Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Hancur


__ADS_3

Litha menangis, ia tidak menyangka Ray yang di dalam pikirannya adalah pria dengan segudang hal-hal baik kini menghancurkan citranya sendiri. Rayyendra bagaikan serigala buas yang siap memakan mangsanya, matanya penuh lapar dan taringnya siap menerkam.


"Kau tidak akan melakukannya, Ray! Kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku!!!" teriak Litha frustasi.


Telinga Ray sudah tuli, tidak bisa mendengar apapun, mata dan pikirannya hanya terfokus pada wanita ditindihnya. Pakaian Litha sudah dirobek dan ikatan rambutnya sudah mengendur tidak beraturan. Ia berharap ada pertolongan datang untuknya, namun percuma, di rumah yang besar itu tidak ada siapa-siapa, hanya mereka berdua.


Mata Rayyendra semakin ganas melihat p*yu***a Litha yang menyembul. Bulat, putih mulus dan ukurannya pas, tidak besar tidak pula kecil. Ia melepas paksa bra yang membungkusnya, diremas kuat dan dicumbunya tanpa peduli penolakan Litha.


Tidak puas disitu, Ray menelusuri titik-titik sensitif wanita di tubuh Litha yang kini sudah tak tertutup sehelai benang pun, begitu juga dengannya. Mencium dan menj**atinya dengan penuh n*f**, menumpahkan segala hasrat yang ia tahan selama ini. Litha sudah tidak berdaya, tenaganya habis, melawan manusia yang haus hasrat takkan bisa menang.


Air mata gadis berparas cantik itu mengalir deras ketika pahanya dibuka paksa dan bagian terintimnya dimasuki benda tumpul milik suaminya. Terasa sakit di raga dan hatinya, Litha hanya bisa melampiaskan kesakitannya dengan meremas seprei dan menggigit bibirnya sekuat-kuatnya. Dipejamkan matanya, ia tidak sudi melihat wajah pria yang mengambil paksa kehormatannya, sekalipun hatinya telah jatuh pada lelaki itu.


Ray menggerakkan badannya maju mundur disertai erangan kenikmatan. Tangan dan mulutnya bergerak liar menyentuh tubuh Litha dimana ia suka. Istrinya tak lagi berontak, terlentang pasrah dengan apapun yang dilakukan suaminya, hingga akhirnya Ray mengerang keras melepas benihnya menghangatkan rahim istrinya. Kehangatan itu sampai ke kedua mata Litha yang semakin deras mengalirkan air asin melewati pelipisnya.


Tak cukup sekali, Ray melalukan pelepasan malam itu berkali-kali hingga ia merasa puas dan tertidur pulas di samping Litha sembari memeluk erat tubuh istrinya. Mata Litha menerawang ke langit-langit kamar, air matanya kering sudah, ia tak bisa menangis lagi. Untuk beberapa saat ia melamun dengan tatapan kosong. Badannya terasa sangat lelah dan sakit di bagian intimnya, Meski begitu Litha tidak tertidur, ia bangkit dan tertatih-tatih berjalan menuju kamar mandi. Ia meringis dan merintih saat membasuh dan membersihkan bagian intimnya. Perlahan ia menggosok semua bagian tubuhnya, lagi-lagi airmatanya menetes.


"Mengapa kau tega sekali Ray? Kalau kau ingin menyakitiku, kau sudah sukses melakukannya. Kini tidak ada yang bisa aku banggakan lagi, musnah semua hanya karena kontrak yang bernilai 5 milyar. Jadi, apa bedanya aku dengan pela*ur yang menjajakan tubuhnya? Aku dan mereka pada akhirnya punya tujuan yang sama, yaitu uang."


Tangis Litha meledak seketika, menangis sangat kencang dan seperti anak kecil ia memukul-mukul dadanya sendiri. Ia benci, kini ia membenci suaminya sendiri.


