
"Maaf, sementara aku tidak bisa menemanimu, aku harus bergabung dengan tamu undangan lain. Begitu sudah selesai aku pasti di sampingmu."
Dalam lubuk hati, Litha sebenarnya ingin Ray ada di sampingnya, menjadi bentengnya, entah kenapa sekarang ia sangat bergantung pada suaminya, ia seperti linglung kalau keluar rumah tanpa ditemani Ray, padahal sebelumnya ia sangat mandiri, bahkan terlalu mandiri untuk ukuran perempuan.
"Tidak apa-apa, aku kuat kok, andai saja Ninda duduk di sampingku, paling enggak aku tidak bengong sendiri. Hhhmmppfffhhh ... beginilah kalau susah berteman."
Litha dan Tisha tergolong berkepribadian introvert karena terlalu dijaga pergaulannya terutama terhadap lawan jenis, berbeda dengan Vania, selain ia mendapati ayahnya hanya sampai kelas 5 SD, Nia juga tipikal gadis pemberontak, yang tidak bisa menerima begitu saja tanpa masuk di akalnya. Gadis berambut panjang lurus itu sangat mudah bergaul dan mempunyai teman, bahkan dalam pergaulan atau organisasi, ia kerapkali ditunjuk sebagai pemimpin atau ketua.
"Kau tidak sendiri, ada anak kita yang menemanimu, dia mewakiliku. Semua hal baik datang pada orang baik. Kau percaya itu kan, Nona Baik Hati?" Ray mengusap perut istrinya yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.
.
.
.
"Eitttsss ... tunggu dulu, Asisten Yan. Kita berfoto dulu, boleh kan? Untuk newsfeed Shortpink FC."
"Ray, adik iparmu ini benar-benar tawon." Abyan membathin setelah tangannya di tarik Vania, Ray hanya berdecak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kak, fotoin sebentar," pintanya pada Litha yang tengah memakai topi toganya.
"Ihh, ni anak merepotkan sekali. Gak lihat Kakakmu ini lagi ribet, ya sudah ayo cepetan, kasihan Kakak Iparmu menunggu Asisten Yan."
Vania langsung mengambil posisi untuk berfoto di samping kiri Abyan, tingginya tidak lebih dari pundak lelaki berwajah tenang itu.
1 ... 2 ... 3 ... Say Cheese
Vania dan Abyan tersenyum lebar namun tangan lelaki itu merangkul Vania.
Klik.
Terekam sudah gambar manis yang menyisakan segenggam rasa yang aneh di hati Vania, padahal rangkulan Abyan seperti merangkul Dinda, adik semata wayangnya.
.
.
.
Ana kembali merapikan riasan flawless Litha ketika Ninda dan keluarganya menghampiri Litha, Paman Tino, Bibi Rima dan Vania.
"Litha selamat ya. Akhirnya kalian lulus bersama. Ninda bilang hari ini ulang tahunmu ya, dia meminta ijin un-- "
Kalimat Tante Murni, mamanya Ninda terpotong kala Ninda mencubit pinggangnya. Litha tidak tahu akan ada sedikit kemeriahan yang tengah disiapkan di halaman belakang dekat kebun kecil di rumah utama nanti malam. Ray menyuruh mereka semua tutup mulut, Litha hanya boleh tahu hari ini wisudanya yang kebetulan bertepatan juga dengan hari lahirnya.
"Iya kebetulan sekali, Tante."
Huuffftttt ....
Semua bernafas lega, beruntung Litha tidak peka, ia terlalu cemas saat ini, padahal semua yang ada disitu sudah tegang jangan sampai Litha tahu rencana suaminya. Ray akan murka jika rencananya membuat kejutan untuk istrinya gagal.
"Selamat ya, Nak. Selamat ulang tahun. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan dalam hidupmu." Om Beny, papanya Ninda memberikan ucapan selamat pada Litha yang juga mewakili istrinya. Diiringi juga dari Andika dan Afandy, kedua abang Ninda.
"Terimakasih, Om, Bang Dika dan Bang Fandy."
"Sudah berapa bulan usia kandunganmu? Sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Tante Murni mengelus perut Litha.
Litha tersenyum, "Baru saja tujuh bulan Tante. Saat ini kami belum tahu jenis kelaminnya. Mas Rayyendra belum ingin tahu katanya."
"Mau lelaki atau perempuan yang penting sehat. Semoga dilancarkan ya, Nak."
"Terimakasih doanya, Tante."
Gemuruh suara himbauan dari pengeras suara agar para undangan dan peserta segera memasuki auditorium. Para peserta diminta untuk duduk di kursi yang sudah disediakan sesuai nomor.
