
# Dapur Rumah Utama #
Sasmita menyesap kopi pahitnya dengan nikmat. Iskhak hafal dengan cara minum pria yang akrab disapa Pak Sas, jika ia menyesap dengan mata terpejam, artinya ada sesuatu yang sudah ia beresi dengan sempurna.
"Apa kau melakukan sesuatu, Sas?"
Sasmita hanya tersenyum penuh arti, "Sekali pukul tiga lalat jatuh, aku benar-benar menghemat tenaga, Is."
Mata Iskhak terbelalak paham arti perumpamaan Sasmita, tiga lalat?
"Sas ... Bagaimana bisa?" tanya Iskhak berbisik, ia mengambil tempat duduk berhadapan dengan orang yang dikenalnya bertangan dingin.
"Entah mengapa Tuhan memberiku petunjuk dengan menemukan celah mereka? Mungkin ini cara Tuhan menghukum perbuatan mereka, Is. Aku hanya memberi sentuhan akhir saja dengan melaporkannya dan memberi informasi waktu yang tepat."
"Jadi selama ini kau menguntit mereka?"
"Hahahaha ... Kau kira aku penguntit, tentu tidak. Kau kira aku kurang kerjaan. Sudah kubilang ini cara Tuhan untuk menghukum mereka. Aku hanya melaporkan saja, hahahaha ..."
Iskhak tidak percaya begitu saja karena ia mengenal Sasmita sejak remaja dan tindak tanduk bagaimana ia membereskan semua masalah Nyonya Besar dengan rapi.
"Sudah waktunya mereka menerima hukuman atas perbuatan mereka selama ini. Sisanya biar Tuan Muda yang menyelesaikan, Prasojo mengatakan hari ini akan memasukkan permohonan untuk dibukanya kembali kasus Nona Tisha," ucap Sasmita menyesap menghabiskan kopinya.
"Aku akan mengantar Nyonya ke rumah sakit melihat Nona Ninda. Tuan Muda akan sarapan sendirian," sambungnya lagi.
Sasmita berdiri beranjak pergi menyiapkan mobil, tapi Iskhak menahannya dengan berkata, "Sebastian tidak akan tinggal diam, Sas. Berhati-hatilah karena ia tahu caramu membereskan masalah. Bukan tidak mungkin ia tahu kau yang melaporkan Lucas pada polisi."
"Aku tidak perlu mengkhawatirkan dia akan berbuat sesuatu padaku, Is. Aku hanya khawatir, ia akan melampiaskan kemarahannya pada orang yang paling lemah dan tidak bersalah, seperti Nyonya Rianti."
"Aku takut Sas, kejadian 30 tahun lalu akan terulang kembali," sahut Iskhak cemas.
"Tidak akan, selama aku masih hidup, Nyonya Muda akan aman. Lagipula Nyonya jarang keluar rumah, Tuan Muda tidak gampang memberi izin Nyonya keluar rumah, apalagi setelah kejadian di toilet bioskop."
"Jangan lengah, Sas. Kita tahu Sebastian seperti apa."
Sasmita menepuk pundak Iskhak, sebuah bahasa tubuh yang mengatakan jangan khawatir.
...***...
# Kamar VIP, Pradipta Hospital #
Litha tidak bisa mengelak ketika ditanya oleh kedua orangtua Ninda perihal putrinya. Selama ini Om Beny dan Tante Murni mengira Ninda tidak mempunyai masalah apapun, mereka hanya tahu bahwa Ninda sedikit sulit menjalin hubungan pertemanan yang intens, dan hanya Litha satu-satunya sahabat yang dimiliki Ninda.
Wanita hamil itu pada akhirnya menceritakan semua kisah Ninda yang ia tahu sejak dari SMA sampai terakhir ia pingsan di toilet bioskop. Litha merasa ini saatnya Ninda harus terbuka pada keluarganya agar ia tidak merasa sendiri. Ada keluarganya yang sangat menyayanginya, hanya saja Ninda yang terlalu berlebihan dalam memikirkannya. Ia menganggap keluarganya terlalu mengekangnya dengan alasan melindungi. Apapun itu tempat terbaik untuk kembali adalah keluarga.
