Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Masa Lalu (Part 1)


__ADS_3

Hati Rayyendra serasa di awan ketika dokter menyatakan kandungan Litha sehat dan tidak ada masalah untuk melakukan perjalanan dengan pesawat, mereka akan kembali ke Ibukota tapi yang paling membahagiakan Ray adalah mendapat lampu hijau dari dokter untuk berhubungan intim dengan istrinya dengan catatan memperhatikan posisi saat melakukannya karena perut Litha akan makin membesar. Ketika Ray dan Litha tengah diliputi kebahagiaan tiada terkira. Ada dua sosok yang sangat mengkhawatirkan mereka


"Ada apa Paman memanggilku?"


"Kau tidak menemani Tuan Muda ke rumah sakit?"


"Tidak, Paman. Tuan Muda hanya ingin pergi berdua saja, setelah dari rumah sakit mereka akan berkeliling Kota A katanya Nyonya Muda ingin jalan-jalan seperti orang pacaran."


Pak Sas tersenyum. "Mereka benar-benar sedang kasmaran."


Abyan terkekeh, mengingat tadi pagi Tuan dan Nyonya absen sarapan di meja makan, tidak seperti biasanya. Mereka beralasan akan sarapan diluar padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 10.


"Kayaknya Ray sudah terbebas dari penjara hasratnya hahahahahaha ... " gelak Abyan dalam hatinya.


"Baiklah, kalau begitu kita punya waktu banyak untuk berbincang."


"Ada yang ingin Paman katakan?"


"Tuan Muda masih belum mengetahui bahwa kau keponakanku, kan?" Pak Sas menjawab dengan pertanyaan.


"Belum, Paman."


"Sebaiknya Tuan Muda tidak pernah tahu, Yan. Tetap berjagalah di sampingnya seperti biasa, terlebih Nyonya Muda karena ia yang akan menjadi sasaran. Nyonya Muda adalah titik lemah Tuan Muda."


"Hhhhhhh .... tapi sekarang semakin aneh, Paman. Saat berpamitan tadi pagi, aku dilarangnya untuk melihat Nyonya padahal Nyonya berdiri di hadapanku, bahkan untuk sekedar menyapa, ckckckck ... Nyonya pun terlihat canggung sekali."


Pak Sas terbahak, jarang sekali ia terbahak seperti ini, "Hahahahahaha .... Kasihan Nyonya Muda, Tuan Muda memperlakukannya bak tawanan, hanya Pamanmu ini yang diizinkan Tuan Muda berbicara dan berada di dekatnya hahahahaha ..."


"Whatt?!? Ray sudah gila! Baru saja hasratnya terlepas sudah 'mabuk'. Nyonya juga wanita yang tahu batas, tidak mungkin ia berperilaku sembarangan. Hhhhhhh .... "


Pak Sas kembali terbahak, "Itulah Tuan Muda, ia tidak bisa menghilangkan sisi bocahnya yang satu ini. Sikapnya sama seperti ke Nyonya Besar, tapi kali ini rasa memilikinya jauh lebih besar, semoga Nyonya Muda bisa memaklumi."


"Cih. Dasar Bocah Egois!" umpat Abyan.


"Yan, kau ingat saat Paman meminta ijin pada Ibumu agar kau mengabdi pada Keluarga Pradipta?" tanya Pak Sas mengganti topik pembicaraan.


Abyan mengangguk.


"Kenapa kau tidak pernah bertanya alasannya?"


"Ibu bilang kita tidak akan ada tanpa campur tangan Keluarga Pradipta. Dan Ibu tidak bisa membalas kebaikan Nyonya Besar karena harus merawat Dinda. Jadi, begitu Nyonya Besar memintaku untuk menjadi tangan kanan Tuan Muda, aku tidak perlu mempertanyakan alasannya," jelas Abyan.


Pak Sas menarik nafas panjang


"Ini bermula dari 35 tahun yang lalu, Yan."


