
Gubrakkk.
Nezar tertabrak seorang gadis cantik, berkulit putih susu dan berambut panjang lurus sepunggung berwarna hitam legam.
"Ma-- maaf," kata gadis itu nyaris tak terdengar.
Nezar terpesona melihat kecantikan alami gadis itu meski matanya bengkak karena kebanyakan menangis. Setelah mengucapkan maaf dengan pelan ia segera berlari lagi meninggalkan pesonanya di hati Nezar.
"Zar, kamu dari mana? Baru saja siuman sudah ngelayap lagi. Ah, kali ini kamu benar-benar bikin repot. Mana beritaku keduluan reporter yang lain lagi," gerutu Senior mendapati Nezar di selasar rumah sakit menuju ruang kamar inap VVIP.
Nezar tidak merespon, ia masih terpesona dengan gadis yang baru saja menabraknya. Akibat mendonorkan darahnya dua kali lipat dari yang biasa pendonor lakukan ditambah semalaman ia harus terjaga demi sebuah foto yang eksklusif dan sebuah kabar yang membuat hatinya juga gelisah, ia pingsan setelah mengambil gambar di depan ruang operasi.
Pemuda berambut ikal itu tadi ingin memastikan kabar yang ia dengar dari seorang perawat yang mengatakan jika salah satu korban tragedi tadi malam masih dalam masa kritis dan berada di ruang ICU setelah operasi. Sedangkan yang satunya, menunggu observasi dari dokter karena operasinya berhasil.
"Zar! Woyy!!!"
"Kak, pakai fotoku dan buatlah sedramatis mungkin redaksi Kakak nanti," kata Nezar masih melihati selasar yang kosong karena embun pagi masih bersembunyi di balik dedaunan.
.
.
.
Di satu sudut rumah sakit, Firza penasaran dengan yang dikatakan Abyan bahwa Ramona adalah putri Sebastian yang diadopsi ketika menjadi korban kebakaran.
"Detektif Zeth, lakukan saja perintahku. Selidiki masa lalu Sebastian Riguna. Orang yang paling bertanggungjawab atas tragedi tadi malam. Juga kudengar kabar putrinya bukan anak kandungnya, ia diadopsi dari korban kebakaran," perintah Firza pada detektif yang selama ini ia gunakan jasa untuk mencari adik kandungnya. Meski ia tidak menyukai Ramona tapi ia tidak bisa mengabaikan informasi yang tidak sengaja Abyan utarakan.
"Baik, Tuan."
.
.
.
Di Ruang Anggrek 01, Litha tergolek lemah tidak berdaya, efek bius masih menguasainya. Setelah diobservasi setelah operasi, kini ia dipindahkan di kamar inap untuk perawatan. Operasinya berjalan lancar, bayinya pun dalam keadaan baik, meski sempat terjadi penurunan tekanan darah saat operasi.
"Nia, kamu tunggu kakakmu disini ya sama Ninda. Aku akan ke ruangan duka dan ke pemakaman Pak Sas. Kalau kakakmu sadar, jangan katakan yang sebenarnya. Katakan saja ada hal penting yang harus ku lakukan. Aku takut dia shock, dia baru melewati masa kritisnya," ucap Ray berpamitan pada Vania yang baru saja datang dari Kota A.
"Baik Kak, sampaikan salam bela sungkawaku pada keluarganya Pak Sas."
Vania langsung dijemput Ray untuk ke Ibukota. Sepanjang perjalanan dari berangkat sampai tiba di rumah sakit, ia tidak berhenti menangis. Hal yang paling ditakutinya adalah jika kakaknya meninggalkan dirinya seperti ayah dan ibunya. Jika itu terjadi, gadis cantik itu tidak lagi memiliki alasan untuk hidup.
