Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Mengendalikan Ego


__ADS_3

Litha hari ini malas kemana-mana, ia hanya ingin menghabiskan harinya di apartemen, menonton drama, beberes, makan dan berguling kesana kemari. Ia tidak memasak untuk suaminya karena hari ini agenda Ray sangat padat di kantor sehingga tidak menyempatkan pulang.


Sore hari Litha membuat mi instant pedas yang diambilnya dari lemari penyimpanan di dapur belakang dan membawanya diam-diam ke apartemennya. Sudah lama sekali ia ingin makan mi instant ini sejak dari kota A, tapi Ray sama sekali tidak mengizinkan karena level pedasnya tinggi. Bayi dalam kandungannya bergerak saat aroma mi itu menguar di hidungnya.


"Hhhhmmmm ... Sayang, akhirnya Ibu bisa makan mi ini mumpung Ayahmu tidak ada. Hihihihihi ... "


Saat ingin menyuapkan mi ke mulutnya, matanya menangkap kotak perhiasan beludru merah dari Firza tergeletak begitu saja di dekat meja TV. Untuk menghargai pemberian orang, meski ia tidak akan pernah memakainya, ia akan menyimpannya dengan baik.


Litha membuka sebuah laci di meja nakas bagian paling bawah. Dilihatnya sebuah amplop coklat seukuran kertas A4. Amplop itu diambilnya kemudian diganti dengan menaruh kotak perhiasan.


"Apa ini?" tanyanya sendiri, tidak ada orang lain disitu.


Jiwa keponya meronta-ronta, ia sempat bimbang, takut melanggar privasi suaminya tanpa izin.


"Aih, aku hanya melihatnya sebentar, habis itu akan kukembalikan. Tunggu ya Sayang ... " Litha berkata sambil mengusap perutnya.


Ia duduk di tepi ranjang dan membuka amplop coklat itu. Matanya membaca tulisan yang ada di kertas itu. Tulisan dengan susunan kalimat yang ia hafal dan ditandatanganinya berdua dengan suaminya, Surat Perjanjian Kontrak Menikah.


Entah mengapa hatinya teriris mengetahui kenyataan Ray masih menyimpannya. Mungkin saja ia lupa atau bagaimana yang jelas hatinya sakit, moodnya yang tadi sangat bagus jadi buruk. Ia sudah tidak berselera dengan mi instantnya. Litha bahkan tidak mau makan apapun kecuali minum air putih sampai ia mendapat jawaban kenapa Ray masih menyimpannya. Itu seperti menyimpan luka untuknya.


...-----------...


Ponsel Litha berbunyi, Ray meneleponnya dengan loudspeaker, sengaja ingin pamer kemesraan ke Abyan.


Sayang, aku sudah mau pulang. Ada yang ingin kau beli? Aku akan membelikannya.


Tidak ada.


Kenapa suaramu? Kau sakit? Ada apa?


Tidak apa-apa.


Lith, ada apa?


Pulang saja.


Tiiiiiitttt....


Sambungan telepon ditutup sepihak tanpa pamit oleh Litha. Bisa dibayangkan betapa paniknya Ray mendapati Litha seperti itu.


"Cepat, Yan. Tidak biasanya Litha menjawab telepon seperti barusan."


Ray menepuk pundak Abyan agar lebih mempercepat laju mobilnya. Abyan juga ikut panik tapi tidak ia tampakkan, karena tidak biasanya Litha bersikap acuh tak acuh dengan suaminya.


Ray tidak sabaran, mobil belum berhenti sempurna, ia sudah turun dan langsung berlari menuju lift, memukul-mukul tembok di samping lift menunggu pintunya terbuka. Abyan ikut berlari mengejar Ray yang sudah berada di dalam lift.


"Ada apa?" tanya Abyan terengah-engah.


"Tidak tahu. Sepertinya dia habis menangis, kau dengar sendiri kan suaranya agak bergetar tadi menjawab teleponku."


Abyan diam saja, tidak berani memprediksi yang tidak-tidak.


"Ray, kau menyimpan surat perjanjian kontrakmu dimana?"


Seketika mata Ray terbuka lebar, dan Abyan bisa langsung menebak jawabannya.


"Ahhh ... Shitt !!! Litha menemukannya. Shitt !!!"


Ray mengusap kasar kepalanya sendiri dengan kedua tangan, menendang-nendang dinding lift yang sedang naik ke lantai apartemennya.


Tingggg ...


