
Tiga hari sebelum hari H, Litha diajak Pak Sas ke rumah sakit untuk chek-up kesehatan secara lengkap. Katanya ini merupakan agenda calon pengantin di keluarga Pradipta, kedua mempelai harus dalam keadaan sehat untuk meneruskan keturunan Pradipta yang sehat pula.
"Siapa yang mau melahirkan anak? Pernikahan ini juga paling lama bertahan lima bulan, selama proses pengalihan nama semua harta kekayaan."
Litha berbicara sendiri di dalam mobil Nyonya Besar. Semenjak menyetujui pernikahannya dengan pewaris Pradipta Corp. ia tidak diperkenankan menggunakan angkutan umum atau online. Pak sas yang dulunya sopir dan asisten pribadi Nyonya Besar kini menjadi sopir dan asisten Litha, calon Nyonya Muda Pradipta.
"Pak, kenapa tadi menjemputku di kampus, saya kan bisa ke rumah sakit dengan taksi online? Nanti gosip tentang baby sugar datang lagi," sungut Litha kesal.
Kemunculan tiba-tiba Pak Sas saat ia konsultasi skripsi membuat geger kampus, bisik-bisik mulai terdengar lagi. Litha bersembunyi di kantin, justru membuat runyam keadaan, Pak Sas dengan cueknya menjemput Litha sampai di depan mejanya di kantin kampus.
"Maafkan saya Nyonya Muda, saya sudah mendapat mandat dari mendiang Nyonya Besar, saya akan selalu berada di sisi Nyonya Muda setelah Nyonya Muda menyetujui wasiat Nyonya Besar," jawab Pak Sas.
"Apaan sih Nyonya Muda - Nyonya Muda. Ribet, Pak nyebutnya, saya juga dengernya kepanjangan, panggil seperti yang dulu saja sewaktu Nenek masih ada. Eh, tapi kok kayaknya Pak Sas tahu wasiat Nenek ya? Siapa yang beri tahu?"
"Status Anda sekarang sudah berbeda Nyonya Muda, jadi saya akan tetap menyebut Anda Nyonya Muda. Saya juga tidak tahu apa-apa mengenai wasiat Nyonya Besar. Saya hanya diperintahkan demikian oleh Nyonya Besar sebelum wafat. Nyonya Besar juga berpesan agar Anda jangan ragu dan sungkan menggunakan saya. Saya kini adalah pelayan setia Nyonya Muda."
"Ya ampun, Pak Sas, jangan gitu dong! Saya ini hanya perempuan yang tidak sengaja masuk dalam lingkaran Keluarga Pradipta. Saya risih Pak dengan sebutan Nyonya Muda, apalagi di depan orang. Terus maksudnya menggunakan Pak Sas gimana, memangnya Pak Sas barang?"
Litha bersikeras tidak ingin disebut Nyonya Muda, tapi Pak Sas lebih bersikeras menyebut Litha Nyonya Muda.
"Nanti juga Nyonya Muda akan terbiasa dengan sebutan itu. Kami para pelayan di rumah utama akan menyebut Nyonya Muda termasuk paman Nyonya Muda sendiri."
"Apa?"
Litha tidak bisa membayangkan pamannya yang sering menjitak, menyentil dan mencubitnya akan bersikap sama dengan pelayan lainnya. Bukan hanya menjaga sikap, tapi juga tidak bisa memanggil langsung namanya.
"Rasanya aneh sekali kalau Paman Tino memanggilku Nyonya Muda hahahahaha .... "
"Nyonya Muda bisa mendelegasikan tugas yang sifatnya rahasia atau tugas apapun itu. Saya dan Iskhak akan setia kepada Nyonya Muda."
"Hah?!? Pak Is juga? Hhhhmmpppfhhh .... tapi kenapa?"
Litha sudah mulai frustasi, tidak bisa membantah pria yang seumuran dengan ayahnya.
"Karena Nyonya Muda adalah cucu menantu yang diakui oleh Nyonya Besar. Sebutan Nyonya Muda hanya untuk istri dari Tuan Muda Rayyendra yang direstui Nyonya Besar."
Litha benar-benar tercengang dan menggeleng-gelengkan kepala. Sebegitu pentingnya ia dianggap dalam Keluarga Pradipta, tapi apa yang terjadi jika ia bercerai, ingin sekali ia menanyakannya pada pria paruh baya di balik kemudi, tapi Litha langsung membungkam mulutnya, karena perihal kontrak perjanjiannya dengan Rayyendra akan diketahui.
