
Satu minggu berlalu, walaupun dengan kecanggungan yang terasa aneh, Vania akhirnya bisa mahir mengemudi dan berani menjajal keberanian turun ke jalan raya.
Entah kenapa ia masih sakit hati dikatakan Bulan Kesiangan. Makanya kini Vania lebih bersolek, paling tidak memakai lipbalm berwarna dan pemerah pipi dengan warna lembut.
"Sekarang kau kadang mencuri pandang denganku, kan? Rasakan, huh! Kau yang melakukannya, jadi nikmati saja akibatnya," ujar Nia mematutkan wajahnya di depan cermin, ia berencana berkeliling pagi ini. Kakak Tuan Mudanya sangat baik meminjami mobil untuk ia pakai kapanpun.
"Hmmm ... tapi bagaimanapun juga, aku harus berterima kasih padanya, karena berkat dia aku bisa menyetir sekarang."
Vania berdiri memutar tubuhnya ke kanan dan kekiri, ia siap mengukur jalan lagi, tiba-tiba ...
Tok. Tok.
"Ya, masuk."
"Nona, jangan pergi dulu. Nyonya--"
Nafas Bibi Lidya tersengal seakan oksigen yang ia hirup habis hingga tidak bisa melanjutkan kalimatnya saking paniknya. Mendengar kata 'Nyonya', Nia segera berlari menuju kamar utama.
"Kakaaak ..."
"Duh-- Nia, perut-- Kakak sakit sekali."
Litha memegangi perutnya, wajahnya meringis seperti menahan sakit yang hebat ditambah keringat di pelipisnya sebesar biji jagung dan ada cairan bening mengalir melewati pahanya hingga ke betis.
Vania panik, ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya, tanpa sadar jarinya menekan nomor telepon Abyan, padahal niatnya ingin menelepon kakak iparnya.
"Duh, kenapa dia yang aku telepon."
Ketika Vania ingin mematikan sambungan telepon setelah menyadarinya, suara di seberang sana sudah terdengar.
"Ya, halo."
"Engg ... maaf meneleponmu, Asisten Yan. Aku akan mengantar Kak Litha ke rumah sakit sekarang. Katakan pada Kakak agar segera menyusul secepatnya ke sana," ujar Nia cepat.
"Apa?!? Jangan katakan kau yang akan membawa Nyonya ke rumah sakit."
"Sudahlah. Aku bisa mengurus kakakku."
Tit.
Abyan mematung setelah Vania menutup teleponnya, "Dia baru saja bisa menyetir dan dia mau membawa Nyonya yang mau melahirkan. Waduh! Bagaimana ini?"
Abyan berusaha menelepon Ibunya untuk menahan Vania tidak membawa Litha pergi, tapi suasana panik yang meliputi rumah utama tidak bisa membuat teleponnya tersambung.
"Ada masalah, Yan?" tanya Ray melihat Abyan terlihat panik dan sibuk sendiri.
"Ray, kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya Nyonya hendak melahirkan dan ia sedang menuju kesana"
Hati Ray berdentum keras, "Siapa yang membawanya?"
Suara Abyan terdengar pelan, "Vania."
Ray memejamkan matanya, tangannya mengepal hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas, "BODOH!!!" umpat Ray nyaring.
Ia lalu keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Abyan meraih kunci mobil kemudian menyusul setengah berlari di belakangnya.
"Sha, kau cancel semua agenda hari ini." sahutnya sambil berjalan cepat. Sasha hanya mengangguk-angguk saja dengan wajah bingung.
.
.
.
Ternyata sikap percaya diri Vania luruh setelah melihat Litha yang kesakitan melalui kaca spion depan. Seketika tangan dan kakinya dingin. Ia gugup, membawa kakaknya yang akan melahirkan tentu bukan perkara mudah, apalagi dia baru saja bisa menyetir.
Melihat kakaknya kesakitan membuatnya gemetar setengah mati, bagaimana caranya dia mengemudi kalau begini?
"Nona, lekaslah ... Nyonya tidak bisa menunggu lama karena ketubannya sudah pecah."
Vania semakin diserang panik, ia menggigit-gigit kukunya tanpa henti hingga suara giginya yang beradu bisa didengar, kurang lebih seperti orang yang kedinginan.
