
Keempat orang tersebut diberikan tempat berteduh, makanan dan pakaian di rumah utama, kecuali Sasmita yang dirawat di rumah sakit akibat luka serius di perut bagian bawah. Cukup lama pemulihan yang harus dilaluinya karena pertolongan terlambat dalam menangani luka tersebut sehingga mengakibatkan syok septik -- merupakan salah satu kegawatdaruratan yang disebabkan oleh kondisi sepsis, yaitu peradangan di seluruh tubuh akibat infeksi -- di saluran organ reproduksi yang berujung pada disfungsi seksual.
Tanpa pamrih Nyonya Besar juga memberikan mereka pendidikan secara intens, mengejar ketertinggalan sekolah yang tidak pernah mereka cicipi sampai mengikuti ujian persamaan.
Prasojo, begitu berminat di bidang hukum, ia meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi dengan biaya penuh dari Keluarga Pradipta,
Iskhak, lelaki berhati lembut yang tidak memiliki ambisi. Dalam hidupnya ia sudah sangat bersyukur pada Tuhan diselamatkan dan diberi penghidupan layak oleh Keluarga Pradipta. Ia tidak menginginkan lebih, ia cukup tahu diri dengan mengabdikan hidupnya pada Keluarga Pradipta.
Sebastian, dengan umur yang sebaya dengan Edwin Pradipta, putra tunggal pasangan Pradipta tentu mendapat tempat spesial di hati Edwin, ia berteman baik dan sudah menganggapnya saudara sendiri. Nyonya Besar menguliahkannya di universitas yang sama dengan putranya, mensejajarkan status sosial Sebastian dari yang tidak ada apa-apanya menjadi terpandang di depan teman-teman mereka.
Lydia, paling muda diantara semuanya merupakan adik perempuan Sasmita yang manis, ia memiliki cita-cita menjadi perawat, hal ini disebabkan melihat kakaknya yang terluka. Tidak tanggung-tanggung, Nyonya Besar memasukkannya di sekolah perawat berasrama terbaik di negerinya.
Kebaikan Dayyu Amarga Pradipta memang terkenal di kalangan pebisnis, bersama suaminya menjalankan bisnis tidak semata-mata mencari keuntungan, namun juga memuaskan jiwa sosial mereka. Tidak heran, Tuan dan Nyonya Pradipta disegani dan dihormati, hal inilah yang semakin mengukuhkan kerajaan bisnisnya sampai generasi ketiga.
Sasmita, yang usianya terpaut lima tahun dengan Edwin Pradipta dan paling tua diantara lima sekawan kurang beruntung namun menjadi beruntung karena takdir membawa mereka bertemu dengan Keluarga Pradipta. Nyawanya sepenuhnya diselamatkan oleh Tuan dan Nyonya Pradipta meski ia harus kehilangan kejantanannya sebagai seorang pria. Hal ini adalah rahasia dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali adik dan orang yang telah menyelamatkan hidupnya.
Nyonya Pradipta sekali lagi menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang pria. Ia menunjuk Sasmita sebagai Asisten Pribadi dan diwajibkan mengabdikan diri sepanjang hayat tanpa boleh menikah dan memiliki keluarga. Karena inilah nama baik Nyonya Dayyu sempat tercoreng di muka publik, isu mengambil hak asasi manusia orang yang ia pekerjakan terus dihembuskan oleh Daniel, pesaing bisnisnya selama beberapa waktu, sampai Sasmita sendiri yang menyingkirkan orang tersebut tanpa sepengetahuan Nyonya Besar yang sudah ia anggap ibunya sendiri.
"Sas, kabarnya Daniel menghilang, keluarganya mencari dan melaporkannya tetapi tidak juga ditemukan. Apa kau tahu sesuatu tentangnya?" tanya Nyonya Besar ketika berita menghilangnya Daniel ramai dibicarakan.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Tapi itu sangat bagus sekali, dia tidak lagi memfitnah Nyonya," jawab Sasmita.
Nyonya Besar terkekeh, "Kau sepertinya mendendam sekali padanya, padahal aku yang dia fitnah."
"Karena Nyonya dan Tuan sudah saya anggap orangtua saya sendiri dan saya meletakkannya di atas kepala saya. Apapun titah Tuan dan Nyonya pasti saya laksanakan meski itu adalah nyawa saya."
Nyonya Besar tertegun mendengarnya, ia tidak menyangka sama sekali impact dari kebaikan yang selama ini ia berikan dengan tulus akan kembali padanya dalam bentuk janji setia yang diikat dengan nyawa.
"Kalau begitu, lindungilah keturunanku selama kau masih hidup. Bekali dirimu layaknya seorang pelindung. Aku meletakkan kepercayaanku sepenuhnya padamu, Sas. Namun, jika kau coba mengkhianatiku, maka keluarga adikmu yang jadi taruhannya."
__ADS_1
"Saya mendengar Anda, Nyonya. Saya tidak akan mengkhianati Keluarga Pradipta, saya menjaminnya dengan nyawa saya dan nyawa keluarga adik perempuan saya, Nyonya."
"Heheh, aku hanya mengetesmu saja, Sas. Adik perempuanmu dengan keluarganya kelak memiliki kehidupan sendiri, jangan kau bawa-bawa hanya untuk dirimu. Aku percaya dengan janjimu, kau selalu memegang ucapanmu," kata Nyonya Besar terkekeh seraya menepuk pelan pundak Sasmita.
