Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Cuaca berawan di kampus Z, seorang gadis baru saja keluar dari ruang dosen. Sederhana namun manis, dengan IQ yang bisa dibilang di atas rata-rata.


"Tha, curang ih! kamu duluan ngajuin proposalnya. Aku mesti nunggu satu semester lagi," ucap Ninda.


"Maaf, Nin, bukan maksudku ninggalin kamu, tapi kamu tahu sendiri, keadaan kita gak sama. Aku harus segera menyelesaikan S1 agar bisa segera bekerja, ada tanggungan ibu, kakak dan adikku."


"Kan, kamu sudah dapat gaji yang bagus, bekerja dengan Nyonya Besar."


"Enggaklah, Nin. Itu aku gak anggap bekerja. Aku tulus menemani Nenek, kok, meski gak dibayar. Apa ya? semacam kenyamanan kalau ngobrol sama beliau, beliau tuh apa adanya dan tidak menggurui. Istilahnya asyik lah ...."


"Jadi, aku tetap nyari kerja setelah lulus, kalau misalnya aku dapat kerja di sini, aku akan tetap sempatkan waktu untuk menemani Nenek," sambung Litha lagi.


"Memangnya kamu berniat pulang kampung, Tha?"


"Aku tidak tahu, Nin. Aku cuman ngikutin kemana nasib membawaku, kuharap ... nasib baik menghampiriku. Kalaupun disini ya tidak apa-apa, aku bisa menjaga Kak Tisha, atau di kotaku ya juga tidak apa-apa, aku bisa menemani Ibu. Ah ... seandainya aku bisa membelah diri jadi dua."


"Kamu gak punya keinginan sendiri apa, Tha?" Ninda terlihat kasihan pada sahabatnya yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.


"Hehehehehe.... aku bahkan tidak punya pilihan untuk memilih."


Litha tertawa kecil tapi jelas nampak kegetiran di ujung suaranya.


Dddrrrtttt..... dddrrrrrttttt.....


Ponsel Litha bergetar, ia memang suka menggunakan mode getar untuk ponselnya ketimbang mode suara. Dilihatnya layar, 'Kak Firza'.


"Ada apa?" bathinnya.


"Ya, halo," Litha mengangkat teleponnya


"Halo Lith ... apa kamu sudah baikan?"


"Baikan?" tanya Litha bingung, bukannya ia tidak sakit.


"Bukannya kamu akan menghubungiku kalau sudah baikan? Itu yang kamu katakan kan sewaktu di antar pulang Ray minggu lalu?" Firza mencoba mengingatkan Litha.


"Masak sih? Perasaan aku gak pernah ngomong gitu deh. Itu kan Kak Firza sendiri yang ngomong. Hihihihihi ... lagian aku juga lupa."


"Oooo ... ya ... ya ... Maaf, Kak, aku lupa."


"Kamu punya waktu sekarang?"


"Eng ...."


"Sebenarnya aku ada waktu sih sekarang tapi ...."


"Aku sudah di kampus mu, lho. Sekarang aku di parkiran."


"Hah?!? Apa?!?" teriak Litha, Ninda sampai menutup kupingnya. Mulutnya menanyakan 'Kenapa?' tanpa suara.


"Cepatlah! Atau aku keluar menjemputmu di tempat kau berdiri sekarang," Firza sudah berani memerintahnya, seperti Rayyendra.


🙋 Litha kayaknya baru bergerak setelah ada perintah yang memaksa 😅😅 🙋


"Iya ... iya ... aku segera kesana, Kak."


Litha menutup teleponnya, lebih baik ia yang menghampiri ketimbang Firza yang menjemputnya disini. Ada banyak mata memandang.


"Nin, aku duluan ya, Kak Firza menjemputku. Kalau aku gak ke mobilnya, dia yang akan kesini. Kamu tidak apa-apa kan pulang sendiri?" ujar Litha pamit, dijawab dengan anggukan sahabatnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Kau mengingkari perkataanmu sendiri," ujar Firza selagi mengemudikan mobilnya.


