
Dihari yang sama, di Kampus Z, Bona menjemput Ninda untuk makan siang.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Bona setelah memesan makanan di salah satu kafe dekat kampus.
"Baik, sekarang lagi bimbingan untuk Bab 2 skripsiku. Ada apa sampai kau mengajakku makan siang?"
"Semalam aku habis dimarahi Abyan, kenapa dia semarah itu? Itupun juga aku lakukan untuk kebaikan Ray dan Litha."
Bona mulai curhat tapi ditanggapi dengan kernyitan Ninda, "Melakukan apa?"
"Dasar bodoh! Maaf kali ini aku ingin mengumpatmu. Yang kau lakukan itu bukan untuk kebaikan Tuan Muda dan Litha, tapi untuk Ramona! Kau sudah tahu wataknya bagaimana, masih saja kau pancing!" Ninda benar-benar kesal setelah Bona menceritakan percakapannya dengan Ramona malam itu di klub sepulang dari Kota A.
"Kenapa kau marah seperti Abyan? Kalian tidak mengerti maksudku. Aku hanya ingin semua berakhir dengan baik. Bagaimanapun Ramona juga temanku, Nin, aku tidak bisa mengabaikannya."
"Ya sudah kalau kau peduli padanya, sekalian saja kau bantu dia merebut Ray dari Litha, tapi langkahi dulu mayatku! Kau bilang kau temannya, tapi kau sendiri tidak bisa memprediksikan apa yang akan ia lakukan. Mungkin tidak apa-apa bagi Ray, tapi bagaimana dengan Litha? Apa kau lupa rekaman yang aku tunjukkan padamu, hah! Dia bisa saja berbuat lebih nekat sekarang. Hhhhhhh!!!"
Ninda marah dan kesal, sangking kesalnya ia langsung berdiri dan meninggalkan Bona sendirian di kafe.
"Nin, mau kemana? Kita sudah memesan makan siang?" tanya Bona keras pada Ninda yang berjalan menuju pintu keluar.
"Panggil saja Ramona untuk menemanimu makan siang!" teriak Ninda tidak peduli, semua mata memandangnya dan terdengar celetukan, "Mungkin pacarnya ketahuan selingkuh dengan perempuan yang bernama Ramona."
Dhuaaarrr ....
Ninda membanting pintu yang mengagetkan si pemilik celetukan tadi.
Benar saja yang dikatakan Ninda, bagi Ray mungkin tidak apa-apa tapi bagaimana dengan Litha? Dalam kondisi hamil yang emosinya naik turun.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Ramona menghirup udara malam, ia baru saja tiba dengan penerbangan terakhir tujuan Kota A. Ia membawa senjata yang akan ia tembakkan agar Ray membenci Litha dan kembali padanya. Di dalam taksi bandara yang ia tumpangi menuju hotel, ia mengetikkan pesan teks.
'Ray, aku sekarang ada di Kota A, menginap di hotel F. Bona sudah memberitahuku semuanya, tentang istrimu yang hamil dan kau kini berada di Kota A. Aku ingin bertemu denganmu.'
Ray yang sedang menonton TV di sofa mendengar notifikasi HPnya, ada pesan masuk dari ... Ramona. Sekilas ia melirik Litha yang bersandar dan tengah asyik membaca buku 'Ensiklopedia Ibu Hamil' di tempat tidur.
Ray membuka pesan itu, ia terkesiap setelah membacanya, "Ngapain Mona datang ke Kota A? Untuk apa dia mau bertemu denganku? Bonaaa .... apa yang sudah kau katakan padanya sampai ia sekarang ada disini!"
Pikiran Ray sudah tidak terfokus pada TV, ia berpikir apa yang harus ia lakukan. Ya, ia harus menyelesaikan semuanya, ia akan menyampaikan langsung kalau ia sudah memilih Litha dalam hidupnya dan akan meminta Ramona untuk tidak menunggunya lagi, karena itu sudah tidak mungkin. Ray pikir, jika ia akan bicara baik-baik, maka semua akan berakhir juga dengan baik-baik.
Tiba-tiba Ray merasa ingin buang air kecil, namun sebelum ia ke kamar mandi, ia membalas pesan Ramona.
'Oke, besok sore aku akan menemuimu.'
Ketika Ray masuk dalam kamar mandi, ternyata ekor mata Litha sudah menangkap gelagat suaminya yang tidak biasa. Air muka suaminya berubah begitu melihat benda pipih berlayar setelah terdengar bunyi notifikasi. Entah apa yang dilihatnya tapi membuat Litha penasaran, apalagi Ray hanya terdiam sesaat dan terlihat memikirkan sesuatu.