Begitulah, Sasmita menjadi orang kepercayaan Tuan dan Nyonya Pradipta yang bertangan dingin. Sesungguhnya yang paling ditakuti pesaing-pesaing bisnis Pradipta adalah sosok Sasmita ini yang loyalitasnya tidak main-main, loyalitasnya setara dengan nyawanya sendiri.
Waktu terus bergulir, Prasojo, Sebastian dan Edwin menyelesaikan pendidikannya dengan sangat baik, bekal untuk kehidupan selanjutnya. Prasojo menjajal keahliannya sebagai praktisi hukum sedangkan Sebastian dan Edwin bekerja di Pradipta Corp. yang saat itu makin berkembang.
Sebenarnya Sebastian tidaklah selayak Edwin untuk bekerja di perusahaan papan atas seperti Pradipta Corp. Tabiatnya juga buruk, selama bersekolah ia sering berlaku curang dengan menyontek dan ketika kuliah, Edwin yang banyak membantunya hingga bisa lulus dengan nilai baik. Jadi, ketika serangkaian tes masuk untuk pegawai magang yang diikuti oleh Sebastian dan Edwin - Tuan Pradipta memberlakukan sama untuk semua prosedur di perusahaannya meski itu putranya sendiri - hanya Edwin yang dinyatakan lolos, tidak dengan Sebastian.
Edwin yang berhati baik, memohon-mohon pada kedua orangtuanya agar menerima Sebastian di Pradipta Corp.
"Tidak bisa begitu, Edwin, kalau sampai Sebastian bekerja disini, akan merusak sistem yang sudah dibangun dengan baik. Karyawan yang bekerja di Pradipta Corp., apalagi di gedung pusat adalah mereka yang terbaik di bidangnya. Kau akan merusaknya dengan nepotisme," ujar Tuan Besar.
Walau begitu, Sebastian akhirnya tetap diberikan kesempatan untuk bekerja disitu.
"Bekerjalah dengan baik. Aku bekerja keras membujuk kedua orangtuaku agar kau mendapat kesempatan bekerja di Pradipta Corp." Edwin menepuk pundak Sebastian sebanyak dua kali.
Setahun berikutnya, rekrutmen reguler karyawan baru diselenggarakan lagi, dengan semakin besar dan berkembangnya bisnis Pradipta, maka Pradipta Corp. tentu membutuhkan banyak karyawan baru.
Mata Sebastian menangkap wajah cantik ayu milik seorang gadis berkulit kuning langsat yang ikut dalam antrian interview test. Senyumnya yang manis menggugah hati dan rasa penasaran lelaki berambut ikal itu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gadis itu diterima bekerja, satu divisi dengan Edwin. Masalah pun bermula dari sini, ternyata Edwin juga tertarik dengan Rianti, nama gadis itu. Edwin tidak mengetahui Sebastian yang belakangan ini sering berkunjung ke divisinya selain jam kantor bukan bermaksud mengunjunginya tetapi justru mencari kesempatan untuk mendekati Rianti.
"Jadi, kau sering main ke divisiku, karena dia?" Edwin menunjuk Rianti yang tengah menyusun berkas di meja dengan ekor matanya.
Sebastian mengangguk sembari tersenyum.
"Ah, sial! Kenapa kita harus menyukai gadis yang sama!" bathin Edwin kecut.
__ADS_1
"Ed, bantu aku. Aku meminta bantuanmu untuk mendekatinya. Ini pemintaanku yang terakhir, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Maaf, Bas. Aku tidak bisa."
"Kenapa, Ed?"
"Karena aku juga menyukainya."
Deg !!!
Jantung Sebastian berdetak keras terhantam pernyataan Edwin barusan.
"Apa katamu?" teriak Sebastian dengan menarik kerah baju Edwin.
Perhatian Rianti teralihkan dari susunan berkas yang menumpuk ke arah mereka berdua yang bertengkar karenanya. Rianti merespon dengan tersenyum mematikan buat keduanya.
Edwin melepas tangan Sebastian dan berkata, "Mari kita bersaing merebut hatinya dengan fair. Siapa nanti yang akan ia pilih dan salah satu dari kita yang tidak terpilih harus menerima dan menghormati keputusan Rianti."
"Omong kosong! Bagaimana bisa fair kalau rivalku Tuan Muda pewaris Pradipta Corp.!" protes Sebastian dalam hati.
"Sampai saat ini dia tidak tahu nama belakangku Pradipta. Aku jamin sampai ia memutuskan nanti, dia tidak akan tahu siapa aku sebenarnya. Kau bisa pegang kata-kataku, kita bersaing dengan fair."
Edwin seakan tahu apa yang dipikirkan Sebastian, memang selama ini ia tidak menggunakan nama Pradipta, karena ia tidak ingin diperlakukan istimewa, kartu identitas yang terpasang di saku bajunya pun hanya tertera namanya dengan lima huruf saja, EDWIN.
"Hah! mana kutahu akal bulusmu. Bisa saja di depanku kau bilang begitu, tapi di depan Rianti kau pasti memamerkan nama Pradipta mu. Ah, sial!!!"
Sebastian hanya bisa mengumpat dalam hati, Mulai detik itu, hatinya mendengki, bukan saja pada Edwin tapi seluruh yang berkenaan dengan nama Pradipta. Sayangnya, ia sangat tidak tahu malu, meski mendengki Sebastian masih tetap bekerja di Pradipta Corp.
- Bersambung -
__ADS_1