Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
The Big Day : Tujuan dan Rumahmu adalah Aku


__ADS_3

Litha keluar dari ruangan rektor setelah berganti baju dan membuka sanggulan rambutnya. Ia terlihat manis dengan dress hijau muda dan rambut yang sedikit bergelombang.


"Kenapa istriku nampak seperti dessert ya, rasanya ingin kumakan saja dia."


"Kenapa Mas? Ada yang salah?"


Ana gugup, takut kalau dia berbuat kesalahan.


Ray tersenyum, "Tidak hanya saja kau seperti--"


"Kue Putu Ayu kan? Kenapa juga Mas memilih warna ini." Lita terkekeh, ia tadi juga merasa dirinya seperti makanan melihat dirinya di depan cermin di dalam ruangan Rektor.


"Bukan aku yang pilih, tapi Pak Is."


Litha tergelak mendengarnya, ada tiga orang yang membuat hidup Ray bergantung padanya adalah Abyan, Pak Sas dan Pak Is. Ana lega, ia tidak berbuat salah.


"An, kamu dan Kak Oskarita harus makan dulu di Aula sebelum pulang ya."


"Baik Nyonya."


"Hari senin besok kau dan kakakmu datanglah ke kantor pusat, katakan pada resepsionis kau sudah membuat janji denganku. Nanti kita akan membahas masalah teknis selama kalian menjadi MUA model iklan produk Pradipta."


Ana menutup mulutnya tidak percaya, merias Nyonya Muda saja membuatnya tersanjung apalagi diberikan tawaran kerja. Ingin rasanya ia bersorak dan memeluk Nyonya Muda tapi ia harus menahan dirinya. Litha juga senang mendengarnya.


"Kami permisi ya, An. Sampaikan salamku buat Kak Oskarita."


"Pasti Nyonya, pasti. Terimakasih Tuan, terimakasih Nyonya." Ana menundukkan kepala berkali-kali pada mereka.


"Bekerja keraslah dengan baik. Aku menyukai riasanmu di wajah istriku. Dia tetap terlihat cantik meski airmatanya tumpah tadi."


Litha mencubit pinggang suaminya, malu disindir di depan Ana. Ray tergelak melihat pipi istrinya merona kemerahan, dirangkulnya menuju jamuan makan siang.


Litha sekarang berada di tengah-tengah salah satu lingkup pergaulan suaminya. Rombongan tamu VIP yang dijamu bukanlah orang-orang sembarangan. Namun Litha dengan cepat menyesuaikan diri, ia memang tidak banyak bicara, ia hanya tersenyum sesekali dan menanggapi ringan obrolan yang ditujukan padanya. Baru kali ini ia mendampingi suaminya sebagai istri, ia melihat jelas bagaimana suaminya berinteraksi dengan yang lainnya.


"Caramu berbicara, bernegoisasi dan berpendapat membuatku semakin jatuh cinta padamu, Suamiku. Dalam pembicaraanmu memang ada kesombongan, ah ya, aku lupa kau kan Tuan Muda Congkak-ku hahahaha ... dan juga ada sedikit memaksakan kehendak pada pendapatmu, kau tidak bisa dibantah dan menerima penolakan karena kau Tuan Pemaksa. Aihhh, kenapa aku begini ..."


Mata Litha yang berbinar terang menatap suaminya yang tengah berbicara terlihat oleh Abyan. "Hahahahaha ... kena kau! Kau sudah terperangkap dalam pesonanya Ray. Pesona itu yang susah dilepas, sama seperti Mona, yang sampai saat ini masih menyimpan cintanya buat suamimu."


.


.


.


"Kita mau kemana?" tanya Litha heran ketika Ray membukakan pintu penumpang di depan untuknya.


"Aku yang menyetir, kau pernah bilang kan, kalau suka melihatku menyetir. Abyan akan ikut di mobil Pak Sas."


Litha menurut saja masuk, setelahnya Ray memutari bagian depan mobil sambil melepas jasnya.


"Ck. Sial, kenapa dia keren sekali padahal hanya melepas jasnya. Aihhh ... kenapa aku ini!" Litha mengetuk-ngetuk pelan dahi dengan buku-buku tangannya.


"Kenapa? Kau pusing?" tanya Ray sudah duduk di depan kemudi. Litha hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Ray tidak langsung menyalakan mesin mobil, ia melepas dasinya dan membuka kancing kerah kemejanya lalu ia menggulung lengan kemeja sampai siku.


