Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Tidak Terpancing


__ADS_3

Ninda ...


Gadis berparas imut yang tidak sesuai umurnya akhir-akhir ini menggelitik hati Bona. Bukan karena desakan orangtuanya yang ingin Ninda dibawa kembali ke rumah keluarganya. Tapi sikap jinak-jinak merpati Ninda yang membuat Bona kelimpungan. Belum lagi sifat manja dan suka berubah pikiran menjadi suatu tantangan berada di dekat Ninda untuk bisa memahami apa maunya. Ah, Ninda memang imut dan menggemaskan, sayangnya Ninda tidak lepas dari bayangan Litha yang galaknya dimata Bona seperti harimau.


Hiiiii ....


"Bon, kami pamit."


Abyan dan Rayyendra muncul dan menepuk pundak Bona.


"Eh, hari belum larut malam, kenapa kalian sudah pulang?"


"Mood Tuan Muda lagi buruk."


"Sejak kapan dia kesini kalau moodnya bagus, hah?"


Clinggg ....


Pandangan Ray menusuk jantung Bona hingga ia menahan nafas. Ia kenal betul pandangan ini, pandangan tidak ingin diusik sedikitpun.


"Ya ... ya ... Silahkan. aku masih ada tamu. Hati-hati di jalan."


Bona tidak ingin celetukannya berbuntut panjang, ia mempersilakan Ray dan Abyan pergi.


"Apa benar itu Tuan Pradipta dan asistennya?"


Bona mengangguk.


"Kabarnya Tuan Muda Pradipta sudah menikah tapi wajah istrinya dikaburkan, apa Tuan pernah melihatnya?"


"Hah! Tentu saja, gara-gara dia-- Ah sudahlah. Kau nikmati saja malam ini, aku mau naik ke ruanganku."


Hampir saja Bona keceplosan kalau dia habis dipukuli istri Tuan Muda Pradipta, bisa hilang harga dirinya nanti.


"Aku pulang saja, Tuan. Moodku juga sedang buruk. Permisi."


"Kenapa hari ini semua orang moodnya buruk dan akhirnya menularkannnya padaku, haissshhh...." kata Bona beranjak naik ke ruangannya.


Ia belum bisa pulang, ia masih tidur di ruangannya karena orangtuanya tidak mengizinkan pulang sebelum membawa Ninda kembali ke rumah mereka. Untungnya ruang kerjanya dilengkapi ruang istirahat yang nyaman, meski tidak senyaman di rumahnya.


#Di Rumah Utama Keluarga Pradipta#


"Apa aku boleh tidur di kamar lain?" tanya litha saat mengantarkan susu coklat hangat.


Ray mendengus kesal. Hatinya masih penuh emosi. Ia pikir begitu ia pulang, ia akan terhibur dengan obrolan malam sebelum tidur dengan istrinya seperti biasa. Tapi yang Ray dengar malah Litha meminta pisah kamar dengannya. Emosi dalam hati Ray kian menyala.


"Kenapa? Karena aku tidak sama dengan pria pujaanmu, hah!"


"Apa ini? Pria pujaan apa maksudnya? Aneh!"


"Aku trauma tidur di tempat tidurmu."


Deg !

__ADS_1


Sekali lagi jawaban Litha menghantam jantungnya, tepat dipusatnya berdetak sebagai sumber kehidupan. Seketika Ray dihampiri rasa bersalah, emosinya yang menyala langsung meredup bagai disiram air.


"Biar Pak Is menggantinya sementara dengan tempat tidur lain, besok akan diganti baru," kata Ray masih dengan gengsinya meski rasa bersalah itu menyambar-nyambar dalam benaknya


"Aku juga trauma dengan kamar ini beserta isi dan orangnya. Aku tidak bisa tidur dengan baik." Litha menyangkalnya, suaranya datar dan tatapannya dingin.


Sraaakkkhhh ....


Hati Ray tercabik mendengarnya, 'trauma dengan orangnya' . Apa maksudnya? Ray sudah tidak bisa membedakan perasaannya, berkecamuk menjadi satu, sedih yang menyayat hati dan marah yang membara, mendengar wanita yang dicintainya tidak ingin melihatnya lagi.


Ray berjalan mendekati Litha, menatap dalam netranya, Litha tidak berpaling, dengan tenang bahkan sedingin es membalas di netra suaminya.


"Apa yang mau kau lakukan? Bahkan yang paling kutakutkan toh, sudah terjadi."


