Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Berteman dengan Coklat


__ADS_3

Langit malam itu tanpa bintang, hanya bulan bulat besar yang bersinar. Litha duduk menekuk kakinya sampai dada.


"Ternyata pemandangan dari taman barat tidak hanya indah di saat senja tapi juga di malam hari." Litha bermonolog dengan tatapan ke bulan.


"Ayah, apakah kau bisa melihatku disini? Aku sangat merindukanmu."


Saat ini ia sangat merindukan ayahnya, tempatnya berlindung dan dijaga. Ia ingat ketika Leon merangkulnya setelah memenangkan lomba sains ketika ia kelas 2 SMA, ayahnya dengan tegas menegur Leon, bahwa putrinya tidak bisa diperlakukan seperti itu.


'Jika kalian berteman maka bertemanlah yang baik, jangan membenarkan hal yang tidak seharusnya dengan dalih teman baik'


Semenjak itu Leon sangat menjaga sikap, tidak melakukan kontak fisik dengan Litha meski euforia kemenangan sulit dibendung untuk tidak bersentuhan. Litha pun juga demikian, ia sangat menjaga diri, sebisa mungkin tidak ada kontak fisik. Tidak hanya Litha yang diperingatkan seperti itu tapi kakak dan adiknya juga.


'Tidak ada yang bisa menghormati diri kita selain kita sendiri yang memulainya. Hormati, hargai dan cintai dirimu sebelum orang lain melakukannya.'


Nasehat-nasehat ayahnya menjadikan dia sosok seperti sekarang. Ia mencintai dirinya sendiri, percaya dengan dirinya sendiri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Ah, betapa ia merindukan ayahnya, rindu menangis di pelukan ayahnya kemudian ayahnya berkata sembari mengelus kepalanya, 'jangan menangis, sesuatu yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu, sayang.'


"Ayah, aku sudah tidak bisa menjaga diriku lagi. Aku lebih buruk dari Kak Tisha. Maaf Ayah..." Suaranya lirih. Litha membenamkan kepala di antara kedua lututnya.


"Maafkan aku, Litha."


Litha mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping, asal sumber suara. Ada wajah tampan Rayyendra yang dipenuhi cahaya bulan, terlihat sangat indah rupa pahatan sempurna dari Sang Pencipta.


"Untukmu," ujarnya lagi mengulurkan sebuah kotak berwarna emas diikat pita merah.


"Apa ini?"


"Sebuah permohonan maaf untukmu."


Litha mengernyit heran tapi ia tetap mengambil kotak itu. Dibukanya dan seketika matanya mengerjap senang. Siapa yang tidak senang diberi sekotak coklat premium bertabur serbuk emas di tiap bagiannya.


"Maaf untuk apa?"


"Menciummu."


"Yang dimana? Di lift atau di ruanganmu?"


"Menurutmu?" Ray menahan senyum, ia membathin mengapa wanita yang menjadi istri kontraknya sangat menggemaskan di matanya.


"Di ruanganmu."


"Hahahahahahahaha .... " Ray tergelak keras.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Litha bingung.


"Jadi yang di lift kau menyukainya?"


Mata Litha membulat, ekspresi yang sangat suaminya sukai. Ingin rasanya Litha menjitak kepala Ray, jengkel.


"Hahahahahahahahaha..... "


Litha kesal, namun Ray segera membujuknya, "Jangan marah, aku ingin berdamai denganmu. Maafkan aku dimanapun aku salah," ujarnya lembut.


Mendengarnya, hati Litha yang tadinya kesal kini telah mencair. Lelaki di sampingnya ini sangat kompleks. Ia bisa membuat Litha kesal setengah mati namun ia juga bisa membuat hati Litha meleleh tanpa bentuk.


"Cobalah. Ada sesuatu yang berbeda di tiap bagiannya," kata Ray menunjuk coklat di tangan Litha dengan matanya.


Ada 12 bagian coklat, Litha mengambil salah satu bagiannya, di masukkan coklat itu ke mulutnya sekaligus, ditunggu sebentar, semburat rasa sedikit asam buah strawberry menyeruak di dalam mulutnya. Litha merasai lebih lama, benar ada potongan buah segar didalamnya.


"Coklat ini coklat terenak yang pernah kumakan," seru Litha kegirangan.


"Rasa manis coklat dapat memicu hormon endorfin agar perasaanmu lebih baik."


"Ishhhhh.... itu kan kata-kataku," ujar Litha, wajahnya sedikit cemberut.


Ray mengambil satu bagian dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.


"Hei, kenapa kau makan? Kau kan sudah memberikannya padaku. Katakan potongan buah apa di dalamnya?" sungut Litha menjauhkan kotak coklatnya dari jangkauan suaminya.


"Mmmm ... mmm ... kupastikan ini potongan buah kiwi."


"Aaaaaaaaaa ... aku mauuu! Kiwi kesukaanku." teriak Litha memukul bahu Ray, ia masih cemberut.

__ADS_1


"Kalau kau suka nanti aku akan membelikannya lagi untukmu. Tapi sekarang aku mau kita berteman."


