
Kediaman Keluarga Pradipta dari subuh itu sudah sangat disibukkan dengan segala aktivitasnya menyambut hari ulang tahun Nyonya Muda Pradipta tanpa Litha ketahui. Terutama Pak Is, kepala segala urusan di rumah yang memerintahkan ini dan itu pada para pelayan.
"Selamat Ulang Tahun, Sayang. This is your big day." Ray mengecup bibir Litha yang baru mengerjapkan matanya.
Putri Mahkota itu tersenyum bahagia ke arah suaminya, "Terimakasih. Mas yang mengucapkannya pertama."
Dipeluknya perut kotak-kotak milik suaminya itu, lalu ia dongakkan kepalanya, "Haaaahhh, apa nafasku bau?"
"Litha! Jorok! Tidak ada Put-- maksudku perempuan sejorok ini."
Hampir saja Ray keceplosan menyebut Putri tapi ia langsung menyadarinya
"Heh, siapa bilang! Nih, ada kotoran mata." Litha mengambil kotoran di sudut matanya, ditinjukkan pada Ray yang langsung menepis tangan istrinya dengan muka jijik.
"Hahahaha ... kalau ini?" Litha mengupil dan menjentikkan ke arah muka Ray.
"Lithaaaaa!!!"
Litha terbahak puas melihat suaminya kesal. "Ya sudah aku mandi, Mas, hahahaha ... "
Litha bangun menyibak selimut dari tidurnya ingin mandi, tapi betapa terkejutnya ia melihat tubuhnya bugil dan penuh dengan tanda kemerahan di dadanya.
"Tadi malam aku sempat memakai baju, tapi kenapa sekarang begini? Dan ini, vampire mana yang menggigitku rakus begini? Duh."
Ray tergelak, dipeluknya tubuh istrinya, "Pemanasan di pagi hari yuk."
Litha menatap mata penuh damba suaminya, ia tidak habis pikir kenapa hasrat suaminya kian hari kian bertambah padahal ia sendiri tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya karena mengandung.
"Sebentar saja, kau tahu kan, di pagi hari--"
"Iya, iya, mana aku bisa menolak dengan mata permohonan seperti ini," potong Litha sembari mengusap kelopak mata Ray dengan kedua ibu jarinya.
"Siapa suruh kau mengutukku. Aku sudah terikat dan tidak bisa lepas. Kau harus bertanggungjawab."
"Ngomong apaan sih. Lihat tongkatmu itu sudah menjulang, belum juga ku goda."
Ray sudah tidak bisa menahan kebutuhan biologis pagi harinya. Ia yang selalu bersih sudah tidak peduli lagi dengan bau mulut, kotoran mata dan hidung milik istrinya, ikatan perempuan suku Ragnaya terlalu kuat jika hanya untuk masalah kebersihan.
"Niaaaa !!! Banguuuuunnn" teriak Litha nyaring mendapati adiknya masih melingkur di bawah selimut.
Ditariknya selimut, Vania malah meringkukkan kakinya, enggan bangun.
"Ini jam berapa Nia? Kau mau ikut tidak? Jangan membuat Kakak terlambat!" Litha mulai mengomel khas emak-emak di pagi hari.
"Acara itu tidak akan dimulai kalau Kak Litha dan Kakak Ipar belum datang. Tidurku terlalu larut tadi malam, Kak. Santai dikit napa sih!" Vania menutup matanya lagi
Litha geram, adiknya ini terus saja membantahnya, "Apa yang kau lakukan malam-malam kalau tidak tidur, bocah nakal? Pak Is! tolong ambilkan hanger!" teriaknya.
"Hanger?!? Oh, tidak! Lebih baik aku bangun dan segera mandi." pekik Vania dalam hati mengintip dari bulu matanya.
"Hanger? Untuk apa hanger, Nyonya?" Pak Is berlari tergopoh-gopoh membawa beberapa hanger.
"Untuk menggantung lehernya, selalu saja membantah kalau disuruh." Litha meraih salah satu hanger, ingin mendaratkan ke bokong adiknya tapi dengan gesit Vania bangun dan langsung berlari menuju kamar mandi.
