
Malam ini akan diselenggarakan ulangtahun Pradipta Corp. di Amarga Hotel & Convention Centre. Litha ingat, setahun yang lalu ia mendampingi Nyonya Besar menghadiri acara ini, tidak disangka sekarang ia mendampingi cucu congkaknya.
Ulang tahun Pradipta Corp. bertepatan juga dengan ulang tahun mendiang Nyonya Besar. Pagi hari sebelum Ray ke kantor ia menyempatkan diri berkunjung ke makam Neneknya bersama Litha, gadis yang diwasiatkan untuk menikah dengannya 10 bulan yang lalu.
Ray mencium tangan Litha yang digenggamnya, "Nek, kali ini aku bawa gadis kesayanganmu kesini. Pasti Nenek sangat senang, kan? Apalagi sekarang ada calon anak kami di perutnya, usianya sudah 8 bulan. Semoga kelahirannya nanti diberikan kelancaran."
Litha tersenyum memandang suaminya.
"Hadiah terakhir yang Nenek berikan adalah hal terbaik dalam hidupku, meski aku sempat menolaknya, tapi Nenek memaksanya dengan ancaman yang tidak bisa kutolak saat itu." Ray meletakkan tangan mereka yang bertaut di dadanya, Litha makin mengembangkan senyumnya.
"Tapi dia jahat Nek. Cucu kesayanganmu ini membuat perjanjian pernikahan dan dia melanggarnya sendiri. Aku diperkosanya dan dia menganggap itu sesuatu yang bisa dibayar oleh uang. Dia memanfaatkan keadaan ekonomi dan kesusahan keluargaku saat itu,"
"Eh, apa-apan ini, kenapa dia mengungkit masa lalu?"
Ray dan Abyan terhenyak mendengar pengaduan Litha. Sudah bisa dipastikan, kalau Nyonya Besar masih hidup, ia akan marah besar pada cucunya.
"Tapi, takdir kami tidak sampai disitu, Tuhan menitipkan janin dalam perutku hingga tumbuh dan berkembang dengan sehat sampai sekarang. Anak inilah yang menjadi alasan aku untuk menerima Mas Rayyendra. Dia berhasil membuatku yakin kalau tidak akan menyakitiku lagi dan ternyata benar, sampai sekarang ia bisa membuktikan janjinya kecuali--"
"Duh, kecuali apa lagi sih, Sayang? Untung Nenek sudah meninggal, kalau tidak habis aku. Kau pengadu sekali," bathin Ray.
"Kecuali yang kemarin aku ceritakan ke Nenek."
"Apa?!? Kapan kau kesini?" tanya Ray bingung dalam hati.
"Tapi, semua sudah berakhir. Aku sudah melepaskan semua ganjalan di hati. Sekarang aku cuma mau bilang sama Nenek, aku bahagia, Nek ... Sangaaattt bahagia, tidak ada yang lebih membahagiakan aku saat ini selain bersama cucu congkakmu ini ... Selamat ulang tahun, Nek. Besok-besok kami akan datang berempat."
"Ah, Litha-ku Sayang ... Terimakasih sudah berbahagia bersamaku," bathin Ray lagi dengan mengusap kedua ujung matanya.
"Loh kok berempat?" Ray mengernyit bingung.
"Kan, nanti sama anak kita."
"Bukannya jumlahnya bertiga."
"Cih. Mas kira yang di belakang Mas itu bukan manusia apa?"
"Tapi--"
"Hisshh ... Asisten Yan yang selalu ada untukmu tidak kau anggap, terlalu sekali."
Ray mendengus sebal, sedangkan Abyan hanya tertawa kecil.
"Selamat ulang tahun, Nek. Malam ini seperti biasa akan ada perayaan. Kami sangat merindukanmu," ucap Ray tersenyum.
"Hei!! Lain kali beritahu aku kalau kalian kesini!"
Tiba-tiba muncul suara, semuanya menoleh ke arah sumber suara. Firza datang dengan sebuket bunga Lily putih, bunga favorit Nyonya Besar.