Glek.


Litha menelan salivanya, ia sudah terhipnotis pemandangan di sampingnya. Ia mengalihkan kegugupannya dengan mengelus perutnya.


"Kau terpesona denganku kan? Makanya kau cemburu tiap melihat ada yang berusaha menarik perhatianku." kata Ray narsis menahan senyumnya.


"Ishh ... tidak. Aku tidak bisa menutup mata mereka, terserah mereka saja." Mulut dan hati Litha tidak sinkron, Ray tertawa geli.


"Kau tidak perlu khawatir, Istriku. Aku sudah terjerat talimu dan aku tidak bisa terlepas sampai aku mati. Itu kutukan buatku, tapi aku menikmatinya kok."


"Ngomong apaan sih. Cepat jalan, bawa aku ke tujuanmu."


"Siap Nyonya Pradipta!"


Mobil pun melaju meninggalkan area parkir gedung Universitas ABCDE yang memiliki banyak kenangan buat Litha.


Sementara itu di mobil satunya, Si Tawon sangat berisik, "Pak Sas, ayo kita ikuti kemana Kak Litha dan Kakak Ipar pergi," katanya menunjuk mobil Ray.


"Hei! Kau ini mau tahu saja urusan orang dewasa." Bibi Rima lagi-lagi menjitak kepala keponakan bawelnya itu.


Vania duduk di tengah, tapi ia memajukan dirinya hingga hampir sejajar dengan Pak Sas dan Abyan.


"Aku mau melihat hal keren apalagi yang akan Kakak Ipar lakukan, biar aku catat dalam kepalaku dan nanti kalau aku punya suami, aku akan bilang aku mau seperti yang Kakak Ipar lakukan pada istrinya."


"Dasar halu! Sekarang duduk dengan benar! Wajahmu sudah menempel di bahu Asisten Yan." Bibinya memukul paha Vania.


"Eh, iya, maaf Asisten Yan, tidak sengaja, tadi terlalu fokus melihat mobil Kakak Ipar soalnya, hehehehe ... " ujar Vania malu, ada semburat kemerahan di pipinya. Gadis remaja itu langsung duduk kembali dengan menyadarkan punggungnya di sandaran kursi, sejajar dengan Paman dan Bibinya.


.


.


.


Ray membawa mobilnya menanjaki jalan yang berkelok-kelok, pemandangan asri nan teduh kini mendominasi pandangan mereka berdua setelah 45 menit berkendara.


"Kau haus atau ingin makan sesuatu? Kita bisa mampir kalau ada warung."

__ADS_1


"Warung? Mas bisa belanja di warung?" tanya Litha kaget, tidak percaya suaminya bisa membumi juga.


"Ya bisa lah. Apalagi ini daerah pegunungan yang jarang ada toko, hanya warung-warung kecil di depan rumah mereka"


"Mas sering kesini?"


"Jarang. Abyan yang suka kesini kalau senggang, ia suka dengan area pegunungan. Aku hanya beberapa kali mengikutinya, ya cukup menenangkan sih karena jauh dari kebisingan kota."


"Mas, ada warung di depan." Litha menunjuk warung kecil yang di jaga seorang ibu dan seorang anak balita berumur sekitar 4 tahun.


Ray menghentikan mobilnya di depan warung, "Mau beli apa?"


"Aku ikut turun, mau lihat apa yang bisa dibeli."


Litha terpana melihat anak perempuan di samping ibunya yang ketakutan melihat mereka berdua, karena tidak pernah sebelumnya ada mobil mewah berhenti di depan warung seadanya milik mereka.


Litha tersenyum dan mengatakan jangan takut pada anak itu, lalu ia memilih camilan anak sekolah, camilan yang biasa ia makan dulu SD dan beberapa botol air mineral.


"Semuanya 28.500 Bu."


"Wah Lith, aku lupa! Aku tidak pernah membawa uang tunai." Ray menyadari saat membuka dompetnya yang hanya berisi segala macam kartu


"Aku ada. Uang tunaimu kan sudah kau berikan semuanya padaku, hehehe ..."


Litha menyerahkan selembar uang pecahan terbesar, Si Ibu pemilik warung bingung karena tidak ada uang kembali.


"Biasanya Si Adek suka makan apa di warungnya Ibu?" tanya Litha.