"Aku mandi Kak!" sahutnya sambil berlari.
Gubrakk.
__ADS_1
Vania menabrak tembok kamar mandi karena terlalu terburu-buru, diiringi suara rintihan sambil mengusap keningnya, ia masuk ke kamar mandi tanpa melihat kakaknya yang menertawainya.
"Makanya kalau dikasih tahu itu nurut. Kualat kan! Hahahaha ..."
"Maafkan keponakan-keponakan Paman telah membuat kacau kedamaian rumah ini, Tuan Muda." Paman Tino menundukkan kepala meminta maaf pada Ray ketika Ray keluar kamar dengan panik mendengar teriakan istrinya. Ia mengira ada sesuatu yang terjadi pada Litha, ternyata hanya omelannya pada adiknya sendiri.
"Saya kira istriku kenapa, ternyata hanya mengomel. Biarkan saja Paman, terserah dia mau bersuara apapun, mau marah, mengomel, atau berteriak di rumah ini, selama bukan suara menangisnya aku tidak masalah. Dan jangan lagi memanggilku Tuan Muda. Paman bukan pelayan lagi disini."
Litha datang ke arahnya dengan membawa hanger yang tadi ingin ia pukulkan ke bokong adiknya, "Mas ini tidak pernah puas pamer badan ya? Kan sudah tadi pagi padaku, mau pamer ke siapa lagi hah! Sudah tahu di rumah sedang banyak orang, malah keluar pakai handuk begitu."
"Astagaaaa ... aku tadi baru saja selesai mandi lalu mendengarmu berteriak, aku kan panik," gumam Ray dalam hati.
Pak Is menghampiri Litha memberi hormat, "Nyonya, Miss Oscarita sudah datang."
"Oh ya, terimakasih Pak Is. Bawa dia ke ruang keluarga saja, aku mau dirias disitu," titahnya pada Pak Is, lalu melihat suaminya, "Cepat masuk ada Kak Oscarita, pakai bajumu, Mas! Apa mau kuturunkan handukmu disini."
"Lagian kenapa kau memaksa dirias oleh banci kaleng seperti dia."
"Hussshhh ... yang meriasku, kan adik perempuannya, dia hanya memberi instruksi. Cepat masuk!"
Litha sudah menggenggam handuk suaminya. Ray malah menarik tangan Litha ingin membawanya masuk ke kamar, "Beri aku ciuman dulu sebelum kau memakai lipstik."
Teplak.
Hanger di tangan Litha sudah mengayun dan mendarat di bokong suaminya, "Jangan curi kesempatan ya, Mas. Lihat jam berapa ini!"
"Aauuwww ... Sakit Lith. Ya sudah, jangan salahkan aku memaksamu."
Ray langsung mengambil tengkuk Litha, mema*gut bibirnya cukup lama dan intens tanpa peduli di depan pintu kamar mereka masih berbalutkan selembar handuk di pinggang. Disaksikan Pak Is, Paman Tino, Bibi Rima dan beberapa pelayan dari arah dapur memandangi sebuah pemandangan pagi yang indah.
Oskarita menatap kagum semua make-up yang telah disediakan pelayan di atas meja, sangat lengkap dan berasal dari brand terkemuka. Melalui tangan adiknya ia siap memoles wajah ayu Litha.
"Siapa namamu?" tanya Litha pada adik perempuan Oskarita.
"Ana, Nyonya." jawab gadis itu tertunduk.
"Oh, Ana sudah biasa merias wajah?"
"Su-- Sudah, Nyonya."
"Sudah biasa, tapi kok tangannya masih bergetar, kenapa?"
Litha melihat dari ekor matanya kalau Oskarita memelototi adiknya, "Jangan dibikin tambah gugup Kak," ujar Litha, ia mengambil tangan Ana, ditangkuplan kedua tangannya di tangan Ana yang bergetar, "Tarik nafasmu perlahan sampai 5 detik, lalu tahan selama 3 detik kemudian hembuskan perlahan selama 5 detik melalui hidung," Litha menunjuk arah dapur, "Mintalah segelas susu coklat hangat pada pelayan untuk kau minum sebelum meriasku."