Firza memeluk Ray, kemudian Abyan, pada Litha ia hanya menundukkan kepala, sebab Ray akan marah jika istrinya disentuh pria lain meski hanya berjabat tangan.
"Selamat ulang tahun, Nek--" Firza meletakkan bunga di atas makam, "Aku mau protes! Kenapa Nenek hanya mewasiatkan pernikahan pada Ray saja. Apa Nenek melupakanku? Lihat, aku kesulitan mencari pasangan, sedangkan Ray sibuk memamerkan kemesraannya."
Mereka bertiga tertawa mendengarnya, "Sebenarnya kau tidak kesulitan mencari pasangan, Za. Kau yang terlalu pemilih,* ucap Ray berseloroh.
"Padahal pilihanku tidak sulit, kurang lebih seperti istrimu."
"Sialan kau, Za." Ray meninju lengan Firza.
"Aku serius, Ray."
"Sekali lagi kau katakan, aku menganggapmu serius."
"Lah, memang serius kok."
Ray ingin meninju Firza lagi, tetapi lelaki itu berlari menghindar.
"Awas kau, Za!"
Firza tertawa dan mereka pun saling berkejaran di antara makam-makam.
"Apa mereka tidak sadar, bermain di dalam kompleks pemakaman?" tanya Litha heran melihat suami dan kakak iparnya berlarian sambil tertawa dengan pakaian formal seperti bocah yang sedang bermain.
"Pasti Nyonya Besar bahagia melihatnya. Tidak ada kebencian lagi antara mereka, dan itu berkat Anda, Nyonya."
Litha tersenyum, ia tahu mereka terlambat untuk menikmati waktu bersama tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
...***...
Penampilan vintage Litha dengan dress warna maroon bermodel off shoulder dan rambut disanggul bun sederhana menjadikan penampilannya berkelas. Ana merias wajah cantik Litha dengan sangat baik sehingga auranya keluar semua.
Ray terpesona melihat istrinya yang bagaikan bidadari di matanya. Berkali-kali ia menelan salivanya melihat tulang selangka Litha yang mulus dan menggoda.
"Pantasan dari kemarin ia berpesan jangan menggigitnya di bagian dada, bahu dan leher. Ternyata kau ingin pamer kemulusanmu ya. Huh! tidak akan kubiarkan."
Setelah Ray mengusir Ana keluar kamar, ia mendekap istrinya, menahan kedua tangannya yang mulai berontak dan tanpa basa basi ia berikan jejak kepemilikan di sepanjang bagian tubuhnya yang terbuka.
__ADS_1
"Mas!!! Ihhh!!! Sudah bagus kau menahan gigitanmu beberapa hari ini, sekarang malah kau beri. Lihat! Bagaimana bisa aku pergi dengan keadaan seperti ini. Ihhhh!!! Menyebalkan sekali!! Dasar maniak!!!"
Litha sangat kesal, torehan suaminya kini bertebaran dimana-mana dan sangat jelas terlihat karena kulit Litha yang terang.
Ray hanya terkekeh tidak peduli dengan umpatan istrinya, "Rasakan! Siapa suruh mau pamer! Silahkan! Sekalian pamer kalau kau milikku hahahahaha ..."
"Dasar mesum!" umpat Litha masih kesal dan beranjak ke walk in closet, mencari sesuatu yang bisa menutupi dada dan lehernya.
Ray makin terkekeh, ia keluar kamar dan memanggil Ana, "An, kembalilah ke dalam, Nyonya sedang kesal, lakukan sesuatu untuk menghilangkan kekesalannya."
Ana segera berlari ke dalam, ia cemas apa ada kesalahan yang ia buat. Sesampainya di dalam, Ana menahan tawanya karena ternyata Nyonya Muda kesal mencari sesuatu untuk menutupi pekerjaan suaminya.
"An, bantu aku, bagaimana caranya menutupi ini semua."
Ppfffttt ...
"Kau jangan tertawa ya, nanti kalau kau bersuami juga akan merasakannya."
