
"Selamat sore, Nona Ramona," sapa Litha sembari tersenyum tanpa mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Ramona menelisik dari atas sampai bawah sosok wanita di depannya, sangat jauh berbeda dengan terakhir mereka bertemu ketika Litha memakai seragam pelayan restoran. Wajah segar, berbusana elegan nan modis, tubuh yang lebih berisi dan apa itu? Mona membenci perut Litha yang membuncit, ingin rasanya ia menendang dan mengempeskan perut Litha. Belum apa-apa Ramona sudah terprovokasi oleh Litha.
"Apa kabar Mon?" tanya Rayyendra memecah suasana yang canggung.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, kenapa kau juga membawanya?" hardik Ramona pada Ray.
Tidak terima suaminya dihardik wanita lain karena bagi Litha yang berhak menghardik suaminya adalah dirinya sendiri, ia yang menjawab pertanyaan Ramona.
"Aku yang memintanya ikut, aku ingin menyapa Nona Ramona karena sudah lama tidak berjumpa. Tenang saja meski aku adalah istri Tuan Rayyendra, aku sangat menghargai sebuah privasi."
Litha menekan kata 'istri' agar Mona paham posisinya.
"Aku tidak akan mengganggu pertemuan kalian, aku pun sudah memesan meja disana. Jadi, silahkan kalian berbincang," sambung Litha lagi sembari menunjuk mejanya yang berjarak tiga meja dari meja Ramona.
Ramona amarahnya sudah diubun-ubun, ia hendak membalas Litha, namun suara Ray menghentikannya, "Mona, silahkan."
Ray mempersilahkan Ramona untuk duduk, sedangkan Litha berjalan ke mejanya lalu memesan secangkir teh chamomile dengan sebuah eclairs.
Abyan yang awalnya menunggu di mobil gelisah, pikirannya tertuju pada Nyonya Mudanya. Ia kenal tabiat Ramona jika marah, emosinya tidak bisa ia kendalikan. Akhirnya Abyan memutuskan untuk menyusul majikannya ke restoran, paling tidak ia akan menemani Litha di mejanya agar tidak sendirian.
Namun, Abyan urung masuk ke dalam restoran, dilihatnya Litha sudah ada yang menemani, entah siapa dia. Perawakan tinggi tegap dengan rambut coklat gelap, berkulit putih, penampilannya bukan orang sembarangan dan berwajah bule. Abyan merasa ia cukup memantau dari pintu restoran saja.
** Meja Litha **
Adalah Andrew Laurent, nenek dari ibunya adalah penduduk asli Kota A, ayahnya keturunan Prancis-Amerika, namun ia sendiri memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat. Ia seorang pebisnis di bidang teknologi digital yang sedang melancong di Kota A.
"Permisi, apakah Nona sedang menunggu seseorang?" tanya Andrew sopan dengan dialek lokal yang kaku.
"Tidak. saya sedang menikmati waktu minum teh di sore hari, Tuan," jawab Litha elegan.
Ketika Litha dalam posisi duduk, tidak akan ada yang menyangka ia sedang berbadan dua, yang terlihat hanyalah seorang wanita anggun sendirian menikmati waktu minum teh di sore hari. Wajah asli negerinya tanpa make-up berlebih menjadi daya tarik Litha dengan kecantikan alaminya. Suara dan bahasanya yang sopan setelah berbincang dengannya menambah nilai pada pribadi Litha.
__ADS_1
"Bolehkah saya ikut bergabung?"
Litha tersenyum, "Silahkan."
Andrew memesan secangkir teh peppermint tanpa kudapan.
"Apa Tuan sedang memiliki masalah dengan saluran pernapasan Tuan?" tanya Litha.
"Sedikit tersumbat pada rongga hidung. Nona tahu darimana saya memiliki masalah dengan saluran pernapasan?" Andrew takjub dengan sosok wanita yang duduk di hadapannya ini.
Litha tertawa kecil, *"Teh peppermint sangat baik untuk saluran pernapasan, biasa dikonsumsi pada orang-orang yang memiliki masalah dengannya."*
Litha menjawabnya dengan bahasa Inggris karena Si Bule agak kaku berbincang dengan bahasa lokal.
🙋 Dialog yang ditandai tanda bintang adalah penanda diucapkan dalam Bahasa Inggris ya Readers. Maafkan keterbatasan Author yang tidak bisa menulis dalam teks Bahasa Inggris. 🙏😁🙋
*"Wow, ternyata Bahasa Inggris Nona sangatlah baik,"* puji Andrew.
Itu dibuktikan dengan piala juara satu yang masih tersimpan di kamar mendiang ibunya.
*"Perkenalkan saya Andrew Laurent, dari Amerika Serikat. Bolehkah saya tahu nama Nona?"*
*"Panggil saja saya Litha,"* jawab Litha tersenyum tipis yang membuat Andrew terpesona.
