Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kehancuran Tisha (Part 2)


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya di laboratorium biomedik, Vivian secepatnya menyelesaikan laporan praktikum anatominya. Ia tidak mau berduaan dengan cadaver berlama-lama di hari yang semakin malam, hiiiiii ......


Vivian Handoko, gadis yang sebenarnya manja dan penakut dipaksa untuk menjadi dokter karena obsesi ibunya yang gagal menjadi dokter. Darah, organ tubuh mahluk hidup hingga cadaver selalu membuatnya sulit tidur, semua seperti rekaman film yang terpampang jelas dalam ingatannya.


Selain itu, ia ingin segera ke Bazaar untuk menikmati malam melepas penatnya perkuliahan. Otaknya sebenarnya sangat mampu untuk takaran mahasiswa kedokteran tapi rasa takutnya itu yang bagai hantu membayanginya setiap praktikum.


Suara musik yang sampai ke tempatnya berdiri menambah semangat langkahnya meninggalkan gedung laboratorium, hingga sayup-sayup ia seperti mendengar orang yang tengah bertengkar. Ia tidak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya cepat, tapi sebuah nama yang tertangkap telinganya membuatnya urung melangkah.


Brengsekkkk kau Lucas!!! Kau menghancurkan hidupku!


Vivian sangat mengenal pemilik teriakan itu. Tisha ...


Ia langsung menghampiri arah sumber suara dengan mengendap-endap. Dari jarak yang tidak begitu jauh, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jelas nampak wajah Lucas yang sedang mengenakan baju kaosnya dan Tisha tanpa pakaian tergolek di lantai.


Vivian menutup mulut dengan kedua tangannya mencegah agar ia tidak berteriak. Jantungnya berdetak sangat cepat hingga mengantarkan bulir-bulir keringat di pelipisnya, kakinya gemetar menyaksikan pemandangan yang juga menyiksa bathinnya.


Matanya terbelalak dan nafasnya seakan terhenti ketika Lucas menampar keras pipi Tisha hingga tersungkur. Airmatanya mengalir jatuh di pipinya melihat Tisha diperlakukan tanpa harga diri oleh mantan kekasihnya sendiri.


Setelah Lucas pergi meninggalkan Tisha begitu saja, dengan cepat Vivian menghampiri dan memeluk Tisha yang menangis hebat, meraung dan merutuki dirinya.


"Tish ... Tish ... pakai bajumu dulu, pakai dulu Tish ... "


Tisha menggeleng-gelengkan kepalanya terus menerus, menangis sambil meracau. Ia tidak mau mengenakan pakaian hingga akhirnya Vivian yang memakaikan bajunya satu persatu. Ketika kakinya akan dipakaikan celana, Tisha merintih dan makin menangis, selang*kangannya sakit. Vivian memeluk Tisha lagi, ia juga ikut menangis.


"Kuat Tisha ... Kuat .... " bisiknya dengan suara bergetar.

__ADS_1


...----------...


Vivian bingung apa yang harus ia lakukan. Sementara saat ini Tisha ditampungnya di kamar kost miliknya, ia tidak tega meninggalkan temannya itu sendirian di kamar kostnya, karena sesuatu bisa saja terjadi tanpa ada yang tahu. Mereka berbagi tempat tidur, dipan 120x200 meter itu cukup buat mereka yang berbadan kurus, apalagi Tisha selalu tidur meringkuk tidak bergerak sampai ia terbangun. Ia tidak berteriak dalam tidurnya, namun terisak-isak pilu seperti suara tikus yang mencicit di dinginnya malam.


Tisha enggan makan dan mengakibatkan demam tinggi, Vivian membawanya ke rumah sakit untuk ditangani, saat itulah ia menghubungi Om Sena, sapaan akrab Aryasena, ayah Tisha untuk memberi kabar dan peristiwa bia*dab yang dialami putrinya.


Bagai ombak besar menghantam kapal yang tengah berlayar dan langsung menenggelamkannya, Aryasena terhempas ke dasar lautan, belum mati tapi tidak juga bisa bernafas.


Saat itu juga ia dan istrinya, Asmarini pergi ke Ibukota melihat kondisi putri sulungnya. Litha yang saat itu masih SMA dan Vania yang masih SD hanya kebingungan melihat kepanikan ayah dan ibunya berangkat ke Ibukota, belum tahu apa yang terjadi pada kakak perempuan yang disayanginya.


Vivian tidak sempat bertemu dengan kedua orangtua Tisha karena mereka langsung mengurus rujukan keadaan Tisha ke seorang psikiater, mereka hanya berkomunikasi via telepon. Kabar yang ia dengar dari Om Sena, kondisi Tisha makin memburuk, bukan kondisi fisik tapi lebih ke jiwanya.


Tante Rini, sapaan Ibu Tisha segera kembali ke Kota A berbagi tugas untuk mengurus segala keperluan pendukung suaminya yang akan mendampingi putrinya hingga jiwanya stabil dan menuntut keadilan bagi putrinya dan juga mengurus Litha dan Vania yang juga membutuhkan perhatian, terutama Vania yang tahun itu akan menjalani ujian nasional untuk kelulusan Sekolah Dasar. Rini mulai menjual tokonya di pasar, kendaraan, bahkan rumah satu per satu karena kebutuhan mereka semakin banyak dan suaminya sementara tidak bekerja, lebih memfokuskan perhatiannya ke Tisha.


