
Ting... Tong....
Bel apartemen berbunyi mengaggetkan Litha yang baru saja akan memasak untuk makan malam mereka dan Ray yang sedang di kamar mandi membersihkan dirinya setelah Litha terlebih dahulu.
"Hhhhhhhhhh .... Abyaaan! Kau biang kerok betul hari ini!!!" sungut Ray seraya menggosok rambutnya di bawah shower.
Betul saja, begitu Litha membuka pintu setelah menhintip dari lubang kecil di pintu, bukan hanya Abyan yang datang tapi juga Bona dan sahabatnya, Ninda.
"Nindaaaaaaaa .... " Litha langsung memeluk sahabatnya erat sekali.
"Aduh-- aduh .... Perutku ... "
Litha lupa kalau ia sedang hamil, ia mengurai sebentar pelukan Ninda memberi jarak untuk perutnya lalu memeluk lagi, memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"Aku rindu sekaliii, Tha .... Begitu Bona memeberitahuku kau tiba tadi siang, aku langsung ke Rumah Utama, tapi Pak Is bilang kalian baru saja pergi menuju apartemen. Kalian pasti tidak mau diganggu kaaaaaannnn .... Makanya ke apartemen, hanya ada kalian di sini, berteriak sepuasnya pun tak ada yang terganggu hahahaha ... "
"Ninda, pikiranmu liar sekali! Kamar Ray di Rumah Utama baru saja di renovasi, bau catnya belum hilang, aku tidak suka," sanggah Litha cepat. Ia malu sekali dengan apa yang baru saja dikatakan Ninda.
"Aaahhhh ... seperti Rumah Utama kekurangan kamar saja. Kau tinggal pilih, mau yang mana. Aku tahu itu hanya alasan kalian berdua hahahahahahahaha .... "
Ninda makin terbahak apalagi ia melihat pipi Litha bersemu merah. Bona dan Abyan pun tidak bisa tidak ikut terbahak
"Ehmmm ... Engg ... Itu apa? Pizza ya?" Litha mencoba mengalihkan pembicaraan setelah melihat tangan Bona penuh dengan tentengan kardus berbentuk segi enam.
"Iya, tadi aku minta mampir beli pizza untuk kita makan bersama." Ninda yang menjawabnya.
Litha agak bingung, interaksi Ninda dan Bona sangat akrab, bukankah selama ini ia selalu menghindari Bona. Dan tadi ia mengatakan kalau tahu kedatangannya hari dari Bona. Apa mereka sudah menjalin komunikasi? Sejak kapan?
"Raaaayyy, apa kabar Bro?"
Bona segera menghambur ke arah Ray yang keluar kamar ingin memeluknya.
"Stop!!! Siapa yang menyuruhmu ke sini malam ini? Mengganggu saja!" sungut Ray kesal membanting badannya di sofa. Rambutnya yang belum sempat ia keringkan menguarkan wangi shampo yang menusuk indra penciuman.
Abyan terbahak, semua langsung menatapnya terutama Rayyendra yang menatap tajam menikam maniknya. Ia tahu Abyan sengaja mengajak Bona dan Ninda ke apartemennya.
"Sorry, sorry, aku hanya ingin berkumpul bersama. Coba kalian bayangkan kalau kita ngumpul di rumah utama, kita seperti diawasi orangtua. Pak Is dan Pak Sas tidak akan melepaskan pandangannya dari kita. Kalau disini kan lebih asyik, iya gak Bon?" Abyan mencari alasan dan dukungan, Bona pun mengiyakan dengan mengangguk.
"Brengsek kau, Yan!" umpat Ray jengkel.
Abyan terbahak melihat muka Ray yang kesal. Litha menyadari mood suaminya sedang buruk karena Abyan, ia lalu mendekati suaminya dan dengan tiba-tiba ia mencium bibir Ray dan tersenyum sembari berbisik di telinga.
"Nikmati saat ini bersama kawanmu. Waktu kita setelahnya."
Ajaib, muka Ray seketika sumringah, suasana hatinya kembali senang. Sekarang tinggal Abyan yang mencebik dan Bona yang terperangah. Ninda? tentu saja tidak kalah terperangahnya dengan Bona melihat Litha yang sedikit agresif, sangat berbeda dati yang ia kenal selama ini.
"Wow! I-- itu tadi-- Tha, kamu men--"
"Yuk, Nin, bantu aku. Aku tadi hendak membuat salad buah, itu bisa untuk pencuci mulutnya." Litha segera mengajak Ninda untuk menyiapkan makanan yang akan mereka santap sebelum dia menceracau.
"Babe, I'm waiting your dessert!" teriak Ray, Litha tersenyum mendengarnya. Abyan dan Bona tentu saja tahu dessert yang dimaksud Ray.
__ADS_1
"Kau sepertinya sudah tergila-gila dengan Litha, Ray. Aku tidak pernah melihatmu begini ke Mona," ujar Bona dengan decakan, ck, ck, ck, menduduki sofa di depan Ray diikuti Abyan di samping Bona.
