
#Beberapa saat sebelum Ray mendapat bisikan dari Abyan#
Evan juga ikut di acara ini, ayahnya adalah Ketua Asosiasi Pengusaha Kuliner yang menghelat kegiatan ini. Ia datang sendiri, dilihatnya Ninda dari kejauhan dan ingin menghampirinya tapi diurungkan niatnya karena ada Bona bersamanya.
"Van ... !!!" pekik suara seorang perempuan.
Evan menghentikan larinya dan berbalik, ternyata yang memanggilnya Nadia dan Shinta, teman kampusnya.
"Sendirian, Van?" tanya Shinta.
Evan mengangguk, dilihatnya dandanan Nadia yang lebih cocok ketimbang olahraga mau hang out ke mall.
"Mau kemana kamu, Nad? Lari kok dandanannya ribet gini." celetuk Evan sambil kembali lari diikuti oleh Shinta dan Nadia.
"Katanya ada Tuan Muda Pradipta, kali aja gak sengaja ketemu,"
"Bukannya Tuan Muda Pradipta sudah menikah ya? Jangan mimpi, Nad, lagian kamu bukan kelasnya."
"Bener Nad, pacarnya dulu saja kayak model luar negeri. Gak tahu istrinya kayak apa. Tapi, kok gak dipublish ya?" seloroh Shinta.
"Aih, gak peduli!" tukas Nadia.
"Eh, Van, tadi aku lihat Litha di stand kuliner." Nadia mulai bergosip.
"Oh ya? Di stand mana?"
Ada terbersit rasa senang di hati Evan, biar kata Litha sudah menikah dia tidak peduli. Baginya saat ini Litha menikah hanya butuh uang dari lelaki hidung belang yang menikahinya, tidak lama juga akan berpisah dan Evan tidak keberatan dengan status jandanya Litha nanti.
"Gak tahu, tapi dia sama Om-Om yang sering nungguin dia di kampus. Apa dia jadi istri mudanya ya?" jawab Shinta.
"Emang dia udah nikah?" tanya Nadia lagi.
"Ya gak tahu, tapi coba deh lihat fotonya, perutnya agak besar, soalnya tadi di grup ada yang bilang gitu sih."
"Foto? Grup? Maksudnya apaan?" tanya Evan bingung.
"Lihat aja di grup chat, Nadia mengirim foto Litha berduaan dengan laki-laki tua yang lebih pantas jadi bapaknya."
Evan terkesiap ia menghentikan larinya lagi, di bukanya grup yang dimaksud. Matanya terbelalak melihat dua buah foto yang memperlihatkan Litha tengah bahagia menikmati makanannya dan seorang pria tua yang menampakkan tawanya. Hatinya gusar, discroll-nya ke bawahh membaca komentar dari anggota grup yang menanggapi foto tersebut. Kebanyakan komentar pedas dan mengatakan Litha ayam kampus, semua demi uang.
Hati Evan makin tidak karuan, ia ingin mencari dan menanyakan langsung pada Litha. Evan ingat waktu ia disuruh Tante Murni menemani Ninda ke Kota A untuk menghadiri pernikahan Litha, namun ia tidak mau, hatinya patah dan remuk tak berbentuk mendengar gadis pujaannya tiba-tiba akan menikah. Ia juga enggan menanyakan dengan siapa Litha menikah, ia benci pada Litha karena tak menyambut perasaannya dan ia ingin melupakannya.
Tapi apa daya, sosok Litha begitu dalam berada di hatinya, semakin dilupakan semakin jelas bayangan Litha di matanya. Untuk melupakan, ia kembali pada kebiasaan buruknya, mengkonsumsi minuman keras, terlebih diberi member card VIP oleh Bona, pemilik klub malam terbesar di Ibukota. Di sana pula Evan tidak sengaja bertemu dengan Renata, mantan pacar SMA-nya. Renata menawarkan lagi shabu-shabu padanya, tapi ia tidak berani menyentuh lagi barang haram itu mengingat wajah sepupunya, Ninda.
Sampai di garis finish, ia ingin mencari Litha, untuk memastikan semua yang ia dengar. Setelah lari 5 km tenggorokannya meminta untuk dilegakan, Evan menuju kafe milik ayahnya untuk minum, setelah itu baru ia akan mencari Litha. Namun, ia tidak perlu bersusah payah melakukannya, saat menunggu minumannya disiapkan, matanya menangkap sosok yang dicarinya di pojokan sedang menerima sebuah nampan dari lelaki paruh baya.
"Apa itu Litha? Dengan siapa dia?"
Evan mengambil ponselnya dan melihat grup chat yang tadi ditunjukkan oleh Nadia. Foto yang menjadi topik hangat pembicaraan saat ini, ia zoom untuk memastikan bahwa pria yang berada dalam foto itu sama dengan pria yang ia lihat bersama Litha.
.
.
.
"Pak Sas, perutku sedikit kram, kita sudahi saja ya Pak," keluh Litha memegangi perut bagian bawah, ia terlalu bersemangat berbelanja dalam keadaan berdiri dan berjalan mondar-mandir.