"Bu, ada apa dengan Kak Tisha?" tanya Litha pada ibunya.


"Kakakmu menjadi korban pelecehan, Tha. Kondisinya buruk, kejiwaannya terguncang hebat. Ayahmu disana sedang mendampingi Tisha untuk terapi di psikiater dan melaporkan kejadian itu pada polisi setempat. Semoga pelakunya bisa ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya ... "


Ibu berkata pelan namun jelas. Tidak ada isak tangis dalam suaranya, Ibunya setegar batu karang meski matanya tidak menyiratkan bahwa ia tidak baik-baik saja, ada biasan hatinya yang hancur berkeping-keping di sana, dan Litha menangkap itu semua dalam netranya.


Litha shock mendengarnya, ia tidak setegar Ibunya, ia menangis sejadi-jadinya. Ia tidak bisa membayangkan kejadian naas itu terjadi pada kakaknya, kakak yang ia sangat sayangi dan banggakan kini harus berjuang melawan ketidakberdayaan diri sendiri, melawan penyesalan diri sendiri dan melawan rasa sakit hati yang tak terkira.


Penyesalan, itulah yang Tisha hadapi sekarang menyesali perbuatannya yang melanggar janjinya pada ayahnya. Janji akan fokus meraih mimpinya, janji tidak akan terpengaruh dengan naf*su sesaat yang meruntuhkan tekadnya dan janji tidak terlena dengan mahluk yang bernama laki-laki. Ia merutuki diri sendiri tanpa henti meski ayahnya mengatakan itu semua bukan salahnya.


Aryasena dengan hati yang sangat pedih membuat laporan pemerkosaan di Universitas XYXY. Tentu saja ini menjadi perhatian pihak kampus yang akan mencoreng nama baik yang selama ini. Alotnya proses pemeriksaan dan penyidikan dari pihak berwajib membuat Aryasena mencari buktinya sendiri. Walaupun ia tahu siapa pelakunya dari mulut Tisha, mantan kekasihnya yang tidak terima diputus, ia tetap harus mencari bukti agar bisa menuntutnya sampai pengadilan.

__ADS_1


Pada akhirnya, pencarian bukti kuat yang ditemukan Aryasena terletak pada saksi kunci, Vivian, yaitu teman kampus Tisha yang memberi kabar pahit padanya. Namun, takdir berkata lain, saat Aryasena membuat janji temu untuk kesediaan Vivian sebagai saksi, ia ditabrak orang suruhan orangtua pelaku agar laporan dari pelapor tidak berlanjut, dengan kata lain Lucas bisa terlepas dari jeratan hukum. Vivian yang melihat langsung Aryasena ditabrak sebuah mobil tanpa plat nomor kendaraan pingsan ditempat.


Benar saja, setelah Aryasena meninggal dalam kecelakaan tragis, laporan kasus Tisha dihentikan penyidikannya karena tidak ada yang meneruskan laporan tersebut, bahkan siapa penabrak Aryasena juga tidak kunjung tersentuh karena tidak ada laporan tabrakan itu sebagai tindakan kriminal. Kecelakaan Aryasena dianggap sebagai kelalaian sendiri karena tidak hati-hati dalam menyebrang dan pihak keluarga menerimanya.


Tisha yang sebelumnya secara kejiwaan sudah terguncang makin terguncang disebabkan rasa bersalah setelah mengetahui sang ayah meninggal karena memperjuangkan keadilan buatnya. Rasa bersalah yang luar biasa menggerogoti mengakibatkan ingatannya terhenti pada kenangan termanis bersama ayahnya.


Asmarini, yang tiba-tiba menjadi orang tua tunggal memutuskan untuk lebih memusatkan perhatiannya pada pengobatan dan kesembuhan Tisha ketimbang membuat laporan tabrak lari suaminya. Baginya percuma, karena ia tak bisa mengalahkan kuasa uang.


🍀 flashback off 🍀


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Kakak-kakak readers yang sangat saya sayangi...


Dalam satu bab karya ini tersusun antara 1500 - 2000 kata. Saya dapat pencerahan dari salah satu Author senior kalau sebaiknya jika 2000 kata dipecah saja jadi 2 bab agar banyak mendapatkan like dan komen untuk mendukung popularitas karya.


Jadi, mulai sekarang diusahakan untuk Update 1 bab berikutnya hanya 1000-an kata saja tapi sehari 2 kali update (sama aja 😅😅) di jam yang berbeda, di dini hari dan siang hari, biar apa? biar gak lupa like dan komen soalnya pengalaman kalau up-nya 2 bab sekaligus penyebaran like dan komen tidak rata 😢Bagaimanapun juga like dan komen Kakak-Kakak readers adalah nyawa kami, Para Author di dunia halu.


Jadi, jangan lewatkan like dan komen ya walaupun hanya satu kata, tapi lebih menyenangkan lagi kalau komennya panjaaaaangggg, aku suka bacanya 😍


Eh, eh, untuk bunga, hati, kopi juga vote sangat mendongkrak moodbooster lho .... I need more and more


Akhirul Kalam,

__ADS_1


Salam sehat buat semuanyaaaaa .... termasuk editor yang meluluskan tiap bab karya receh ini ....


__ADS_2