__ADS_1
Mereka semua pun bergegas masuk, tidak lupa Litha mengucapkan terimakasih pada Ana yang telah merapikan riasannya barusan. Oskarita dan adiknya belum mau pulang, ia masih berdiri di depan auditorium melihat layar besar yang nantinya akan menampilkan serangkaian prosesi wisuda.
.
.
.
Whoooaaaaaaa ....
Semua berdecak kagum melihat dekorasi di dalam auditorium. Berbaris rapi dan indah kursi yang disertai snackbox di tengah-tengah auditorium untuk para wisudawan/wisudawati. Para undangan yang diperuntukkan orangtua atau keluarga diberi tempat di sisi kanan dan kiri juga di tribun, diatur dan dihias juga dengan indah. Barisan kursi undangan VIP yang biasanya di duduki orang-orang penting, termasuk Rayyendra tidak kalah indahnya. Terlebih lagi dekorasi untuk tempat pemindahan tali toga di atas panggung yang berderet meja kursi di hadapan juntaian kain-kain satin begitu megah dan elegan.
"Gilaaaa!!! Ni gak salah acara kita kan?"
"Wisuda kali ini pakai EO mana ya? Bukan kaleng-kaleng ini namanya, dekorasinya elegan sekali, ku kira akan seperti biasanya, bertabur bunga dimana-mana gak jelas."
"Ih, iya loh, bagus banget, warnanya pun indah banget dimata, penataan cahayannya on point di atas panggung."
"Belum lagi kursi yang kita duduki bukan yang biasanya tak berbaju. Ini dipakaikan baju semua, dan untuk undangan pun juga sama. Serasa wisuda kali ini istimewa sekali ya."
"Benar, bahkan kudengar untuk konsumsi nanti disediakan Prasmanan di aula A dan B, bukan nasi kotak seperti biasanya."
"Eh, perhatikan gak? Dari luar saja sudah terlihat beda wisuda kali ini loh."
"Iya, aku kok baru sadar ya? Beruntung aku diwisuda periode ini. Ini pihak universitas kelebihan dana apa ya, sampai buat dekornya sebagus ini, biasanya kan, ya standar."
Itu baru beberapa komentar yang di dengar telinga dan Litha begitu memasuki auditorium, tapi memang benar wisuda kali ini sangat berbeda, dua sahabat itu tak kalah takjubnya.
"Ayo Tha, ku antar kau ke kursimu, Biasanya, kan lulusan Cumlaude kursinya di tulis dengan nama dan posisinya paling depan." Ninda menggandeng tangan Litha menuju kursinya.
"I-- iya , Nin. Seandainya saja kita duduk berdampingan. Eh, tapi ini gak salah? Biasanya fakultas kita duduknya paling kiri kenapa sekarang di bagian tengah?"
"Gak tahu juga ya, Tha. Mungkin ada perubahan kali," jawab Ninda sekenanya.
Litha dan Ninda jalan melewati teman-teman sekampusnya yang beberapa sudah duduk sesuai nomor urutan berdasarkan IPK. Mata mereka dengan cepat teralihkan dari yang awalnya mengagumi dekorasi menjadi mengekori Litha dengan pandangan hina.
"Itu Litha kan? Dia wisuda juga? Kok tidak kelihatan dia ujian meja ya? Tiba-tiba lulus, wow!" sindir Shinta .
"Iya, dia memang gak jelas. Lama gak muncul, sekali muncul udah gede aja perutnya? Ditiup siapa ya?" cekikik Nadia, menyakiti hati Litha.
"Pria tua bertenaga kuda hahahahaha ... " sambung Nadia yang diiringi gelak tawa teman lainnya.
Ninda sungguh kasihan melihat mereka membully Litha, ia tahu rasanya. Andai saja ia tidak dipinta Tuan Muda, sungguh ia ingin mengatakan bahwa Litha adalah Nyonya Muda Pradipta, apalagi Litha terlihat sekuat tenaga menahan airmata.
"Tha, ini kursimu."
Ninda menunjuk sebuah kursi yang letaknya di barisan terdepan paling kanan sekaligus berada di belakang salah satu kursi undangan VIP, ini karena Litha pemegang IPK tertinggi di fakultasnya.
"Oh, iya Nin. kamu duduk dibarisan mana?" tanya Litha sembari duduk.
"Disini."