Setelah puas ia menangis, Litha menstimulan pikirannya bahwa ia tetap harus berdiri, berjalan bahkan berlari kalau perlu. Tidak peduli kakinya, badannya atau hatinya sakit ia harus nampak baik-baik saja.


Litha mandi, berpakaian, mengambil kain yang dibasahi untuk mengelap noda darah perawannya di seprei, walau masih meninggalkan jejak setidaknya seprei putih itu tidak bernoda merah, kemudian ia tidur di sofa dan membiarkan Ray begitu saja, tertelungkup di bawah selimut tanpa pakaian.


...-------...


Matahari pagi masuk melalui jendela menyilaukan mata Rayyendra. Ia mengerjap membuka matanya, kepalanya agak berputar.


"Aaakkhhhh .... " keluhnya.


Ray bangun dari tidurnya, tapi matanya terbuka lebar menyadari ia di bawah selimut tidak memakai pakaian. Dengan kepala yang agak pusing ia memperhatikan tempat tidurnya dan mencari Litha.


Penglihatannya gagal mendapatkan sosok Litha, namun ekor matanya menangkap jejak noda darah di atas seprei putih yang ia tiduri. Otaknya mengambil ingatan tadi malam, apa yang ia lakukan di kamar ini sampai ia tidur dalam keadaan seperti ini.


Rayyendra terkesiap kaget bukan kepalang, setelah rentetan kronologis merudapaksa istrinya sendiri terlihat seperti film dalam penglihatannya. Ada memori yang memperlihatkan Litha menutup mata dengan linangan air mata.


"Aakkkhhh .... Shiiittttt!!!!" teriak Ray kesal dengan mengusap kasar kepalanya.


"Apa yang telah kulakukan padanya? Kenapa bisa begini? Selama ini sekuat tenaga aku menahannya, kenapa tadi malam aku kehilangan kendali? Akkkkhhhhh .... "


Ray sangat bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia tahu batas minumnya agar tidak mabuk dan masih dapat mengendalikan diri. Tapi kenapa saat itu pikirannya hanya terfokus pada tubuh Litha?


Ray melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu ia masuk ke ruang walk in closet, seperti biasa setelan baju kantornya lengkap untuk hari ini dipakai sudah tersedia.


"Litha masih sempat menyiapkan bajuku setelah yang kulakukan semalam padanya?" gumam Ray.


Setelah berpakaian, ia turun mencari Litha, setiap pagi biasanya ia ada di dapur rumah utama.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Pak Is sendu, tidak seperti biasanya. Ia merasa bersalah dan hatinya ikut sakit melihat Nyonya Mudanya membuat sarapan untuk suaminya dengan mata bengkak.


"Pagi Pak Is, apa Litha yang membuatnya?" tanya Ray melihat sepotong besar sandwich, segelas susu rendah lemak dan tentu saja segelas air putih hangat yang dicampur sesendok makan madu murni di atas meja makan. Pak Is hanya mengangguk.


"Mana Litha?"


"Di taman barat, Tuan."


"Sendirian?"


Pak Is menjawab dengan anggukan lemah. Ray tidak menyentuh sarapannya, hanya meminum habis air putih hangat madu.


"Pak Is, katakan pada Litha untuk menemuiku di ruang kerja, sekalian bawakan sarapanku kesana juga," titahnya.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Ray langsung menuju ruang kerjanya diikuti Pak Is membawa sarapannya. Disana Ray tidak menemukan bekas minuman tadi malam, ternyata sudah dibereskan Pak Is. Ray mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam laci, dicarinya nama Abyan dalam kontak dan melakukan panggilan suara.


"Selamat pagi, Tuan." sahut suara di seberang menjawab nada panggil Ray.


"Yan, minuman apa yang kau bawakan tadi malam?" tanya Ray langsung to the point, tangannya bergerak membuka laci meja, mencari kontrak perjanjiannya dengan Litha.


"Whisky yang biasa Tuan minum, ada yang salah?" Abyan balik bertanya.


