Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
CRF : Menginjakmu Lebih Dulu


__ADS_3

Ceklek.


Mata Ninda terbelalak menatap pintu bilik di depannya yang akan terbuka, sedetik kemudian seorang wanita hamil keluar dari dalam dengan tersenyum lega karena sesak di tubuhnya menghilang. Tapi senyumnya ikut menghilang ketika matanya menangkap sosok yang tidak ia sukai karena selalu mengusiknya.


"Tidak kusangka bertemu denganmu disini. Apa tidak salah kau berganti pakaian di tempat umum?" Ramona mulai memprovokasi Litha.


Litha menghela nafasnya panjang, menenangkan hatinya yang mulai diliputi emosi. Ia sengaja tidak mau membalas perkataan wanita tinggi itu, semakin ia meladeni, semakin menguras emosinya nanti, lagipula ia tidak mau terlibat kontak fisik dengannya.


"Ayo, Nin, udara di sini membuatku sesak," ajak Litha ke Ninda untuk keluar, ia tidak menggubris Mona.


"Iya, Tha."


Mata Ninda awas mengawasi gerakan Mona, ia tidak ingin Mona menyentuh sahabatnya.


"Heh! Kau menghindar? Tidak kukira kau se-pengecut ini menghadapiku? Karena apa? Karena kau merasa bersalah kan? Bersalah merebut semua milikku. Baguslah kau cukup tahu diri."


Mona terus saja memancing emosi Litha. Benar saja, Litha akhirnya terpancing. Dengan tenang ia menantang manik Mona.


"Aku hanya merasa melakukan hal yang sia-sia dengan meladeni semua provokasimu. Hanya itu!"


Suara datar tapi penuh penekanan, Litha sedikitpun tidak takut pada wanita yang perawakannya lebih tinggi 12 cm darinya, ia hanya khawatir pada bayi dalam perutnya. Tangannya refleks memegang perutnya, memberikan perlindungan. Di sampingnya, Ninda masih mengawasi mereka.


"Provokasi kau bilang?!? Itu fakta. Kau-- kau pencuri!"


"Aku minta maaf kalau kau merasa aku telah merebut semua milikmu, meski aku tidak merasa."


"Aku tidak akan memaafkanmu!"


"Aku meminta maaf tidak untuk kau maafkan. Itu urusanmu dan aku tidak peduli. Jangan mengusikku lagi!"


Litha sangat jengah dengan situasinya sekarang, ia merasa lebih sesak sekarang ketimbang saat ia memakai baju kaos tadi. Ia sudah tidak mau melihat Ramona lagi, terlebih bayi dalam perutnya terasa bergerak-gerak seakan tahu isi hati ibunya. Litha ingin segera keluar dari ruangan sempit ibu.


Namun, Ramona tidak mudah melepas kesempatan ia tidak sengaja bertemu rivalnya, tangannya sudah mengudara niat menjambak rambut Litha yang tergerai indah. Ninda yang sedari tadi diam tapi awas, langsung menangkap tangan itu sebelum niat Ramona terlaksana.


"Kau! Jangan ikut campur! Aku tidak pernah mengganggumu!" pekik Ramona berang, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ninda.


Litha kaget, ia tidak menyangka Ninda akan melindunginya.


"Apa tanganmu itu selalu melakukan perbuatan buruk, Nona? Sayang sekali wajah cantikmu tidak cocok memiliki tanganmu ini," sindir Ninda kemudian melepas kasar tangan Ramona.


"Besar juga nyalimu, tidak sepadan dengan badanmu, hahah!"


"Kau kira karena aku lebih pendek darimu aku akan menundukkan kepalaku di hadapanmu? Kau salah, Nona! Justru aku akan terus mengangkat kepalaku untuk melihat wajahmu yang sombong itu," geram Ninda dengan mendongakkan wajahnya ke muka Ramona.


"Ayo, Nin, tidak usah dihiraukan." Litha mengajak Ninda agar berhenti meladeni Ramona dan segera keluar dari kamar ganti wanita ini.


"Tidak, Tha. Aku mau lihat sampai dimana ia bisa berulah padaku. Kau mengusik Litha sama saja kau mengusikku."


"Whoaaahhh ... hebat sekali kau memiliki teman seperti dia, Pencuri! Tapi aku akan menyarankan kepada Semut Kecil ini cara agar tidak salah memilih teman." Ramona menunjuk Ninda dengan arogan.


"Siapapun tidak ingin menjadi temanmu, kau penuh dengan kamuflase."


