
Litha kaget ditampar keras seperti itu, sangking kerasnya ia sampai terhuyung ke sebelah kanan, untung ada Ray yang sigap, segera melepas jabatan tangan Andrew dan memeluknya.
Semua manusia yang berada di restoran itu memusatkan perhatian pada suara keras yang dibuat Ramona di pipi Litha. Andrew yang berada di dekatnya juga sangat terkejut dengan apa yang disaksikannya barusan.
Ray bukan kaget lagi, melihat istrinya ditampar hingga berdarah di sudut bibirnya, matanya sudah menyalang merah menatap Ramona. Ia melangkah maju tapi segera ditahan Litha yang masih berada dalam pelukannya, "Jangan, Mas," bisiknya.
Sementara itu Abyan paham dengan situasi yang akan terjadi jika ia tidak segera menyingkirkan Ramona dari hadapan Ray. Ia berlari menarik Mona menjauh.
"Abyan, lepaskan aku!" teriak Ramona berusaha melepas cengkraman Abyan dari lengannya setelah mereka berada di luar restoran.
Abyan melepas cengkramannya, "Kau sudah gila Mona! Apa yang Litha lakukan sampai kau menamparnya, hah!"
Ramona tertawa sinis, "Bahkan dia pantas mendapatkan lebih dari itu!"
"Kau membuat Ray marah. Jangan harap kau mendapat simpatinya lagi."
"Aku memang tidak mau sekedar simpatinya. Aku mau dirinya!" Ramona berteriak seperti kesetanan.
Di dalam restoran, Litha tidak mengaduh namun ekspresi sakit dari wajahnya cukup menyatakan bahwa tamparan Ramona bukan tamparan biasa yang hanya membuat pipi merah.
"Litha .... Bagaimana pipimu, Sayang?" tanya Ray cemas ingin melihat bekas tamparan Ramona.
Litha menggeleng pelan, pipinya ia tutupi dengan tangannya. Ia masih terlihat menahan perih.
"Ayo kita pulang!" ajak Ray.
Litha mengangguk, mengambil tasnya yang berada di kursi. Ketika ia ingin mengambil tasnya, ia baru sadar Andrew masih berdiri di posisinya. Kemudian ia berkata pada Andrew,
*"Maafkan kami, Tuan Laurent, atas keterkejutan dan ketidaknyamanan yang Tuan alami. Semoga di lain waktu kita bertemu tidak ada kekacauan seperti ini. Kami pamit."*
Andrew mengangguk tanda mengerti. Ia kagum, Litha masih menyempatkan bermohon diri dengan sopan meski dalam keadaan seperti itu. Lalu Litha berjalan keluar restoran dirangkul suaminya, pulang.
*"Dia wanita yang sangat elegan. Dia mampu menguasai dirinya agar tidak masuk dalam arus emosi. Sayang sekali ia sudah bersuami ..."* kata Andrew dalam hati melihat Litha dari belakang yang menjauh darinya.
"Coba kulihat pipimu?" tanya Ray sambil berjalan.
"Nanti saja, Mas. Tidak enak dilihat orang-orang. Tadi saja sudah menarik perhatian banyak orang," tolak Litha. Ia masih menutupi pipinya dengan telapak tangannya.
Ray dan Litha sudah berada di luar restoran, namun langkah kaki mereka terhenti saat melihat Ramona dan Abyan yang beradu mulut.
Tiba-tiba mata Ramona menyasar pada Litha, didalamnya penuh amarah kebencian yang tidak terkira. Dengan nafas berburunya ia berlari ingin mendorong Litha hingga terjatuh. Ia benci pada anak yang berada di dalam kandungan Litha sebab anak itulah yang membuat Rayyendra berpaling darinya.
Ray tahu Ramona akan berbuat sesuatu pada istrinya, ia berpindah posisi dari di samping menjadi di depan Litha untuk melindunginya dari serangan Ramona.
Brakkkk....
Ramona terpental keras dan tersungkur di lantai karena tubuhnya yang ia larikan cepat mengenai punggung tegap Ray yang memeluk Litha dari depan. Kemarahan Ray sudah pada pun*caknya. Raut wajahnya sangat mengerikan, Mona sebenarnya tahu benar, jika Ray sudah semarah ini, tidak ada yang bisa menghentikannya sampai ia puas melampiaskan kemarahannya.
Kericuhan di depan pintu masuk restoran mengundang perhatian banyak orang, bahkan pihak keamanan hotel segera menuju lokasi setelah ada laporan dari pelayan restoran.
__ADS_1
"Ra ... Rayy ...," sahut Mona terbata, namun Ray tidak peduli.
Mona hampir saja mencelakakan istri dan calon buah hatinya, ia tidak akan memaafkan siapapun termasuk dirinya jika hal itu sampai terjadi.
