
Bandara Heathrow, London, sedang sibuk-sibuknya ketika Firza akan terbang ke tanah air. Ia dijadwalkan menghadiri sidang disiplin di kantor pusat Pradipta Corp. esok lusa. Namun, wajahnya tengah gusar dengan informasi dari Detektif Zeth yang baru diterimanya.
'Kita sudah bertahun-tahun mencarinya, Detektif, dan hampir membuahkan hasil, mengapa sekarang kita menemui jalan buntu? Coba kau telusuri ulang kembali, pasti ada yang kau lewatkan. Kuharap Detektif segera menemukannya.'
Setelah mengetik pesan teks itu, Firza segera mengganti mode ponselnya ke mode pesawat terbang karena ia akan segera berangkat.
Selama hidupnya ia tidak pernah menggunakan pesawat pribadi milik Keluarga Pradipta, baginya duduk di kelas bisnis seperti sekarang ini lebih dari cukup. Seorang pramugari cantik sedang memperagakan petunjuk keselamatan, semua mata tertuju padanya namun tidak dengan Firza. Pikirannya terganggu dengan satu nama, Fathia Isabella.
Setelah pesawat take off, ingatan Firza kembali ke sejarah kelam hidupnya.
"Ayaaaaahhhh ... !!!!!!"
Seorang anak lelaki berumur tujuh tahun berteriak histeris melihat ayahnya masuk ke dalam rumah yang tengah terbakar hebat. Badannya yang kotor memeluk erat adik perempuannya yang terus menangis memanggil ibunya.
Keluarga Firza merupakan salah satu korban hebatnya si jago merah di daerah pemukiman padat penduduk di salah satu sudut ibukota. Ayahnya masuk kembali ke dalam rumah setelah menyelamatkan Firza dan Fathia, adiknya. Namun sayang, ayah dan ibunya tidak tertolong karena angin saat itu berhembus kuat sehingga pemadaman yang dilakukan memakan waktu.
Ia sibuk kesana kemari dengan panik, bingung dan kalut. Fathia yang saat itu berumur tiga tahun, ia dudukkan di sebuah warung tidak jauh dari rumahnya yang terbakar, Firza memintanya agar tidak kemana-mana sampai ia kembali.
"Ayahhhhh, Ibuuuuu...... "
Teriak Firza kecil menahan tangisnya, ia menyaksikan tubuh kedua orangtuanya gosong tak dikenali, hanya petunjuk kedua jasad mereka ditemukan berpelukan di dalam rumah mereka. Ia shock dan terjatuh ke tanah, air matanya mengalir deras. Ia lupa dengan adiknya yang menunggunya di warung hingga akhirnya menghilang sampai saat ini.
Firza kecil luntang-lantung tidak karuan, tidak ada sanak saudara atau keluarga yang mau menampungnya setelah menjadi yatim piatu. Tahun demi tahun ia lewati dengan hanya bergantung pada belas kasihan orang dan dari barang-barang bekas yang ia pungut dari jalan sambil mencari adik perempuannya.
Namun sebuah takdir merubah hidupnya enam tahun kemudian saat ia menemukan dompet di depan restoran mewah yang kebetulan ia lewati.
"Dompet siapa ini? Sangat bagus sekali, pasti baru saja dijatuhkan oleh Nyonya yang barusan keluar."
Didikan bahwa jangan mengambil apapun yang bukan menjadi haknya dari kedua orangtua Firza melekat kuat dalam jiwanya. Ia berlari mengejar dengan sekuat tenaga mobil mewah itu sambil berteriak-teriak dan melambaikan tangannya yang memegang dompet.
"Nyonya ... !!! Dompet Anda !!! Nyonya !!! Dompet Anda !!!"
Ternyata pemilik dompet itu adalah Nyonya Besar Pradipta, CEO Pradipta Group kala itu. Nyonya Besar kagum akan kejujuran dan kegigihan Firza yang mengejar mobilnya, lalu membawanya ke rumah utama dan diperkenalkan dengan cucunya, yang berusia tiga tahun lebih muda darinya.
"Anggaplah Ray sebagai adikmu dan temanmu, Firza. Dia sekolah di rumah, makanya ia tidak punya teman. Temannya hanya Pak Sas dan Pak Is," pinta Nyonya Besar.
Firza mengangguk senang. Ia mendapatkan tempat bernaung yang layak dan seorang adik juga teman. Mereka berdua sangat akrab, bermain, belajar, bercanda dan kompak mengerjai Pak Is dan Pak Sas. Sifat ceria anak-anak Rayyendra muncul kembali setelah sekian lama menjadi anak pendiam.
Hingga suatu saat Firza diangkat sebagai salah satu Keluarga Pradipta secara resmi dan berhak menggunakan nama Pradipta di belakang namanya, sikap Ray berubah. Ray sangat membenci Firza, ia menganggap Firza ingin mengambil Neneknya. Perasaan itu terus bercokol bertahun-tahun meski Nyonya Besar memberi pengertian bahwa apa yang Ray pikirkan itu salah.