Ray tidak tidur semalaman, meski sudah mencuci mukanya dan berganti baju, tetap saja wajah lelahnya tak bisa ia tutupi, Semalaman hatinya seperti diterpa badai, menunggu kepastian keadaan istri dan anaknya. Ia tidak ingin mengalaminya lagi, Ray merasa lalai dalam menjaga keluarganya hingga Pak Sas harus mengorbankan nyawa untuk Litha. Karenanya, ia letakkan penjaga di segala penjuru rumah sakit terutama di lantai dan di depan kamar inap istrinya Setiap dokter dan perawat yang akan masuk, terlebih dahulu harus menunjukkan kartu identitas dan dicocokkan dengan nametag berbarcode yang dimiliki mereka sebagai identitas pekerja di rumah sakit.
Sebelum pergi, lelaki bertubuh tinggi tegap dan bermata tegas itu mengecup kening dan mengelus pipi istrinya, lalu mengelus dan mencium perut istrinya. Hatinya penuh haru dan rasa syukur, ia masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
.
.
.
Di ruang duka yang masih berada di gedung rumah sakit, Pak Sas disemayamkan. Pihak keluarga menunggu Tuan Muda untuk selanjutnya memakamkan pria yang telah mengabdikan hampir 35 tahun hidupnya pada Keluarga Pradipta.
__ADS_1
Ray memasuki ruang duka, semua yang berada di ruangan itu langsung berdiri memberi hormat. Bibi Lidya, Abyan, Bona, Pak Is dan Pak Prasojo berada di samping peti jenazah. Mata mereka sembab terutama Bibi Lidya.
Ray menengok sebentar ke arah pintu setelah mendengar suara langkah berderap. Firza baru saja datang, ia menunduk sebentar, lalu mendekatinya.
Dari Firza, Ray baru mengetahui kalau Abyan adalah keponakan Pak Sas. Hatinya bercampur aduk rasanya, ia pun tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakan saat ini. Pak Sas dan Pak Is adalah orang terdekat setelah Neneknya di masa kecil hingga ia meninggalkan rumah utama untuk bersekolah di luar negeri. Bahkan semua kepengurusan apapun selama ia di negeri Paman Sam, diurus dengan sangat baik oleh Pak Sas.
Mengetahui Abyan adalah keponakan Pak Sas dan kakak dari Bibi Lidya membuat Ray lemas saat mendengar kabar tersebut. Ada penyesalan, rasa bersalah dan kesedihan pada raut wajahnya. Ia pun juga tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahukan ini semua pada Litha nanti. Istrinya pasti akan sangat terpukul. Di rumah utama, Pak Is dan Pak Sas sangat memanjakan dan menuruti kemauan istrinya, layaknya seorang ayah ke anak.
Ray memeluk Bibi Lidya tanpa mengucapkan apapun selain kata maaf berkali-kali. Alhasil, Lidya kembali meneteskan airmata. Saat memeluk Abyan, Ray tidak sanggup berkata apapun, ia hanya memeluk erat sahabatnya dalam waktu yang cukup lama.
"Bagaimana keadaan Nyonya, Ray?" tanya Abyan kemudian, masih dalam posisi berpelukan.
"Dasar! Di saat seperti ini kau masih menanyakan istriku. Pikirkanlah Pamanmu."
"Apa yang mesti pikirkan? Pamanku sudah meninggal. Aku hanya memastikan keadaan Nyonya agar ia tenang disana karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik."
Ray mengurai pelukannya, "Litha sudah melewati masa kritisnya, tapi aku bingung bagaimana nanti menjelaskan kalau dia menanyakan Pak Sas."
Abyan menepuk lengan atas Ray, "Ya, sebaiknya jangan beritahu dulu. Kalau Nyonya bertanya, carilah alasan."
Ray tersenyum kecil, lalu ia berjalan mendekati peti jenazah dan melihat wajah lelaki yang sering ia kerjai dulu sewaktu kecil untuk terakhir kali.
"Terimakasih Pak Sas, sudah mengabdikan diri pada keluarga Pradipta. Mengisi kenangan masa kecilku di saat aku kehilangan seorang Ayah. Berkatmulah aku menjadi kuat dan tangguh seperti sekarang. Semoga Pak Sas beristirahat dengan tenang disana. Sampaikan salam buat kedua orangtuaku, Kakek juga Nenek. Katakan bahwa tugasmu telah terlaksana dengan baik. Aku menemukan kebahagiaan bersama keluargaku disini."