"Kikikikik ... Ehhmmm ... Iya Nyonya, suami sebuas Tuan Muda kikikikik ..."
Litha semakin bertambah malu, "Ah, aku tidak usah pergi saja kalau begitu," katanya merajuk.
"Ja-- jangan Nyonya. Saya akan mengakalinya, Nyonya tetap harus pergi ke pesta itu karena Nyonya adalah bintangnya."
Dengan tangan terampil, Ana memberikan syal dari bahan silk warna beige, dikenakan menutupi bagian bahu dan dada, untuk leher, sanggul bun yang sudah ia tata sebelumnya, ia gerai dan dibuat sedikit bergelombang. Kini, tampilan Litha sangat berbeda, bukan lagi vintage melainkan chic style yang sesuai dengan kepribadian Litha yang ramah.
Lagi-lagi Rayyendra dibuat seperti cacing kepanasan, dengan penampilan istrinya sekarang, Litha justru menunjukkan keanggunan seorang wanita yang berhati hangat.
"Shitt! Kenapa dia tetap saja memukau. Ah, bisa gila aku kalau dia terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang. Jangan harap kuizinkan kau bekerja, Lith." gumamnya sendiri dalam hati.
"Nyonya malam ini sangat cantik," puji Abyan yang langsung disikut perutnya oleh Ray. Bukannya kesakitan, malah ia cengengesan dan sengaja dengan suara yang keras, "Apa kau mau aku bilang Nyonya jelek. Maaf Nyonya, Anda jelek sekali malam ini."
Spontan Ray melempar sebuah pajangan di meja konsol yang berada di ruang tamu.
"Ray! Kau gila! Itu koleksi mendiang Nyonya Besar," ujar Abyan sembari menangkapnya.
"Terserah! Dan kau Litha, jangan buat gerakan yang menarik perhatian orang," sahutnya dengan nada tinggi sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Cih. Kalau begitu tidak usah buat perayaan pesta kalau kau ingin menutup mata semua orang," Abyan masih melanjutkan ocehannya yang diikuti gelak tawa Litha yang membenarkan pendapat asisten suaminya.
"Abyaaaaannn ...!!!"
.
.
.
"Hentikan senyummu!" desis Ray tidak suka.
"Mas harus tahu, dulu kata-kata mutiaraku semasa SMP adalah senyumku untuk semua orang tapi hatiku hanya untuk seseorang," balas Litha berbisik.
"Itu dulu. Sekarang senyummu dan hatimu hanya untuk seseorang."
"Tidak mau."
"Harus mau."
"Tidak."
"Sejak kapan kau memban--"
"Mari kita beri sambutan untuk kedatangan Tuan dan Nyonya Pradipta," sahut MC dengan suara membahana dan semuanya langsung bergemuruh bertepuk tangan, "Dan untuk pertama kalinya Nyonya Pradipta hadir di tengah-tengah kita semua. Sekali lagi beri tepuk tangan yang meriah."
Wajah Ray yang memang dingin sedari awal makin bertambah dingin melihat semua mata berpusat pada Litha yang tidak ia pungkiri, istrinya memancarkan aura yang istimewa meski sedang dalam keadaan hamil besar.
Litha, Ray dan Firza duduk dalam satu meja, meja VIP. Abyan berdiri di belakang Ray, sedangkan Bona dan Ninda terlihat duduk di meja lainnya.
"Litha cantik sekali ya, Bon," komentar Ninda pada Bona, ia takjub dengan penampilan sahabatnya yang sangat jauh berbeda dari pertama ia kenal dulu.
"Cantikan kamu."
"Haisshh ... itu karena kamu takut sama pacarmu kan jadi bilang begitu."
"Hmmm ... tidak juga. Cantik itu relatif kan, buatku pribadi yang paling cantik ya Ninda Kusuma. Dia membuatku gemas dengan keimutannya, sampai rasanya ingin kugigit-gigit dia."
