Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Menjelang Pagi


__ADS_3

Ramona menatap sendu pria yang masih menempati ruang di hatinya. Ia masih belum bisa menerima kalau Ray bukan jodohnya, mungkin butuh waktu tapi sayangnya waktu tidak berpihak padanya. Ah, menyakitkan sekali ...


"Ayah, aku ingin bicara sebentar dengan Ray," pinta Ramona, ia merasa ini kesempatan langka buatnya karena tidak melihat Asisten Yan di samping Ray.


Sebastian melirik sekilas ke arah Ray, kemudian meminta ditunjukkan ruangan dimana anaknya ditahan sementara pada Andika, Winda sudah menangis tersedu-sedu meratapi nasib malang putra kesayangannya.


"Baiklah. Kalau sudah selesai segera temui adikmu."


Ramona mengangguk. Ketika Andika mengantar pasangan suami istri Riguna, Ramona menghampiri Ray perlahan.


.


.


.


# Rumah Utama #


Suasana menjelang pagi di rumah utama tak jua bisa menenangkan hati Litha, ia tidak tidur sejak suaminya izin pergi ke kantor polisi. Tiba-tiba Litha takut, ia takut karena sudah banyak menikmati kebahagiaan beberapa bulan terakhir, terutama saat ulangtahunnya. Ia takut tinggal sedikit jatah kebahagiaan hidupnya yang tersisa.


Litha meraih ponsel, menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala, ingin menanyakan kabar suaminya tapi Ray tidak mengangkat teleponnya.


"Apa Mas Rayyendra sangat sibuk mengurus Bona?" gumam Litha.


Karena Ray tidak bisa dihubungi, ia menelepon Asisten Yan, namun ia sungguh terkejut mendengar asisten suaminya berada di Pradipta Hospital tanpa suaminya.


"Ninda terkena serangan panik lagi Nyonya. Ray menyuruhku segera untuk membawanya kesini karena Bona sedang dimintai keterangan oleh polisi. Mungkin saat ini Ray sibuk mengurus Bona sampai dia tidak mengangkat telepon Nyonya," kata Abyan di seberang telepon.


Secara garis besar Abyan memberitahu bahwa Evan dan Renata terjaring penggeledahan narkoba di klub milik Bona oleh kakaknya Ninda sendiri. Tidak berapa lama setelah menutup sambungan telepon dengan Abyan Litha langsung mengetik sesuatu di ponselnya.


Mas sibuk ya? Apa sedang melakukan hal yang penting sampai teleponku tidak diangkat? Tak apa, tapi aku minta izin ke rumah sakit melihat Ninda ya, aku anggap Mas mengizinkanku. Pakaianmu sudah kusiapkan, pagi ini sarapan sendiri dulu, sebagai gantinya nanti aku mampir ke kantor untuk menemanimu makan siang.


Litha mengirim pesan, lalu mandi dan bersiap ke rumah sakit.


.


.


.


# Kantor Polisi di Waktu yang Sama #


"Apa aku bisa berbicara denganmu sebentar di tempat lain? Aku tidak ingin ada yang salah paham," harap Ramona.


Ray melihat sekilas, tidak terlalu ramai sebenarnya tapi siapa yang tidak mengenalnya, dan ia tidak ingin ada yang salah paham seperti kata Ramona.


"Ah, aku lupa. Aku bukan siapa-siapa bagimu saat ini. Tak pantas rasanya aku meminta sesuatu darimu meski hanya kesempatan bicara."


"Tidak. Aku hanya memperhatikan sekeliling. Baiklah, mungkin kita bisa bicara di bagian belakang kantor."


Ray tidak bisa menolaknya, di matanya sekarang Ramona sedikit berubah, tidak memaksakan kehendak seperti dulu. Setelah bertanya pada petugas, Ray sudah sampai di belakang kantor yang dipakai untuk area parkir kendaraan roda dua petugas.


"Apa yang kau mau sampaikan?" tanya Ray berdiri sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana dan satu tangannya mengusap lehernya.


Ramona masih saja terpesona dengan penampilan mantan kekasihnya itu. Kaos hitam turtle neck yang dipadukan celana jeans, membuatnya terlihat lebih modis.


"Maaf, Ray. Aku meminta maaf atas adikku. Dia sudah membuat nama Pradipta corp. buruk," ujar Ramona menundukkan kepalanya.


Ray menghela nafasnya berat, ia tidak tahu harus berkata apa, hingga akhirnya, "Kau baik-baik saja?"


Mata gadis cantik itu terasa panas, Ray masih memperhatikan keadaan dirinya.


"Ya."


"Syukurlah. Kau harus lebih kuat sekarang, Mon."


"Entah apa aku bisa. Orang yang biasa menguatkanku sudah tidak ada."