Ninda menunjuk kursi tepat di sebelah kirinya. Litha bingung,
"Ada namaku disini. Berarti aku memang duduk disini, kan?" Ninda menunjuk namanya di sandaran kursi, ia lalu duduk dengan santainya, "Tidak perlu memiliki IPK tinggi untuk duduk di kursi terdepan, cukup berteman dengan Nyonya Muda aku bisa merasakan tempat duduk lulusan Cumlaude."
Litha masih kebingungan dengan posisi kursi Ninda, muncul Gayatri, saingan Litha dalam akademik protes, "Nin, kok kamu duduk disini sih? Harusnya tempatmu di barisan tengah. Aku yang harusnya duduk di sampingnya Litha karena IPK-ku tertinggi kedua, bahkan paling tinggi kalau saja Litha tidak ikut wisuda kali ini." Ia melipat tangannya menantang Litha, "Kau ini siluman. Tiba-tiba menghilang tiba-tiba muncul. Tidak ada yang melihatmu ikut ujian sidang skripsi, kenapa bisa tiba-tiba wisuda?"
"Aduuuhhh ... kepalaku tiba-tiba pusing, Mas."
Litha memijat keningnya dan mengeluh seolah-olah ada suaminya di samping, namun Litha sadar, suaminya tidak ada, ia lalu berusaha mengingat aroma maskulin suaminya yang ia hirup di mobil sambil memejamkan mata.
"Aku duduk disini, karena memang tempatku, Tri. Nih baca, 2. Ninda Kusuma." ujar Ninda setelah berdiri dan kemudian menunjuk nama di sandaran kursi selah kirinya "3. Gayatri Mustika Dewi. Jelas, kan?"
"I-- iya, aku tahu. Ma-- maksudku, kenapa kau bisa duduk di barisan ini, harusnya kau ada disana." Gayatri menunjuk barisan tengah.
__ADS_1
"Ya mana aku tahu, tanyakan saja sama rumput yang bergoyang."
Perdebatan mereka terhenti ketika rombongan tamu VIP memasuki auditorium. Mulai dari Gubernur, Walikota, beberapa CEO perusahaan ternama dan rektor dari universitas lain berjalan menghampiri kursi VIP yang telah disediakan.
Suasana menjadi riuh melihat siapa yang berjalan paling belakang, CEO muda berbakat dari Pradipta Corp. diikuti Asisten setianya, sangat gagah dan berkharisma memakai setelan yang dipilihkan istrinya. Wajahnya segar karena baru tadi pagi ia membakar kalori bersama istrinya.
Sekilas Litha merasa aneh melihat rombongan tamu VIP menatap ke arahnya sembari tersenyum tipis.
"Ah, tidak mungkin kan, Mas Rayyendra mengatakan sesuatu tentangku pada mereka, tapi kenapa mereka tersenyum padaku? Aaahh ... Litha kau ke-pede-an!" bathin Litha mulai berkecamuk.
"Tha, suamimu idaman banget. Semua terpukau padanya, seperti ada kilauan cahaya di wajahnya." bisik Ninda di telinga Litha yang direspon dengan mencubit paha Ninda karena ia tidak suka mendengarnya.
"Katakan itu pada Bona-mu saja. Kenapa ia tidak datang? Padahal ini moment tepat sebagai awal perkenalan dirinya pada Om Beny dan Tante Murni." Litha balas berbisik.
"Katanya dia lagi disibukkan dengan kabar burung yang didengar Boy kalau klubnya kini dijadikan sarang peredaran narkoba. Tapi ia tidak tahu siapa orangnya, pergerakannya sangat rapi. Semalaman Bona menantinya, tapi orang itu sangat lihai dan tidak termakan pancingan Bona."
"Mas Rayyendra pasti akan marah besar jika ia tahu ada narkoba di Amore Club, bisa-bisa ia me--"
Bisikan Litha terhenti seiring netranya menatap bahu dan leher suaminya dari belakang. Ray duduk persis di hadapannya, hanya berjarak satu setengah meter darinya, di sebelah kirinya tepat di depan Ninda, ada Abyan yang duduk mendampingi Tuan Muda.
"Nin, tidak mungkin kan, semua posisi ini bisa kebetulan terjadi? Pasti ada yang mengaturnya." bisik Litha.
"Tentu saja, Suamimu yang mengatur semuanya, agar kau tidak merasa sendiri di dalam ruangan sebesar ini. Sekarang kau bisa tenang kan, ada aku di sampingmu dan Tuan Muda di depanmu."
"Tapi kenapa bisa? Suamiku tidak punya kewenangan untuk itu."
"Kali ini aku bisa mengataimu bodoh, Tha! Kau meremehkan sekali nama keluarga Suamimu."