Ninda tersipu malu dengan rayuan gombal Bona, tapi sebenarnya itu bukan rayuan, itu fakta. Wajah Ninda yang masih seperti remaja SMA membuatnya sangat gemas. Kalau ia tidak mengingat ayah dan kedua abang Ninda yang mengerikan, sudah habis bibir dan leher Ninda digigitnya. Lebih aman ia bersabar menunggu untuk Ninda yang memulainya sendiri, tapi kapan???
Satu demi satu acara dilewati termasuk acara tradisi ulang tahun, yaitu dansa yang mengawali kontak fisik pertama kali antara Litha dan Ray setahun lalu.
Tahun ini, Litha tidak bisa berdansa waltz dengan Ray karena kondisi badannya. Sebagai gantinya, Ray akan memberi Litha kejutan. Ray izin pamit sebentar ke belakang, nyatanya ia tengah mempersiapkan diri untuk tampil solo bermain piano.
🎼🎵🎶🎶🎵🎶🎶🎵🎶🎶
Denting piano terdengar indah, Litha sangat hafal alunan instrumen ini. River Flows in You milik Yiruma dimainkan dengan apik. Wanita cantik itu menikmatinya dengan tersenyum, menutup mata dan mengayun-ayunkan badannya, kedua tangannya ditangkupkan ke dadanya mendengar instrumen yang selama ini membantunya self healing dari kesedihan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Nyonya, lihatlah siapa yang memainkan instrumen itu," kata Abyan pelan.
Seketika gerakan Litha terhenti dan membuka matanya, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat. Retina Litha menangkap sosok yang sangat dikenalnya luar dalam tengah asyik memainkan jari-jarinya di atas tuts piano.
"Aaaaaa ..."
Litha memekik tertahan menutup mulutnya ketika menyadari bahwa yang memainkan instrumen itu adalah suaminya sendiri. Matanya berbinar-binar seakan-akan semua bintang di seluruh galaksi Bima Sakti berkumpul di netra putri mahkota itu. Keharuan luar biasa dirasakan karena sosok penyembuh lukanya memainkan instrumen yang menjadi sarana penyembuh luka bathinnya. Litha benar-benar terbebas dari sakit hati di masa lalu, hilang tak berbekas seiring dengan airmatanya yang mengalir membentuk aliran sungai di pipi.
Tak dinyana, Litha langsung berdiri dan berlari menuju suaminya, ia tidak dapat menahan rasa haru dan bahagianya. Kontan Ray berhenti dan berdiri, ia pun juga berlari menuju istrinya, bukan karena apa, ia takut Litha akan terjatuh atau tersandung. Istrinya ini sangat sering lupa kalau ia sedang hamil.
Langkah panjang Ray menyudahi lari istrinya tepat di tengah-tengah area dansa tanpa mereka berdua sadari. Kening mereka saling bersentuhan meski Ray terlihat seperti menunduk.
"Itu-- Itu instrumenku," ucap Litha masih berairmata, yang di balas anggukan suaminya.
Abyan bergerak cepat menuju bagian teknisi sound, ia minta instrumen yang dimainkan Tuan Muda barusa agar lanjut diputar melalui pengeras suara dan lampu dipusatkan ke tengah area dansa.
Alunan indah instrumen kembali mengudara, Ray dan Litha seperti terhipnotis. Litha mengalungkan kedua lengan di leher suaminya yang juga memeluk pinggangnya. Kening mereka masih menempel.
"Instrumen ini sangat mencerminkan dirimu, Litha-ku. Ada sungai yang mengalir indah dalam dirimu. Dalam sejarah diceritakan bahwa sungai merupakan sumber kehidupan manusia sehingga banyak peradaban yang muncul di sekitar sungai. Seperti dirimu, kau lah sumber kehidupanku, peradabanku."
Wajah Litha merona, bunga-bunga bermekaran di hatinya, dengan menatap dalam netra suaminya, bibirnya berkata, "Aku mencintaimu."
Rayyendra tidak menjawabnya, ia membalas ucapan istrinya dengan mema*gut lembut bibir ranum milik istrinya dengan penuh perasaan cinta, Litha pun membalas pagu*tan suaminya lebih menghanyutkan. Mereka lupa kalau mereka sedang berada di tengah banyak mata yang takjub menonton secara live romansa cinta CEO mereka.