Pintu lift terbuka. Ray disusul Abyan segera menuju ke pintu apartemennya. Litha membukanya, Ray mendapati wajah Litha yang muram dengan mata memerah.


"Lith-- "


Belum sempat ia menanyakan apa yang terjadi, Litha sudah menunjuk sebuah amplop di meja tamu. Benar dugaan mereka bahwa Litha menemukan surat perjanjian kontrak mereka. Ray bingung, mau berkata apa, yang jelas apa yang dipikirkan Litha itu salah. Abyan hanya menghela nafasnya, ia bersandar pada pintu yang tertutup, ia ingin melihat bagaimana Ray menyelesaikan salah paham yang terjadi dalam rumah tangganya sendiri.


"Yan ... " ujarnya memanggil Abyan dengan menoleh ke arah sahabatnya meminta bantuan, tapi Abyan hanya mengedikkan bahu dan mengangkat kedua telapak tangannya sejajar pundak.


"Sayang-- " Ray mencoba menjelaskan pada Litha.


"Kenapa masih disimpan? Apa perlu kau menyimpannya? Untuk apa?"

__ADS_1


Litha adalah seseorang yang tidak suka basa basi, ia akan langsung to the point ke akar masalah dan Ray sudah memahami karakter istrinya. Hal ini yang memberi kesan Litha cerewet dan berisik seperti julukan yang Vania berikan, Ratu Tawon.


Sebagai perempuan, Litha termasuk sosok langka yang bisa menyeimbangkan perasaan dan logikanya. Ia akan menahan emosi yang biasanya akan menguasai hati seorang perempuan pada umumnya. Ia bisa menekan itu dan memberi jalan pada logikanya. Itulah sifat yang sangat disukai suaminya, Litha bisa mengendalikan emosinya, tidak kehilangan akal sehatnya dan mampu menguasai sebuah keadaan dengan tidak terburu-buru.


Buktinya Litha masih mampu menanyakan inti masalah pada suaminya tanpa nada tinggi ataupun menangis. Litha sangat tenang menghadapi badai yang berkecamuk dalam hatinya hingga membuat suaminya mati kutu, bingung mau menjawab apa. Abyan yang memperhatikannya hanya memijat dahinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau memang sudah takluk, Ray. Tandukmu sama sekali sudah hilang di depan Litha, ck,ck,ck," bathin Abyan.


"Kenapa lama menjawabnya? Apa Mas sedang memilih kata yang tepat untuk diucapkan?"


Glek ...


Ray tercekat, darimana ia tahu pikirannya, apa kemampuan alien Ray sudah menularinya.


"Lith-- "


"Cukup jawab saja, apa memang sengaja disimpan atau lupa untuk menyingkirkannya."


"Mati kau, Ray! Istrimu ini to the point sekali, hahahahaha ... Aku tidak membayangkan bagaimana anak kalian nanti, ayahnya arogan, ibunya tegas dan to the point." Abyan masih saja berkata-kata dalam hatinya.


"Lupa," jawab Ray singkat.


Ppppffftttt ...


Abyan menahan tawanya dengan menutup mulut, Sontak Ray dan Litha menatap tajam ke arahnya, ia langsung menghentikan tawanya yang tertahan.


"Benar lupa?" tanya Litha lagi yang dijawab dengan anggukan Ray.


"Hatiku sakit melihatnya, surat itu seperti pisau tajam membuka luka yang sudah kubalut dengan baik sekali. Mengapa Mas bisa lupa?"


Hahhhh ...


Ray terpana tidak percaya, Litha, istrinya tidak memarahinya, mengumpatnya bahkan tidak menghakiminya. Litha hanya bertanya, ia hanya butuh jawaban, dan ia langsung percaya begitu saja dengan jawaban yang diberikan suaminya. Abyan pun tidak kalah takjubnya, Litha benar-benar bisa mengerem amarahnya.


Litha menghela nafas dalam-dalam, ia mengusap perutnya beberapa kali, lalu ia hanya berkata,


"Aku minta Mas singkirkan surat itu. Aku tidak mau melihatnya. Sekali lagi aku melihatnya maka jawaban 'lupa' tadi tidak akan aku percayai selamanya."


Glek ....


Ray segera ke dapur mencari korek gas, ia akan segera membakarnya di depan istrinya agar Litha melihat dengan kepalanya sendiri kalau ia menyingkirkan surat itu.


