Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Ingin tunjukkan pada Dunia


__ADS_3

# Dapur Rumah Utama #


"Sas, kau sudah tahu kalau Nyonya terluka?"


Pak Sas meletakkan gelas kopinya, bertanya ada apa lewat pandangan matanya ke Pak Is.


"Artis Renata Swastika membuat lengan Nyonya membiru dan Nona Ninda pingsan yang sekarang berada di rumah sakit. Detailnya aku tidak begitu tahu, tapi melihat mereka lepas dari penjagaan Tuan Muda, Asisten Yan dan Tuan Bona, bisa jadi terjadi di ruang privat khusus wanita, toilet misalnya. Tapi kenapa? Ku kira hanya Nona Ramona yang aku khawatirkan."


Pak Sas diam saja menatap sisa kopinya di cangkir, pikirannya entah sudah terbang kemana atau ada rencana yang ia susun.


"Banyak wanita yang iri. Jika suatu saat Nyonya dipublikasikan sebagai istri Tuan Muda, akan jauh lebih banyak nanti yang dengki. Sikap Tuan Muda yang melarang Nyonya kemana-mana apalagi tanpa penjagaan sudah tepat." Pak Sas menyesap sedikit kopinya lagi, "Renata Swastika ya ... heh!"


"Ada apa? Kau mengenalnya, Sas?"


"Tentu saja, dia kan artis sinetron yang sedang naik daun. Tapi lihat saja, sedikit lagi dia akan jatuh sampai tidak bisa bangun."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Lihatlah dulu tindakan Tuan Muda padanya," ujar Pak Sas menandaskan sisa kopinya lalu berjalan ke luar.


...***...


# Ruang Presdir #


Satu minggu berlalu, Abyan memperlihatkan tab yang dipegangnya pada Ray. Berita amblasnya karir keartisan Renata dan Airin di dunia hiburan. Semua kontrak iklan, sinetron, program TV, bahkan event off air sebagai bintang tamu dibatalkan sepihak. Disini dapat terlihat kekuasaan seorang Pradipta, meski ia tidak memiliki stasiun TV tapi pengaruhnya tidak main-main. Daripada mendukung satu artis yang sudah diketahui boroknya lebih baik mengikuti titah Tuan Muda agar segala bisnis mereka lancar.


"Hah! Aku merasa belum puas, Yan. Dia membuatku tidak bisa bercinta dengan bebas selama 3 hari karena Litha meringis kalau lengannya kusentuh dan mereka hanya mendapat ganjaran pembatalan kontrak," protes Ray.


"Dasar maniak! Kau bercinta sebuas apa sih?" gerutu Abyan menarik tab dari tangan Ray, "Bagi wanita seperti Renata dan Airin, kontrak itu segalanya bagi mereka, itu kehidupan mereka."


"Habisi kehidupan mereka sampai ke akarnya!" cetus Ray.


"Kontrak dengan Bintang Entertainment kita sudah batalkan. Kita akan menjalin kerjasama dengan pesaing mereka, Lunnar Entertainment."


"Lunnar Entertainment? Bukankah mereka hanya memiliki artis pendatang baru? Kau yakin?"


"Aku menyodorkan pendapat yang kemarin di kemukakan istrimu pada Firza dan ia sangat menyetujuinya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Lunnar Entertainmet yang dipilih. Kau tahu Ray kita bisa menekan cost 63% untuk iklan semua produk kita. Luar biasa kan, Ray? Istrimu mencetak sejarah cost iklan produk paling minim selama Pradipta Corp. berdiri. "


Ray tersenyum bangga dengan otak encer istrinya, tidak menyangka kepintarannya membawa keuntungan bagi perusahaan keluarganya. Litha memang sumber rezeki baginya.


"Kau tidak ingin memasukkan Nyonya dalam jajaran direksi? Bisa saja pemikiran-pemikirannya yang segar bisa membawa Pradipta Corp. semakin berjaya."


"Tidak." Ray menatap Abyan yakin, "Aku tidak mau waktunya tersita untuk perusahaan. Dia cukup memikirkan suami dan anak-anak kami saja. Nanti kami hanya saling bertukar pendapat saja, tidak langsung seperti kemarin, apalagi menjadi direksi. Dan aku tidak akan tahan jika banyak pria yang memandangnya dengan penuh kekaguman nantinya."