"Maaf, maafkan Ana, Nyonya." Oskarita menunduk meminta maaf setelah adiknya beranjak ke dapur.
"Semua orang pasti pernah mengalaminya, Kak. Tapi aku heran saja kenapa ia gugup padaku? Aku kan tidak berbuat apa-apa, hanya duduk diam siap untuk dirias."
"Karena Anda Nyonya Pradipta."
"Kenapa Kak Oskarita sikapnya formal sekali, sangat berbeda dengan waktu pertama kali kita bertemu?"
Oskarita hanya tersenyum kaku. Masih teringat jelas kemarin, ia dan Ana sangat bingung karena tiba-tiba didatangi orang berjas hitam lengkap memberitahu bahwa ia harus datang ke rumah utama Keluarga Pradipta untuk merias Nyonya Muda, hanya saja ia tidak diperkenankan menyentuh langsung. Ia harus membawa seorang perempuan yang akan dijadikan penyambung tangannya untuk merias.
Bagai ketiban durian runtuh, di saat pupus harapan akan impian karena besok ia dan adik perempuannya yang merantau ke Ibukota akan pulang kembali ke daerahnya, ia malah dipercaya untuk merias Nyonya Muda Pradipta yang wajahnya selama ini tidak pernah diketahui publik.
Oskarita dan Ana sangat antusias sekaligus gugup begitu masuk ke dalam ruang tamu yang megah, bahkan untuk menginjak lantai marmernya pun mereka sangat perlahan sekali, takut meninggalkan goresan. Betapa terkejutnya setelah ia mengetahui siapa pemilik wajah istri Tuan Muda Pradipta, dialah Nona Baik Hati yang pernah ia rias beberapa waktu silam.
__ADS_1
"Nyo-- Nyonya, eyke tidak menyangka kalau Nona Baik Hati adalah Nyonya Muda Pradipta."
"Nona Baik Hati?"
"Nyonya tidak memberitahu nama Nyonya waktu itu, jadi eyke mengingatnya dengan sebutan Nona Baik Hati."
Ray tersenyum mendengarnya saat melintas menuju ruang kerjanya dan mengecup pipi Litha, ia berbisik, "Pernah kubilang kan, hatimu itu terbuat dari apa? Sampai dia pun menjulukimu Nona Baik Hati."
Pipi Litha merona kemerahan, "Astaga ... Suamiku ini selalu membuatku malu."
Oskarita terpana melihat sikap Tuan Muda yang terkenal angkuh dan dingin menjadi sehangat cahaya pagi pada istrinya, terlalu hangatnya sampai pipi milik Nyonya memerah.
"Karena istriku yang memaksa, aku akan mempertimbangkan hasil riasanmu di wajah istriku. Jika aku menyukainya, kau akan merias model untuk semua iklan produk Pradipta Corp."
Oskarita terbelalak dan menganga, tidak percaya apa yang ia dengar, bahkan sampai Ray masuk ke dalam ruang kerjapun ia masih begitu, hingga disadarkan Ana yang baru saja datang dari dapur.
"Kak, apa yang terjadi? Nyonya Muda menertawaimu dari tadi."
Setelah kesadaran Oskarita terkumpul, ia langsung bersimpuh di kaki Litha, "Nyonya, eyke tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Nyonya telah--"
"Jangan begini! Aku tidak suka. Bangunlah, Kak." Litha menarik kakinya, " Aku tahu Kakak sepi job. Suamiku saja sempat tidak setuju kalau aku dirias oleh perias yang sepi job, karena baginya sepi job sama dengan kualitas buruk. Tapi, justru riasan Kakak yang sangat cocok untukku. Dan untuk yang barusan Suamiku katakan, aku sendiri tidak tahu kalau ternyata ia berniat menjadikan Kakak MUA untuk model iklan produknya. Semoga ini bisa jadi batu loncatan buat Kakak dalam meraih mimpi. Tetap semangat Kak."