Kening Abyan mengkerut, kenapa tiba-tiba pamannya ingin menceritakan masa lalunya? Apa ada hubungannya dengan kejadian Nyonya Muda yang terjadi kemarin? Apa karena pamannya terlihat sangat gelisah sejak melihat wajah Nyonya Muda yang terluka?

__ADS_1


🍀 flashback on 🍀


Di hari yang belum terlalu malam di Ibukota sekitar 35 tahun yang lalu, sebuah mobil melintasi jalan kecil yang sepi di antara rimbunnya semak dan pohon-pohon yang masa itu belum banyak bangunan yang berdiri.


"Sayang, kenapa pilih jalan ini? malam hari disini sangat menyeramkan, padahal malam belum larut," tanya Nyonya Besar Pradipta kala itu masih berusia 50 tahunan.


Tuan dan Nyonya Pradipta baru saja menghadiri acara salah satu koleganya dan pulang melewati jalan pintas agar lebih cepat sampai di rumah karena Edwin, putra tunggal mereka sedang menunggu di rumah untuk makan malam yang terlambat.


Ciiiiittttt .......


Mobil berhenti mendadak di rem. Untung saja Nyonya dan Tuan Pradipta memakai sabuk pengaman yang menahan tubuh mereka dari benturan.


Seorang remaja perempuan sekitaran belasan tahun merentangkan tangannya pada mobil mereka. Wajahnya penuh dengan airmata.


"Tuan, Nyonya-- Tolong-- Tolong kami ... " ucapnya putus-putus memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di dada. Kepalanya beberapa kali menoleh kekanan kiri dengan ketakutan.


Nyonya Besar ingin membuka pintu, namun ditahan Tuan Besar, "Jangan gegabah, kita patut curiga dengan gadis itu di tempat seperti ini malam hari."


Nyonya Besar diam dan mengamati gadis itu, "Instingku dia bukan orang jahat, Sayang."


Tiba muncul tiga orang pemuda dengan pakaian lusuh dan seorang pemuda lagi yang nampak kepayahan di bopong kedua temannya, mukanya pucat seperti mayat, tubuhnya lemah tidak berdaya.


"Tolong-- Tolong kami!"


"Tuan, Nyonya, mohon tolonglah kami."


Suara-suara permohonan dari mereka terdengar pilu sekali karena diiringi dengan isak tangis.


"Siapa mereka?" gumam Tuan Besar.


"Nanti kita bisa tanyakan, Sayang. Sekarang kita harus menolong mereka dulu."


"Tapi--"


Nyonya Besar sudah membuka pintu mobil diikuti dengan sang suami dan menemui mereka. Betapa terkejutnya ia menemukan pemuda yang berwajah pucat tadi sekarat, nyawanya sedang berada diujung tanduk.


"Sayang, kita harus menolong mereka, ada seseorang yang terluka."


"Apa-- tapi--"


"Jangan terlalu lama berpikir, ada seseorang yang nyawanya bergantung pada kita. Ayo bantu aku!"


"I-- iya."


Tuan Besar tergagap mengikuti perintah istrinya. Tuan Besar Pradipta adalah pria berwibawa yang memiliki pengaruh besar pada dunia bisnis di masa itu karena ia mampu membuat usahanya yang dari nol berkembang pesat dengan sangat cepat. Namun, dibalik kesuksesan seorang pria tentu ada peran wanita dibelakangnya dan itulah Dayyu Amarga, wanita hebat yang mampu mengimbangi seorang Pradipta. Bukan wanita yang manja dan lembek, ia juga ikut turut berperan membantu membesarkan usaha suaminya dengan tangan besi yang insting pemburu yang ia miliki.


Tiga pemuda dan seorang gadis lusuh dengan seorang pemuda sekarat bertumpuk di bagian belakang mobil Tuan dan Nyonya Pradipta yang dimasanya tergolong mewah. Meski sesak tak bisa bergerak, bagi mereka yang di belakang saat itu sangat bersyukur di tolong manusia baik.

__ADS_1


Ciiiittttt ...