Abyan terbahak mendengar kalimat terakhir Ray, "Bilang saja kau tidak mau istrimu terlihat mengagumkan di depan pria lain. Kau cemburu, hahahahaha ... "


"Lalu apa rencanamu untuk ulang tahunnya nanti? Nyonya terakhir merayakan ulang tahunnya sewaktu ayah Nyonya masih hidup."


"Belum ada, Yan. Aku pusing, aku tawari berbagai macam barang dan pesta mewah, dia malah memarahiku. Kupaksa dia untuk menerimanya, dia menangis, katanya aku menilainya dengan uang dan mengungkit kisah cek 30 milyar lalu." Ray menghela nafasnya sesaat, "Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin memberinya memori yang tidak akan ia lupakan dalam hidupnya dan akan ia ceritakan nanti ke anak-anak kami dengan bahagia."


"Ninda bilang yang paling diimpikan Nyonya adalah kelulusan kuliahnya. Baginya, kuliahnya sekarang adalah proses yang ia bangun sendiri dari awal. Bagaimana perjuangannya bisa kuliah di universitas bergengsi dengan cara mendapat beasiswa full. Perjuangannya membagi waktu antara kuliah dan bekerja karena ia tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya. Perjuangannya melewati masa sakit dengan keadaan keluarga yang hancur dan rasa trauma yang disimpan sendiri. Maka kelulusannya itu bisa dibilang the living of masterpiece-nya seorang Litha."


Ray termangu, ia sedikit kecewa dengan dirinya yang kurang memperhatikan wanita kesayangannya. Bahkan impian sederhananya pun ia tahu dari orang lain. Ray menyesal saat tiap kali Litha bercerita tentang kuliah dan skripsinya yang hampir selesai tak ia gubris sama sekali. Ray pikir Litha hanya mengoceh karena tidak ada bahan obrolan dengannya.


"Ray, apa kau masih ingat ketika Bona hampir menyerah karena Mr. Liam mengkritik habis tugas akhirnya dan mengatakannya seperti essai murid high school ? Dan apa yang Bona sampaikan waktu itu? Ia sangat ingin lulus bersama dengan kita dan kita membantunya mati-matian selain berjibaku dengan tugas akhir punya sendiri." Abyan menghela nafasnya berat, "Lalu apa kau sudah lupa Ray? Setelah prosesi wisuda, ia memeluk kita dengan menangis bahagia dan mengatakan, Aku tidak akan melupakan hari ini. Akan aku ceritakan pada anak-anakku nanti kalau ayahnya memiliki sahabat terbaik dalam hidupnya. Terima kasih Rayyendra, terimakasih Abyan. "


Abyan mengingat salah satu kenangan emosionalnya. Ia selalu terharu dan matanya nampak berkaca-kaca jika mengingat kenangan emosionalnya. Hati Ray makin tersayat, seketika ia ingin memeluk Litha dan menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.


"Yan. Please lakukan sesuatu untukku. Aku ingin Litha merasakan dan mengatakan hal yang sama seperti Bona waktu itu," mohon Ray merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


"Dasar Bocah Egois, seharusnya kau yang berpikir!"


"Baiklah. Tapi kau ikuti caraku dengan tidak ada bantahan sedikitpun."


"Abyan ... " Ray bangkit dari kursi kebesarannya dan memeluknya, "Kau memang yang terbaik. Aku belum bisa mandiri tanpamu, padahal Litha bilang aku harus belajar lebih mandiri karena nanti waktumu akan tersita untuk dr. Vivian."


"Ma-- Maksudmu apa, Ray?" tanya Abyan gelagapan.


"Litha bilang kau menyukai dr. Vivian, jangan tanyakan ia tahu dari mana, aku juga bingung karena dia bilang ada banyak bintang di matamu saat melihat dr. Vivian, sama halnya seperti aku melihat dirinya."