Firza pun menjadi serba salah. Sebenarnya ia tidak bersedia menerima nama Pradipta, baginya sudah cukup ia diberi tempat tinggal, makanan, pakaian dan pendidikan yang sangat layak. Ia tidak ingin serakah, bahkan tidak pernah berpikir untuk merebut Nyonya Besar dari Rayyendra. Namun, pada akhirnya Firza menerimanya karena berharap dengan nama Pradipta ia bisa menemukan adik perempuannya yang hilang dalam keadaan hidup atau mati.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Rayyendra terkejut mendapati Firza dan istrinya tengah asyik berbincang sembari melakukan sesuatu di dapur rumah utama sepulang kerja.
__ADS_1
"Asisten Yaaaannnn ...," seru Litha antusias melihat Abyan berdiri di belakang suaminya.
Rayyendra tambah terkejut dan wajahnya semakin ditekuk, mengapa istrinya lebih dulu menyapa Abyan yang dibelakangnya padahal ia yang didepan dan terlihat lebih jelas oleh pandangan Litha.
"Hai, Ray, kau sudah pulang? Bagaimana kantor hari ini?" sapa Firza.
"Kenapa kau ada disini?" ketus Ray tidak menjawab pertanyaan Firza malah menilik apa yang dibuat Litha.
"Aku baru tiba tadi siang. Aku ingin melihat adikku dan adik iparku sekalian makan malam."
Ray mendengus sinis mendengar jawaban Firza.
"Asisten Yan, sini! Sesuai janjiku, aku membuatkan ini. Kau bisa makan sepuasnya."
Litha melambaikan tangannya ke Asisten Yan agar dia melihat sebuah nampan yang Litha siapkan untuknya. Sebuah nampan berukuran besar yang isinya lalapan lengkap dengan sambalnya dan tentu saja banyak potongan terong bakar disana. Asisten Yan langsung meneguk salivanya, ngiler.
"Apa itu?"
"Ini namanya lalapan, Tuan Muda Suamiku. Ini bukan makananmu, makan malammu sudah disediakan Pak Is di meja. Ini khusus untuk aku, Asisten Yan dan Kak Firza yang baru datang, kebetulan ia mencari menu ini juga."
Ray terlihat tidak senang, mengapa ia dibedakan oleh istrinya. Litha lebih memperhatikan Abyan dan Firza ketimbang suaminya sendiri.
Namun tidak dengan Firza, sebutan Tuan Muda Suamiku dari Litha untuk Rayyendra terdengar mesra dan manis. Hatinya kecut, bagaimanapun hatinya masih milik Litha meski ia pandai berpura-pura. Di depan Litha Firza mengatakan bahwa ia sudah menganggap Litha sebagai adiknya.
Litha, Firza dan Abyan saling berpandangan. Ray tidak pernah makan lalapan apalagi makan menggunakan tangan.
"Suapi aku!" perintahnya setelah semua duduk di meja makan. Litha sedikit kurang nyaman dengan sikap manjanya Ray di depan Asisten Yan dan Firza.
"Aku kan tidak bisa makan dengan tangan. Apa aku harus menyuruh Asisten Yan menyuapiku," tukasnya lagi.
"Kalau kau tidak biasa makan lalapan dengan tangan, ya makan makananmu sendiri Tuan Muda. Aku kan, juga ingin makan, masa habis aku menyuapimu, tanganku menyuap ke mulutku sendiri. Ishhhhh...." (Litha)
"Hufffttt ... Ray ... Ray ... merepotkan orang saja. Istrimu juga mau makan, malah disuruh meladenimu." (Abyan)
"Apa kalian akhirnya saling mencintai? Litha tadi menyebutmu Tuan Muda Suamiku, sekarang kau tidak canggung meminta suap pada Litha. Jika kalian memang saling cinta, aku mengikhlaskan Litha untukmu, Ray." (Firza)
🙋 Firza belum dengar saja Ray memanggil Istriku Sayang ke Litha. Kalau dengar hatinya makin tercabik-cabik. 🙋
Tidak ada pilihan lain, Litha kan, memang pelayan pribadinya, itu tertuang dalam kontrak perjanjian mereka. Tapi Litha juga sudah sangat lapar dan tidak bisa membiarkan sambal yang menggiurkannya untuk menunggu setelah menyuapi suaminya. Malas tahu dengan keadaan, Litha menyuap juga ke mulutnya setelah tangannya menyuap ke Ray. Abyan yang melihatnya hanya bergumam dalam hatinya, "Kontrak yang kalian buat akan menjadi perangkap buat kalian sendiri."
"Ray, besok sidang disiplin. Kau sudah menyiapkan mentalmu. Apa Ramona tidak memohon padamu?" tanya Firza.
"Sidang disiplin? Sebastian? Ramona? Ada apa ya? Kepo jadinya, kan. Ah, sudahlah, itu urusan mereka. Tapi apa ada hubungannya dengan Ramona menginap kemarin ya?"