Kalimat sakti Pak Sas yang menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak tahu enggan dipatuhinya. Kali ini insting seorang istri lebih dominan. Litha beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah sofa, lalu meraih HP milik suaminya. HP Ray tidak memiliki kunci layar, begitu diusap, Litha sudah bisa mengaksesnya. Ditiliknya menu pesan teks. Dan ... terbaca jelas pesan dari Ramona yang juga dibalas suaminya.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka.
Baru saja Ray melangkah keluar ia sudah menemukan istrinya memegang ponselnya. Raut wajahnya datar, ia langsung bisa menebak apa yang dilihat Litha.
"Sayang .... " Suara Ray menggantung, bingung mau menjelaskan.
"Mas mau menemuinya?" tanya Litha tanpa basa-basi, langsung ke intinya. Ray sudah bersiap jangan sampai istrinya sedih dan menangis seperti kemarin-kemarin.
"Sayang, aku-- "
"Iya atau tidak?" tegas Litha.
__ADS_1
Ray terdiam, mati kutu, bilang iya takut istrinya salah paham, bilang tidak tapi pesan yang terbaca mengatakan sebaliknya.
"Iya atau tidak?" tanya Litha lagi, kali ini disertai dengan tatapan yang langsung menusuk.
"Iya, aku ingin menemuinya untuk meng--"
"Aku ikut."
Ray terperangah menatap istrinya. Litha ingin ikut bertemu dengan Ramona.
"Tapi Sayang aku hanya sebentar menemuinya dan mengatakan bahwa aku sudah memilikimu dan jangan menungguku lagi," tawar Ray.
"Terserah Mas mau bicara apa dengannya, aku tidak peduli. Aku akan duduk terpisah dari kalian. Aku mau ikut hanya untuk mengawasi."
"Mengawasi apa? Aku kan tidak melakukan apa-apa."
"Mana tahu! Pokoknya aku ikut, kalau Mas tidak mau aku ikut, Mas juga tidak boleh menemuinya, titik," sahut Litha sembari menyerahkan ponsel milik suaminya.
Ray bingung, ia takut kalau nanti malah terjadi apa-apa dengan Litha, karena ia tahu benar saat ini istrinya sangat sensitif. Tapi Ray tidak menyadari, hormon kehamilan istrinya kali ini tidak begitu mempengaruhi Litha, jangankan menangis, yang ada ia malah ingin menghadapinya dengan gagah.
Litha sudah bersiap tidur, menarik selimut menutupi perutnya yang kian membuncit. Suaminya mematikan TV dan beranjak ke pembaringan. Tapi sebelum ia sampai ke tempat tidur, istrinya memperingatkan, "Malam ini aku tidak mau tidur seranjang sama Mas."
Ray terkesiap, padahal ia sudah terbiasa tidur memeluk istrinya meski dengan menahan hasrat yang menggebu. Ia menurut saja daripada panjang urusan, diambilnya bantal dan selimut cadangan, ia akan tidur di sofa pikirnya.
Belum sampai ke sofa, Litha sudah menyahut, "Aku juga tidak mau sekamar sama Mas. Mas tidur saja sama Asisten Yan."
"Apa!?!"
Litha tidak peduli, ia matikan lampu yang berada di dekat tempat tidurnya dan segera menyelimuti dirinya sampai leher.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Ray, apa yang terjadi?" bisik Abyan saat sarapan di meja makan. Ray hanya mengedikkan bahu sekali, tidak tahu maksudnya.
Litha makan dengan senyap, kemudian tanpa suara ia kembali ke kamar, meninggalkan suaminya dan Asisten Yan yang belum selesai menyantap makanannya.
"Litha membaca ini tadi malam."
Ray menunjukkan pesan teks yang dimaksud. Seketika Abyan bereaksi, "Shitt ... !!! Ramona sudah gila, Ray. Berhati-hatilah, dia bisa nekat melakukan apa saja."
Ray mengangguk, "Dan Litha ingin ikut, mengawasi kami katanya."
"Hahhhh ... !!!" pekik Abyan.
"Ck." Ray hanya bisa berdecak kesal.
"Istrimu sedang hamil, kesehatan dan perasaan hatinya sedang labil, kau tidak ingin terjadi yang tidak-tidak bukan?"
"Aku tahu. Tapi kalau Litha tidak ikut, aku juga tidak boleh menemui Mona, padahal aku ingin mengatakan sama Mona bahwa aku tak bisa ia tunggu dan harapkan lagi."
"Mau bagaimana ...."
"Bagaimana apanya?"
"Ya bawa saja Litha bersamamu menemui Mona. Bisa jadi istrimu itu yang kau anggap lemah justru dia akan jadi penguat dan pelindungmu dari manipulasi Mona."