"Maaf Om, Tante. Bukan saya ingin menyembunyikannya, tapi itu semua permintaan Ninda, misalkan saya memberitahukan pada Om dan Tante, saya khawatir Ninda tidak akan mempercayai saya lagi dan kehilangan tempat berceritanya, sedangkan itu adalah hal yang krusial bagi orang pengidap anxiety."
Tante Murni menangis memandang putri satu-satunya, ia sedih dengan keadaan Ninda.
"Karena itulah, Ninda dan Evan memiliki hubungan yang sangat dekat, tidak ada rahasia diantara mereka. Dan saya yakin, Tante. Ninda yang akan lebih terpukul dengan ditangkapnya Evan daripada Om Danu."
"Nak Litha, terimakasih kamu sudah menemani hari-hari berat Ninda. Kamu sudah berusaha menjadi penyembuhnya, tapi karena artis sialan itu ... "
Om Beny, ayah Ninda, tidak bisa meneruskan kalimatnya saking geramnya setelah ia mengetahui perbuatan Renata pada putri semata wayangnya. Wajahnya yang memerah dengan tangan mengepal menjelaskan itu semua, dan Litha memahaminya.
"Semoga nanti setelah ini, Ninda mau terbuka dan bersedia didampingi psikiater. lKita fokus ke penyembuhan anxiety Ninda saja, Om. Untuk pelakunya, dia akan mendapat hukuman berat dan sanksi sosial di masyarakat." Litha berusaha menenangkan kemarahan Om Beny, karena istrinya masih terlihat shock mendengar cerita Litha.
"Akan kubuat dia merasakan bagaimana rasanya di bully. Berhubung dia dikenal banyak orang, maka dia akan dibully oleh banyak orang, bahkan semua orang di negeri ini," ujar Andika tajam yang sedari tadi berdiri di sisi Ninda yang masih tertidur karena pengaruh obat yang diberikan lewat infus.
"Ya, sanksi sosial efeknya lebih menyakitkan daripada sanksi apapun," kata Litha menanggapi.
"Om, Tante, Bang Dika, saya pamit pulang dulu. Nanti mohon dikabari kalau Ninda sudah siuman. Oh ya, Bang Fandi sudah tahu kabar Ninda, Tante?"
"Sudah, dia sangat marah sama seperti kami, dan dia langsung minta izin cuti untuk terbang dari Kota BX hanya demi melihat adik perempuan satu-satunya," jawab ibunya Ninda.
__ADS_1
"Ah, senang sekali punya kakak laki-laki yang selalu ada untuk melindungi. Ninda beruntung sekali memiliki Bang Dika dan Bang Fandi. Dia seharusnya tidak perlu mencari sosok pelindung dari laki-laki lain, toh kedua abangnya sudah cukup sebenarnya."
Andika mengernyit mendengar penuturan Litha. "Apa Ninda punya pacar?"
Litha tersenyum, "Untuk pertanyaan itu, saya tidak ingin menjawabnya, silahkan Bang Dika menanyakannya langsung pada Ninda. Itu privasinya, dan saya sangat menghargai yang namanya privasi."
"Heh. Itulah yang membuatmu berbeda dengan wanita lain, Litha. Kau selalu elegan dalam berbicara. Tuan Muda Pradipta sangat beruntung mendapatkanmu," bathin Andika mengagumi ibu hamil yang akan beranjak pergi.
Pak Sas yang berdiri sejak awal di samping Litha menyadari ada hal yang tidak biasa pada pandangan laki-laki yang berprofesi sebagai anggita polisi itu.
"Sampaikan salamku buat Bang Fandi, Tante," ucap Litha ketika mencium pipi kanan dan kiri Tante Murni.