"Berteman?"


"Iya, jika kemarin kita layaknya orang asing yang didekatkan Nenek, aku mau berdamai dengan berteman denganmu, seperti halnya kau menganggap aku anak magang itu."


"Kak Leon maksudnya?"


"Ya, siapalah namanya. Dia mantanmu sewaktu SMA?"


"Hah!" Litha hampir saja tersedak coklat ditenggorokannya. Dia tidak pernah punya pacar semasa sekolah karena ayahnya sangat menjaga ketat ketiga putrinya.


"Bukan. Kak Leon hanya partner untuk mengikuti event atau lomba-lomba waktu sekolah. Kalau kau punya selemari penuh piala dan piagam penghargaan, aku juga punya." kata Litha pamer.


"Tapi aku tidak melihatnya di rumahmu."


"Ibu menaruh semua piala dan piagam penghargaan kami di kamarnya sebagai penyemangat melawan sakitnya."


"Ooooh.... jadi dia hanya partner? Bukan seseorang yang spesial begitu?"


"Ya, hanya partner tapi dia spesial."


"Apa maksudmu spesial?" nada suara Ray agak meninggi.


"Hahahaha ... Spesial karena kami saling mengenal dengan baik, bahkan ayah sering memarahinya seperti anaknya sendiri. Tapi diantara kami tidak ada hubungan apapun, makanya tadi aku sempat berpikir setelah bertemu dengannya lagi. Aku mau menjodohkannya dengan Ninda."


"Ah, ternyata dia mau menjodohkan dengan Ninda ya. Bon, kalau kau tahu, kau akan semakin membenci istriku hahahahahahahaha ..." Ray tertawa dalam hati.


"Apa yang kau lakukan disini malam-malam?" tanya Ray, ia sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya Leon.


"Dulu setiap sore hingga matahari terbenam, aku menemani Nenek yang merindukan Tuan Besar disini. Ternyata merindu itu menyakitkan."


"Apa kau merindukan seseorang?"


"Ayahku."


"Dia seperti apa?"


"Hanya lelaki biasa yang hangat dan penuh kasih sayang."


"Hah?!? Apa? Hahahahaha ... Ya ... ya ... sepertinya kau benar, Tuan."


"Terserahlah kau menganggap dirimu seperti apa, yang jelas ayahku tidak pernah membuatku menangis."


"Panggil saja dengan namaku," kata Ray. Litha mengernyit bingung.


"Jangan panggil Tuan, kecuali kau menyebutnya lengkap, Tuan Muda Suamiku. Panggil saja namaku, Ray," sahutnya lagi.


"Kenapa?"


"Kan, kita sudah berteman."


"Ah, ya, berteman."


Entah mengapa Litha lebih menyukai hubungan mereka layaknya orang asing yang perlahan saling mengenal ketimbang hubungan pertemanan.


Sayup-sayup terdengar keributan dari dalam rumah utama. Nama Rayyendra disebut berulang-ulang. Ray dan Litha bergegas masuk ke dalam.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Beberapa jam sebelumnya,


"Ray, sejak kapan kau punya ketertarikan pada wanita? Bukannya kau hanya tertarik dengan tumpukan dokumen di atas mejamu?" kata Bona tidak habis pikir.


Ray melirik Bona tanpa suara, lalu senyum-senyum sendiri.


"Tuan, Nyonya Muda pasti sangat malu. Anda menciumnya di depan kami," timpal Asisten Yan.


"Kenapa mesti malu? Aku kan suaminya." Ray menjawab enteng.


"Suami apaan. Suami kontrak maksudnya," celetuk Bona.

__ADS_1


Abyan dan Ray saling berpandangan, dari mana ia tahu status pernikahannya.


"Kalian berdua heran kan, aku tahu dari mana. Kalian ini anggap aku sahabat kalian apa bukan sih, sampai aku tahu dari Ramona."


"Ooohh... jadi Ramona embernya," gumam Abyan pelan.


Ray diam saja, pikirannya tidak ke Bona melainkan ke Litha, lalu ia bertanya pada Abyan, "Apa aku keterlaluan padanya, Yan?"


Abyan hanya mengangguk dan berujar, "Bagi Nyonya Muda, Tuan sangat merendahkannya."


"Makanya jangan asal nyosor. Kirain membujuk perempuan perkara mudah apa?" bathin Bona.


"Dia yang menyulut emosiku, padahal aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya anak magang itu"


"Buatlah nyaman dia berbicara denganmu, pasti dia tidak akan keberatan menceritakannya padamu. Bertemanlah dengannya." Bona memberi nasehat bak seorang tua yang sudah banyak makan asam garam.


Abyan yang melihat tingkah Bona hanya menggeleng-gelengkan kepalanya apalagi Ray terlihat antusias dengan apa yang Bona katakan.


"Kau menyarankan Ray berteman dengan istrinya sendiri? Sungguh aneh bin ajaib pemikiranmu. Tapi Ray lebih aneh lagi menanggapi serius saran Bona, hahahahaha ... Kalian ini sekolah dimana sih?" Abyan tertawa dalam hati.