"Ngg ... "


Litha melihat anak itu berlepotan coklat dimulutnya dan memegang sebuah bola coklat yang sisa setengah. Litha lalu mengambil bola coklat yang baru dari dalam toples dan diberikannnya pada anak itu, "Namanya siapa?"


"Mi-- Mira, Bu," jawab Si Ibu.


"Mira, karena kau anak baik, sudah menemani Ibumu berjualan dan juga kuat karena tidak menangis melihat kami. Jadi ini hadiahmu, kau bisa memintanya lagi pada Ibumu kalau kurang, karena kami sudah membelinya semua untukmu." Litha mengulurkan tangannya yang berisi sebuah bola coklat.


Anak itu takut- takut menerimanya tapi Si Ibu membantu meyakinkannya untuk mengambil bola coklat itu, "Maacih, Ante," kata Mira malu-malu, ia menunduk tapi matanya mendelik ke Litha.


"Uuhhh lucunya, Mas, nanti anak kita kayak gini gak ya?"


Ray terharu mendengarnya, menyadari sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


"Bu, kalau tidak ada kembalian, sisanya ambil saja. Dan ini untuk setoples bola coklat buat Mira." Litha memberikan lima lembar uang pecahan yang sama seperti yang tadi ia pakai untuk membeli air mineral pada Si Ibu.


"Ba-- banyak sekali ini, Bu."


"Saya membelinya bukan dengan harga coklat itu, tapi saya membelinya dengan harga senyuman Mira untukku."


"Amin. Terimakasih Bu atas doanya," jawab Ray.


Di dalam mobil, Litha langsung membuka botol air mineral dan meminumnya, "Mas, kalau periksa ke dr. Lena, kita lihat jenis kelaminnya ya? Cewek atau cowok."


Ray tidak menjawab, ia diam saja. Ia memikirkan bagaimana seandainya kalau ia memiliki anak perempuan, pasalnya Litha adalah keturunan suku Ragnaya dari Kerajaan Sungai Bulan dan ia mengalami sendiri bagaimana kuatnya jeratan tali wanita Ragnaya. Bahkan ia sempat berasumsi bahwa Lucas sebenarnya juga terikat kuat pada Tisha karena setahunya dari cerita Ramona yang lalu-lalu, adiknya itu tidak pernah memiliki kekasih lagi setelah putus dengan pacarnya yang mahasiswi kedokteran.


"Mas?!?"


"Ya."


"Ih, aku ngomong kok gak di dengar sih! Aku bilang nanti kalau periksa ke dr. Lena, kita minta agar diberitahu jenis kelamin anak kita, biar aku juga bisa belanja keperluannya."


"Hmm ... Lith, kalau kau boleh memilih, kamu mau cewek atau cowok?"


"Sama saja. Yang penting sehat, lengkap, tidak kekurangan suatu apapun. Kalau Mas?" Mulut Litha sibuk mengemil mie kering jajanan anak SD.


"Makanan apa itu? Sehat tidak?"


"Ini mie kering yang dimakan langsung, camilan waktu aku SD. Kalau dibilang sehat ya enggak, tapi sesekali kan tidak apa-apa, coba deh." Litha menyodorkan mie keringnya.


"Tidak. Aku tidak berselera."


"Ih, Tuan Bangsawan sepertimu memang tidak pernah bisa makan makanan rakyat seperti ini, padahal enak loh. Oh iya, Mas belum jawab, maunya cewek atau cowok?"


"Sama sepertimu yang mana saja, yang penting sehat, ibunya juga sehat."


"Yang bangsawan itu kamu, Lith. Kamu bahkan seorang putri mahkota. Keluargaku hanya rakyat biasa yang beruntung mendapatkan kejayaan. Aku ingin punya anak perempuan, yang manis dan memiliki mata sepertimu, tapi ... aku tidak yakin bisa menjaganya seperti ayahmu yang sungguh-sungguh menjaga ketiga putri Ragnaya. Ah, kau benar-benar kutukan buatku Lith."


Diliriknya Litha sekilas, "Astagaaa ... Putri Mahkota apa yang modelan begini. Ckckckck ... "


Litha sudah tertidur, mulutnya sedikit terbuka, kepala ia sandarkan di kaca mobil tapi tangannya masih memegang camilan mie kering di atas perutnya yang buncit.


.


.


.


"Lith, bangun. Kita sudah sampai." Ray menepuk pelan bahu Litha.