Ray menginjak kaki sahabatnya itu dengan keras,
"Aaauuuwwww ...!!!" pekik Bona keras yang mengundang perhatian Litha dan Ninda yang di dapur untuk menoleh ke arahnya di ruang tengah.
"Jangan kau sebut namanya lagi apalagi di depan Litha," kata Ray dengan suara tertahan dan melirik ke arah dapur, ia khawatir Litha mendengarnya.
"Kau takut pada istrimu?"
Bona mengerjap tidak percaya yang disambut dengan tawa keras Abyan, disusul Bona setelah melihat reaksi Ray yang tidak membantah malah justru membuang mukanya, wajahnya memerah.
"Hahahahahahaha .... bisa jadi, bisa jadi. Tapi sebaiknya kau tidak menyebut nama itu di depan Litha. Kau tidak melihat sadisnya Litha ditampar olehnya, pipi Litha sampai bengkak dan memar. Bukannya kasihan, Ray malah cemburu sama Si Bule, hahahahahaha .... Hah! benar-benar kejadian sore itu sangat memalukan," timpal Abyan.
"Itu karena mulut ember anak ini yang mengatakan kalau aku di Kota A dan Litha lagi hamil. Dia nekad Bon, dia hampir mencelakai Litha dan calon anakku," kata Ray melempar bantal sofa ke muka Bona.
Bona yang sudah hafal serangan pelemparan bantal, dengan gesit ia menangkap bantal itu sebelum mengenai mukanya.
"Eh, Ray. Justru aku ingin menyadarkan Mona, eh, maksudku si dia yang tidak boleh disebut namanya, agar ia tidak terus mengejarmu, agar ia tidak lagi mengharapkanmu. Aku juga sudah mendapat tamparan dari Ninda setelah ia tahu berita, si dia yang tidak boleh disebut namanya menampar istrimu. Jadi jangan kau menyalahkan aku lagi," ucap Bona menegaskan bahwa dirinya bermaksud baik.
Reaksi Rayyendra dan Abyan diluar dugaan Bona, mereka tertawa sangat keras hingga membahana sampai ke dapur.
"Why?" tanya Bona tanpa suara dengan mengangkat tangannya.
"Si dia yang tidak boleh disebut namanya. Kau menyamakannya dengan Voldemort, hah? Huahahahahahahaha .... " sahut Ray masih tertawa.
Bona segera menyadarinya, kemudian ia juga ikut tertawa bersama kedua sahabatnya, tertawa lepas seperti ini sudah lama sekali mereka tidak melakukannya setelah kembali ke tanah air dari Amerika. Mereka berinteraksi seolah ada sekat atas nama profesionalisme selayaknya majikan dengan anak buah. Namun, sekarang seakan sekat itu hilang dan mereka menikmati persahabatan seperti waktu di negeri Paman Sam.
Semuanya saling berpandangan, saling melemparkan pandangan untuk siapa yang harus menjawab pertanyaan mematikan Litha. Dan pandangan itu mengerucut ke Ray yang justru melotot ke arah Abyan dan Bona. Keduanya tiba-tiba berdiri membantu Ninda membawa Pizza yang di belakang Litha, mereka tidak mau berhadapan dengan Litha, terlebih Bona, dia sudah merasakan bar-barnya seorang Litha.
"Ah, Sayang, I-- Itu, bukan-- bukan siapa-siapa. Vol-- Voldemort itu ... itu Firza."
Hanya nama Firza dalam pikirannya, sehingga mulut Ray menyebut Firza sebagai Voldemort. Semua mata menatapnya heran kecuali istrinya yang menatap tajam bagai belati yang menghentikan detak jantungnya.
"No 'dessert' for you tonight!" sahut Litha dingin dan menjauhkan semangkuk salad dari hadapan Ray.
Litha tahu siapa yang dimaksud dengan Voldemort karena apartemen Ray tidaklah seluas Rumah Utama, apalagi mereka tidak sadar membahasnya dengan suara yang besar dan pembicaraan mereka terdengar dari dapur.
"Aishhh ... kenapa aku lebay banget sih! hanya perkara mereka tidak mau menyebut namanya karena ada aku, aku jadi kesal sekali. Tapi kan juga seharusnya mereka tidak boleh seperti itu, seakan-akan menyembunyikan sesuatu dariku, aku tidak suka! Sebut dan katakan saja namanya, aku memang akan marah tapi tidak sesakit ini."
Mood Litha seketika berantakan. Dari yang tadinya senang karena bertemu Ninda berubah diam seribu bahasa. Bukan hanya Litha yang diam, tapi juga semuanya, tidak ada yang berani bersuara. Mereka menikmati pizza dalam keheningan, bahkan suara nafas mereka pun bisa terdengar. Suasana malam ini yang tadinya menghangat telah disihir oleh Voldemort menjadi sedingin es.
...................