Ramona menyindir lelaki di depannya yang disambut dengan senyuman yang makin meruntuhkan niat untuk melupakannya.


"Kau tidak perlu orang lain. Kau hanya perlu kuat di atas kakimu sendiri."


"Ray ..."


"Aku masih menyimpan perasaan untukmu. Tapi aku menyadari bahwa aku tidak bisa memaksamu untuk membalasnya. Pasti dia sangat bahagia dengan pidato penutupmu waktu itu. Hadiah ulang tahun yang sangat indah," ucap Ramona getir.


Ray diam, dia tidak suka terjebak di situasi seperti ini.


"Ada yang bilang, waktu akan menyembuhkan hati yang terluka. Tapi aku tidak tahu kapan waktunya sampai aku benar-benar bisa melepaskanmu," sambungnya masih dengan kegetiran yang sama.


"Mona, percayalah ... kau akan mendapatkan lelaki yang baik untukmu. Maka lepaskan perasaanmu padaku."


"Kenapa kau begitu baik padaku, Ray?"


"Karena kau pantas mendapatkannya. Kau wanita yang baik."


"Tapi tak cukup baik buatmu," tukas Ramona tajam.


Bunyi instrumen favorit istrinya bergema di saku celananya. Ray tahu istrinya yang menelepon tapi ia tidak ingin mengangkatnya sekarang.


"Mona ..."

__ADS_1


"Ya, aku tahu posisiku di hatimu."


"Bisakah jika kita bicara tidak membahas perasaan lagi."


"Maafkan aku. Aku selalu berusaha seperti yang kau pinta tapi ternyata faktanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apa aku bisa meminta pelukan terakhirmu, Ray? Bisakah kita berpisah dengan cara yang baik-baik seperti kita memulai hubungan? Mungkin dengan itu aku bisa lebih cepat untuk menghapus perasaanku padamu."


Ray tertegun, ada sebersit rasa iba dalam hatinya. Ramona berhasil membuat Ray merasa bersalah telah meninggalkannya.


"Baiklah. Aku memelukmu karena aku menganggapmu adik."


Perih. Hati Ramona terasa perih mendengar pengakuan Ray yang kini hanya menganggapnya seorang adik.


Cekrek.


Ray meraih tubuh Ramona.


Cekrek.


Ray memeluk mantan kekasihnya.


Cekrek.


Ramona menyandarkan kepalanya di bahu Ray dengan sendu, menghirup aroma maskulin yang sudah lama ia harap.


Cekrek.


Ray mengurai pelukannya, wajah mereka berdua saling berhadapan dengan arah pandangan ke netra masing-masing.


Cekrek.


"Lepaskan aku Ramona, demi aku dan dirimu." (Ray)


"Sial! Aku makin tidak bisa melepaskanmu. Maafkan aku, Ray. Cintaku terlalu dalam buatmu." (Ramona)


Mereka berdua tidak sadar akan kehadiran seorang anak muda pencari berita gosip online. Awalnya ia sengaja menuju bagian belakang kantor karena biasanya orang yang akan dimintai keterangan akan keluar dari pintu belakang untuk menghindari wartawan. Tapi yang ia dapati malah sebuah pemandangan luar biasa yang sayang ia lewatkan begitu saja tanpa di abadikan dalam kameranya.


"Mona, walaupun aku bersikap baik padamu bukan berarti aku akan memaafkan dosa adik dan ayahmu."


"Dosa? Dosa apa?" tanya Ramona kebingungan.


"Ray ... aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini."


Abyan tiba-tiba muncul mengagetkan Ray dan Ramona. Diliriknya gadis cantik itu, "Apa yang kalian lakukan berdua disini?"


"Kami hanya berbincang sebentar, dan sepertinya sudah waktunya aku melihat Lucas sekarang," kata Ramona pamit. Ia tidak nyaman berlama-lama di dekat Abyan.


Begitu Ramona meninggalkan mereka berdua, Ray mengambil ponsel dan mengecek panggilan masuk. Ia ingin menelepon balik istrinya, tapi diurungkan niatnya karena ada pesan masuk dari Litha. Setelah membacanya, Ray tersenyum sendiri, istrinya tahu bagaimana membuat hatinya senang.


"Tidak. Tidak ada. Dia hanya meminta maaf atas perbuatan adiknya karena membuat nama Pradipta Corp. menjadi buruk."


"Heh, kalau begitu apa harus disini? Apa tidak bisa di dalam?"


"Semua tahu Ramona mantan kekasihku. Aku hanya tidak ingin ada yang salah paham."


"Bodoh. Justru kalau ada yang melihatmu berdua di tempat sepi ini akan menimbulkan salah paham, Ray."


"Tidak ada yang lihat."


"Semoga saja, karena dinding punya mata dan telinga."


