Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

# Rumah Sakit Pradipta Hospital #


Abyan sedang menunggu dr. Vivian di ruang Direktur Rumah Sakit. Ia meminjam ruangan ini untuk bicara empat mata dengan dokter berlesung pipit itu. Wajahnya terlihat kuyu, semalam ia tidak bisa tidur setelah Ray meneleponnya dan seharian ini ia disibukkan dengan jadwal Tuan Mudanya.


Pintu dibuka, seorang dokter wanita masuk dan menyapanya."Anda mencari saya, Asisten Yan?"


Abyan mengangguk, ia mempersilakan Vivian duduk, kini mereka berhadapan. Abyan langsung mengutarakan maksud kedatangannya, "Maaf mengganggu waktu kerja Anda. Saya ingin meminta kesediaan Nona untuk menjadi saksi di kasus Nona Tisha yang akan dibuka kembali oleh Tuan Muda."


Tetap saja wajah Vivian menegang mendengarnya meski ia sudah duga buat apa Abyan mencarinya. "Saya justru ingin menghindarinya."


"Tidak ada pilihan buat Nona, ini perintah Tuan Muda," tegas Abyan dingin.


"Tapi saya sudah berjanji dengan Litha."


"Sebutlah minimal dengan sapaan Nyonya karena beliau istri Tuan Muda Pradipta. Mengenai janji Nona, itu urusan Tuan Muda. Bersiap saja jika kesaksian Nona dibutuhkan."


Abyan tidak menanyakan kesediaan Vivian, ia langsung memerintahkannya tanpa ada pilihan apapun untuk Vivian mengelak. Abyan tidak bernegoisasi, bahkan dengan keraguan Ray dan ketidakinginan Litha sekalipun. Ia akan berusaha menghadirkan keadilan yang seharusnya milik Ray dan Litha.


Hati Vivian bergetar, mengapa lelaki yang kemarin terlihat hangat kini justru menampakkan sebaliknya. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi getar hati yang berusaha dikuasainya agar tidak canggung.


Setelah Abyan pamit dan Vivian keluar dari ruangan Direktur, ia dihampiri dr. Lena, rekan sejawat yang usianya 10 tahun diatasnya dan sudah dianggap kakak olehnya. Dokter yang juga merupakan dokter kandungan Litha sengaja menunggu di tempat yang tidak terlihat di sekitar ruangan Direktur.


"Kenapa? Perasaan tadi sumringah saat masuk ruangan, kok setelah keluar jadi muram begini?" tanya dr. Lena.


"Sikapnya jauh berbeda, Kak. Dia begitu hangat saat itu, saat dia mencoba melindungiku dari amukan Tuan Muda bahkan kami bisa berbicara santai, tapi barusan dia bersikap sangat formal dan dingin."


dr. Lena mengusap bahu Vivian, ia juga tidak tahu harus memberi wejangan apa. Vivian sudah bertunangan dengan dr. Indra, tapi entah kenapa desir hati lewat tanpa permisi di hati Vivian justru untuk orang lain bukan lelaki yang akan menikahinya.


"Aku tidak pernah sekecewa ini terhadap laki-laki, Kak. Apa mungkin dia sudah punya kekasih ya?"


dr. Lena tergelak, "Bodoh. Tidak ada kabar satupun yang menyebutkan Asisten Yan sudah memiliki kekasih, yang ada kamu, sudah punya tunangan tapi masih melirik lelaki lain."


"Kak! Aku juga tidak tahu ada apa dengan perasaanku. Aku tidak pernah merasakan apapun saat bersama dengan dr. Indra, biasa saja. Berbeda dengan Asisten Yan, adrenalinku bisa naik turun."


"Lalu kenapa kamu terima saat dr. Indra mengajakmu tunangan?" tanya dr. Lena sambil berjalan menuju lift, mereka berbincang sambil berjalan.


"Karena umur, Mama selalu menanyakan mana calonku diumurku yang hampir kepala tiga. Akupun juga sudah skeptis pada diri sendiri apa bisa merasakan debaran dengan seorang pria, makanya aku berpikir tidak ada salahnya aku menerima pinangan dr. Indra, debaran itu akan aku ciptakan nantinya."


"Tapi ternyata kau justru merasakannya pada orang lain ketika kau sudah bersama dr. Indra, Vi. Kau harus menyelesaikan masalah hatimu sendiri, tidak baik berlarut-larut seperti ini. dr. Indra juga punya hati yang bisa terluka apalagi jika ia tahu perasaanmu yang sesungguhnya."


Vivian terdiam menelaah perkataan dr. Lena, matanya memandang bayangan dirinya sendiri di dinding lift. "Kak, apa aku jahat kalau berharap Asisten Yan juga memiliki debaran yang sama?"


"Jelas jahat lah, kau mau keduanya kalau begitu," sahut dr. Lena menekan tombol angka.


"Ih, Kak Lena!" rajuk Vivian.


"Lalu maumu bagaimana? Hatimu terikat pada status tapi tidak secara emosional."

__ADS_1


"Kak, apa Kakak mencintai suami Kakak?"


"Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu?"


"Aku ingin seperti Kak Lena, saling mencintai dalam pernikahan."


Hmmmppffhh ...


dr. Lena menarik nafas lalu menghembuskannya, "Jika kamu merasakan sesuatu pada Asisten Yan, belum tentu Asisten Yan merasakan hal yang sama."


"Itu yang ingin aku pastikan."