"Mona memang memohon padaku, tapi kukatakan padanya kali ini kau yang turun tangan. Lakukan apa yang menurutmu seharusnya dilakukan. Aku akan mendukungmu demi Pradipta Corp," ujar Ray.
__ADS_1
"Semoga Sebastian tidak mendendam nantinya dan bagaimana hubunganmu dengan Ramona nantinya?"
"Ramona tidak ada hubungannya dengan perbuatan Sebastian. Dia akan baik-baik saja, sudah kuberikan ia penjaga yang bergantian menjaga selama 24 jam di apartemennya."
"Hahhh!!! Kau memang luar biasa, Tuan Muda. Begitu perhatian padanya, ternyata kau memang sangat mencintainya hingga kau menjaganya dengan baik sekali."
Tanpa Litha sadari ia mengambil banyak sambal untuk disuapkan dengan nasi ke mulut Rayyendra. Ray yang menerimanya, langsung mencari air minum untuk menghilangkan pedisnya.
"Lith, kira-kira dong kalau nyuapin sambalnya!" protes Ray.
"Masih untung kusuap ke mulutmu daripada kusuap ke matamu." gerutu Litha sambil mencebik.
"Ray, kuharap kau tetap berhati-hati, setahuku Sebastian orang yang licik. Dia punya banyak cara untuk menjatuhkan orang yang dia tidak suka." Firza memperingatkan Ray bahwa Sebastian bisa lebih gila dan jahat dari yang terlihat. Bukan tanpa alasan Firza berpendapat seperti itu karena ia sudah melihat tindak tanduk Sebastian di kasus kakaknya Litha.
"Tenang saja. Sebastian tidak akan mengalahkanku jika ia mau berperang denganku. Justru dia yang menjadi makanan an**ng nantinya."
"Jangan jumawa kalau makan sambal saja masih kelabakan cari air," timpal Litha sambil menyuapkan suapan terakhir ke suaminya. Ray hanya bisa melirik sebal padanya.
Pppfffffttttt ....
Abyan menahan tawanya sambil mengunyah timun. Hanya Litha satu-satunya orang yang bisa menyela omongan Ray tanpa takut, lucunya lagi Ray tidak marah, padahal dia bisa mengamuk kalau ada yang menyelanya. Brang-barang disekitarnya tidak akan selamat begitu juga orang yang menyelanya.
Hal itu juga yang disadari Firza, ia terpana melihat reaksi Ray yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dalam hatinya ia membenarkan pilihan Nenek mewasiatkan pernikahan untuk Ray dan Litha, karena hanya Litha yang bisa mengimbangi arogan dan kasarnya seorang Rayyendra.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Suasana di gedung kantor pusat Pradipta Corp. hari ini sangat menegangkan. Jadwal sidang disiplin akan dilaksanakan jam sembilan waktu setempat. Sebastian dan enam orang anak buahnya yang terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang merugikan perusahaan.
Sidang ini di tangani langsung oleh Wakil Presdir, ia datang dari London hanya untuk memotong kanker yang sebenarnya dari dulu sudah menggerogoti. Rayyendra selaku Presdir telah memberikan wewenang penuh padanya, dia akan menyetujui semua tindakan yang akan diambil oleh Wakil Presdir.
Di ruang rapat, Sebastian dan enam anak buahnya tidak berkutik dihadapkan dengan bukti dan saksi yang lebih kuat dari yang dipaparkan kemarin pada saat rapat. Kini ia hanya berharap dari usaha putrinya membujuk Presdir untuk mengampuninya seperti waktu lalu.
"Kami memutuskan nama-nama yang saya sebutkan diatas dijatuhi sanksi pemutusan hubungan kerja dengan tidak hormat beserta mengganti semua kerugian yang ditimbulkan pada Pradipta Corp. Apabila yang bersangkutan tidak mengganti kerugian tersebut, maka kasus ini akan dikenakan hukuman sesuai hukum yang berlaku di negeri ini."
Firza dengan tegas mengakhiri sidang disiplin, Sebastian menahan amarahnya hingga nampak kemerahan di wajahnya, tidak ada pembelaan atau dispensasi sedikitpun dari Presdir, maka ia bisa pastikan Ramona telah gagal melakukan tugasnya.
"Dasar anak tidak berguna!!! Memohon saja tidak becus! Sekarang ayahmu jatuh miskin dan kau harus bertanggungjawab," geramnya setelah dewan direksi, Wakil Presdir dan Presdir meninggalkan ruangan.
"Tuan, bagaimana dengan kami? Anak-anak kami masih kecil," rengek salah satu anak buahnya yang ikut terlibat.
"Jangan tanya padaku! Aku tidak tahu!" bentak Sebastian.
Kini mereka menyesal mengapa mau dibujuk rayu Sebastian untuk melakukan hal yang tidak benar. Sekarang hanya tersisa penyesalan, namun tidak dengan Sebastian, yang tersisa padanya justru dendam dan kebencian terhadap Keluarga Pradipta.
- Bersambung -
__ADS_1