"Mmmm ... Engghhh ... sudah sampai ya, Mas."


"Iyuuuhhh ... Nih, lap dulu ilermu itu. Baru saja tertidur sebentar sudah ileran," ujar Ray memberi selembar tisu dengan wajah geli.


"Hehehe ... Untung Mas gak illfeel ya melihatnya." Litha mengelap sisa ilernya dengan tisue yang diberikan suaminya.

__ADS_1


"Kutukanmu terlalu kuat, Lith. Kalau cuman iler gak bakalan buat aku illfeel."


"Dari pagi Mas menyebut-nyebut kutukan. Apa aku sebuah kutukan yang mengerikan buatmu? Kalau memang benar, aku lepas saja semua kutukan-kutukan yang aku tidak mengerti."


"Jangan! Jangan lepas tali kutukanmu, Lith. Aku tidak bisa hidup tanpa kutukanmu."


"Aihhh ... kukira Presdir Pradipta Corp. sangat rasional dalam berpikir, kenapa jadi percaya hal-hal begini sih."


"Untuk yang satu ini nyata, Lith. Aku merasakannya sendiri."


"Ah, sudahlah. Aku yang tertidur, kok Mas yang ngelantur. Sekarang kita dimana?"


Litha malas membahas hal-hal yang tidak jelas seperti kutukan, mana ada kutukan di jaman sekarang.


.


.


.


Litha menghirup udara pegunungan yang sejuk, Ia digandeng suaminya ke suatu spot yang bisa melihat kota dibawahnya dengan jelas sekali.


"Ini-- Ini indah sekali, Mas. Pantas saja Asisten Yan suka ke tempat ini."


"Kau suka tempat ini kenapa yang diingat dia padahal aku yang membawamu kesini," rajuk Ray dengan wajah merengut.


"Tentu saja aku akan selalu mengingat Suamiku, karena dia ada di setiap bagian otakku dan tubuhku."


Ray senang mendengarnya, "Sebentar." Ray menelepon seseorang dan Litha mendengar suaminya itu mengucapkan kata 'sekarang'.


"Duduklah." Ray mengajak istrinya duduk di bangku kayu yang ada disitu.


"Sebenarnya, di akhir pekan begini, sangat ramai pengunjung karena ini tempat wisata yang sangat digemari. Tapi aku menyewanya satu hari ini untuk membawamu kesini."


"Kenapa? Kalau mau bawa aku kesini ya bawa saja, tidak perlu menyewanya seharian."


"Karena kau spesial."


Pipi Litha memerah mendengarnya, ia tersenyum malu-malu.


"Aku ingin menikmati keindahan ini bersamamu tanpa kebisingan apapun."


"Kalau boleh aku tahu kenapa kau menyukai ketinggian?" tanya Ray serius.


Saat mengatur rencana, Abyan mengatakan bahwa tempat favorit istrinya adalah berada di ketinggian. Saat ia bertanya alasannya, Abyan hanya mengangkat bahunya karena Ninda pun juga tidak tahu alasannya.


Litha melingkarkan tangannya di pinggang lelaki yang ia cintai dan merebahkan kepalanya di pundaknya. "Karena ketinggian membantuku untuk memandang lebih luas segala permasalahan dan melakukan mindfullness, Mas."


"Mindfullness? Apa itu?"


"**M**indfulness adalah sesuatu yang kita lakukan untuk membuat kita lebih fokus terhadap situasi saat ini dan menerimanya tanpa menghakimi. Keadaan ini yang membantu menerima dan mengatasi pikiran, perasaan, atau sensasi yang menyakitkan atau mengganggu. Kita tidak akan terjebak dalam kekhawatiran tentang masa depan atau penyesalan di masa lalu. Intinya penerimaan diri sendiri dengan lebih mencintai diri sendiri."


Ray menoleh ke arah istrinya, ia takjub, bagaimana Litha bisa mengatasi kepelikan hidupnya selama ini seorang diri dengan menerapkan mindfullness. Ia tidak lari pada minuman keras, obat-obatan terlarang ataupun pergaulan bebas. Dia berhasil memproteksi dirinya sendiri saat Sang Pelindung pergi meninggalkannya selamanya. Pikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya.