Hati Abyan makin tidak karuan dengan asumsi Nyonya Mudanya. Apa benar ia terlihat seperti itu? Padahal ia sudah menutupinya rapat-rapat dengan bersikap sebiasa mungkin. Semoga yang menyadarinya hanya Litha saja, jangan sampai Vivian juga mengetahuinya.


...***...


Suasana sebuah ruangan di kampus Z yang biasa digunakan untuk sidang ujian skripsi terlihat sedikit tegang. Kabar yang mereka terima kemarin seperti gelegar halilintar di siang bolong. Seorang mahasiswi yang sempat membuat perbincangan di seantero kampus kini membuat heboh di kalangan dosen dan petinggi universitas. Mahasiswi yang pernah mereka cemooh bahkan menyindirnya terang-terangan sekarang membuat mereka tak sanggup berkata-kata.


"Pak Munir, aku masih tidak percaya kalau Litha istri Tuan Muda," kata Bu Marisa, dekan fakultas tempat Litha menempuh kuliahnya


Yang disebut namanya pun hanya mengangguk cemas dan mengusap-usap pelipisnya. Ia ingat Litha pernah menitikkan airmata mengadu padanya sebagai dosen wali kenapa semua orang di kampus memfitnahnya sebagai wanita simpanan, padahal lelaki yang sering menjemputnya tiap pulang kuliah adalah sopir dan asisten pribadi seorang Nyonya Besar karena Litha harus menemaninya di kala sore. Tapi saat itu Pak Munir malah menyindirnya bahwa Litha lebih pandai membuat karya tulis ilmiah ketimbang cerita fiksi yang baru saja dikatakannya. Ternyata cerita itu bukan fiksi tapi kenyataan yang akhirnya sekarang ia sesali.


"Kalau bukan Pak Rektor yang mengatakannya langsung, aku kira ini lelucon paling lucu sepanjang aku mengajar disini," kata Bu Marisa lagi.


"Litha benar-benar mengejutkan," timpal Ketua Jurusan yang dulu terang-terangan menuding Litha sebagai oknum yang membuat citra kampus menjadi buruk.


Semua menghela nafas, "Sekarang kita menyapanya dengan sebutan Nyonya Muda." Nada suara Bu Marisa masih seperti belum menerima sepenuhnya kalau Litha adalah istri Tuan Muda.


"Untung sebagai dosen pembimbingnya, aku tidak begitu mencoret-coret skripsinya selama bimbingan. Aku tidak membayangkan kalau aku membuat banyak coretan. Huuffttt ... " komentar salah seorang dosen berperut tambun menyeka dahinya yang mulai berkeringat, padahal AC di ruangan sudah dinyalakan dari tadi


"Secara akademik, Litha tidak perlu diragukan kemampuannya. Dia masuk dengan mendapatkan beasiswa dan mempertahankannya itu sudah menjadi bukti, bahkan di semester awal ia kuliah ia banyak membawa nama kampus di berbagai kompetisi," ujar Pak Munir.


"Dan sekarang kita berada disini hanya untuk formalitas saja mengadakan sidang ujian skripsi yang mana kita sudah tahu hasilnya," seloroh Ketua Jurusan.


"Cih. Kalau cari muka itu di depan orangnya, Pak Munir," cicit Ketua Jurusan.


"Sudah hentikan! Suka tidak suka, itulah kenyataannya bahwa Litha yang selama ini digosipkan sebagai wanita simpanan ternyata adalah istri Tuan Muda, bahkan Pak Rektor mengatakan Tuan Muda memerintahkan untuk merubah jadwal wisuda periode ini. Wisuda ini dipersembahkan Tuan Muda sebagai hadiah ulang tahun istrinya."


Apaaaaa ?!?


Semua membelalakkan mata tidak percaya dengan yang baru saja mereka dengar dari Bu Marisa.


"Tidak mungkin acara sakral begini yang melibatkan orang banyak hanya diselenggarakan demi satu orang. Apa maksudnya nanti backdrop dibelakang para guru-guru besar adalah ucapan selamat ulang tahun. Wisuda bukan lelucon, Bu," sengit Ketua Jurusan.