"Ya, kamu sehat-sehat ya sama bayimu ini." tangan Tante Murni mengelus lembut perut Litha yang sudah membesar, "Jangan kecapekan dan pikiranmu harus selalu bahagia. Bayi dalam perutmu ini tahu apa yang dirasakan ibunya."
Litha mengangguk dan berlalu keluar dari kamar inap Ninda, ia akan menuju ke kantor suaminya sesuai janji. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangan, masih jam 09.50 pagi.
Sejak pidato penutup di acara wisuda sekaligus publikasi Litha sebagai istri Tuan Muda Pradipta, semua orang terutama karyawan yang bekerja di bawah naungan perusahaan suaminya telah mengenal wajahnya. Dengan pembawaan Litha yang humble dan ramah, menjadikan ia disukai siapapun bahkan harga saham Pradipta Corp. mengalami kenaikan, karena berita kehadiran Litha yang dikenal sebagai wanita cerdas tengah mengandung penerus Keluarga Pradipta.
"Pak Sas, apa hanya aku yang terlalu merasa ya? Kenapa mereka yang melihatku memandang dengan tatapan iba?" tanyanya pada Pak Sas yang berjalan di belakangnya.
"Itu hanya perasaan Nyonya saja. Mereka semua sangat mengidolakan Nyonya, kok."
"Aih, Pak Sas ini kalau mau menghiburku, carilah kata-kata yang biasa saja. Jangan berlebihan dengan kata mengidolakan, itu hanya untuk para pesohor."
"Kan, Nyonya memang pesohor di lingkungan kerja Pradipta Corp."
"Ah, iya benar, hahahahaha ... Pesohor di lingkungan terbatas," gelak Litha yang makin menambah rasa iba bagi mereka yang kebetulan berpapasan dengannya.
...***...
"Selamat pagi menjelang siang Pak Andi dan Pak Gito," sapa Litha ramah, kemudian menuju sekretaris tomboy suaminya.
"Hai, Kak Sasha ... Suamiku ada di dalam?" tanya Litha sembari meletakkan bingkisan yang dibawanya.
"Ada Nyonya, tapi sepertinya Tuan sedang marah."
"Sebelumnya Tuan Bona diantar oleh Asisten Yan ke dalam. Mungkin terkait penggeledahan di Amore Club tadi malam, Nyonya."
"Hmmm ... Nak, semoga perangai kasar Ayahmu tidak menurun padamu." Litha mengelus perutnya, lalu berkata pada Sasha, "Aku masuk saja Kak. Silahkan dicicip ya, tadi pas kebetulan lewat jadi aku beli buat Kak Sasha, Pak Gito dan Pak Andi."
"Kebetulan lewat bagaimana, Nyonya? Kita jalan memutari jalan layang hanya untuk membeli ini untuk mereka." protes Pak Sas dalam hati.
"Wah, dari kemaren-kemaren aku pengen banget makan gorengan viral ini. Tapi-- ini kan letaknya jauh, kok bisa Nyonya bilang kebetulan lewat?"
"Makan saja, tidak usah protes," tukas Pak Sas, padahal tadi baru saja ia protes.
.
.
.
Litha mengetuk dan langsung membuka pintu ruang Presdir tanpa permisi. Ray tadinya mau marah tapi karena istrinya yang dibalik pintu, ia tak jadi marah, malah menyambut senang.
"Kau sudah datang, padahal satu jam lagi baru istirahat." Ray mengecup kening istrinya.
"Tidak apa-apa, aku tunggu saja. Apa yang kau la-- Astaga, Mas! Bona diapain?"
Litha terkejut melihat Bona meringkuk di sudut dinding dengan wajah babak belur.
"Ck. Harusnya kau tidak melihat ini. Aku sedang memberinya pelajaran agar ia lebih memperhatikan pekerjaannya."
"Maksudnya bagaimana? Saat ini saja dia tidak peduli pada Ninda saking memperhatikan pekerjaannya," sangkal Litha.