Blamm...
Seluruh lampu tiba-tiba menyala, semuanya kaget kecuali Abyan karena dirinya yang mengangkat tuas pusat penerangan di ballroom tersebut.
Prok ... Prok ... Prok ...
"Kami berbahagia untukmu Tuan dan Nyonya," teriak Bona dari tempatnya diiringi tepuk tangannya dan tepuk tangan Ninda yang sangat kencang.
Prok ... Prok ... Prok ...
Semuanya mengikuti apa yang Bona dan Ninda lakukan. Ray dan Litha baru menyadari dimana kaki mereka berpijak.
"Ya ampun, Mas ... apa mereka melihat apa yang kita lakukan tadi?" tanya Litha menahan malu.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan." Ray menarik tangan Litha untuk duduk kembali. Litha jalan dengan wajah tertunduk sembari mengelus perutnya yang bergerak-gerak.
"Kau tega sekali menyiksa kaum jomblo, Ray," sahut Firza begitu mereka sudah duduk.
"Tuan Pradipta memang sangat senang pamer kemesraan, padahal dia mendapatkan Nyonya juga karena mendiang Nyonya Besar," timpal Abyan menyindir.
"Itu namanya takdir. Aku memang ditakdirkan sebagai tulang rusuk Mas Rayyendra, hanya caranya saja melalui wasiat Nenek. Kalian juga akan memiliki tulang rusuk kalian dengan cara masing-masing dan tidak bisa ditebak. Jangan mencela orang lain, bisa jadi cara kalian menjemput jodoh lebih seru untuk dijadikan bahan ledekan."
Hahahahaha ...
Ray tertawa, "Kalian tidak bisa membalas kata-kata istriku, kan? Lidahnya lebih tajam dari ibumu, Yan. Hahahhaha ... "
"Sudah terlihat siapa yang mendominasi kalau di dalam kamar kalian," ujar Firza tidak mau kalah.
"Heh. Ya, Litha memang mendominasi saat di dalam kamar, hanya di kamar, tapi tidak di atas ranjang. Dia seperti anak kucing manis yang penurut."
"Sialan kau, Ray!!!"
Firza dan Abyan mendengus kesal bersamaan yang membuat Litha terbahak sampai memegangi perutnya.
.
.
.
Sebagai Presdir, Ray harus menyapa seluruh tamu undangan yang hadir, terutama kolega bisnis Pradipta Corp. Kebanyakan dari mereka memuji cara mencintai pasangan ini yang sangat romantis.
Litha tadi terlalu bersemangat dan sekarang merasa kurang nyaman dengan perutnya, ia ingin istirahat dan merebahkan badannya di kasur. Saat Ray mendekatinya, Litha merengek, "Mas aku lelah sekali, pengen pulang."
"Tapi aku belum selesai berbincang dengan para kolega. Ada wacana untuk pengembangan bisnis baru, Sayang. Tidak enak jika aku tinggalkan dan membiarkan Firza menghadapi mereka sendirian."
"Aku pulang duluan saja, minta dijemput sama Pak Sas."
"Kalau mau rebahan bisa pakai kamar khusus Nenek saja, Lith, minta Ninda yang menemanimu."
"Jangan, Mas. Hubungan Ninda lagi bagus-bagusnya dengan Bona, biarkan mereka menikmati waktu mereka. Lagian kalau di rumah ada Bibi Lidya yang bisa aku mintai tolong untuk memijatku."
"Baiklah, nanti Abyan yang mengubungi Pak Sas menjemputmu. Aku juga akan segera pulang jika sudah selesai," ucap Ray sambil mengecup kening Litha.
Litha mengangguk. Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengar percakapan mereka. Penyusup berbaju pelayan hotel itu menghubungi seseorang dan mengabarkan sesuatu pada suara di seberang telepon.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf beberapa hari terakhir ini agak telat updatenya ya Kak, kesibukan real life tidak bisa ditunda ...
__ADS_1
Salam sehat buat semuanya ...