Setelah mendapatkan korek, ia melihat sepiring mi instant pedas di dekat wastafel pencucian piring, diliriknya tempat sampah, terlihat jelas bungkus kemasan mi instant dengan level pedas yang tinggi, level 10.


Ray menahan kesal di dadanya. Ia segera kembali ke ruang tamu.


"Litha! Kamu makan mi instant pedas?" Ray menahan suaranya yang meninggi.


"Duhhh, mati aku! Aku lupa menyingkirkannya dari dapur. Aku terlalu memikirkan surat ini tadi."


"Jawab!"


"Aduh .... gak selesai-selesai ini namanya. Aku pulang sajalah," bathin Abyan, tangannya hendak membuka handle pintu, keluar dan pergi diam-diam tanpa mereka sadari.


"Jangan pergi!" lengking Ray dan Litha bersamaan menatap ke arah Abyan.


"Shitt !!!" desis Abyan jengkel.


"Jangan pergi! Kau harus melihatku menaklukan istriku yang tadi mengulitiku tanpa ampun." (Ray)


"Jangan pergi! Kau harus menolongku, Asisten Yan. Aku tahu, aku melanggar keputusan finalnya, pasti ia akan mengomeliku, huhuhuhu ... " (Litha)


"I-- iya." jawab Litha terbata, ia tahu kesalahannya. Ia menunggu Ray meluapkan emosinya.


"Kau tahu kan, aku melarangmu makan makanan pedas karena apa?"


"I-- Iya, aku tahu, Mas, kau khawatir dengan kesehatan perutku karena ada anak kita disitu."


"Tepat. Kenapa kau masih melanggarnya? Aku tidak menoleransi segala apapun yang membuat perutmu sakit atau terluka," tukas Ray tajam, Litha beberapa kali mengelus perutnya.


Tiba-tiba Ray berjongkok, menangkupkan kedua tangannya di perut istrinya, diciumnya lalu berkata,


"Sayang, kau boleh meminta Ibumu untuk memakan apapun tapi Ayah mohon jangan yang pedas, asam dan kotor. Ayah tidak mau melihat wajah cantik Ibumu meringis kesakitan karena perutnya sakit, perut Ibu adalah rumah bagimu."

__ADS_1


Mata Litha membulat, ia tidak menyangka suaminya malah bersikap lembut padanya padahal ia sudah siap diomeli. Begitupun dengan Abyan, ia kembali terperangah, Ray berhasil menekan amarahnya.


Keduanya berhasil mengendalikan ego yang muncul. Keduanya berupaya untuk belajar lebih dewasa, belajar meredam emosi karena mereka akan memiliki anak.


"Ray, sorry, aku permisi dulu." Abyan keluar dari apartemen tuannya untuk mengangkat telepon dari seseorang.


Ray dan Litha sudah tidak peduli kehadiran Abyan ada atau tidak, di mata mereka hanya ada bayangan masing-masing Litha mengulas senyum hangatnya dan membelai rambut hitam lebat suaminya yang masih berjongkok.


"Aku akan membakar surat perjanjian itu, Setelahnya tidak boleh ada terucap kata kontrak lagi dalam pernikahan kita, oke?" sahut Ray bangkit dan membelai pipi mulus Litha, pipi yang pernah ditampar Ramona dan ia berjanji tidak akan pernah ada yang bisa menyentuh pipi istrinya selain tangannya. Litha mengangguk, sepenuhnya ia percaya pada suaminya.


"Aku belum sempat memakan mi itu. Pikiranku hanya tertuju pada surat itu dari tadi. Aku akan membuangnya. Dan aku tidak akan pernah mengkonsumsi makanan atau minuman yang akan menyakitiku dan anak kita. Aku janji."


Ray mengajak Litha ke balkon untuk menyaksikannya membakar surat perjanjian itu. Masih jelas dalam ingatan Litha, di balkon ini, di malam seperti ini ia pernah menatap langit malam penuh kegamangan hingga membuat sebuah keputusan yang membawanya pada garis takdirnya sekarang.


Rayyendra menyalakan korek gas dan membakarnya tanpa sisa, abunya pun berterbangan entah kemana, asapnya pun juga entah menguap kemana, yang tertinggal hanyalah tokoh pemeran di dalam surat itu yang terjebak dalam ikatan cinta selamanya.


"Ray ... " panggil Abyan membuka pintu.


"Oh shitt! .... Apa kalian tidak bisa sehari saja tidak berciuman di depan mataku, hah!"