"Nih orang! Kenapa kau jadi begini, tingkahmu tidak karuan, tidak seperti Vivian yang aku kenal. Misalkan Asisten Yan juga merasakan hal yang sama, apa yang akan kau lakukan? Kau akan makin bingung." gerutu dr. Lena.


"Vi, kau menggali lubang masalahmu sendiri."


"Kak Lena dokter kandungan Nyonya Pradipta kan?*


dr. Lena mengangguk, "Kenapa?"


"Kabarnya Tuan Muda sangat menyayangi istrinya."


"Ckckck ... Kau ini mengalihkan pembicaraan ya? Oh ya, biar kubuat kau makin bimbang. Dengarkan! Jika kau melihat langsung interaksi Tuan Muda dan Nyonya Muda, meski kau tidak mengenal mereka, kau akan tahu bagaimana mereka saling mencintai. Pernikahan mereka sangat indah, menanti buah hati dengan bahagia. Setiap kali Tuan Muda mengantar Nyonya Muda memeriksakan kandungannya selalu ada rasa haru, apalagi saat USG dan mendengar detak jantung bayi mereka, mata Tuan Muda selalu berkaca-kaca."


Vivian makin merana, membayangkan bagaimana pernikahannya jika tanpa cinta, seumur hidup ia akan tersiksa, bukan hanya dirinya tapi juga pasangannya.


"Aku juga ingin pernikahan seperti itu Kak, bukan hanya salah satu pihak saja yang mencinta," ucap Vivian gamang, mereka sudah berada di koridor lantai dua, lantai tersibuk di gedung rumah sakit untuk segala aktivitasnya.


Vivian mendekati tunangannya dengan gontai, tidak ada keburukan pada lelaki yang berprofesi sama dengannya, hanya saja ia tidak menemukan debaran ketika menatap matanya. Tidak jauh dari mereka, ada sepasang mata yang memperhatikan dengan senyum sinis.


.


.


.


#Amore Club&Party#


"Sejarah baru Yan, kau kesini tanpa Ray," seru Bona melempar kaleng soda dingin untuk Abyan.


Abyan tersenyum kecut, "Heheh ... Selama ada Nyonya, Ray tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke sini."


"Kau sopan sekali selalu menyebutnya Nyonya, bahkan di ruang privat seperti ini."


Abyan terkekeh, "Nyonya pantas mendapatkan rasa hormat dan perlakuan sopan tanpa batas dari siapapun, Bon. Kau saja yang kurang ajar."


"Loh, justru aku memanggil namanya karena hubungan aku dan Ray akrab, jadi aku juga memanggil istrinya akrab. Kau yang terlalu formal, Yan," sanggah Bona menyesap bir kalengan, "Tapi tumben kau kesini. Biasanya juga kau lebih memilih tidur," lanjutnya lagi.

__ADS_1


Abyan menghela nafas, "Bon, apa yang kau lakukan jika Ninda yang kau sukai ternyata sudah bertunangan dan akan segera menikah?"


Uhukkk ...


"Hah! Apa?!?" ucap Bona setelah tersedak minuman di tenggorokannya. Ia menatap Abyan tak percaya, orang sekaliber Abyan menanyakan hal yang emosional seperti itu.


"Kau menyukai Ninda, kan?" Abyan malah menuding Bona, sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Jangan sembarangan." Bona meneguk birnya menutupi rasa gugupnya.


Abyan tertawa keras, "Bon, Bon ... Aku sangat mengenal watakmu dan Ray. Kalian itu kalau menyukai seseorang, terlihat jelas dimata, bintang-bintang itu berputar disana, semakin besar rasa-mu semakin banyak pula bintang-bintangnya hahahahahaha ... "


"Sialan kau, Yan. Lalu kau sendiri, kau mau bilang kalau kau pandai menutupi perasaanmu, hah?!?"


"Entahlah Yan, aku tidak tahu aku kenapa, memang ada sesuatu yang aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya."


"Rasa apa?"


"Kecewa mengetahui seseorang telah bertunangan bahkan sudah direncanakan tahun depan akan menikah."


"What?!? Who is her, Yan?"


"Heheh ... lalu sudah sejauh mana hubunganmu dengan Ninda?" lagi-lagi Abyan mengalihkan topik pembicaraan.


"Dia menghilang lagi. Ninda sudah tidak tinggal di kost-nya, kata teman satunya dia pulang ke rumah orangtuanya setelah menyelesaikan kuliahnya. Nomorku juga di blokirnya," jawab Bona tanpa sadar ia sudah teralihkan.


"Apa yang kau lakukan memangnya?"


"Aku memintanya untuk jadi pacarku, tapi dia selalu menganggapku bercanda atau menyewanya. Lucunya dia marah sampai sekarang."


"Aneh."


"Apanya yang aneh?"


"Ya kalian," jawab Abyan terkekeh.


"Kau juga aneh."


"Apa yang aneh?" Kini giliran Abyan bertanya.


"Kau. Sekalinya suka sama perempuan, eh, sudah ada pemiliknya hahahahahahaha ... "


"Cih."


Abyan tersenyum kecut. Masih diingatnya saat ia mengetahui bahwa Vivian telah bertunangan bahkan telah menentukan tanggal pernikahannya tahun depan dari Direktur Rumah Sakit, seketika hatinya membeku.


- Bersambung -

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Ditunggu double up nya siang ya ...


__ADS_2