__ADS_1
Mendengar nama kekasihnya disebut, dengan menghiba ia bertanya, "Bagaimana keadaannya Lith. Apa ia baik-baik saja? Aku ingin sekali melihatnya, tapi lihat Suamimu ini tidak punya perasaan menahan dan menghajarku disini."
Litha melihat Bona dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.
"Apa kau mengadu pada istriku, Bon?" tanya Ray sinis pada Bona.
"Lith, please ... Beritahu aku bagaimana keadaannya?" mohon Bona ke Litha, ia tidak menghiraukan kicauan Ray.
"Hmmm ... Keluarganya sudah tahu keadaan Ninda yang sebenarnya, ia akan dibantu untuk penyembuhan anxietynya. Kau tidak perlu khawatir, sekarang Ninda masih belum sadar karena efek obat," jawab Litha sambil meletakkan tasnya di meja dan duduk di sofa.
Bona memegang dadanya, bernafas lega seakan beban berat terangkat, "Terimakasih Lith, terimakasih. Dia baik-baik saja bagiku sudah cukup, itu membuatku tenang."
Litha merasa kasihan pada Bona, suaminya kadang memang tega bahkan pada sahabatnya sendiri. "Ninda tidak apa-apa, Bon. Sekarang yang harus kau pikirkan bagaimana kau akan menghadapi keluarga Ninda, kedua Abang Ninda sangat memproteksi adiknya. Kau harus berusaha keras meluluhkan hati mereka jika ingin masih bersama Ninda."
"Oh, shitt ! Mana aku sempat berdebat dengannya tadi malam saat akan menggeledah klub!" ujar Bona mengusap kasar wajahnya, frustasi, dan itu membuat Ray terbahak.
"Ray, kau boleh tertawa saat ini. Tapi nanti kau akan merasakan bagaimana perasaanku saat ini."
"Hah. Maaf, Bon, sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi padaku," kata Ray jumawa mencibir Bona yang melempar bantal sofa ke arahnya namun dengan tangkas ia menangkapnya, mengejek.
Litha menghela nafasnya, hubungan suaminya dan sahabatnya ini layaknya persahabatan bocah, saling mengejek, menyakiti tapi tidak bisa bermusuhan. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, akhir-akhir ini tubuhnya sering lelah terutama bagian punggungnya. Litha mengusap layar ponselnya dan melihat beberapa aplikasi media sosial. Ia punya semua akun media sosial tapi sangat jarang untuk memosting apapun, hanya untuk melihat-lihat informasi terkini.
Airmuka Litha seketika berubah pias melihat 5 foto candid di akun gosip terpopuler di Instagram, tapi sangat jelas itu adalah suaminya, dengan pakaian yang sama saat Ray ke kantor polisi. Tangannya gemetar dan matanya terasa panas, apalagi caption yang disematkan pada foto itu membakar hatinya.
Inikah yang namanya mantan terindah? #emoji_tutup_mulut
Foto itu sudah dikomentari 3 ribu lebih akun, dan semuanya mayoritas menghujat Tuan Muda Pradipta dan merasa iba pada istrinya yang sedang hamil. Abyan melihat perubahan muka Litha, "Nyonya, ada apa?"
Ray dan Bona menghentikan pertengkaran mereka, ikut melihat Litha yang mengusap-ngusap perutnya. Litha memejamkan mata dan menarik nafas panjang lalu dihembuskan perlahan, dilakukannya 3 kali sebelum menjawab Abyan.
"Ternyata tadi Mas benar-benar sibuk di Kantor Polisi, sampai mengabaikan teleponku. Apa teleponku mengganggu kesibukanmu, Mas?" tanya Litha datar, ia bangun dari duduknya dan meraih tasnya.
Semua yang ada disitu tidak mengerti maksud Litha, apalagi Ray sudah panik, karena ia tahu nada bicara Litha yang seperti demikian, menandakan ada sesuatu yang serius.
"A-- Apa maksudmu, Lith?"