"Hatimu terbuat dari apa, Nyonya? Masih mengingat eyke padahal hanya sekali eyke merias wajah cantikmu itu. Bahkan kau masih memanggilku Kakak setelah menjadi Nyonya Muda Pradipta. Hiksss ... eyke sayang sekali sama Nona Baik Hati, eh salah, Nyonya Baik Hati."
Oskarita mengusap airmatanya yang turun, begitu juga Ana yang ikut terharu, Nyonya Muda di hadapannya ini menghapus stigma wanita konglomerat selalu tinggi hati dan suka memamerkan kekayaannya.
Litha sudah berada di dalam mobil bersama suaminya dan Abyan, sedangkan Paman, Bibi dan adiknya bersama Pak Sas di mobil lainnya.
"Mas, terimakasih sudah memberikan kesempatan buat Kak Oskarita," ujar Litha bergelayut manja di lengan suaminya.
Ray hanya mencibir dalam hati , "Apa ini sikap Tuan Putri yang diajarkan ibumu untuk selalu peduli dengan orang lain? Tapi terus terang riasannya cocok di wajahmu, kau sangat cantik tapi tidak berlebihan. Kecantikanmu mahal, Lith."
"Mas, aku cantik kan? Riasanku tidak menor kan? Penampilanku bagaimana?" tanya Litha bertubi-tubi dengan melihat pakaian toga yang ia kenakan di badannya.
Belum sempat dijawab Ray, ia sudah mengatakan dirinya terlihat jelek seperti ibu hamil yang memakai daster hitam.
"Lah, kan kamu memang hamil, Sayang," timpal Ray sambil tertawa kecil.
Litha merengut, "Ku kira toga hitam ini bisa menyamarkan perutku. Tapi yang ada malah makin memperlihatkan kalau aku hamil. isshhh ... " ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, "Nanti ada yang bilang, eh, ada ibu hamil ikut wisuda, suaminya mana?" lirihnya sembari mengusap-usap perutnya.
"Katakan saja aku suamimu." Ray menunjuk dadanya, heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba tidak percaya diri saat perjalanan sudah akan sampai tujuan
"Eh, ada yang bilang lagi. Heh Lith, kalau bercanda juga ada batasannya, kalau mimpi jangan ketinggian ntar kalau bangun sakit lho."
Ray beradu pandang dengan Abyan di kaca spion depan. Lalu menatap istrinya. "Kau cemas ya?"
Litha diam saja, bibirnya tidak menjawab tapi matanya mengerjap terus berulang-ulang, tangannya dingin, terlihat dadanya naik turun, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ray memeluk istrinya, "Kau cantik, paling cantik. Kau mahasiswa terbaik di kampusmu, berbanggalah, Lith. Dan wisudamu ini dirasakan langsung oleh bayi yang ada di dalam perutmu, maka berbahagialah karena kalian bisa saling berbagi rasa. Semua yang sayang padamu akan menemanimu. Ada Paman, Bibi, Vania, Ninda bahkan Oskarita dan adiknya itu ngotot ingin ikut untuk menjaga riasanmu agar kau selalu tampak sempurna. Apa ada alasan lagi untuk membuatmu cemas?"
"Aku nanti sendirian di dalam aula, Ninda berada jauh dariku. Aku tidak tahu siapa yang bakal duduk di sekitarku."
Sekali lagi Ray beradu pandang dengan Abyan melalui kaca spion depan. Mobil sudah masuk area universitas tempat Litha kuliah. Keadaan sangat ramai sehingga Abyan harus melajukan mobil dengan sangat perlahan.
"Kuatlah! Jangan meneteskan airmata hanya untuk suara sumbang mereka, karena pada akhirnya mereka akan malu sendiri," ujar Ray sambil mencium pucuk kepala istrinya berkali-kali, untuk menguatkan hatinya yang lagi rapuh.
Litha memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma maskulin suaminya yang sangat menenangkannya. Ia berusaha menyimpan aroma tersebut dalam kotak memori yang akan ia gunakan jika ia merasa gelisah.
__ADS_1
- Bersambung -