Beberapa menit sebelumnya, di dapur Litha dan Ninda menyiapkan santapan yang akan dimakan. Potongan buah yang tadi Litha tinggalkan karena membuka pintu kembali diurusi.
"Skripsimu sudah sampai mana, Nin?" Litha membuka obrolan sembari tangannya mencampur beberapa bahan di potongan buah dalam mangkuk.
"Kemaren baru saja ACC bab III. Mudah-mudahan aku bisa wisuda periode ini," Ninda mengeluarkan minuman-minuman yang ia beli tadi dari plastik pembawanya.
"Huh! akhirnya kau yang mendahuluiku."
__ADS_1
"Sekarang kau tidak usah terburu-buru menyelesaikan kuliahmu, misalkan gak diselesaikan juga tidak apa-apa, kurasa suamimu sudah menjamin hidupmu. Kau tidak perlu bekerja."
"Ishhh .... tidak boleh begitu. Pendidikan tetap yang utama, meski hanya Ibu Rumah Tangga, seorang perempuan harus memiliki pendidikan karena ia kan menjadi ibu sebagai tempat pertama anaknya bertanya. Hhhhhh ... sayang sekali, padahal skripsiku sudah revisi Bab IV, tapi karena aku hamil, jadi tertunda."
"Kan, hamil bukan kendala untuk melanjutkan, Tha. Kita maju meja sama-sama, biar kita wisuda bareng," ujar Ninda semangat.
Litha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia belum berani menunjukkan mukanya dengan keadaan sekarang. Hatinya cukup tersakiti mendengar seisi kampus menggosipkan dirinya, apalagi kalau ia muncul dengan perut buncit, pasti anak dalam kandungannya disebut-sebut dengan tidak benar, dan itu akan sangat menyakitkan baginya, membayangkannya pun sudah membuatnya sesak.
"Maaf, Tha. Aku tidak bermaksud memaksamu," sesal Ninda melihat mata sahabatnya berkaca-kaca.
"Tapi kalau dibilang sih, pengen ya pengen banget wisuda bareng kamu, Nin. Tapi mungkin waktunya belum, aku bersabar saja sampai bayiku lahir."
"Hhhhhh ... itu sebenarnya salah suamimu, menghamilimu tidak pas waktunya," ujar Ninda melihat Ray yang tengah melempar bantal ke Bona namun dengan cepat Bona menangkapnya.
"Tha, suamimu menarik juga ya, pantas saja kau hamil, kau tidak bisa menahan pesonanya kan?" Ninda berkata tanpa mengalihkan matanya dari suami sahabatnya.
Litha kesal melihat Ninda memandang suaminya dan mengatakannya menarik.
"Nin, pisau ini sudah selesai dipakai untuk memotong buah. Apa kau tahu dia akan dipakai untuk apa lagi?" sahut Litha datar dengan memegang ujung pisau.
Glek ....
Ninda baru menyadari sindiran Litha.
"Ih, Tha ... posesif juga kau ternyata. Kukira suamimu saja yang gila, ternyata kalian sama gilanya, pantasan kalian jodoh. Hiiiiii ...." bathin Ninda sambil bergidik.
"Letakkan pisau itu. Ngeri kulihatnya. Eh, Tha, dengar mereka tertawa nyaring sekali. Kira-kira apa yang mereka bincangkan ya?"
"Hehehehe iya, Nin. Aku senang melihatnya, mereka bisa bersenda gurau tanpa ada sekat dengan embel-embel Tuan Muda."
"Memangnya apa yang mereka bahas sampai terbahak begitu," tanya Ninda menajamkan pendengarannya diikuti Litha yang juga menajamkan pendengarannya dengan mata tertutup, menelisik barisan kalimat yang diutarakan mereka di balik gelak tawa.
"Oh, ternyata mereka sedang membahas Harry Potter," kata Ninda yang bersiap membawa pizza ke ruang tamu untuk dimakan bersama.
Tapi Litha masih menajamkan suaranya, sampai Ninda menyahutnya, "Apa saladmu sudah selesai? Kalau sudah mari kita ikut diskusi mereka. Aku sangat menyukai cerita Harry Potter."
Mata Litha terbuka kemudian, wajahnya dingin. Ia dapat menangkap dengan jelas ada sebuah nama disebut, nama yang tidak asing baginya, Mona.
Ia segera bergegas menuju ketiga pria itu dengan membawa semangkuk salad, hatinya bergemuruh mendengar nama yang tidak asing itu bisa membuat suaminya tertawa senang.
"Ray, sebaiknya kau menyiapkan jawaban yang bagus untukku, karena kalau tidak, kau tidak akan mendapatkan dessertmu malam ini."
- Bersambung -
Keterangan :
Voldemort \= musuh utama Harry Potter, JK Rowling.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa vote, hadiah, like dan komentarnya ya Kakak, biar lumayan naik nilai popularitasnya Kak, biar bisa dilirik NT untuk dipromosiin di beranda
__ADS_1
Matur Tengkyu sebelumnya ☺️☺️