Tiba-tiba Ray memegang kepala Litha dengan kedua tangannya dan ingin menciumnya. Tapi Litha sigap berkelit, dia mendorong tubuh suaminya sekuat tenaga walaupun Ray hanya mundur beberapa langkah.


"Berhenti melecehkanku! Meski kau punya hak terhadapku sebagai suami, tapi yang harus diingat adalah pernikahan kita hanya berlandaskan perjanjian."


Ray terkekeh, kemudian ia bertepuk tangan mengejek, "Hahahahah ... ya ... ya ... kau benar, status kita hanya di atas kertas. Jadi maumu apa?" tantang Ray, egonya kembali meninggi.


"Tidak ada, tetap pada jalurnya saja. Yang sudah terjadi, biarkanlah, kuanggap itu resiko buatku dan aku tidak akan menuntut apapun di luar kesepakatan perjanjian kita. Saat ini aku hanya ingin memulihkan mentalku. Aku tidak mau hilang akal karena aku masih punya tujuan. Mohon izinkan aku untuk tidak sekamar denganmu sampai pernikahan kita berakhir. Aku akan tetap melakukan tugasku seperti biasa, mengurusmu ketika di rumah."


Litha menjawabnya dengan panjang namun tenang, tidak terpancing dengan ego suaminya yang besar.


"Silahkan!"


"Terima kasih. Mulai malam ini Tuan bisa tidur dengan nyaman di ranjang, tidak di sofa lagi. Mohon untuk tidak mengunci kamar, karena besok pagi aku akan kesini untuk menyiapkan pakaian," ucap Litha dengan menyebut Tuan, yang artinya ia telah berdiri jauh dari tempat Rayyendra.


"Apa tujuanmu itu hidup bersama Firza dengan 20 persen harta kekayaan Nenek? Aku tidak menyangka kau dan Firza begitu licik. Jadi disini siapa yang sebenarnya serigala berbulu domba?"


Litha menarik nafas, mengaturnya perlahan agar tidak terpancing. Ia menoleh ke arah Rayyendra.


"Ini pemikiran paling gila yang pernah kudengar."


"Istirahatlah, Tuan, tidak baik terlalu berprasangka." sahut Litha sembari tersenyum.


Masih ada ketulusan dalam senyumnya, itulah yang meredam emosi Ray hingga ke dasarnya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Keesokan malamnya, Evan dihubungi kembali untuk datang ke klub malam terbesar di Ibukota, tempat mereguk hingar bingar dunia malam. Di ruangan VIP, Bona menyambut Evan dengan berbagai minuman beralkohol, dari yang minuman standart hingga minuman kelas atas seperti yang biasa diminum Tuan Muda Pradipta jika ia ingin minum.


"Duduklah."


Evan langsung duduk dan tersenyum melihat sederetan botol minuman di atas meja.


"Aku ingin bertemu Ninda sekarang. Aku ingin bicara dengannya." Bona langsung pada tujuannya memanggil Evan.


"Aku harus pastikan dulu kalau Tuan tidak akan berbuat apa-apa yang akan menyakitinya."


"Kalau aku menyakitinya?" pancing Bona menyeringai.


"Aku tidak akan memanggilnya."

__ADS_1


"Kenapa? Kau bisa bawa pulang semua minuman di meja ini. Dan ini minuman termahal di sini, yang biasa Tuan Muda Pradipta minum." Bona menunjuk sebuah botol yang berbentuk unik.


"Bahkan dengan semua minuman diklub ini tidak akan kutukar dengan sakit hatinya Ninda."


"Hei, kau hanya sepupunya, Bro! Not your sister!"


"Hahahaha ... Tuan, Ninda adalah kesayangan kami, dia satu-satunya gadis di Keluarga Kusuma. Orangtua Ninda memang sederhana, tapi cukup punya pengaruh untuk menggerakkan semua massa di daerah tempat tinggalnya. Bahkan kedua abang Ninda perwira polisi, karirnya juga sedang bagus. Jangan tanyakan penjagaan Ninda, dia bak pualam yang senantiasa dijaga hati-hati."


"Kalau memang dia dijaga dengan hati-hati bagaimana bisa dia menjadi korban bully?"


Bona sengaja mengorek informasi dari Evan, sumber kehidupan Ninda yang sangat akurat. Dia tidak perlu bersusah payah menyewa orang untuk mencari tahu tentang Ninda. Evan cukup dipancing sedikit, pintu tentang Ninda beserta masa lalunya terbuka lebar.