"Apaan sih, Yan. Oh ya, kau yang memberitahu Litha kalau Ninda di Rumah Sakit ya? Tadi dia meminta izin untuk kesana pagi ini," tanya Ray melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor polisi.


"Ya, awalnya Nyonya meneleponmu, karena kau tidak mengangkatnya jadi Nyonya meneleponku saat aku lagi menunggui orangtua Ninda datang," jawab Abyan mengikuti langkah Tuan Mudanya


.


.


.


# Ruang Tahanan Sementara Waktu yang Sama #


"Lucas ..." pekik Winda Riguna tertahan melihat kondisi putranya yang terluka di bagian kaki kirinya dan wajahnya yang habis terkena bogem mentah.


Renata diam-diam mengamati kedatangan orangtua Lucas sedangkan Evan tidak peduli, tatapan kosongnya membawa pikirannya ke sepupu kesayangannya yang pingsan di depan matanya. Ia geram dengan Renata tapi ia juga lemah di hadapan gadis yang mengajaknya kembali menikmati barang haram.


"Anak tolol !!! Apa yang ada dalam pikiranmu sampai menjadi pengedar, hah!" hardik Sebastian.


"Tuan Riguna, mohon kendalikan diri Anda. Ini kantor polisi. Jangan membuat keributan disini," sahut Andika.


Lucas tertunduk, ia teringat Tisha karena karena ucapan terakhir Ray.


"Katakan! sejak kapan kau memakainya?" tanya Sebastian menahan amarah, istrinya sudah mengucurkan airmata tiada henti.


"Ayah tahu bagaimana kondisiku sejak 5 tahun yang lalu--"


"Stop!!! Jangan mengungkit masa lalu, Lucas!"


"Aku tidak bisa keluar dari kubangan rasa bersalahku, Ayah. Aku membuatnya hancur bahkan kelu--"


"Sudah kubilang hentikan! ya hentikan anak dungu!" Sebastian meraih kerah kemeja putranya dan mendekatkan wajahnya ke telinga putranya, lalu ia berdesis, "Kau tahu kita dimana sekarang, kan Lucas? Jangan menggali kuburmu sendiri!"

__ADS_1


Winda melepaskan cengkraman tangan suaminya dari leher putranya, "Apa kau memakai narkoba karena rasa bersalahmu, Luke?"


"Ya Ibu, bahkan sampai sekarang pun bayangannya selalu ada dalam pikiranku. Aku tidak bisa melupakannya."


"Bodoh!!! Aarggghhh!!!" teriak Sebastian murka mendengar pengakuan putranya.


Bugh.


Kembali Lucas dihantam, kali ini oleh ayahnya sendiri. Andika langsung menahan badan Sebastian karena pria paruh baya itu merasa belum puas untuk menghajar putranya.


"Hah, apa?!? Apa aku tidak salah dengar? Luke yang suka merayu wanita tidak bisa melupakan seseorang di masa lalu. What the fu*ck dengan kedua laki-laki ini. Semua bersumber dari seorang wanita. Hahahahaha ... ah, aku jadi iri dengan wanita-wanita itu, tidak bisa dilupakan, hahahahaha ... " Renata menertai Evan dan Lucas dalam hatinya.


"Lalu kenapa kau jadi pengedar Luke? Kau tahu kan hukumannya menjadi pengedar sangat berat?" Winda bertanya lagi.


"Karena aku tidak punya uang untuk membelinya sejak ayah dipecat Tuan Muda sialan itu! Seluruh harta kita disita untuk mengembalikan kerugian yang Ayah buat. Aku butuh uang Bu! Dan bandar menjadikanku pengedar dengan bayaran tinggi selain aku bisa tetap menikmati shabu-shabu," jawab Lucas jujur.


"Idiot!!!" maki Sebastian keras,


"Ini semua gara-gara nenek tua itu. Kalau saja dia tidak mewasiatkan pernikahan itu, semua ini tidak terjadi. Aaarrgghhh ... "


Renata memicingkan mata, begitu juga dengan Andika, tapi mereka sama sekali tidak bisa mengurai benang merah yang terjadi. Jika saja Evan sedikit perhatian, bisa saja ia yang mengurainya.


Ramona masuk, ia baru saja selesai bicara dengan Tuan Muda. Dilihatnya adiknya sangat berantakan, kaki yang terluka dan wajah pun babak belur.


"Kau! ... Penyebab semua ini! Andai saja kau sedikit lebih pintar, semua ini tidak akan terjadi!"


Gadis itu terkesiap, kenapa tiba-tiba ia yang dituding ayahnya sebagai penyebab. Bukankah ini masalah Lucas?


"Tuan, sepertinya Anda harus keluar. Anda membuat suasana di ruangan ini tidak nyaman." Andika mengusir halus Sebastian dan dengan amarah yang nampak di wajahnya ia keluar.