"Sebenarnya, kan, bukan aku yang bilang."


"Tapi kau menyetujuinya, jadi sama saja. Sudahlah, aku mau mengajakmu makan siang."


"Asyik! Dimana?" seru Litha kegirangan, matanya berbinar.


Dia selalu senang jika diajak makan. Firza yang melihatnya begitu gemas hingga ingin mencubit pipinya.


"Kenapa kau begitu menggemaskan, Litha."

__ADS_1


"Disini?" tanya Litha setelah Firza memakirkan mobilnya di tempat parkir.


"He eh."


"Eng ...."


"Kau tidak suka?"


"Dibilang suka, enggak. Dibilang gak suka juga enggak."


"Kamu pernah kesini?"


"Pernah. Bahkan semua makanan dan minuman yang ada di daftar menu sudah kucoba semua."


"Sama siapa?" tanya Firza menyelidik.


"Sama Nenek. Waktu itu suasana hatiku buruk, lalu Nenek mengajakku makan sepuasnya disini."


"Ooohhh ...."


Tersirat kelegaan dalam suara Firza.


🙋 Memangnya kau kira diajak siapa Tuan Muda Firza? 🙋


"Tempatnya romantis kan? Eh maksudku bagus," kata Firza gelagapan.


"Hmmm ... Kalau tempatnya sih bagus, hanya saja makanannya rasanya aneh di mulutku, belum lagi porsinya mini, tidak mengenyangkan. Buatku, aku lebih memilih tempat makan yang punya makanan enak dan mengenyangkan daripada tempat makan yang bagus tapi perut masih lapar."


Glek ....


Gagal sudah rencana Firza, ingin memberikan kesan romantis pada Litha.


"Jadi, menurutmu kita makan dimana?"


Hati Firza agak memuai dengan penolakan Litha makan di Grey Savanna Restaurant, padahal ia ingin ...


🙋 Kan, sudah dibilang Litha butuh paksaan untuk melakukan sesuatu, termasuk untuk makan dimana 🤦🏻‍♀️ 🙋


Mobil pun berbelok arah. Litha mengajak Firza untuk makan di suatu tempat. 'Warung Makan Bude Juju' tertulis di depan pintunya. Firza melongo.


"Nasi Rames disini enak, Kak. Kalau aku lagi rindu masakan Ibu, pasti aku akan kesini," sahut Litha melangkah duluan masuk ke dalam.


Kehadiran Firza di warung makan sederhana ini sangat menarik perhatian pelanggan, termasuk Bude Juju yang tidak berhenti menatapnya.


"Siapa, Neng? Guanteng banget, mirip Lee Min Ho yang nyanyi-nyanyi sambil nari di HPnya Dina," tanya Bude Juju begitu Litha menghampiri etalase menu makanan untuk memesan.


"Lee Min Ho nyanyi? Drakor kali, Bude."


Litha tersenyum geli. Bude Juju sama dengan Ibunya, semua orang korea di TV disebutnya Lee Min Ho, kata mereka wajahnya sama semua hahahahahaha.......


Litha memesan Nasi Rames dua porsi dan es teh dua gelas. Ia tidak menanyakan apa yang mau dimakan Firza, ia sangat percaya diri memesan yang disukainya untuk Firza. Ia yakin pria tinggi itu juga akan menyukai menu pilihannya.


"Setidaknya Kak Firza tidak secongkak Tuan Rayyendra, jadi tidak apa-apa, kan kalau aku memesankan Nasi Rames?"


"Hahahahahahaha... ya silahkan, hahahahahaha..... It's your day! " Firza menjawabnya dengan tergelak.


"Lith..." ucapan Firza menggantung.


"Ya ...."


Mulut Litha dipenuhi suapan nasi, membuat pipinya bergantian bergerak-gerak karena mengunyah makanannya, entah kenapa Litha terlihat sangat imut di mata Firza.


"Habiskan makananmu dulu," kata Firza tersenyum.