"Apa Pak Sas harus berbicara begitu resmi pada saya?"
__ADS_1
"Ini memang gaya bicara saya, Nyonya Muda."
"Iiiiiihhhh .... Terserah Pak Sas sajalah. Tapi kenapa cuma saya yang check-up? Kenapa Tuan Rayyendra tidak ikut?"
"Nyonya Besar tidak perlu khawatir, Tuan Muda dapat dipastikan dalam kondisi yang prima karena tiap bulan Tuan Muda melakukan check-up sehingga kesehatannya selalu dikontrol oleh dokter."
Litha sudah tidak tahu caranya ngeles dari Pak Sas. Ia selalu bisa mencari celah jika Litha ingin 'kabur'. Litha hanya pasrah mengikuti serangkaian pemeriksaan yang tidak pernah Litha lakukan sebelumnya. Beberapa dokter bergantian memeriksanya, ia diperlakukan bak Ratu, ekstra perhatian dan sangat hati-hati.
"Ternyata punya kekuasaan dan kekayaan sangatlah menyenangkan. Semua tunduk hormat, sangat berbeda sekali perlakuan antara Litha dan Nyonya Muda Litha. Hahahahaha..... bahaya ini! Jangan sampai aku terbuai kenikmatan semu seperti ini,"
Litha cekikikan sendiri di ruangan. Kemudian Pak Sas membuka pintu diikuti seorang dokter perempuan berambut ikal yang diikat satu.
"Ini dr. Lena, Nyonya Muda. Putri dari dr. Baskoro, dokter pribadi yang menangani mendiang Nyonya Besar. Sekarang dr. Lena yang akan menjadi dokter pribadi Nyonya Muda, simpanlah nomornya, Anda boleh bertanya atau berkeluh kesah mengenai kesehatan Anda dengan dr. Lena."
Pak Sas menerangkan dengan seksama sambil menyerahkan kartu nama dr. Lena. Dokter manis itupun memberi hormat dan salam, "Nyonya Muda jangan sungkan untuk menghubungi saya kapanpun, nomor saya tersedia 24 jam untuk Anda."
Litha hanya mengangguk dan tersenyum kaku. Nyonya Muda lagi, kayaknya memang mau tidak mau, suka tidak suka ia harus membiasakan telinganya mendengar sapaan Nyonya Muda.
"Hasil pemeriksaan akan keluar besok pagi. Nyonya Muda beristirahatlah di Amarga Hotel, ini kartunya. Kamar tersebut adalah kamar khusus yang biasa Nyonya Besar pakai. Besok saya akan menjemput Nyonya Muda untuk berangkat ke Kota A dengan pesawat pribadi Keluarga Pradipta."
Litha tercengang mendengarnya, ia serasa punya asisten yang mengatur semua jadwal dan kegiatan hariannya. Dan yang menjadi asistennya bukan kaleng-kaleng, Sasmita, mantan asisten Nyonya Besar Pradipta.
Tidak ada pilihan lain selain mengikuti arahan Pak Sas, dia sudah menyerahkan hidupnya selama masa kontrak pada Keluarga Pradipta. Semasa itu hidupnya akan diatur oleh mereka dan mengikuti kata mereka.
"Baik, Nyonya."
Litha ingin memberitahu dan meminta ijin untuk menikah pada Kak Tisha. Walaupun rasio pikirannya terhalang, namun Litha tidak ingin melupakan kakaknya sebagai bagian dari keluarganya.
"Kondisi Nona Tisha menunjukkan ke arah yang lebih baik. Sedikit demi sedikit dia sudah bisa menerima kenyataan kalau ayah kalian sudah meninggal. Tapi justru ini titik kritisnya, jika ia kembali stuck pada ingatannya yang lalu, akan semakin membahayakan kondisinya, dampaknya bisa jauh lebih buruk dari kemarin, dan terapi yang biasa kami terapkan harus dirubah ke tahap yang lebih tinggi."
Dokter Siska menjelaskan detail keadaan Tisha. Litha diharapkan untuk hati-hati memberi informasi atau berbicara dengannya. Hal ini membuat Litha mengurungkan niatnya untuk memberi kabar pernikahannya, takut berdampak pada kondisi kakak perempuannya karena pernikahan adalah moment penting yang melibatkan seluruh keluarga, terutama ayah.