Ray sebenarnya ingin bertanya ada apa diminumannya sehingga membuatnya lepas kendali melihat istrinya, tapi ia urungkan, ia tidak ingin peristiwa tadi malam diketahui orang lain, termasuk Abyan.


"Tidak. Aku hanya bertanya saja. Kau jemput aku satu jam lagi. Ada yang harus aku selesaikan dengan Litha."


"Baik, Tuan."


Ray menunggu Litha datang dengan menatap sebuah map dokumen yang berisi lembaran kontrak perjanjian pernikahan mereka. Hatinya gusar, ia telah melukai harga diri istrinya, maka ia berniat akan bertanggungjawab dengan menghapus perjanjian ini dan akan menjadi suami sungguhan meski hati Litha ada ditempat lain. Hidup bersama dengan cinta sepihak tentu saja menyakitkan, tapi Rayyendra akan mengalah demi kesalahannya yang telah ia perbuat semalam.


Tok ... Tok ... Tok ...


Litha membuka pintu, Ray sudah duduk menautkan kedua tangan di pangkuannya. Dihadapannya ada sarapan yang ia buat tadi dan sebuah map, entah apa map itu, Litha tidak peduli, sekarang ia sudah tidak peduli dengan urusan Ray. Ia cukup melakukan tugasnya sebagai pelayan pribadi suaminya sampai waktunya selesai.


"Duduklah," kata Ray melihat Litha mematung di depan pintu.


Hati Ray teriris melihat wanita yang ia cintai dengan keadaan seperti itu. Mata yang bengkak, jelas tanda habis menangis hebat semalaman, ditambah tatapan mata yang kosong dan raut wajah muram tapi ia berusaha baik-baik saja dengan tersenyum.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ray membuka percakapan setelah istrinya duduk di hadapannya.


"Apa aku harus menjawabnya, ku kira kau sudah tahu jawabannya."


Deg !


Jawaban diplomatis Litha menghantam jantungnya. Ya, pasti keadaan Litha tidak baik, baik fisik maupun bathin, kenapa juga Ray bertanya seperti itu. Untuk sesaat suasana dalam keadaan hening, terasa canggung.


"Maaf."


"Maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku. Aku tidak bisa mengontrolnya," sambungnya kembali. Litha hanya diam saja.


"Aku minta maaf Litha."


Ray mencoba menggapai tangan Litha, namun Litha dengan sigap menghindari gapaian tangan suaminya. Ditatapnya lekat manik Ray dengan penuh rasa benci.


"Kau ... " katanya terputus.


"Kau telah sangat menyakitiku, padahal aku sangat respek denganmu sebagai seorang pria yang begitu menghargai wanita dan sebagai seorang pria yang teguh memegang janjinya. Ternyata kau tidak lebih dari serigala berbulu domba, kau hanya bersikap manis karena ingin mangsamu lengah sebelum kau melahapnya."


"Lith ... "


Ray bingung harus memulai darimana untuk menjelaskan semuanya. Ia ingin Litha tahu bahwa apa yang terjadi semalam adalah benar-benar di luar kendalinya. Kalaupun memang ia ingin melakukannya, pasti sudah dari dulu ia memangsa istrinya, tidak perlu susah payah ia menahan hasratnya selama ini.


"Kukira kau sama dengan Kak Firza yang begitu menghormati dan menghargaiku dengan tulus, sayangnya tidak."


"Firza?!?"


Emosi Ray mulai terpancing mendengar nama Firza disebut. Disaat ia ingin membahas hubungan berdua antara dirinya dan Litha, mengapa ia membawa nama Firza? Ray sungguh tidak suka dirinya disamakan dengan Firza.


"Kau ingin menyamakanku dengan anak sampah itu?"


"Walaupun dia dari sampah setidaknya tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita, tidak sepertimu yang malah menginjak-injak harga diri wanita dengan cara yang licik."


"Apa kau bilang?!?"