"Tentu saja tidak begitu, Bu Dini. Wisuda ya tetap seperti biasa, sakral dan penuh khidmat karena moment itu bukan hanya milik Litha tapi semua wisudawan/wisudawati. Maksud Tuan Muda mempersembahkannya sebagai hadiah ulang tahun istrinya karena Litha statusnya sekarang tengah cuti, ia minta diaktifkan kembali dan mengikuti semua prosedur agar Litha bisa ikut wisuda periode ini. Tuan Muda juga meminta agar tanggal wisuda dimajukan 2 minggu dari jadwal yang sudah ditetapkan agar bertepatan dengan hari ulang tahun Litha."


"Wow! Sungguh istimewa sekali dia mentang-mentang istri kesayangan Tuan Muda Pradipta, huh!" Bu Dini masih saja tidak bisa menerima kalau mahasiswi yang ia rumorkan kemana-mana ternyata istri kesayangan dari pria yang paling diidolakannya.


"Hahahaha ... Apa Bu Dini iri? Sama Bu, aku juga, siapa yang tidak iri dijadikan kesayangan oleh Tuan Muda. Sudahlah Bu, Universitas ini banyak menjalin kerjasama dengan Pradipta Corp. dan yayasan Pradipta Corp. berperan besar bagi tempat kita bekerja ini dari segi dana, baik dana pembangunan, penelitian, dan beasiswa mahasiswa berprestasi, termasuk beasiswanya Litha. Jadi, sebaiknya kita bersiap menyambut Litha dan Tuan Muda yang sebentar lagi akan datang. Kita pastikan semuanya berkenan di hati Tuan Muda. Kita tidak ingin kan, tempat kita mencari sesuap nasi dijungkir-balikkan hanya karena istrinya tidak diperlakukan dengan baik?"


Kata-kata Bu Marisa menjadi penutup segala komentar tentang Litha dan semua akhirnya mengiyakannya.


.


.


.


Disaat yang sama namun ditempat yang berbeda, terjadi perdebatan antara Litha dan Ray Sepasang suami istri itu hanya mau didengarkan, tapi tidak mau mendengarkan.


"Sayang, ayolah, Ini sudah di parkiran, tinggal selangkah kau bisa mendapatkan hasil jerih payahmu selama ini."

__ADS_1


Ray membujuk istrinya agar segera turun. Ia heran, sebelum berangkat Litha nampak sangat antusias dengan skripsinya yang ia dekap sepanjang malam sampai-sampai Ray mengalah hanya untuk satu malam ia 'diselingkuhi' oleh benda setebal 218 halaman. Namun apa yang terjadi barusan sungguh diluar dugaannya, Litha menolak turun, ada mendung di matanya yang sedari tadi menunduk ke arah perutnya.


"Lith, semalam kau mengatakan tidak sabar memaparkan skripsi yang sudah kau buat dengan susah payah. Sekarang malah tidak mau turun. Sebenarnya maumu bagaimana? Aku sudah mengosongkan agendaku pagi ini hanya untuk menemanimu." Suara Ray mulai meninggi. Ia jengah menunggu kesediaan Litha untuk turun.


"Aku juga tidak meminta Mas untuk kesini, kan?"


"Lalu kau mau diantar Pak Sas begitu? Baru kau mau turun?" Suara Ray makin meninggi membuat mata Litha mulai berkabut dan dia diam dalam lamunannya.


"Asisten Yan, aku pulang saja dan antar Suamiku kembali ke kantornya," kata Litha kemudian.


Ray mendengus kesal, rasanya ia ingin memaki atau paling tidak meninju sandaran kursi di depannya seperti biasanya kalau marah di dalam mobil, tapi ia tahan semua itu karena ada Litha disamping. Urat-urat tangan Ray mengencang dengan dikepalkan kedua tangannya.


Abyan dari kaca spion depan mengamati Nyonya Mudanya dengan kasihan. Ia tahu apa yang sedang dirasakan Litha, semakin Ray memaksa bahkan dengan nada tinggi akan membuat Litha juga semakin bergeming, yang ada justru melukai hatinya.


"Ray, masih ada sisa sebatang rokok di sini. Mubazir jika kau tidak habiskan. Ayo kutemani sebentar," Abyan menyerahkan kotak rokok ke belakang untuk diambil Ray, sengaja untuk meredam kemarahan sahabatnya.