Litha takut ingatan Tisha terdistorsi kembali, jadi ia hanya menyapa seperti biasa, menemani bicara sebentar tanpa menyinggung pernikahannya maupun ayahnya.
Litha sangat sedih dengan keadaan kakaknya hingga tak terasa ada airmata yang jatuh di pipinya. Dari kaca depan, Pak Sas melihatnya dengan iba. Pak Sas tahu betul sosok Litha dengan lika-liku kehidupannya karena tugas yang pernah diberikan Nyonya Besar adalah untuk mencari tahu semua hal tentang Litha ketika awal bekerja di rumah utama.
"Pak Sas, saya boleh mampir ke kost-an saya, mau membereskan barang-barang."
"Baik, Nyonya Muda. Apa saya perlu menurunkan Nyonya Muda di depan minimarket atau tepat di depan rumah kost?"
__ADS_1
"Di depan rumah kost saja, Pak."
Ini terakhir kali Litha menyambangi kostnya. Setelah menikah ia akan tinggal di rumah Keluarga Pradipta.
Sesampainya di dalam kamar, Ninda menyambutnya, "Tha, barang-barangmu sudah kubereskan."
"Makasih, Nin. Kamu sudah dapat ijin untuk ke Kota A gak?" Litha sangat berharap Ninda mendapat ijin dari orangtuanya untuk hadir di pernikahannya meski hanya nikah kontrak.
"Sebenarnya orangtuaku tidak masalah aku kesana tapi yang mereka khawatirkan bagaimana aku pergi kesana karena Evan tidak mau menemaniku. Sakit hati katanya ditinggal nikah sama kamu, tapi aku gak ngasih tahu kamu nikah sama siapa."
"Syukurlah kamu gak ngasih tahu, mati aku Nin, kalau sampai ada yang tahu. Pernikahan ini hanya kamu dan keluargaku saja yang tahu," kata Litha lega lalu ia menyuruh Ninda menunggu sebentar.
Gadis cantik itu meminta ijin membawa Ninda ikut menginap di hotel dan berangkat dengan pesawat pribadi. Sebenarnya Pak Sas ragu, namun melihat raut bahagia Litha ingin mengajak sahabatnya, akhirnya Pak Sas mengijinkannya.
"Selamat beristirahat, Nyonya Muda dan Nona Ninda. Untuk kebutuhan apapun, Nyonya Muda bisa menghubungi melalui pesawat telepon di dalam," ujar Pak Sas sebelum Litha dan Ninda masuk ke dalam kamar.
"Nyonya Muda?!?" pekik Ninda tertahan menutup mulutnya, sudah berkali-kali ia takjub dengan apa yang Litha peroleh karena menikah dengan seorang Pradipta.
Litha mencubit pinggang Ninda menyuruhnya diam, ia lalu menunduk mengucapkan terima kasih.
"Waaaahhhh .... sangat luar biasa Tha, eh, salah Nyonya Muda. Andai saja pernikahanmu sungguhan, aku sangat bahagia."
Decak kagum tak henti-hentinya Ninda ucapkan, terlebih melihat isi dalam kamar khusus di hotel bintang lima ini.
"Apaan sih, Nin. Awalnya aku berpikir sangat berlebihan dengan semua ini, tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku nikmati saja selagi masih bisa dinikmati hahahahaha....."
Ninda yang ingin membalas kalimat Litha terhenti karena mendengar suara dering ponselnya. Litha mengintip siapa yang menelepon karena Ninda tak kunjung mengangkatnya, tertulis 'Calon Suami Palsu'.
"Kenapa gak diangkat?"
"Waktu kesepakatan kami sudah berakhir dua hari lalu. Tapi ia masih memintaku untuk menemaninya ke rumah karena Ibu dan kedua adik kembarnya tidak menerima kami putus."
"Oh ya? Kau mendapat dukungan dari keluarganya ternyata."
"Hei! Kami hanya berpura-pura, sama sepertimu dengan Tuan Rayyendra."
"Ah ... ya, ternyata kita sama ya, sama-sama palsu. Hanya saja aku tetap unggul diatasmu, kau masih calon, aku sudah istri." Litha baru menyadarinya.
"Hahahahahahaha ..."
__ADS_1
Litha dan Ninda tergelak bersama.
- Bersambung -