"Ray, tenanglah. Ini tempat umum dan bukan daerah kita. Jangan memperpanjang masalah." Abyan coba meredakan amarah Ray dengan menahan badan lelaki itu dengan badannya sendiri.
Litha yang tidak pernah melihat Ray semarah itu, bahkan melebihi saat dia menghancurkan motor Ninda. ikut takut.
Ray sekali lagi tidak peduli dengan siapapun termasuk Abyan yang berusaha mencegahnya untuk membalas perbuatan Ramona. Ia tetap melangkah maju mendekati mantan kekasihnya itu.
Secepatnya Litha menarik pergelangan tangan Ray dan menempelkan pada perutnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun ia membiarkan telapak tangan besar Ray berada di atas perutnya beberapa saat. Terlihat jelas Ray sangat menahan amarahnya yang sudah terlanjur keluar. Ditariknya nafas panjang lalu melepaskan tangannya dari perut Litha dan berkata, "Ayo pulang."
"Ray, kalau pergi itu artinya kau tidak akan melihatku selamanya," ancam Ramona yang masih tersungkur di lantai.
"Lakukan! Kalau itu yang kau mau," kata Ray tanpa melihat lalu beranjak meninggalkan tempat itu menuju area parkir.
Mata mona panas dan berair, terang-terangan ia dibuang oleh orang yang ia puja selama ini. Litha terpaku menatap Ramona, ada rasa iba di hatinya. Tapi ia juga bisa melihat ada cinta yang begitu besar untuk suaminya.
"Sudah kukatakan kau membuatnya marah. Bukannya kau tahu sendiri kalau Ray marah, ia akan menghancurkanmu tidak peduli kau Ramona atau bukan," sesal Abyan.
Ramona menangis dalam diam, nampaknya dia shock, bukannya ia tidak tahu tapi tidak menyangka, demi Litha, Ray akan semarah itu padanya.
"Ayo Nyonya, Tuan sudah menunggu," ucap Abyan pada Litha yang mematung memandang Mona.
"Kenapa? Kau puas melihatku dipermalukan seperti ini, hah!" desis Ramona dengan tatapan membunuh ke arah Litha.
Litha terkesiap melihat amarah Ramona yang berapi-api dimatanya. Namun Litha tidak gentar menghadapinya, dengan tenang ia berkata, "Anda yang mempermalukan diri sendiri, Anda tidak seharusnya mengharapkan sesuatu dari pria yang sudah menikah."
"Meski begitu, kami tetap punya alasan untuk bersama. Dari sudut pandang manapun, aku lah yang berhak atas dirinya, dan aku akan mempertahankan apa yang sudah menjadi hak ku, kecuali ... dia sendiri yang melepasku seperti saat ini yang ia lakukan padamu."
Muka Ramona memerah serasa ditampar lebih keras meski Litha tidak menggunakan tangannya. Litha tidak mau mengotori tangannya seperti cara bar-bar yang Mona lakukan.
Abyan rasa ia harus menyudahi perdebatan mereka walau ia senang melihat Litha membuat Ramona tidak berkutik hanya dengan kata-kata. Abyan segera menyahut, "Nyonya, jangan membuat Tuan semakin marah karena menunggu Nyonya."
"Baik, Asisten Yan."
"Nona Ramona, maafkan kami jika kau merasa buruk hari ini. Sebaiknya lain kali berpikirlah lebih panjang," kata Litha, kemudian beranjak pergi meninggalkan Ramona yang masih tersungkur di lantai dengan mengepal kuat tangannya.
Abyan mengikuti Litha dari belakang, awas menjaga Nyonya Mudanya jika Ramona menyerang kembali.
Kini, Ramona hanya ditemani rasa malu yang luar biasa, semua mata yang disitu memandangnya penuh pertanyaan, termasuk pria asing yang semeja dengan Litha tadi menatapnya dengan pandangan yang merendahkan. Seorang pelayan restoran menghampiri untuk membantunya berdiri, namun ditolak kasar oleh Ramona.
"Aku bisa sendiri. Pergilah!" hardik Ramona.
"Ba-- baik, Nona." Takut-takut pelayan itu pergi menjauh dari Ramona.
"Nona itu hendak mendorong seorang ibu hamil, untung saja suaminya segera pasang badan," kata salah seorang yang menyaksikan kejadian barusan.
"Memangnya ibu hamil itu salah apa? Aku juga mendengar ia ditampar olehnya saat di dalam restoran,"
__ADS_1
"Mengerikan sekali Nona ini. Apa dia pelakor?" timpal yang lainnya.
"Aku bukan pelakor! Tapi wanita itu yang mengambil kekasihku!" teriak Ramona tidak terima dikatakan pelakor, dia merasa Litha lah pelakornya.