Ray berdiri dan mencengkram dagu Litha dengan kuat hingga kepala istrinya mendongak ke arahnya. Bukannya takut, Litha malah menantang pandangan suaminya.


"Aku tidak lebih dari wanita bayaran di matamu," kata Litha pelan namun tajam meski ia menahan sakit cengkraman suaminya.

__ADS_1


"Kau ... " Suara Ray meninggi, matanya terbakar amarah mendengar kalimat tajam istrinya.


"Ray! Apa yang kau lakukan?"


Abyan berdiri di pintu kaget melihat 'urusan yang harus diselesaikan' tuannya. Ray spontan melepas cengkraman, tanda merah jelas terlihat di dagu Litha. Sekuat tenaga Litha tidak meneteskan air matanya.


"Cukup. Cukup sudah kau menyakitiku, Ray!" teriak Litha dalam hatinya.


"Kuharap Tuan Muda bisa mempercepat waktu proses pengalihan harta Nyonya Besar agar hubungan kita sebagai suami istri segera berakhir. Selama itu juga aku akan melakukan tugas sebagai pelayan pribadimu seperti biasa dan setelah Tuan Muda mendapatkan apa yang Tuan inginkan jangan lupa isi perjanjian kita," pungkas Litha tegas.


Dibutuhkan ketegaran untuk mengatakannya dan untuk memiliki ketegaran haruslah melewati hal yang paling menyakitkan, dan Litha telah melaluinya.


...-------...


Sisipan


Litha bangun pagi seperti biasa, ia menyiapkan pakaian kantor dan sarapan suaminya. sekilas, nampak tidak terjadi apapun kecuali matanya yang tidak bisa dibohongi.


Tapi tidak seperti biasanya yang selalu menemani bahkan melayani suaminya sarapan, Litha lebih memilih duduk sendiri di taman barat. Hanya duduk saja, tidak memikirkan atau melihat apapun. Matanya mengembara di titik terjauh pandangannya, entah ada apa di sana?


Dering ponsel di saku Litha berbunyi, dilihat layar ponselnya, 'Kak Firza memanggil' .


"Halo, Kak ...."


"Halo Lith, apa aku mengganggu waktumu?"


"Tidak."


"Kau sedang apa sekarang?"


"Hanya duduk saja si taman barat"


"Pagi-pagi?"


"Heheheheheh ... "


"Kau ada masalah sama Ray ya?"


Ah, kenapa Firza peka sekali. Litha kembali menitikkan air mata. Segera ia mengelap susut matanya.


"Tidak, Kak," ujar Litha berbohong.


"Disana tengah malam, kan? Kak Firza belum tidur?" tanya Litha mengalihkan pembicaraan.


"Belum. Sejak pertemuan terakhir kita sebelum kau menikah, sekarang aku suka melihat langit malam tanpa bintang."


"Oh ya? Apa menariknya langit gelap tanpa titik-titik cahaya?


"Karena titik-titik itu seperti kamu, Lith."


Litha diam mendengar kalimat Firza, apa ia masih menaruh hati pada dirinya? Bukannya kemarin ia bilang ia sudah menganggap Litha adiknya sendiri?


"Maaf Lith, aku terbawa suasana malam disini. Tidak usah kau pikirkan perkataanku tadi," buru-buru Firza meralat omongannya, ia tidak ingin menimbulkan prasangka yang membuat Litha tidak nyaman.


"Permisi Nyonya, Tuan Muda meminta Nyonya untuk datang menemuinya di ruang kerja." Tiba-tiba Pak Is muncul didekatnya.


Litha mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia berkata pada Firza, "Kak, aku permisi dulu ya. Ray memanggilku."


"Baik. Salam buatnya."


Sambungan telepon berakhir. Litha berdiri, ia akan meghadapi Rayyendra, dikuat-kuatkan hatinya, ia ingin semuanya segera berakhir dan ia harus nampak baik-baik saja meski sebenarnya dalam dirinya tengah hancur.


...-------...

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2