"Akan kuceritakan pada Tuan, Ninda seumuran denganku maka aku selalu satu sekolah bahkan semasa SD aku satu kelas dengannya. Aku sempat kesal karena diberi tugas untuk menjaga Ninda, minimal melaporkan segala sesuatu yang tidak wajar. Tapi ada satu ketika Ninda membelaku dengan gagah berani melawan sekelompok anak laki-laki yang iseng menyembunyikan sepatuku. Sejak saat itu aku sadar, aku bukan menjaganya tapi dia yang menjagaku hahahahaha .... " Evan menceritakan dengan detail ingatan masa kecilnya.


"Semua berubah ketika kami SMA, entah kenapa ia tidak berdaya saat dirundung Renata dan teman-temannya. Disitulah aku merasa giliranku untuk melindunginya. Aku bersedia menjadi pacar Renata hingga akhirnya Ninda mendapatiku tengah berpesta shabu-shabu di rumah Renata. Saat itu juga Ninda memohon padaku untuk segera putus tanpa memedulikan perlakuan Renata nanti padanya setelah kami putus. Dia juga mengancamku untuk segera menjalani rehabilitasi sebelum canduku semakin parah."


Evan tersenyum dan mengambil jeda mengingatnya, kemudian ia melanjutkan kembali.


"Tuan tahu, selama satu bulan setiap sore, senin sampai jumat ia mengelabui keluarga kami dengan mengatakan ada pelajaran tambahan di sekolah, padahal ia mengantarku dengan motor ke panti rehabilitasi hingga aku benar-benar dinyatakan bebas dari ketergantungan. Ninda memelukku dengan menangis terharu. Makanya kubilang Ninda adalah malaikat penjagaku, aku akan pasang badan untuk Ninda jika ada yang membuatnya menangis meskipun nyawa taruhannya."


Glek !


Bona menelan salivanya. Niatnya ia yang memancing Evan malah sekarang dia yang terpancing. Ini baru sepupunya bagaimana kedua abangnya kalau turun tangan, bisa habis dia, remuk jadi remahan rengginang.


Bona tidak dapat membayangkan kalau kejadian mencium Ninda di pernikahan Rayyendra diketahui mereka, mungkin sekarang ia sudah mendekam di hotel prodeo dengan pasal pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan. Dalam hati Bona bersyukur hanya di pukuli dan dikerjai Litha.


"Heh, tapi kau juga pecundang. Memanggilnya kemarin saat kau menghancurkan satu ruangan VIP- ku," ledek Bona yang sebenarnya menutupi rasa gugupnya tadi.


"Kan tadi sudah kubilang, Tuan. Ninda itu malaikat penjagaku. Jika aku terkena masalah di otakku hanya muncul nama Ninda, satu-satunya nomor HP yang kuhapal ya, punya Ninda, bukan orangtuaku."


Bona hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku harus memastikan apa niat Tuan sebenarnya? Seorang pemilik klub terbesar di Ibukota terobsesi dengan gadis seperti Ninda, tidak mungkin tidak ada maksud apa-apa atau hanya sekedar berteman?"


Glek !


Kali ini Bona yang masuk dalam perangkapnya. Ternyata Evan sengaja mengikuti permainan Bona hanya untuk mencari tahu niat Bona sebenarnya pada sepupunya.


"Aku memang peminum, Tuan. Tapi aku masih menyimpan kewarasanku, terutama untuk kakak sepupuku itu."


Perkataan Evan kali ini lebih tepatnya merupakan peringatan, dia tidak takut apapun jika menyangkut Ninda, sesuai yang ia bilang sebelumnya, ia akan memasang badannya melindungi Ninda meski nyawa taruhannya.


"Kalau Anda ingin bertemu dan berbicara dengan Ninda, lakukan seperti orang pada umumnya saja. Ninda tidak akan menghindari orang tanpa alasan. Jika ia menghindari Tuan artinya ia punya alasan untuk itu."


Bummmm ....


Evan berhasil menghentak sanubari Bona. Tidak menunggu lama, ia berdiri dan mengambil botol yang Bona tunjukkan sebelumnya, botol minuman yang biasa diminum Tuan Muda Pradipta, minuman termahal yang dijual di klub Amore.


"Aku pamit, Tuan. Ini untuk bayaran semua informasi yang Tuan cari tentang Ninda. Anda bisa menghubungiku lagi kalau masih ada yang kurang."


Bona mematung, bisa-bisanya ia dibodohi oleh mahasiswa peminum seperti Evan.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2