Ray dan Litha tergelak.


"Mas, aku lapar."


"Kau mau makan diluar?" tanya Ray tidak mempedulikan Abyan yang tadi memanggilnya, dimatanya hanya ada Litha, Litha dan Litha begitu juga sebaliknya.


"Tidak, makan dirumah saja. Aku pesan lewat ojek online saja ya? Mas mau makan apa?"


"Makan kamu."


Pipi Litha merona mendengarnya.


"Ray!!!" Abyan meninggikan suaranya agar bisa masuk ke telinga si pemilik nama yang dipanggil.


Tidak jua bereaksi, dengan kesal Abyan berjalan menuju balkon, dia sudah gemas sekali sama pasangan bucin ini.


"Novum!" Abyan menyentuh bahu Rayyendra dengan menyebutkan satu kata yang kira-kira bisa langsung dimengerti Ray tanpa Litha tahu maksudnya.


Seketika ia langsung sadar dan menoleh ke Abyan, begitu juga Litha, tapi pandangan Litha penuh tanda tanya.


"Novum? Novum apa?" tanya Litha.


"Ah, tidak, novum masalah di kantor. Kau pesanlah dulu apa yang mau dimakan, kalau aku terserah padamu saja memilihkan makan untukku. Aku dan Abyan akan menunggu makanan itu datang di lobby, Tapi ingat pastikan pesan dari tempat makan yang baik. Jangan sembarangan," kata Ray sebelum ia turun ke lobby apartemen yang letaknya di lantai dasar gedung.


Litha terkekeh dan menuju ke dapur, membereskan mi instant pedas yang tadi sore dibuat lalu ia mengambil ponsel dan membuka aplikasi ojek online untuk memesan makanan.


...-------------...


"Ada rokok, Yan?"


Sesuai kebiasaan Ray, jika ia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya gundah, ia akan menghi*sap beberapa batang rokok. Abyan hafal kebiasaan itu, makanya di dalam laci mobil selalu tersedia rokok untuk tuan mudanya, ia sendiri tidak merokok.


Mereka berbincang di taman gedung yang terletak di sisi kanan lobby, jadi sebelum ojek online menuju lobby pasti melewati tempat mereka berdiri.


Ray bersandar di sebuah batang pohon dengan menyesap dalam rokoknya, siap mendengarkan apa yang Abyan akan katakan.


"Detektif yang kusewa menemukan saksi kunci pemerkosaan Tisha. Dia adalah teman Tisha yang saat itu sama-sama praktikum sampai malam, hanya saja ia pulang belakangan."


Ray menghembuskan asap rokok ke udara malam. dia melonggarkan dasinya yang belum sempat ia lepas tadi.


"Almarhum ayah mertuamu sempat memohon padanya agar dia menjadi saksi via telepon dan teman Tisha itu bersedia. Namun ketika ayah mertuamu akan bertemu dengannya di sebuah kafe, dia ditabrak dengan keras saat menyebrang menuju kafe itu. Ayah mertuamu ditabrak di depan mata teman Tisha hingga meregang nyawa di tempat kejadian. Teman Tisha shock bahkan pingsan menyaksikannya. Dari situ ia menyadari bahwa pelaku pemerkosaan Tisha bukanlah orang sembarangan, minimal berduit untuk membayar orang suruhan sehingga ia ketakutan dan menutup diri, tidak ingin terlibat di kasus itu."


Ray sudah menghabiskan sebatang rokok, diambilnya lagi sebatang, menyesap dalam lalu menghembuskan di udara malam.


"Teman Tisha itu adalah dr. Vivian, salah satu dokter umum di Pradipta Hospital."


Seketika Ray tertawa membelah kesunyian malam, "Apa dunia ini kecil? Atau ini jalan yang dimudahkan Tuhan?"


Abyan diam, matanya hanya sesekali memperhatikan ojek online yang lewat membawa tentengan yang dititipkan pada satpam. Pasti pesanan Nyonya Mudanya.


Balkon apartemen Ray menghadap sisi taman gedung apartemen. Dari lantai 52, lantai tertinggi gedung itu, Litha melihat dua manusia seperti titik di sana. Ia yakin sekali itu suaminya dan asistennya. Ternyata mereka tidak hanya sekedar menunggu pesanannya, tapi mereka mencari tempat untuk membicarakan sesuatu yang tidak ingin ia tahu.


Apa yang mereka bicarakan?

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2