*"Benar kata Kakek, gadis pribumi disini kecantikannya sangat memukau. Keindahan murni dari Sang Pencipta."* bathin Andrew senang melihat sosok Litha.
*"Nona sangat cantik, apakah Nona berasal dari kota ini?"*
*"Ya, ayah saya adalah penduduk asli kota ini, sedangkan ibu saya dari pulau seberang. Lalu Tuan sendiri?"*
*"Nenek dari Ibu saya juga asli penduduk Kota ini, baru kali ini saya menginjakkan kaki di tanah nenek moyang saya dan saya sangat menyukai alam Kota A. Apa Nona bisa merekomendasikan tempat-tempat yang menarik untuk saya kunjungi?"*
Litha menunjukan lokasi-lokasi yang populer di kotanya yang sering dikunjungi wisatawan luar maupun dalam negeri, tidak hanya itu Litha juga nyambung diajak berbincang mengenai trend yang sedang berkembang dimasyarakat, teknologi, seni, sosial budaya bahkan politik. Namun Litha tidak ingin membahas politik terlalu jauh, bukan kapasitasnya karena ia bukan anggota partai. Andrew sangat nyaman mengobrol dengan wanita yang baru saja dikenalnya. Litha tidak sadar jika ada ekor mata yang diam-diam mengawasinya dengan geram.
__ADS_1
Abyan yang mengamati kedua meja itu tergelak dalam hati melihat kegelisahan Ray akan istrinya yang didekati pria lain. Meski tidak secantik Ramona, Nyonya Mudanya memang memiliki daya tarik tersendiri bagi lawan jenis. Situasi terbalik, skenario awal dikatakan bahwa Litha yang mengawasi suaminya dan Ramona, tetapi sekarang malah jadinya Ray yang mengawasi Litha dan pria asing itu.
"Litha berbicara dengannya menggunakan bahasa apa ya? Karena mereka nampak sangat menikmati obrolan mereka tidak seperti Ray dan Mona, hahahaha .... " gumam Abyan.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu? Apa Anda menunggu seseorang?" sapa pelayan restoran yang sedari tadi melihat Abyan berdiri di tepi pintu tapi matanya ke dalam restoran.
"Ah, tidak. Saya hanya menunggu Tuan dan Nyonya saya. Tapi apakah Anda mengenal pria bule yang sedang berbincang dengan wanita muda di sana?" tanya Abyan penasaran.
"Oh, dia Mr. Laurent. Dia sudah menginap dua hari di hotel ini. Beliau dari Amerika berlibur disini, katanya neneknya warga asli kota ini."
Abyan mengangguk paham.
"Informasi lainnya, misalnya pekerjaan atau status?" tanyanya lagi pada pelayan restoran, namun ia terlihat enggan karena itu termasuk pelanggaran privasi tamu hotel.
"Tenang saja, aku hanya ingin tahu karena wanita yang ia ajak berbincang adalah Nyonya Mudaku. Dan aku akan menghargai setiap informasi yang Anda berikan."
Pelayan itu diam, mempertimbangkan penawaran Abyan, tidak ada ruginya pikirnya, toh informasi yang akan ia berikan hanya untuk konsumsi pribadi, tidak untuk disebarluaskan.
"Mr. Laurent pernah mengatakan pada salah satu housekeeper bahwa ia kesini ingin mencari pasangan hidup, karena menurut kakeknya, gadis asli Kota A sangat layak untuk dijadikan istri. Nenek Mr. Laurent memang berasal dari kota ini," jelas pelayan restoran itu.
"Makanya banyak pekerja di hotel ini yang mencari perhatian Mr. Laurent, siapa tahu jodohnya ada di hotel ini, hehehehe ... Siapa yang tidak mau dengan bule tajir, salah satu direktur AutoTech Inc. Jika saya perempuan saya juga akan melakukan hal yang sama, hehehehe ..... " sambungnya lagi terkekeh.
Abyan tercengang mendengar AutoTech Inc., bukankah Ray sedang berusaha membuka kerjasama dengan perusahaan tersebut sebab Pradipta Corp. kini tengah mengembangkan usaha pada bidang teknologi digital.
AutoTech Inc. dikenal sangat selektif untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Seketika Abyan ingat, saat ini proposal pengajuan kerjasama yang kemarin ia kirim masih tertahan di meja COO yang bernama Mr. Laurent, tapi ia tidak menyangka sama sekali kalau Mr. Laurent yang duduk semeja dengan Litha adalah Mr. Laurent, COO dari AutoTech Inc.
Abyan menarik nafasnya panjang sekali. Ia harus akui bahwa pesona Nyonya Mudanya sudah go internasional dan ia tidak bisa membayangkan reaksi Ray kalau mengetahui hal tersebut, bisa-bisa ia berubah pikiran untuk bekerja sama dengan AutoTech Inc.
- Bersambung -
Keterangan
COO (Chief Operating Officer) atau biasa dikenal excecutive vice president (direktur) yang memegang peranan dalam perkembangan produk, riset hingga marketing.
__ADS_1