Semua yang ada disitu diam, mereka tidak mau mencari masalah dengan wanita 'gila'.
*"Cara Anda terlalu murahan, Nona. Belajarlah dari wanita yang kau tampar tadi. Dia sangat berkelas dan masih berbesar hati untuk meminta maaf padamu karena suaminya membuat harimu buruk, padahal justru kau yang melakukan hal buruk padanya. Beruntunglah jika ia tidak melaporkan perbuatanmu di pihak berwajib"*
Seorang Bule tampan yang ia lihat tadi berada di dekat Ray dan Litha di dalam restoran mengomentari sikap Ramona dalam bahasa inggris tapi Mona mengerti apa yang dikatakannya.
Hati Ramona semakin bergemuruh mendengarnya. Kenapa semua orang berpihak pada pencuri itu? Ia yang disakiti, ia yang dicampakkan, ia yang dipermalukan tapi lihatlah semuanya justru mengatakan bahwa ia yang buruk. Ramona benar-benar mendendam pada Litha dan akan membalasnya.
Di dalam mobil, Ray diam dan masih mengatur nafas, wajahnya pun juga menunjukkan bahwa ia masih marah atas kejadian tadi, sedangkan Litha juga diam. Pikirannya ke Ramona, sebegitu cintanya kah ia pada suaminya? Apa suaminya memilih menjalani biduk rumah tangga dengannya dan meninggalkan kekasih yang sangat mencintainya hanya demi janin dalam perutnya? Seketika Litha merasa ragu dan bersalah, ia memandang sendu perutnya dan dielusnya perlahan.
"Kau jangan berpikir aneh-aneh. Aku tahu apa yang kau pikirkan," kata Ray pada istrinya memecah keheningan.
"Ah, tidak. Aku tidak berpikir apapun. Mas, apa Mas tidak kasihan sama Ramona?"
Pertanyaan Litha memantik emosi suaminya kembali.
"Lain kali menurut lah kalau suamimu pinta! Kuminta kau untuk tidak ikut karena aku takut dia melakukan hal-hal yang buruk untukmu. Sekarang lihat apa yang dia lakukan padamu, malah kau berpikir yang tidak-tidak. Hentikan semua pikiranmu yang tidak benar itu!"
Ray memarahi Litha seakan mengerti apa yang ada di dalam benak istrinya. Litha kaget, ini pertama kali Ray marah padanya.
"Dan juga buat apa kau berbincang dengan pria asing. Kau sudah punya suami! Seharusnya kau katakan itu padanya! Apa dia tidak melihat perutmu yang membesar?"
Litha makin kaget, "Bukan aku yang mendekatinya Mas, dia yang datang sendiri. Apa Mas mau aku bilang, 'jangan duduk semeja denganku karena suamiku yang sedang bersama wanita lain tidak menyukainya'?"
"Jangan memancing amarahku, Litha!" Ray memperingatkan istrinya.
"Mas juga seharusnya tidak memancing emosiku dengan menemui perempuan lain di belakangku."
"Apa kau bilang!" Suara Ray meninggi, menatap tajam istrinya.
Litha yang juga merasa kesal dan perih di pipinya menantang balik netra suaminya. Abyan yang berada di balik kemudi, memperhatikan dari kaca spion depan dan membathin, "Ray, Ray ... daripada kau memarahi istrimu, lebih baik kau tanyakan dulu keadaannya."
"Nyonya, bagaimana keadaan pipi Nyonya? Apa masih terasa nyeri karena saya lihat Nyonya masih memegangnya?" tanya Abyan sengaja menyindir Ray.
"Sialan kau Abyan, apa maksudmu kau bertanya begitu? Harusnya itu bagianku!" umpat Ray jengkel karena ia paham maksud pertanyaan Abyan.
"Tidak, tidak apa-apa, Asisten Yan. Nanti setelah di rumah bisa ku kompres," jawab Litha tersenyum tapi hatinya masih kecut diomeli suaminya.
"Biar kulihat sekarang pipimu," perintah Ray, suaranya tidak setinggi sebelumnya, ia menurunkan tangan Litha yang sedari tadi ditutupi.
Litha sebenarnya enggan tapi ia tidak mau diomeli lagi karena tidak menurut apa kata suaminya. Begitu Litha menurunkan tangannya, Ray kaget bukan main, jejak tangan Ramona meninggalkan lebam merah yang membengkak ditambah dengan sudut bibirnya yang terluka.
"Apa-- apa sakit?" Ray bertanya dengan sangat cemas.
Suara cemas Ray yang sama seperti saat mencemaskan kesehatan neneknya didengar Abyan yangs edang mengendarai mobil. Tanpa melihat ia tahu bahwa Litha tidak baik-baik saja meski ia menjawab tidak pada suaminya.
__ADS_1
- Bersambung -