Ray dapat mendengar kedua wanita itu berbisik membicarakan dirinya, tanpa bisa dilihat oleh mereka, Ray tersenyum penuh arti.
"Aaaa ... tidak sia-sia aku belajar mati-matian dan akhirnya duduk disini sekarang. Aku bisa melihat bahu tegap dan leher seksi itu sedekat ini, ya Tuhan. Aku tidak peduli dia sudah menikah atau belum, pun kalau sudah aku tidak keberatan jadi yang kedua." Gayatri terang-terangan memuja Tuan Muda yang membuat kuping Litha panas dan memerah.
"Jaga bicaramu, Gayatri. Tidak baik menyukai suami orang, kau merendahkan dirimu sendiri." berang Litha menegakkan punggungnya.
Ray tersenyum tipis menangkap kecemburuan istrinya di belakang. Ia suka dicemburui istrinya tapi tidak suka akibatnya, sudah pasti ia akan tidur dipunggungi Litha jika ia cemburu.
"Kenapa? Kau bicara seolah-olah kau perempuan suci, padahal kau sendiri menjadi simpanan lelaki yang sudah beristri. Cih, tidak malu, tiba-tiba muncul dalam keadaan hamil. Harusnya kau lahirkan dulu anak harammu itu biar aku yang duduk tepat di belakang Tuan Muda dan sekalian mendapatkan gelar The Best Graduate!"
Ninda spontan menutup mulutnya terkejut dengan umpatan kasar Gayatri pada Litha, sedangkan Litha hanya terdiam, airmatanya menetes tanpa isakan. Sangat perih hatinya dikata-katai seperti itu, ia terbiasa mendengar umpatan simpanan lelaki hidung belang, tapi tidak untuk anaknya. Begitu perih bagai diiris-iris sembilu, anaknya dikatakan anak haram, anak yang tak berbapak padahal jelas ia hadir dalam pernikahan yang sah.
Litha menelan salivanya dengan susah payah, ia sandarkan kembali punggungnya ke kursi, ditatap nanar bahu dan leher suaminya yang sudah menegang, ia tahu suaminya sekuat tenaga menahan amarah luar biasa.
Abyan pun tidak kalah tercekat mendengarnya, tidak menyangka umpatan itu sangat keji ditujukan pada wanita sebaik Litha. Tapi ia sadar, saat ini ia harus lebih dulu menahan amarah Ray karena acara wisuda baru akan dimulai.
"Ray, tahan amarahmu. Jangan buat rencanamu berantakan. Tahan sebentar saja, setelah semua tahu Litha istrimu, kau bisa memberinya pelajaran."
Mata Ray memerah dan rahangnya sudah mengetat, tangannya meraih gelas berisi air putih di atas meja, ia meminum dengan sekali tandas.
"Heh, kenapa kau diam, Litha? Kau tidak bisa berkata apa-apa lagi karena semua yang kukatakan adalah faktanya, kan?" Gayatri masih menyerang Litha yang terlihat shock.
Ninda jengkel dan memukul lengan Gayatri, "Apa tidak bisa kau menutup mulut kotormu itu?!?"
"Kenapa? memang benar kok yang dikatakan Gayatri. Kau saja yang buta karena dia sahabatmu, makanya kau bela terus," sahut suara di barisan belakang mereka.
Pranggg ...
Bunyi benda pecah dari barisan VIP menarik perhatian hingga Litha terlonjak kaget, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kumohon, Mas ... jangan ... jangan ... jangan marah ... Kau hanya akan membuatku tambah malu."
Bukan saja Litha dan Ninda yang was-was, para tamu undangan VIP pun was-was karena mereka juga mendengar apa yang dikatakan Gayatri. Acara wisuda bisa berantakan dengan mengamuknya Tuan Muda Pradipta yang sudah terkenal perangai kasarnya.
Abyan memberesi pecahan gelas yang berserakan di lantai dengan sapu tangannya, sedangkan Ray tidak berani menoleh ke belakang, karena ia tahu istrinya pasti menangis, dan ia tidak akan bisa mengontrol emosinya jika melihat airmata istrinya jatuh dari mata yang sangat ia kagumi.
"Siapa tadi namanya? Gayatri. Ya, jangan sebut namaku Pradipta kalau kau masih bisa bekerja. Dasar wanita tak berakhlak, Fu*ck you!!!"
__ADS_1
Makian dalam hati Rayyendra terjeda ketika mendengar iring-iringan Senat yang akan memasuki auditorium dan MC meminta seluruh hadirin untuk berdiri.
- Bersambung -