Begitu Ray dan Abyan keluar dari mobil untuk menghabiskan sebatang rokok, airmata Litha jatuh dan langsung diusapnya dilanjutkan usapannya ke arah perutnya dengan senyum pilu.


.


.


.


...----------------...


Sisipan


"Aku ingin Pak Rektor memajukan tanggal wisuda sesuai dengan tanggal ulang tahun istriku," perintah Ray yang membuat Pak Rektor serasa terkena serangan jantung setelah mendengar siapa istri Tuan Muda.


"Ta-- Tapi jadwal sudah disebar Tuan, bagaimana bisa dimajukan."


"Ya itu urusan Anda, kenapa saya yang memikirkannya? Dan jadwalkan tiga hari lagi untuk sidang ujian skripsinya Litha. Pastikan dia masuk sebagai salah satu wisudawati."


"Ba-- baik Tuan, tanpa Tuan katakan, Nyonya pasti akan ikut diwisuda, kemampuannya tidak diragukan."


"Cih. Kemampuannya tidak diragukan? Tapi kenapa semua yang ada di kampus ini memfitnahnya hanya dengan melihat tanpa bertanya, bahkan jika ada yang bertanya tetap saja mereka tidak akan mempercayai perkataan istriku. Padahal kerugian apa yang ia timbulkan? Bukankah prestasi yang ia peroleh juga membawa nama universitas juga." Ray menyindir habis-habisan, ia geram istrinya jadi bulan-bulanan seisi kampus hingga menyebabkan rasa percaya diri Litha terjun bebas.


Pak Rektor terdiam, seolah membenarkan apa yang dikatakan Ray.


"Maafkan kami seluruhnya Tuan. Seharusnya kami menciptakan lingkungan akademika yang fokus pada pendidikan dan prestasi, bukan pada kabar burung tidak jelas," sesal Pak Rektor.


"Kalau begitu, ikuti perintahku. Jika Anda menolaknya, aku akan menghentikan semua bentuk kerjasama dan bantuan dana maupun beasiswa di universitas ini." Ray berkata dengan tegas dan tidak ingin dibantah.


"Segala pengeluaran untuk wisuda tahun ini, aku pribadi yang menanggungnya. Pihak universitas hanya menyiapkan dengan baik prosesinya. Dekorasi, dokumentasi, konsumsi hingga te*tek bengeknya akan aku tanggung. Pak Rektor hanya mengucapkan terima kasih padaku karena semua berjalan dengan istimewa karena ada istriku sebagai wisudawati. Katakan itu dengan lantang dalam sambutanmu tanpa menyebut nama Litha. Untuk nama istriku aku sendiri yang akan mengumumkan, aku hanya meminta sedikit waktu di akhir acara nanti. Dan sebagai rasa syukurku, aku akan memberikan kesempatan khusus bagi wisudawan/wisudawati yang ingin bekerja di Pradipta Corp untuk memasukkan lamaran dalam bulan ini, bulan kelahiran istriku. Sedangkan untuk para dosennya, Pradipta Corp. akan memberi bantuan dana riset dan penelitian bagi proposal yang dinilai layak." jelas Ray panjang lebar.


Pak Rektor mengangguk mengerti. Dalam kepalanya sudah membayangkan kehebohan pasti akan terjadi saat itu. Kehebohan itulah yang menjadi bahan bakar adrenalin Ray menunjukkan dengan bangga pada dunia bahwa Navia Litha Sarasvati ada istri yang ia cintai dengan seluruh kehidupannya sekarang ataupun nanti.


...--------------...


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hai Kakak-kakak pembaca setia karya ini. Maafkan Author jika ada keterlambatan up atau tidak up dalam sehari, karena kehidupan real life lagi butuh prioritas. Tapi bagaimanapun juga Author akan tetap berusaha update.


Terima kasih atas semua bentuk dukungannya, Author sungguh terharu, karya halu receh ini bisa menghibur dan mendapat tempat di hati Kakak-kakak pembaca.


Matur sembah nuwun ... 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2