"Tuan, belilah sesuatu yang disukainya. Sesuatu itu bisa untuk dipakai atau dimakan, tapi paling bagus sesuatu yang disukai untuk dimakan. Apa Tuan tahu makanan kesukaannya?" Abyan menyela sesi curhat Ray ke Bona, supaya Bona tidak menyarankan hal-hal yang lebih aneh lagi pada Ray.


"Mmm ... apa ya? Aku tidak tahu, tapi Litha pernah mengatakan, kalau dia menemui kesulitan, dia membutuhkan sesuatu yang hangat dan manis seperti susu coklat."


"Belikan saja dia coklat," cetus Bona.


"Kali ini saranmu masuk akal, Bon."


"Apa maksudmu, Yan?"


Bona bingung dengan kalimat saran masuk akal yang Abyan katakan barusan. Tapi Abyan tidak mempedulikannya, dia hanya berujar "Tuan, saya tahu tempat untuk mendapatkan coklat yang enak."


Tanpa menunggu lama mereka bertiga sudah tiba di tempat yang dimaksud Abyan. Sebuah kedai kecil yang dikelola pasangan suami istri berusia sekita 50 tahunan. Kedai yang hanya menjual coklat ini hanya membuat produknya berdasarkan request pembeli.


"Aku tidak tahu yang mana kesukaannya, Yan " bisik Ray.


"Aku akan memilihkan beberapa jenis potongan buah segar yang dimasukkan dalam tiap bagiannya. Coklat ini akan terasa manis dan segar, Nyonya Muda pasti menyukainya."


"Ah ... ya, kurasa dia akan menyukainya."


Karena coklat ini dibuat sesuai permintaan, maka harus menunggu 30-45 menit terlebih dahulu. Mereka dipersilahkan menunggu di bangku pelanggan yang sudah tersedia berbagai minuman kemasan di atas meja. Gratis, minuman tersebut salah satu service dari pemilik kedai.


Duduk melingkar bertiga di sebuah kedai, membawa nostalgia suasana kampus mereka di Amerika. Abyan yang melepas mode asistennya begitu akrab mengenang masa-masa kuliah bersama Ray dan Bona. Mereka sudah lama tidak seperti ini, bercerita tanpa sungkan dan batasan bahkan nama Ramona disebut beberapa kali.


"Ray, apa kau sudah tobat minum, hah? Kau mengikuti jejak Abyan? Padahal aku membuat Amore Club sampai sebesar itu karena termotivasi darimu. Agar kau punya tempat yang terjamin privasinya kalau ingin bersenang-senang."


"Kenapa alasanmu sama anehnya dengan saranmu sih, Bon?" Abyan menanggapi pertanyaan Bona, namun Bona masih saja tidak nyambung.


"Hahahahahahaha ... aku sudah menemukan jenis minuman baru yang lebih menenangkan dan mampu membantuku tidur lebih nyenyak. Aku meminumnya tiap malam sebelum tidur."


"Waaaahhhh... curang kau, Ray. Minuman jenis apa itu? Kenapa sampai tidak ada di bar-ku. Kau mendapatkannya dari klub mana, hah?"


Bona tidak terima jika ada jenis minuman beralkohol yang tidak dijual di klub malamnya. Abyan juga keheranan sebab Ray tidak pernah mengatakan sebelumnya, ia hanya merasa bahwa Ray sedang tidak ingin minum saja.


"Susu coklat hangat."


"Whaaaaattttt?!?" pekik Bona tidak percaya.


Abyan melongo sesaat lalu tergelak keras. Pria dingin hati yang disegani seluruh pebisnis di negeri ini meminum susu coklat hangat sebelum tidur menjadi hal yang sangat menggelitik hatinya.


"Yan, sejak kapan dia mau minum susu coklat? Kau ingat waktu musim dingin di tahun ketiga, Ray marah bukan kepalang saat dipesankan susu coklat hangat oleh Ramona," ujar Bona masih tidak percaya.


"Hahahahahaha ... tergantung siapa yang memberinya kalau begitu," jawab Abyan masih tergelak.


Ray baru menyadari bahwa dia telah membuka aib sendiri di depan sahabatnya. Untunglah Ray terselamatkan saat ibu pemilik kedai menyahut, "Tuan Abyan, coklat yang Anda pesan sudah jadi,"


"Yan, aku saja yang mengambilnya." Ray dengan segera berdiri dari duduknya untuk mengambil coklat yang sebenarnya itu adalah langkah penyelamatan diri.


"Terima kasih, Bu," ucap Ray ketika menerima sebuah kotak cantik berwarna emas berpita merah.


"Tuan, coklat ini dibuat oleh kami berdua, maka makanlah coklat ini berdua, walau hanya satu bagian, agar cinta kami yang ada di dalam coklat ini dapat menambah cinta antara Tuan dan pasangan Tuan," pungkas Si Ibu Pemilik Kedai Coklat sok tahu dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Ray mengulas senyum dan membawa kotak itu dengan sangat hati-hati bagaikan porselen yang mudah pecah.


- Bersambung -


__ADS_2