"Kau-- berani sekali padaku. Apa kau tidak tahu atau malah tidak sadar diri, dengan tubuh stunting-mu ini sangat mudah untuk kuinjak."


Pada akhirnya justru Mona yang terprovokasi hingga ia mengancam Ninda dengan menunjuk Ninda sekali lagi dengan telunjuknya menyentuh dahi Ninda dengan keras. Tapi, gadis mungil itu tidak melangkah mundur, kepalanya tetap terdongak.


Litha saja yang lebih tinggi dari Ninda masih kalah tinggi dari Ramona, apalagi jika mau membandingkan antara Ninda dan Ramona, tinggi badan mereka sangat jauh jaraknya.


"Ternyata tanganmu itu memang selalu melakukan hal buruk ya? Kuberitahu, Nona Tinggi! Aku tidak stunting, aku imut, tapi kau tidak akan pernah bisa menginjakku karena aku yang akan menginjakmu lebih dulu."


Brapp .....


Ninda menginjak satu kaki Ramona sekuat tenaga hingga ia mengaduh nyaring. Dengan senyum sinis Ninda menggandeng tangan Litha yang menganga tak percaya melihat kelakuannya untuk segera keluar dari kamar ganti itu.


"Kurang ajarrr ... !!!" maki Mona yang diakhiri dengan mengaduh kembali karena kakinya benar-benar sakit.

__ADS_1


.


.


.


Bona yang mendengar langsung perseteruan mereka sangat cemas sambil celingukan di setiap kamar ganti wanita yang ia temui, namun kemudian, pria yang nampak seperti Idol Korea membelalakkan matanya, hatinya berdegup kencang.


"Kau, Ninda ... aku pernah melihatmu memukuli Evan tapi tidak segarang ini. Kalau Mila Mili mengatakan Litha keren, kau lebih keren ... Kau bisa mengalahkan Mona hahahahaha ... pasti wajah Mona saat ini sangat jelek hahahahaha ... "


Bona segera kembali ke adik kembarnya yang masih berceloteh tentang Litha dan Ninda.


"Semua sudah siap di garis Start, sebentar lagi dimulai. Kalian ke sana duluan, Kakak akan menunggu Ninda."


"Oke!" sahut mereka bersamaan.


Saat Mila Mili beranjak, Bona menyeletuk, "Kalian benar, Litha keren tapi lebih keren Ninda-ku."


"Whaaaaaaaaa ..... Ninda-ku!!! Aseeeekkkk!!!" pekik Mili heboh berjingkrak-jingkrak.


"Gas Kakak ... Nanti keduluan yang lain, nyesel lho ..." timpal Mila tak kalah heboh.


"Kami lari duluan ya Kak," seru Mila Mili barengan sambil berlari ke arah garis Start.


.


.


.


Litha masih menatap Ninda tidak percaya kalau sahabatnya seberani itu, padahal postur tubuh Ramona jauh lebih besar dari Ninda.


"Nin, kau sadar apa yang kau lakukan barusan?"


Mereka berbicara sambil berjalan.


Litha terenyuh mendengarnya lalu dipeluknya sahabat yang ia kenal semenjak menginjakkan kaki di kampus, yang juga teman sekamar kost. Sudah tidak terhitung berapa banyak suka duka yang ia alami bersama Ninda, sebagai pengalih kesedihannya selama ia belum mendapatkan cinta suaminya. Kali ini ia menyentuh bagian terdalam hati Litha, tidak peduli dengan badannya yang mungil Ninda tetap berdiri di depan Litha melindungi dan melawan rasa takutnya sendiri.


"Terimakasih, Ninda. Aku tidak tahu hidupku bagaimana kalau aku tidak mengenalmu," Litha mengurai pelukannya sembari mengusap ujung matanya yang sedikit berair.


Ninda menarik simpul di bibirnya, "Aku juga tidak tahu hidupku kalau aku tidak mengenalmu, Litha. Kau yang membuatku kembali menemukan keberanian dalam diriku."


"Hei, ponakan! Kau beruntung mendapat Ibu dan Bibi seperti kami, hehehehe ..." ujarnya lagi sambil mengusap perut Litha.


"Kejadian tadi jangan beritahu siapapun, yang nantinya akan sampai ditelinga Suamiku ya, Nin-- Eh, Ninda, larinya sudah dimulai. Kau terlambat!" seru Litha melihat sekumpulan orang-orang berbaju putih bergerak maju.


"Ah, ya ... akan kutemui kau lagi setelah finish, di kafe Koes kan?"