Lagi-lagi mobil dihentikan, kali ini oleh tiga orang yang berbadan besar dan bertampang sangar. Nyonya Besar tahu ada sesuatu yang tidak beres, ia berkata pada orang-orang yang ditolongnya agar segera menunduk dan menutupi diri dengan kain selimut yang tersedia di dalam mobil dan jangan bergerak jika ingin selamat.


Tuan Besar keluar dari mobil, terlihat berbincang namun terlihat kewalahan menghadapi tiga orang penghadang. Nyonya Besar tidak tinggal diam, ia ikut keluar menghampiri suaminya.


"Dayyu, kau di dalam saja, kalau ada apa-apa kau bisa membawa lari mobil ke tempat aman," ujar Tuan Besar begitu menyadari istrinya sudah berada di sampingnya.


"Heh! Jangan banyak bacot, segera perlihatkan isi mobil kalian," hardik salah satu dari mereka.


Nyonya Besar berusaha tenang meski hatinya gelisah, kemungkinan mereka semua selamat hanya 50% jadi ia harus berhati-hati.


"Tuan-Tuan, kami lewat sini hanya untuk menyingkat waktu untuk pulang ke rumah, jadi tolong biarkan kami lewat, kami sedang terburu-buru." Tuan Besar mencoba bernegoisasi.


"Tidak sebelum kalian memperlihatkan isi mobil kalian!"


Nyonya Besar sempat merogoh saku blazernya, ada beberapa lembar uang yang ia kantongi, ia memang terbiasa membawa uang tunai lebih untuk berjaga-jaga.


"Kalian tidak tahu siapa kami?" sahut Nyonya Besar, ia memberanikan diri untuk menantang tiga pria bertampang preman.


Hah! Memangnya siapa kalian? Kami tidak peduli! Cepat tunjukkan dalam mobilmu atau kami buka paksa!"


Nyonya Besar sebenarnya ketakutan tapi ia masih bergeming, mempertahankan sisa nyalinya. Tuan Besar sudah panik dan pucat, namun wajah pucatnya tersembunyi dalam gelapnya malam tanpa cahaya bulan.


"Hei!!! Apa yang kalian lakukan! Apa kalian sudah mendapatkan mereka!"


Suara bass menggelegar memecah kesunyian malam tempat itu. Ketiga preman yang tadi meradang ciut mendengarnya, kemungkinan dia adalah bos mereka.


Mata pria yang bersuara itu menangkap pasangan suami istri separuh baya, lalu ia berkata setengah tak percaya, "Benarkah yang kulihat ini? Tuan dan Nyonya Pradipta?"


"Benar. Apa mereka anak buahmu? Sangat menyebalkan! Mereka mencegat kami padahal kami sedang terburu-buru," sahut Tuan Besar yang mendapatkan keberaniannya kembali.


"Dasar tolol! Apa kalian tidak mengenal Tuan dan Nyonya Pradipta, berita mereka dimana-mana!" hardik orang itu lagi. Anak buahnya hanya saling memandang satu sama lain.


"Sudah, sudah. Berikan kami jalan sekarang, putra kami sedang menunggu. Dan ini, ambillah untuk kalian bersenang-senang malam ini," ucap Nyonya Besar seraya memberikan uang pada lelaki yang merupak bos mereka.


"Terima kasih, Nyonya. Kami memang sedang mencari sekelompok orang yang kabur, maafkan ketidaksopanan mereka."


"Baiklah, kami tidak akan mencampuri urusan kalian. Kami hanya ingin lewat."


Setelah itu Tuan dan Nyonya Pradipta berhasil mengelabui mereka dengan membawa sejumlah orang yang dalam pelarian.


Adalah Sebastian, Prasojo, Iskhak dan Lydia, sedangkan yang dalam keadaan sekarat adalah Sasmita, kakak dari Lydia yang berusaha kabur dari sindikat perdagangan manusia yang akan dikirim ke luar negeri untuk dijual organ tubuhnya di pasar gelap.


Mereka merupakan anak-anak tidak beruntung yang hidup luntang-lantung tanpa orangtua dan kemudian saling dipertemukan oleh nasib buruk yang menimpa mereka, dijual.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2