"Syukurlah. Ternyata, menemani wanita belanja benar-benar momok bagi laki-laki," gumam Pak Sas pelan, jangan sampai terdengar Nyonya Mudanya.
"Nyonya harus istirahat. Biar nyaman tidak pindah-pindah, sebaiknya Nyonya beristirahat di kafe milik Om Nona Ninda sekalian menunggu Tuan Muda," saran Pak Sas, ia juga lelah memegang banyak paperbag yang isinya semua makanan.
"Betul sekali. Ayo Pak, betisku juga sudah ikutan kram."
"Ckckckck ... Mengapa bisa lupa diri begini Nyonya melihat makanan, seperti tidak pernah diberi makan saja sama Tuan Muda."
__ADS_1
Litha mengambil tempat di pojokan, duduk dengan menumpangkan betisnya yang lelah di kursi satunya. Pak Sas dimintai tolong untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka.
"Terima kasih, Pak Sas. Aku lapar sekali, padahal aku dari tadi mengunyah."
Litha menyambut dengan antusias, "Pak Sas, ayo dimakan. Enak banget ini."
"Terima kasih Nyonya, saya merasa berat badan saya bertambah dengan menemani Nyonya berbelanja. Saya akan memasukkan semua yang Nyonya beli ke mobil."
"Ah, ya, maaf merepotkan."
"Sudah tugas saya, sebagai asisten Nyonya."
"Jangan terlalu formal. Pak Sas itu sudah saya anggap ayah saya sendiri, bahkan kalau perlu jangan panggil saya Nyonya, tapi Pak Sas tidak bersedia kan? Sama dengan Asisten Yan, jadi kupanggil juga dia Asisten biar adil."
"Saya permisi dulu Nyonya."
Litha menjawab dengan mengangguk lalu menyeruput nikmat minumannya sambil mengelus pelan perutnya yang tadi sempat kram. Matanya menembus kaca melihat sebagian pelari yang sudah melewati garis finish.
"Apa dia sudah selesai berlari? Mungkin sekarang lagi berganti baju. Aihhh ... kenapa aku sudah merindukannya, aku ingin sekali memeluknya, mencium aroma tubuhnya, ish ... ish ... ish ... "
Sesosok wanita memperhatikan Litha dari jauh dengan penuh benci. Ia beranjak ingin mendekati Litha yang tengah sendiri di dalam kafe. Belum sempat ia memasuki kafe itu, dilihatnya seorang laki-laki menyerukan nama wanita yang dibencinya. Ia memilih mundur ke tempatnya semula dan melihat kembali situasi yang terjadi dalam kafe Koes Millenial Food & Baverage dari kejauhan.
"Litha ...!"
Panggilan suara dari seseorang membuyarkan lamunan Litha.
"Evan!" Litha meletakkan minumannya di meja.
Litha menurunkan kakinya yang menumpang di kursi lain, ia duduk dengan tegak. Evan tersenyum kecut melihat perubahan pada tubuh Litha.
"Ternyata benar, dia hamil. Kenapa dia mau hamil anak si tua bangka itu."
"Hai! Kau sendiri?" sapa Evan, enggan duduk.
"Aku bersama Suamiku. Kau sendiri?"
"Ya. Kau hamil?"
Tanpa basa-basi Evan bertanya yang tanpa ditanyakan pasti tahu jawabannya. Litha paham Evan menyindirnya dengan bertanya seperti itu.
"Ya, Van. Bagaimana kabarmu?" tanya Litha canggung.
"Apa anak itu anak suamimu?"
Bukannya menjawab, Evan malah balik bertanya sinis. Litha menautkan alisnya, bingung dengan pertanyaan sepupu sahabatnya. "Tentu saja anak Suamiku, Van. Masak anak tetangga."
"Suamimu mana?"
"Lagi-- "
"Tadi kulihat ada disini. Tidak kusangka rumor itu benar adanya. Kau tahu Lith, aku sangat tersiksa dengan perasaanku sendiri yang tidak pernah kau balas."
Litha bingung menanggapi Evan yang tiba-tiba meracau di depannya.
"Evan kenapa? Kenapa dia tiba-tiba datang dan berbicara yang tidak kumengerti."
Tidak berapa lama Ninda datang diikuti Bona di belakangnya, ia sudah melewati garis finish bersama Bona dan langsung menuju kafe Om-nya dengan baju yang penuh warna, sama dengan Evan.
"Aku berusaha melupakanmu karena kau menikah dengan laki-laki tua itu. Tapi tidak bisa Litha!!! Perasaanku terlalu dalam buatmu. Aku bahkan berniat dan rela menunggu kau berpisah dari suamimu karena aku tahu kau jelas tidak mencintainya, kau hanya butuh uangnya. Kenapa kau tidak datang padaku, Litha? Aku bisa memberi apa yang suamimu beri. Aku bersedia menikahimu dengan baik-baik. Tapi lihat sekarang! Kau bahkan hamil dengannya, kau mau membangun keluarga sungguhan bersama dengannya, hah?!?"
Litha bengong mendengar curhatan hati Evan, ia tahu selama ini Evan menaruh hati padanya tapi tidak sampai seperti ini, terbelenggu dengan perasaannya sendiri.