Litha mengangguk, dan Ninda segera berlari menyusul yang lainnya. Setelahnya Litha celingukan mencari sosok paruh baya yang katanya menunggunya di tempatnya sekarang berdiri. Beberapa saat kemudian dilihatnya Pak Sas sedang menikmati sajian di sebuah stand Bakmi Toprak.


"Pak Sas dicariin, ternyata diam-diam makan disini. Kenapa tidak menungguku? Aku kan juga pengen makan ini." sungut Litha kesal seperti anak perempuan yang merajuk pada ayahnya.


Pak Sas tergelak, menghentikan makannya, lalu sigap berdiri. Ia tidak mengetahui bahwa hampir saja Ramona mencelakai Nyonya Muda-nya, lagi.


"Mbak, satu ya, minumnya air mineral, biasa, tidak dingin," seru Litha dari tempatnya memesan Bakmi Toprak.


"Maaf, Nyonya, melihat menu ini saya tiba-tiba ingat waktu Tuan dan Nyonya tinggal di Kota A, saya sering minta dibelikan sama Bu Saroh."


"Tidak apa-apa, tapi jangan bersikap canggung, aku tidak suka. Ayo, lanjutkan makannya Pak Sas, sebentar lagi punyaku juga datang."


Tidak lama setelah pesanan Litha datang, ia asyik menyantap sambil bercerita apapun tanpa canggung dengan Pak Sas yang sesekali tertawa mendengarnya.


.


.

__ADS_1


.


"Ayo, Nad, cepetan! Telat ini! Kamu sih dandannya kelamaan, padahal nanti juga gak kelihatan semua bakal kena bubuk warna," gerutu seorang gadis berjalan cepat diikuti seorang temannya yang sibuk merapikan rambutnya yang sudah rapi.


"Sabar dikit napa sih! Kabarnya kali ini Tuan Muda Pradipta juga ikut."


"Cepetan jalannya!"


"Eh, eh, tunggu Shin, itu Litha kan?" tangannya menarik temannya yang ada didepan untuk berhenti melihat ke sebuah stand Bakmi Toprak.


"Iya, itu Litha yang katanya jadi baby sugar."


"Ihh, Shin, lihat! Mesra banget! Sama siapa itu?"


"Gak tahu. Kabarnya dia cuti, padahal skripsinya hampir selesai."


"Nad, perhatikan deh, laki-laki itu yang pernah nyariin Litha di kampus kan?"


"Gak ngerti. Lupa. Udah, gak usah ngurusin dia. Kita susul aja larinya." Gadis yang disapa Nad menyeret temannya segera untuk beranjak.


"Tunggu! Tunggu! Aku ambil fotonya dulu. Mau aku kirim ke grup, ternyata rumor itu benar, berduaan dengan lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya."


Klik, Klik.


Dua kali jepretan diambil, lalu saat itu juga ia sebarkan ke grup chat teman-teman sekampusnya.


.


.


.


"Kamu gak lari?" tanya Ninda begitu melihat Bona masih berdiri di dekat garis Start yang sudah ditinggalkan para pelarinya.


"Nungguin kamu."


"Maaf ya, Bon. Kasihan ibu hamil kalau ganti baju emang lama, apalagi bajunya sesak."


"Gak apa-apa. Kamu keren, Nin."


Bona tidak bisa menahan rasa kagumnya pada gadis mungil di hadapannya ini. Semut Kecil, bathinnya.


"Keren apaan? Oh iya sudah foto Asisten Yan dengan celana pink-nya? Aku mau lihat."


Bona masih tersenyum seraya menunjukkan foto candid Asisten Yan.


"Huahahahahaha ... Apa yang membuatnya berpikiran untuk lari di festival ini dengan celana pink? Hahahahaha ... tapi--"


Kalimat Ninda terhenti, ia memperhatikan foto Asisten Yan lebih detil dan sesekali di zoom.


"Tapi apa?" tanya Bona yang masih mengulas senyum, masih mengagumi 'Semut Kecil'-nya.


"Ya Tuhan, dengan celana pink, Asisten Yan malah terlihat sexy, aura macho penuh kelembutan sangat terpancar darinya, bahkan kharisma Tuan Muda pun kalah."


"Apa!!!"


Senyum Bona langsung menghilang tanpa jejak.


"Sexy ... Aura Macho penuh kelembutan. Hah! Apa itu! Sialan!!!"


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.

__ADS_1


(sumber : Google)


__ADS_2