Ray menyusut sudut matanya dengan punggung jari telunjuknya, kemudian membungkuk memberi penghormatan terakhir.
.
.
.
Di bawah salah satu pohon di area pemakaman, ada sepasang mata mengawasi. Seseorang yang kini menjadi buron dan yang paling bertanggungjawab pada peristiwa di Jalan Perkawanan tadi malam.
Dalam lubuk hatinya ia menyesal, bagaimanapun juga mereka berlima adalah saudara tak sedarah yang dulu mereka ikrarkan di pinggir sungai karena persamaan nasib yang sama, yaitu menjadi manusia-manusia terlantar. Tapi dirinya sendirilah yang membuatnya terbuang dari persaudaraan itu karena kedengkian dan ketamakan.
...***...
Lima hari telah berlalu.
Litha diperkenankan pulang untuk rawat jalan. Ia tidak diperbolehkan menonton siaran TV dan mengakses media sosial oleh Ray demi menjaganya dari berita peristiwa yang hampir merenggut nyawanya.
Ramona Citra Riguna, salah seorang korban tembak oleh ayahnya sendiri yang kini menjadi buronan, tengah koma. Ia mengalami hypovolemic shock yaitu keadaan berkurangnya volume darah akibat pendarahan hebat (exsanguinasi) dari luka tembak di dekat paru-parunya. Luka tersebut menyebabkan pneumothorax (kondisi teperangkapnya udara diantara dinding dada dan paru-paru dan membuat paru-paru tertekan) sehingga pasokan oksigen di organ vitalnya berkurang atau yang disebut juga hypoxia dan kerusakan fatal pada susunan syaraf pusat. Hidupnya kini ditopang oleh alat-alat medis seperti halnya Sasmita sebelum meninggal.
.
.
.
Semenjak sadar, Litha selalu menanyakan kabar Pak Sas dan ia juga selalu mendapat jawaban diplomatis bahwa ia harus sembuh benar untuk menemui Pak Sas yang lagi beristirahat. Jawaban itu tidak sepenuhnya salah, hanya saja memiliki banyak arti, arti kiasan dan arti sebenarnya.
"Pelan-pelan ..." kata suaminya ketika Litha akan duduk di tepian ranjang.
Litha mengangguk dengan senyum samar, "Aku sangat merindukan kamar ini, Mas."
__ADS_1
"Beristirahatlah. Kau pasti lelah. Lukamu belum sembuh benar. Kalau butuh sesuatu tinggal pencet tombol ini dan bicaralah. Pak Is dan Bibi Lidya akan membantumu. Jangan beranjak dari ranjang kecuali ke kamar mandi dan itu harus dibantu. Kau bisa memanggilku kalau aku ada di rumah. Kalau aku tidak ada, Vania atau Bibi Lidya akan membantumu," ujar Ray mewanti-wanti dengan memberikan sebuah interkom yang menggunakan wireless.
Litha tersenyum sumringah, ia bahagia dirawat dan dijaga sepenuh hati oleh suaminya. Bahkan selama ia masih di rumah sakit, Ray juga berkantor di sana, segala rapat menggunakan virtual dan semua keputusan penting dipercayakannya pada Firza. Ia hanya fokus pada istri dan bayi yang berada dalam perut istrinya. Bahkan untuk menyuapi makan, ganti baju, menyeka badan dan urusan ke kamar mandi Ray sendiri yang turun tangan langsung.
"Terimakasih, Mas sudah membuatku sangat nyaman."
Ray mengecup pucuk kepala istrinya, "Meski begitu aku tetap merasa bersalah membiarkanmu pulang sendiri malam itu. Andai saja aku pulang bersamamu pas--"
"Mas tahu kan aku tidak suka berandai-andai. Semua yang terjadi sudah ketentuan dari Tuhan. Berandai-andai hanya membuat kita semakin menyesali dan tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Sudah ya ... aku tidak mau mendengarnya lagi. Bagiku masih diberi kesempatan untuk bersama Mas dan anak kita, itu melebihi dari segalanya."