Ray menghela nafasnya, bimbang.
Sementara di kamar, Litha tengah memilih pakaian yang akan dia pakai untuk menghadapi Ramona. Kali ini ia tidak mau kalah, jika dulu ia masih ragu dengan statusnya sebagai Nyonya Muda Pradipta, sekarang ia percaya diri untuk menunjukkan siapa dia, bahwa dialah wanita pemilik hati Rayyendra.
__ADS_1
"Sayang .... "
Tiba-tiba suaminya masuk menghampiri Litha.
"Hemmm ... " jawab Litha.
"Kau yakin, tetap ingin ikut aku menemuinya?"
"Kenapa tidak?"
"Kamu lagi hamil, Sayang. Aku takut kalau terjadi sesuatu." Ray masih mencoba membujuk Litha agar mengurungkan niatnya.
"Tidak akan. Justru aku ingin memperlihatkan perut buncitku ini padanya, agar dia tahu bahwa tidak seharusnya dia mengejar pria beristri yang sebentar lagi akan menjadi ayah, kecuali ... " kata Litha dengan mengelus perutnya.
"Kecuali apa?"
"Kecuali Mas masih menyimpan perasaan untuknya," tandas Litha menatap tajam netra suaminya
"Sayang, aku tidak pernah punya perasaan padanya, bagaimana mungkin aku masih menyimpan perasaan." Ray membela dirinya sendiri.
"Lantas buat apa kalian menjadi sepasang kekasih kalau begitu, padahal Nenek juga tidak menyukainya?"
"Karena aku menghargainya. Dia wanita pertama yang kukenal dalam hidupku."
"Kalau begitu hargai saja terus dengan menuruti permintaannya, termasuk jika dia ingin Mas bercerai denganku."
"Apaan sih ini. Kan, mulai lagi meracau kemana-mana." bathin Ray.
Ray gemas melihat kecerewetan istrinya, ternyata yang dibilang Vania benar, istrinya ini ratu tawon. Tanpa membalas perkataan Litha, ia mencium bibir Litha yang sudah hendak bicara lagi. Tapi Litha tidak senang, rasa cemburunya masih bercokol di hati, dengan jengkel ia malah mengigit lidah suaminya yang akan bergerak dalam mulutnya.
"Aaaaauuuuwwwww..." pekik Ray melepas ciumannya.
"Heh, Mas pikir segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan ciuman apa! Sudahlah Mas keluar dulu, aku mau bersiap."
"Ini masih pagi, Sayang. Sore baru kita akan menemuinya."
"Sebelum perang kita harus bersiap. Bukankah semakin lama waktu persiapan akan membuat peluang kita menang lebih besar."
Ray tidak bisa berkata apa-apa lagi. Litha memang tangguh, tidak mudah dikalahkan. Ia turuti saja apa mau istrinya, termasuk keluar dari kamar sekarang.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Jam empat sore mobil Rayyendra sudah terparkir di area parkir Hotel F.
"Nyonya yakin saya hanya menunggu disini?" tanya Abyan sekali lagi. Selain Ray, Abyan juga sangat mengkhawatirkan Litha.
Litha mengangguk yakin. Kemudian ia keluar dari mobil setelah dibukakan pintu oleh suaminya. Mereka berjalan menuju restoran tempat dimana Ray dan Mona sudah janjian.
Penampilan Litha kali ini berbeda dari biasanya, menggunakan dress hitam satin halus selutut yang dipadukan dengan blazer warna coklat susu dan tas juga sepatu yang senada. Litha memilih dress yang tidak longgar alias agak ketat, sehingga perut buncitnya terlihat menyembul. Rambutnya diikat satu di belakang tengkuknya. Make-up tipis, namun dengan aura kehamilannya membuat Litha semakin bersinar. Litha memukau siapapun yang melihatnya.
Di meja yang sudah dipesan, Ramona tidak sabar menunggu kekasih hatinya datang, berulang kali ia melihat cermin bedaknya dan touch-up beberapa kali. Ia memastikan dirinya terlihat sempurna. Bukankah ia ingin menarik perhatian Ray kembali?
Namun sekonyong-konyong apa yang dilihat Ramona dari pintu masuk restoran adalah hal yang sangat dibencinya. Litha masuk mengiringi Ray dengan sangat percaya diri, bahkan menarik perhatian semua mata yang memandangnya.
Hati Ramona terbakar amarah. Matanya memerah, wajahnya mengencang dan kedua tangannya mengepal kuat menandakan ia berada pada level marah paling tinggi.
"Selamat sore, Nona Ramona," sapa Litha sembari tersenyum tanpa mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Ray tahu, bahwa perang sudah dimulai.
__ADS_1
- Bersambung -