"Kau belajar hal seperti itu darimana, Sayang?" Ray mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Dari Ibu. Saat ia menemukanku meminum cairan pembersih lantai, ia membawaku ke tempat wisata yang terletak di dataran tinggi. Mas tahu, itu daerah asal Asisten Yan, pantasan saja ia suka pegunungan karena keadaan geografi alam daerahnya kebanyakan dataran tinggi."


Alis Ray menaut, ia tertarik dengan fakta yang baru ia temukan dari istrinya. "Lalu?"


"Ibu mengatakan, jika aku mempunyai suatu masalah yang sulit untuk diurai, datanglah ke tempat yang tinggi, lihatlah di sekitarnya, diam sejenak tanpa memikirkan apapun, nikmati kebesaran Tuhan sejauh mata memandang, lalu pikirkan masalahmu, niscaya akan ada jalan keluar yang ditemukan. Ibu berpesan, jangan sekalipun berputus asa dalam hidup meski nafasmu tersisa satu helaan. Kita memiliki takdir masing-masing, kita cukup berdoa tanpa batas karena dalam doa ada harapan dan itu bisa mengubah takdir buruk."


Rasa-rasanya Ray mau menangis mendengarnya, ia seperti tertampar, sejak kecil selalu menyalahkan takdir yang tak memiliki Ibu dan menyalahkan semua orang dengan kesedihan yang ia derita. Kapan terakhir ia mulai berdoa? Ia ingat, ia berdoa pada Tuhan saat berharap istrinya memaafkan kesalahannya dan memberinya kesempatan lagi.


"Aku mulai mencari lebih jauh informasi bagaimana cara menerima diri dari internet, buku dan narasumber langsung. Aku sering bertanya ini itu pada dr. Siska kalau aku berkunjung menjenguk Kak Tisha. Dan akupun akhirnya bisa menstimulan diri sendiri agar tetap terkendali di saat terlalu marah atau sedih, aku juga bisa pelan-pelan membantu mengatasi Ninda mengatasi anxiety-nya."


Ray memeluk erat Litha, ia tahu kini alasan jatuh cinta pada istrinya, bukan karena sekedar kutukan, tapi Litha mampu mengisi kekosongan jiwanya sejak kecil. Ray merasa ada di frekuensi yang sama dengannya, merasa berada pada jalur yang sama dan saling bergandengan tangan untuk mencapai tujuan. Ia membutuhkan istrinya dan istrinya juga membutuhkan dirinya. Mereka saling bergantung,


"Hemmm ... aku suka sekali aroma tubuhmu, Mas. Tahu tidak? Sekarang, aku sudah tidak perlu ke tempat yang tinggi lagi, aku cukup mencium aroma tubuhmu saja."


"Aku tempatmu, Litha. Tujuan dan rumahmu ada di aku. Meski suatu saat nanti kau dihadapkan pada satu pilihan antara aku atau hal lain yang juga penting, kuharap kau tahu rumahmu dimana."


"Tentu saja. Aku tidak akan menuju tempat lain karena rumahku ada disini." Litha menunjuk dada suaminya.


Ray tersenyum, "Semoga saja, semoga kau tidak pernah tahu asal usulmu. Aku tidak akan pernah membukanya, aku tidak ingin kau berpikir kompleks jika kau mengetahuinya dan kembali pada ketinggian. Aku ingin kau tetap sesederhana ini, bahwa akulah tujuan dan rumahmu."


"Aromamu juga membuatku candu, Lith." Ray menyesap leher istrinya. Tapi tiba-tiba istrinya berdiri, menunjuk sesuatu ke arah langit.


"Mas ... Lihat!"


- Bersambung -


Keterangan :


Anxiety adalah kondisi seseorang yang mengalami kecemasan yang berlebihan.


Mindfulness (kesadaran penuh) adalah suatu cara melatih diri untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi saat ini dengan melibatkan kesadaran dan ketidakberpihakan. Penerapannya dilakukan dengan tujuan untuk menenangkan pikiran karena berlatih mindfulness dapat membantu menjadi lebih sadar akan pikiran dan perasaan, serta mengelolanya dengan cara yang lebih positif.


Manfaatnya antara lain : melatih fokus, menikmati hidup, mencintai diri sendiri, menghilangkan stress, meredakan rasa sakit, meningkatkan suasana hati, mencegah gangguan kognitif, meningkatkan kreativitas, mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kepuasan hubungan cinta.


Berbagai sumber dari Google.


Ada yang pernah mempraktikkannya? Author sudah lho dan rasanya memang luar biasa ☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2