Litha makan dengan tangan kanannya, sangat lahap karena dari tadi ia menahan lapar. Firza seperti tak puas-puasnya menatap lekat wajah polos tanpa riasan milik Litha.


Ketika rambut samping Litha mengenai pipinya, Litha ingin menyampirkannya ke arah belakang, tapi ia kesulitan karena tangannya bercampur dengan makanan.


Firza yang peka, ia mengambil rambut Litha dan membantunya untuk menyelipkan ke belakang telinga Litha.


Sssssssssshhhhhhh .......


Ada hati yang bergetar, degup jantung yang berlompatan dan suhu tubuh yang turun. Litha agak merasa sedikit canggung tapi ia tidak terlalu memikirkannya, ia ingin segera menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Lith ...."


Suara Firza menggantung kembali setelah mereka berdua selesai makan. Gugup tak terelakkan, tidak tahu bagaimana cara memulai.


"Ya," jawab Litha sembari menyeruput es tehnya.


Firza melihat sekeliling, ragu dengan apa yang dilihatnya. Situasinya tidak pas dengan apa yang mau diucapkannya. Terlebih ia kedapatan melihat pemilik warung makan sedang memperhatikannya sembari tersenyum padanya. Akhirnya lelaki berwajah tampan itu mengurungkan niatnya.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil melaju meninggalkan warung makan, Firza gagal menemukan timing untuk menyatakan perasaannya. Hatinya pun semakin tidak karuan, di nyalakan radio di dalam mobil untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Ayo, Firza, kalau bukan sekarang kapan lagi."


Firza menyemangati dirinya sendiri. Ia menepikan mobilnya di depan taman kota.


"Lith ... Sewaktu di London aku membelikan ini untukmu."


Setelah melawan gugup yang mendera, terbitlah juga suara dari mulutnya. Firza menyodorkan sebuah kotak kecil di hadapan Litha.


"Apa ini?" Litha mengerutkan dahinya.


"Bukalah!"


Litha membukanya perlahan, nampak kilau cemerlang dari dalam kotak, sebuah rantai kalung berliontinkan abjad 'L-I-T-H-A' dengan bertaburkan berlian di setiap hurufnya.


Mata Litha membuka lebar, takjub juga bingung.


"Ini buat aku?"


Litha tidak percaya tapi anggukan Firza meyakinkan keraguannya.


"Kenapa Kakak memberiku ini?"


Firza tersenyum, lalu menjawab, "Karena aku menyukaimu."


Mendengar apa yang dikatakan Firza, kalung yang tengah berada di tangan Litha, diletakkannya kembali ke dalam kotak. Ia menutup kotak perhiasan itu dan mengembalikannya ke Firza


"Kenapa Lith? Kamu tidak menyukainya?"


"Tidak. Aku suka, tapi aku tidak suka apa yang Kak Firza katakan sebelumnya."


Firza tercekat, apa ini penolakannya? Tapi kenapa? Apa ia tidak cukup baik buat Litha? Atau sudah ada pria lain dalam hatinya?


'Raisa bilang Jatuh Cinta berbeda dengan Jatuh Hati, emang bedanya apa ya? Kalau Ruri sih mau jatuh cinta atau jatuh hati rasanya sama saja, sama-sama ngebikin dag dig dug kalau ngeliat si doi hehehehehe...... 102.5 FM, buat kamu yang lagi jatuh, sejatuh-jatuhnya, Raisa, Jatuh Hati...'


Suara penyiar wanita di radio seakan mengerti isi hati Firza.


Ada ruang hatiku yang kau temukan


Sempat aku lupakan kini kau sentuh


Aku bukan jatuh cinta


Namun aku jatuh hati


Ku terpikat pada tuturmu


Aku tersihir jiwamu


Terkagum pada pandangmu


Caramu melihat dunia


Kuharap kau tahu bahwa ku


Terinspirasi hatimu


Ku tak harus memilikimu


Tapi bolehkah ku selalu di dekatmu


Hening ...


Litha dan Firza memandang ke arah depan mobil tanpa suara, hanya lagu yang mengalun indah.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2