"Luke, lupakan. Lupakan semuanya, lupakan gadis itu, dia sudah tidak memiliki apa-apa untuk kau cintai, bahkan kewarasannya pun sudah hilang," ujar Winda.


"Bagaimana bisa Bu. Aku masih mencintainya."


Plakk.


"Kau sama bodohnya dengan kakakmu! Terus mencintai orang yang tidak mencintaimu," geram Winda yang menyusul suaminya keluar ruangan.


Tinggal Ramona yang tertinggal di ruangan, baru kali ini ia melihat langsung adiknya yang menjengkelkan itu seperti pecundang. Ia tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu, "Lucas, apa mungkin Ayah pernah melakukan dosa di masa lalu tanpa sempat dihukum hingga kita anak-anaknya yang harus menanggung hukumannya. Sekarang kau tidak usah mengguruiku lagi. Posisi kita sama, sama bodohnya hahahahahahaha ... "


Renata semakin pusing untuk menguraikan benang merahnya, diliriknya Evan, "Van, apa kau tahu maksud mereka?"


"Cih. Aku tidak peduli urusan mereka. Aku hanya peduli dengan Ninda. Aku tidak menyangka sumber panic attacknya itu kamu. Ah, pasti dia akan mencaciku habis-habisan melihatku kembali menjadi pemakai. Go to the hell, Ren."


Renata menaikkan satu sudut bibirnya, mencibir.


Di luar Rayyendra menantang Sebastian dengan tatapan tajam, Sebastian juga tidak kalah sengitnya menajamkan ekor matanya.


Bona yang sebelumnya sibuk memikirkan keadaan Ninda ikut terperangah melihat adu pandang antara sahabatnya dan Sebastian, seperti ada peperangan tak kasat mata diantara mereka.


"Kau beruntung lahir dengan selamat, dan sekarang berani menantangku."


Pada akhirnya Sebastian yang membuka suaranya duluan.


"Lahir dengan selamat? Hah! Bisa-bisanya dia berkata seolah-olah dia sudah mengenalku sebelum aku lahir!" kata Ray dalam hati.


"Ray, tidak usah ditanggapi. Ayo kita selesaikan urusan Bona dan segera tinggalkan tempat ini."


Abyan yang mengetahui sejarah hidup keluarga Rayyendra sebelum ia lahir dari pamannya mencoba mengalihkan perhatian Ray. Jangan sampai Ray gegabah menghadapi manusia licik seperti Sebastian.


.


.


.


# Halaman Depan Kantor Polisi #


"Aihh, lama sekali kita menunggu tidak ada satupun yang keluar dari tadi, hanya seorang gadis yang pingsan. Mana matahari sudah mau terbit dan kita belum mendapatkan berita apapun," keluh salah satu wanita yang menunggui kantor polisi sejak ia menerima informasi seorang artis tertangkap tangan saat transaksi narkoba.


"Kak ... Kak ... Kau tahu aku dapat apa?" teriak seorang anak muda sambil setengah berlari padanya.


"Apa? Apa kau berhasil dapat informasi itu benar Renata?"


"Bukan. Berita ini bisa menjadi trending saat sarapan nanti."


"Tapi belum ada kepastian dari kepolisian kalau artis yang tertangkap itu Renata, kalau kita dituntut bagaimana?"


"Siapa yang bilang tentang Renata. Ini tentang Tuan Muda Pradipta," ujar Si Junior tengah berbisik yang membuat seniornya mengerutkan alis.


"Lihat! Bagaimana pendapatmu Kak, tentang seorang pria yang kemarin menyedot perhatian publik karena pidato penutupnya ditujukan untuk Sang Istri di sebuah acara wisuda, ternyata di belakang istrinya berpelukan erat dengan mantan kekasihnya?"


Si Senior nampak berpikir, "Jangan harap aku menaikkan berita itu. Tuan Muda pasti menghabisiku."


"Kak, kita sebarkan melalui media sosial dengan akun palsuku. Kita buat trending, dan ketika sudah trending hanya Kakak yang kuberi kabar eksklusifnya. Acara Kakak pasti banyak yang nonton. Akan ku manipulasi IP saat memosting foto-foto itu untuk mengelabui Tuan Muda jika ia mencoba melacak akun palsuku."


"Kau benar, selama kita semua menunggu kabar resmi mengenai penangkapan Renata dari polisi, kabar ini bisa menaikkan rating acaraku. Kalau begitu lekas segera posting, Zar, dan biarkan jari netizen yang membantu kita memviralkannya. Kalau kau bisa membuat heboh, aku akan memberimu bonus," ujar Si Senior semangat sembari menepuk pundak Nezar.


"Siap Kak."


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2