Ray memeluk istrinya, ia mengangguk saja tapi dalam hati rasa penyesalan tetap ada apalagi mengingat pengorbanan Pak Sas.
"Mas, Pak Sas masih di rumah sakit?" tanya Litha sambil hendak berbaring yang dibantu suaminya.
"Sudah, istirahat saja dulu. Pak Sas baik-baik saja, dia pasti sangat bahagia melihatmu cepat pulih dan anak kita juga dalam keadaan sehat."
"Nanti kalau ketemu Pak Sas, sampaikan salamku ya, dari Litha, bukan Nyonya."
Ray mengernyit heran.
"Aku memintanya untuk memanggil namaku saja jika tidak ada orang lain, karena aku menganggapnya seperti ayahku."
Ray tersenyum, namun ada kesedihan di wajahnya.
"Senyumnya kok gitu? Mas tidak suka ya kalau Pak Sas menyebut namaku langsung? Maaf, hanya saja aku--"
"Tidak ... Tidak apa-apa."
Ray mengusap-usap kepala Litha dan menciumnya sebentar sebelum keluar kamar.
"Mas, apa aku boleh menonton TV dan membuka media sosialku? Aku merasa ketinggalan dengan tidak tahu berita terbaru," pinta Litha sebelum suaminya menutup pintu.
"Tidak, Tidak boleh ... Kau baru boleh melakukannya beberapa bulan setelah melahirkan bayiku. Kalau kau butuh hiburan, nikmati saja drakor favoritmu."
"Hah!?! Apa aku tidak salah dengar. Bagaimana bisa aku--"
"Sudah. Patuhi saja suamimu, semua yang ia lakukan adalah yang terbaik untuk istri dan anaknya. Sekali kau melanggar, kau akan menerima hukumannya."
"Apa hukumannya?" tantang Litha sedikit kesal.
Sudut bibir Ray terangkat satu. "Kau malah tidak bisa menonton drama atau film atau apapun itu. Kau hanya menonton wajahku yang tampan ini sampai kau muntah."
"HAH!?!"
Sedetik setelah mengakhiri kalimatnya Ray langsung menutup pintu kamar, ia tidak peduli teriakan dan rengekan istrinya yang kesal padanya.
"Maaf Sayang, aku tidak bisa mengambil resiko lagi. Jika kau menonton berita atau mengakses media sosial, kau akan tahu kalau orang yang sudah kau anggap ayah tewas karena melindungimu, pasti kau akan sangat sedih." bathin Ray gusar.
Ia melarang keras kepada semua pelayan dan penjaga untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Nyonya Pradipta jika ia bertanya tentang peristiwa itu ataupun Pak Sas. Ray akan memproteksi penuh istrinya, paling tidak sampai beberapa bulan setelah ia melahirkan.
...***...
Malam-malam Firza beberapa hari terakhir ini sungguh menyiksa. Waktu terasa sangat lambat berjalan setelah ia mendapati fakta dari Detektif Zeth tiga hari yang lalu. Ramona Citra Riguna diadopsi oleh pasangan Riguna saat berumur kurang lebih tiga tahun karena dia salah satu korban kebakaran yang merenggut seluruh keluarganya. Dengan ciri-ciri dan perkiraan usia Fathia kecil yang hilang juga lokasi kebakaran yang sama, tempat keluarga mereka dulu tinggal seharusnya cukup sebagai petunjuk Ramona Riguna adalah Fathia kecil. Namun Firza tidak ingin gegabah, ia butuh keyakinan 100%.
Dengan perasaan yang campur aduk, dihari yang sama saat ia menerima informasi itu, Firza mengambil sehelai rambut Ramona yang koma dari ruang ICU. Dia akan mengetes DNA gadis itu dengan DNA-nya. Itu akan menjadi bukti akurat yang bisa dipegang apakah Ramona adik kandungnya atau bukan, dan ia harus menunggu setidaknya dua minggu lagi.
__ADS_1
- Bersambung -