
*** Litha ***
Mendengar surat wasiat yang dibacakan Pak Prasojo membuat tubuh Litha bergetar, air matanya mengalir tanpa henti. Lama ia menatap kedua tangannya yang ia tautkan menjadi satu di lututnya, sampai-sampai Rayyendra keluar ruangan Litha tidak menyadarinya hingga sentuhan lembut di bahunya membuat ia menoleh ke arah pemilik sentuhan itu.
"Kakak ...."
Firza hanya tersenyum pahit, diserahkannya surat dari Nenek untuk Litha, karena sewaktu Pak Prasojo memberikan ke Litha, gadis itu diam tidak bergeming, hanya air matanya yang terus menetes.
"Istirahatlah. Pulihkan dulu keterkejutanmu baru kau buka surat dari Nenek."
Litha mengangguk, kemudian ia keluar. Sewaktu di pintu, pandangannya menangkap dari belakang sosok tinggi jangkung melangkah yang pergi meninggalkan rumah utama. Tak sengaja juga ia memergoki tatapan iba dari dua orang pelayan setia mendiang Nyonya Besar. Apakah mereka sudah mengetahui isi wasiat Nyonya Besar sebelumnya?
Litha tidak langsung pulang, ia singgah di kompleks pemakaman elite dengan membawa beberapa potong bunga segar. Diletakkan perlahan bunga itu di samping nisan yang tertulis nama 'Dayyu Amarga Pradipta'.
Cukup lama ia hanya diam tertunduk pilu sebelum Litha mengingat surat yang diberikan untuknya.
Litha-ku tersayang ...
Maafkan Nenek harus membuatmu di persimpangan pilihan. Nenek melakukannya semata-mata hanya karena Nenek sangat menyayangimu. Nenek tidak ingin Keluarga Pradipta kehilanganmu saat Nenek sudah tiada.
Jangan membenci Nenek ya, Litha ....
Jangan pula membenci lelaki yang kupilihkan untukmu ....
Dia juga pasti merasakan hal yang sama denganmu karena ego Nenek.
Kau gadis yang tulus dan cerdas, tentu kau akan mempertimbangkan sebelum mengambil keputusan, kan? Tentu Nenek akan bahagia jika kau menyetujuinya. Namun apapun pilihanmu, Nenek disini akan menghormatinya.
Hiduplah dengan baik dan bahagia.
Nenek selalu menyayangimu, Navia Litha Sarasvati Pradipta.
Gadis itu mematung, tatapannya kosong. Tidak menyangka sesayang itu Nyonya Besar padanya. Sekalipun ia tidak bersedia mengenakan nama Pradipta di belakang namanya, Nyonya Besar tetap saja mencantumkannya, ia tidak mengenal kata penolakan.
Tapi, apa yang harus ia jawab nanti? Jika tidak, rasa bersalah akan terus menghantuinya, sedangkan jika ya, bagaimana ia akan menghadapi Rayyendra dan Firza sekaligus?
Mau menangis, air matanya kering sudah, menyisakan sembab yang dalam. Ah... Litha benar-benar memakan buah simalakama.
"Tha, baru pulang? Eh, kamu kenapa?" tanya Ninda begitu Litha duduk di dipan kamar kostnya.
Litha diam saja, matanya yang masih sembab jelas terlihat bahwa ia mengalami hari yg buruk.
"Mungkin ada masalah dengan skripsinya? Tapi ... sejak kapan? Bahkan jarang sekali dia revisi."
"Tha, ada apa?" Ninda mengulang pertanyaannya lagi, lebih pelan.
"Kan, sudah kubilang jangan menyimpan masalahmu sendiri. Kau selalu baru cerita jika masalahmu sudah lewat, sesekali berbagilah keruwetan hidupmu padaku biar kubikin tambah ruwet."
"Eh iya .... aku akan cerita sesuatu padamu, tapi setelahnya kau harus mengatakan apa yang membuatmu menangis, oke?"
__ADS_1
Ninda terus saja berbicara membujuk Litha, tidak mudah membuka mulut Litha sekalipun sahabat terdekatnya sendiri.
"Kau ingat Tha, malam ketika Evan mabuk dan namaku yang disebutnya sehingga aku harus pergi menyelesaikan masalahnya di klub?"
Litha mengangguk, sangat menghibur hatinya melihat Ninda bercerita yang selalu disertai mimik wajah dengan berbagai ekspresi.
"Tidak tahu bagaimana yang jelas Evan dan teman-temannya menghancurkan satu ruangan VIP di klub itu. Wajar saja pemiliknya minta ganti rugi, anehnya bukan Evan Cs yang harus bertanggungjawab membayar kerugiannya. Tapi aku, Tha!!! Tahu apa? Dia memintaku main sinetron di depan keluarganya kalau aku ini calon istrinya. Aneh gak, Tha?"
"Heh?!? Calon istri katamu?"
