"Menyenangkan kepalamu! Ini penyiksaan namanya. Seharusnya yang kau siksa di malam pertama itu istrimu bukan temanmu. Dasar aneh!" Bona masih terus memaki dalam hatinya.


"Sudah cukup aku bersenang-senang dengan temanku. Kalian keluarlah dari sini. Sekarang giliran aku bersenang-senang dengan istriku."


"Apaaaa!??" teriak Litha terkejut.


"Mati kau! Kini kau yang dimangsa oleh hewan buasnya Ray, hahahahaha..... " Bona tertawa puas, tapi di dalam hati, ia takut Litha akan melakukan aksi anehnya lagi kalau Bona menertawakannya.


Ray menyukai wajah terkejut Litha, hingga segera diusirnya Abyan dan Bona, "Kalian berdua cepatlah keluar!"


Abyan tertawa dan menarik Bona segera beranjak meninggalkan kamar pengantin tanpa menghapus lukisan bibir dari wajahnya.


Setelah Abyan dan Bona menghilang, Litha diserang ketakutan. Air mukanya tidak segarang ketika mengeksekusi Bona. Ini yang membuat Ray makin tergelak.


"Tuan, dalam --"


"Tuan lagi?" sergah Ray cepat.

__ADS_1


"Ya, baik, Sayang, dalam perjanjian kita disebutkan kita tidur di kamar yang terpisah dan kau tidak boleh menyentuhku." Litha mengingatkan isi kontrak yang mereka sepakati.


"Ini bukan mauku. Ini sudah diatur oleh Pak Sas. Tapi jika kita tidur dengan kamar terpisah di malam pertama kita sebagai pengantin, apa tidak menimbulkan pertanyaan? Bagaimana jika ibumu yang bertanya? Kau sanggup menjawabnya kalau pernikahan kita adalah pernikahan kontrak?"


Litha diam sejenak, berpikir.


"Yah, ada benarnya juga sih. Tapi awas kalau kau mengambil kesempatan menyentuhku." Litha merapatkan kerah baju piyamanya.


"Menyentuh yang dimaksud adalah berhubungan suami istri, kan? Kau bisa memegang ucapanku. Aku tidak akan menyentuhmu pada bagian hubungan suami istri, tapi tidak yang lain, itu tidak termasuk dalam kontrak."


"Hei! Kau curang. Bukan begitu maksudku, tidak menyentuhku berarti tidak menyentuh semuanya bukan sebagian-sebagian."


"Itu maksudmu, tapi bukan maksudku. Itu tidak dibahas jelas dalam kontrak."


"Tetap saja tidak ---"


Mulut Litha terbungkam dengan ciuman tiba-tiba dari Rayyendra. Ia gemas melihat Litha mengomel, rasanya ingin sekali ia menggigit bibir yang tidak bisa diam bergerak, anehnya, Ray menyukainya.


Litha memberontak, tapi malah semakin ditarik, pinggangnya melekat ke badan tegap milik suaminya. Ia dapat merasakan dada bidang dan perut sixpack menempel di tubuhnya yang membuat jantung berdegup kencang. Litha hampir terbawa suasana dengan ciuman Ray yang semakin dalam hingga ia tersadar bahwa ini bukan pernikahan sejatinya.


Sekuat tenaga Litha melepaskan ciuman Ray yang memagut kuat bibir Litha.


"Anda melecehkanku!" sungut Litha kesal.


"Oh ya, apa itu artinya semua suami di dunia ini melecehkan istrinya di malam pertama?"


"Aaargggghhh... aku lelah, aku mau istirahat. Aku akan tidur di sofa, kau yang tidur di ranjang."


Ketika Litha sudah merebahkan tubuhnya di sofa, ada sepasang tangan yang mengangkat tubuhnya menuju ranjang.


"Sa-- Sayang, ucapanmu bisa dipegang, kan?"


Litha begitu ketakutan, sangat terlihat di wajahnya. Tapi entah kenapa Ray lagi-lagi menyukainya. Diturunkannya tubuh Litha dengan perlahan di atas kasur, kemudian ia menyelimuti tubuh Litha.


"Aku yang tidur di sofa. Kau pasti lelah hari ini, tidurlah di tempat tidur. Aku tidak akan memanfaatkan keadaan, ucapanku bisa kau pegang, Litha."


Tuturan Rayyendra padanya sangat lembut dan menyentuh hati Litha, ia sama sekali tidak menyangka pria yang sudah ia beri berbagai julukan buruk bisa bersikap manis padanya.


"Te-- Terima kasih, Sayang."


Ray tersenyum dan berkata, "Beristirahatlah dengan baik, Bubur Polosku."


"Bubur polos, apa maksudnya bubur polos?"


"Hahah.... Tidak usah kau memikirkan apa itu bubur polos." celetuk Ray dari sofa, ia sudah berbaring di sana.


"Whoaaaahh.... aku lupa, kalau aku menikah dengan alien, hiiiiiiii ....."


Litha bergidik ngeri dan langsung menarik selimut hingga ke lehernya.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Akhirnya Litha melewati malam pertama tanpa di unboxing 😂😂😂

__ADS_1


Maafkan Author, kalau tidak sesuai dengan harapan Kakak-kakak readers yaaaa.....


Salam sehat buat kita semua ..... 🤗


__ADS_2