"Evan, aku mencintainya dan dia juga mencintai aku," kata Litha pelan.
Evan tersengat mendengarnya, pengakuan cinta Litha yang ia harapkan selama ini buatnya kini berlabuh di orang lain.
__ADS_1
"Apa yang kau cintai dari pria tua hidung belang itu, Litha?!? Dia hanya menginginkan tubuh wanita muda sepertimu," sahut Evan yang emosi, hatinya terbakar melihat di leher Litha terdapat beberapa bekas gigitan.
"Evan!!!" teriak Ninda dari belakang Evan. Ia maju menghampiri Litha diikuti Bona.
Suara besar sepupunya mengundang perhatian seisi kafe, baik pelayan maupun pelanggan. Litha menyadari mereka menjadi pusat perhatian, dan ia tidak suka itu.
"Hentikan ocehanmu! Litha sudah bersuami, jangan mengharapkannya lagi" seru Ninda.
"Hahahaha ... Suami yang selama ini menyimpanmu, kan, Lith?"
Litha sudah tidak tahan, dari tadi ia berusaha tidak terpancing, tapi Evan terus mencecarnya dengan tidak berdasar. Lebih baik ia meninggalkan tempat ini. Litha berdiri, meraih tasnya, Ninda yang mengerti sikap Litha turut membantunya.
"Jaga bicaramu! Kau tidak mau berurusan dengan Tuan Muda Pradipta, kan?" ujar Ninda kesal pada sepupunya.
"Hah!!! Lagi-lagi kau membual, Nin. Itu tidak mungkin! kalau bercanda ada batasnya. Lihat ini!"
Evan menunjukkan foto yang ada di grup chat kampus mereka. Litha memang sudah lama sekali keluar dari grup chat yang dimaksud karena mereka sering menyindir dirinya dengan rumor sugar baby.
Mata Litha, Ninda dan Bona sama-sama terbelalak melihatnya. Tapi reaksi yang diberikan berbeda, Bona dan Ninda tertawa, sedangkan Litha merasakan nyeri dalam hatinya. Dari arah pintu terlihat Pak Sas kembali dari menaruh belanjaan Litha di mobil. Litha nanar menatap sosok yang seumuran kurang lebih dengan ayahnya, tersenyum kecut dengan hati nyeri.
"Kalau kukatakan Suamiku memang Tuan Muda Pradipta apa kau percaya?" tanya Litha kemudian yang menghentikan tawa Ninda, Bona pun menghentikan tawanya karena disikut Ninda.
Ninda bisa mendengar ada nada getir dalam pertanyaan tersebut. Pak Sas menghentikan langkahnya, ia berada di dekat Evan tanpa Evan sadari. Pak Sas tahu siapa Evan, diambilnya ponsel dari dalam saku celana dan mengetik pesan teks pada Abyan agar Tuan Muda segera datang.
"Hahahahahahahaha .... Tidak. Tidak mungkinlah, dari mana kau mengenalnya? Dari majalah, TV atau media sosial? Semua perempuan juga bisa mengatakan begitu."
Tes ....
Air mata Litha jatuh dari mata kirinya. Hatinya seperti teriris pisau, entah kenapa, apa ia terlalu sensitif karena pengaruh hormon ibu hamil? Atau ia anggap jawaban Evan itu adalah perwakilan dari reaksi semua orang, jika ia dikabarkan sebagai istri suaminya.
"Aku dan Rayyendra memang beda kelas. Jelas saja orang tidak percaya dan membandingkannya."
"Nyo--" sahut Pak Sas melangkah maju tapi Litha menggelengkan kepalanya.
Evan menoleh ke sumber suara yang terpotong. Ia tersenyum sinis, seakan mendapat jawaban benar atas asumsinya sendiri.
"Ayo, Tha, kita pulang saja. Evan sudah gila! Tidak usah diladeni."
Litha serasa lelah untuk berjalan, ia kecapaian berbelanja, makanannya belum tersentuh bahkan minumannya baru beberapa teguk ia nikmati.
"Lith, aku sungguh tidak menyangka, begitu buruk seleramu hanya demi uang." Evan melirik Pak Sas sinis dengan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Seandainya kau tidak hamil, aku masih bersedia menerimamu dengan perasaan yang sama. Kau--"
Belum habis Evan bicara, kerah baju kaosnya sudah terangkat oleh tangan tua Pak Sas. Dia tidak tahan dengan bacotan anak muda yang merendahkan Nyonya Mudanya.
"Hati-hati dengan mulutmu kalau tidak ingin ku robek!" desis Pak Sas geram.
.
.
.
"Ada apa ini!!!"
Sekonyong-konyong menggema suara yang sangat Litha kenal, suara yang pemiliknya sudah ia rindukan dari tadi.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Bukan Ramona, bukan si duo julid, tapi Evan. Ada yang nyangka gak?
Ada pergantian judul menjadi "Istri Wasiat Tuan Muda"
__ADS_1
Semoga lebih hoki ☺️
Like, komen, vote dan hadiahnya kakak more and more ...