"Bukan, bukan beneran, bersandiwara dengan peran calon istri selama sebulan karena ia terus didesak orangtuanya untuk memperkenalkan calon istri pilihannya, kalau enggak dia akan dijodohkan hahahahahahaha..... "
"Hahhhh?!?" Litha lupa dengan wasiat Nenek, cerita Ninda mengalihkan perhatiannya.
"Nih udah jalan tiga minggu, seminggu lagi kita akan putus hahahahaha..... padahal orangtuanya apalagi maminya sangat menyukaiku, aku dibelikannya baju, tas, sepatu, jam tangan bahkan dikasih uang jajan, belum lagi adik kembarnya selalu mengajakku jalan ke mall dan mereka yang bayarin semuanya, hahahahahaha......... "
"Jadi, belanjaan barang branded kemaren dari hasil menipu! Astaga Ninda.... Bagaimana kalau mereka tahu kalau kau hanya berpura-pura!"
Litha memukul Ninda dengan bantal gemas.
"Ah.... sudahlah, itu urusan calon suamiku, hahahahahaha calon suami bohongan maksudnya hahahahaha...."
Buff... buf... buf...
Litha memukul Ninda lagi.
Litha menurunkan bantal di bahu Ninda. Nenek.... Ya, Litha kembali ingat padanya.
"Tadi aku dipanggil ke rumah Nenek, aku diminta menyaksikan pembacaan surat wasiat --"
"Surat wasiat? Kau disuruh kesana untuk mendengar kau mendapat warisan dari Nyonya Besar Pradipta. Ya Tuhan .... Kau sangat beruntung Litha. Terus berapa banyak yang kau dapat?"
Ninda memotong kalimat Litha begitu mendengar surat wasiat yang identik pembagian harta warisan. Rasanya Litha ingin menarik bibir Ninda yang sedari tadi bergerak terus.
"Kalau itu harta milik Nenek walaupun seujung kuku saja, aku akan senang sekali, Nin. Tapi --"
"Ha?!? Tapi apa?'
"Nenek meminta cucunya menikahiku," kata Litha pahit.
Mata Ninda terbuka lebar maksimal, ditarik-tarik kedua kupingnya agar yang Litha katakan barusan dia tidak salah mendengarnya.
"Menikah? Cucu yang mana?" tanya Ninda menggebu.
"Tuan Rayyendra."
Kali ini Ninda membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Matanya masih membulat.
"Ba-- bagaimana bisa? Ku-- ku sangka dengan Tuan Firza."
__ADS_1
Litha mengangkat bahunya.
"Apa Tuan Rayyendra mau menikahimu?"
"Heh. Kurasa tidak, dia kan sudah punya Ramona, tadi saja dia ada di rumah Nenek, tapi disuruh keluar ketika surat wasiat Nenek akan dibacakan."
"Ya Tuhan .... Terus bagaimana ini?"
🙋 kok Ninda yang panik 🙋
"Aku yang harus menjawabnya, bersedia atau tidak, karena kalau Tuan Rayyendra sendiri yang menolaknya, semua harta kekayaan keluarga Pradipta akan dialihkan ke Kak Firza."
Lagi-lagi Ninda ikutan shock, tidak bisa membayangkan kalau ia berada di posisi Litha.
"Kau mau menikahinya, Tha?" tanya Ninda pelan, jantungnya berdebar dengan cepat menanti jawaban Litha, sayangnya Litha hanya menatap Ninda bingung.
Litha tersenyum getir, ia pamit ke Ninda mencari udara segar sendiri dengan meminjam motor.
"Tha, kuharap kau jangan bertidak bodoh!"
"Maksudmu?"
"Setiap masalah punya jalan keluar, jangan coba-coba bunuh diri."
"Hah! Apa?" Litha tergelak, sambil menyambar kunci motor dari tangan Ninda, berbisik,
"Aku sudah tahu rasanya, dan aku tidak akan mencobanya lagi, rasanya tidak enak."
"A-- Apa?!?"
Litha makin tergelak, di lambaikan tangan kanannya yang memegang kunci melangkah keluar dari kamar meninggalkan Ninda takjub karena dipenuhi banyak kejutan sore ini dari sahabatnya.
Litha mengendarai sepeda motornya, sengaja mencari daerah dataran tinggi di ibukota. Ia ingin melihat hidupnya dari perspektif yang berbeda, dari ketinggian misalnya.
Disinilah Litha berada, lereng perbukitan tempat wisata alam ibukota. Sebuah bangku di kedai makan menghadap langit senja yang tak terbatas.
Ditemani dengan secangkir dark chocolate menghirup udara dingin menjelang malam. Dirapatkannya jaket, lalu mengetik pesan teks disertai sharelock.
'Kak, apa aku bisa bertemu dengan Kakak sekarang?'
Tidak menunggu lama, balasan dari seseorang yang disapanya Kakak membalas,
'Aku akan kesana. Tunggulah.'
Litha menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali kuat-kuat. Bathinnya tengah bergejolak.
Inikah akhir atau permulaan dari takdir yang ia tentukan sendiri? Akankah ada kebahagiaan yang direngkuhnya kemudian atau sebaliknya?
- Bersambung -
__ADS_1