Ray meraih lengan istrinya meminta penjelasan. Tapi istrinya malah menepis dengan halus dan tersenyum. "Aku tidak tahu rasanya punya mantan terindah, karena aku tidak pernah punya mantan. Kasihan sekali diriku ini," ujar Litha berlalu keluar ruang Presdir.
Deg.
Ray memucat dan mematung, Bona ikut menegang, hanya Abyan yang masih jernih berpikir, terakhir sebelum terjadi perubahan pada Nyonya Mudanya, ia melihat ponsel dan sempat ia melirik sekilas kalau Nyonya Muda membuka media sosial.
Abyan dengan cepat membuka media sosial yang ia punya melalui ponselnya, menscroll apapun disana. Foto Ray berpelukan dengan Ramona di tengah keremangan malam menyambut pagi dengan mudah ditemukan. Foto itu menjadi trending, semuanya membahas 'perselingkuhan' seorang Tuan Muda saat istrinya mengandung, bahkan berita tertangkapnya seorang artis karena narkoba tertutupi dengan berita 'Tuan Muda Pradipta yang selingkuh'. Jaman sekarang berita perselingkuhan memang lebih menarik dibahas netizen.
"Ray, bodoh!!! Apa ini?!?" tanya Abyan kesal menunjukkan foto di akun gosip.
"Haaaahhhh ..." kaget Bona membelalakkan matanya lebar tidak percaya.
Ray merasa lantai teratas dari gedung kantor pusat runtuh ke bawah saat itu juga. Ia terpaku, bingung mau menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada Abyan, terlebih nanti pada istrinya. Serasa dunia menghimpitnya hingga ia sesak tak bisa bernafas.
"Ray, kali ini kau harus menyelesaikannya sendiri. Apapun alasannya seharusnya kau lebih panjang berpikir dan lebih menjaga sikapmu," sahut Abyan menahan emosinya, rahangnya sudah mengetat.
"Kejar istrimu. Jelaskan sekarang juga, jangan terlambat seperti aku, kau akan semakin susah mendapat maafnya jika kau tunda. Wanita ingin dikejar, Ray, jangan bengong!"
Bona memukul pundak sahabatnya. Meski ia sudah dihajar Ray hingga babak belur, Bona masih saja memberikan perhatiannya.
Ray baru seperti tersadar dari keterkejutannya setelah pundaknya di tepuk Bona. Ia langsung berlari menuju pintu dengan kaki panjangnya mengejar istrinya, ia tidak akan membiarkan istrinya pergi meninggalkan kantor ini tanpa penjelasannya.
Namun, langkahnya terhenti ketika membuka pintu ruangannya, begitu juga nafasnya. Abyan dan Bona penasaran kenapa Ray berhenti di ambang pintu, mereka mendekatinya. Dan, sama dengan sahabatnya, nafas mereka juga ikut terhenti.
Pemandangan yang membuat siapapun merasa berada di kutub utara, dingin membeku. Sasha gugup tidak terkira, ia juga sudah melihat foto itu dari grup khusus antar karyawan Kantor Pusat, dan tentu sangat ramai komentar dan hampir semua menyayangkan sikap Bos mereka dan merasa jengkel pada Nona Ramona yang belum bisa move on. Pak Gito juga Pak Andi tidak bisa berbuat apapun, mereka hanya bisa menunggu perintah dari Tuan Muda yang juga ikut gugup.
Pak Sas berdiri di samping dengan satu langkah lebih maju dari Nyonya Mudanya, posisi melindungi. Litha menatap lurus tanpa emosi pada gadis yang membuatnya sakit hati, ia tidak ingin terlihat lemah dan rapuh hanya karena sebuah foto.
__ADS_1
Tak disangka, malah Ramona yang menatap tajam menusuk ke dalam manik Litha, "Bagaimana? Hatimu sakit kan? Itulah yang aku rasakan ketika kau merebutnya dariku ..."
- Bersambung -