"NONA! NONA! BERHENTI!!!" teriak Pak Is menggedor-gedor jendela mobil keras-keras.
"Ada apa Pak Is? Jangan membuat kami makin panik," sahut Lidya seraya menurunkan kaca mobil, "Pak, panggilkan sopir lain segera! Nona gugup, Nona tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini," lanjutnya.
"Nia ..." lirih Litha diantara rasa sakit yang menderanya ia mengulurkan tangan kanannya kepada adiknya di belakang kemudi.
"Tuan tadi menelepon, dr. Lena dan bidan juga beberapa perawat sedang dalam perjalanan kesini dengan ambulance. Nyonya tidak perlu ke rumah sakit, Nyonya akan melahirkan di rumah. Tuan juga sedang dalam perjalanan kesini."
"Begitu? Baik akan aku siapkan semuanya, Pak Is bantu Nyonya kembali ke dalam kamar," Lidya berbalik ke Vania yang masih saja gugup, namun ditenangkan Litha.
"Siapa yang mau melahirkan, kenapa malah Nona yang ditenangkan sama Nyonya? Ya ampun ..." bathin Lidya.
"Nona, tolong bantu Pak Is membawa Nyonya kembali ke dalam kamar. Dokter sedang menuju kesini. Bibi akan segera menyiapkan keperluan Nyonya melahirkan."
Beruntung Lidya merupakan mantan perawat sebelum menikah. Ia terbiasa mengambil keputusan di saat genting dan tanggap mengambil tindakan, seperti saat ini ia berlari untuk menyiapkan kamar untuk bersalin.
"I-- iya, Bi."
Vania langsung melepas sabuk pengamannya dan membantu Litha keluar dari mobil dan berjalan kembali ke kamar dengan menahan perutnya yang semakin terasa sakit.
"Nyonya, bertahanlah ... Sebentar lagi tim dokter akan datang, Tuan Muda juga sedang dalam perjalanan pulang," ujar Lidya sembari membaringkan Litha ke pembaringan.
__ADS_1
Litha mengangguk dengan wajah yang memucat. Rasa dorongan di dalam perutnya kian intens datang, belum lagi pinggang dan panggul yang tulangnya seperti dipatahkan bersamaan. Tanpa disadari airmata Litha mengalir saking menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Kak Litha ..." panggil Vania juga ikut menangis.
Dalam hitungan menit rombongan dokter dari rumah sakit datang dengan berbagai peralatan medis untuk berjaga-jaga, mereka langsung mengambil tindakan. Selang beberapa menit kemudian Ray datang. Ia nampak baru saja mengikuti lomba lari dengan nafas yang tersisa satu-satu.
"M-- mas ...."
"Sayang ...."
Ray menghampiri istrinya dan mengusap airmata yang mengalir, "Aku datang, Sayang ... Tidak perlu takut. Ada aku, berjuanglah, fokus pada anak kita, ya. Aku mencintaimu." Ray mengecup kening istrinya yang berpeluh.
Bukannya tenang, tangis Litha makin keras antara rasa haru dan sakit yang begitu luar biasa. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya.
"Tarik nafas," seru dr. Lena memberi instruksi, "Sekarang dorong, Nyonya!"
Litha menarik nafas dan mengedan dengan sekuat tenaganya. Kening Ray ditempelkan pada genggaman mereka yang bertaut sangat erat. Airmata lelaki tampan itu akhirnya membasahi pelupuk matanya demi perjuangan istri tercinta melahirkan buah hati mereka ke dunia.
Vania terpaku melihati Kakaknya yang berjuang antara hidup dan mati, rasa-rasanya ia ingin pingsan, pandangannya gelap dan suhu tubuhnya menurun. Tiba-tiba saja remaja putri itu jatuh tidak sadarkan diri.
Kontan saja semua perhatian teralihkan pada Vania. Dengan sigap Lidya memanggil putranya yang sedang menunggu di ruang keluarga untuk membopong Vania ke tempat lain.
"Tidak apa-apa. Abyan yang akan mengurusnya, fokus saja pada anak kita," Ray berbisik di telinga Litha, ia tahu pasti istrinya kaget dengan ambruknya Nia.
.
.
.
"Bisa-bisanya Tawon Kecil ini pingsan di saat Nyonya tengah bersalin, Astagaaa ... Dimana percaya dirinya yang begitu tinggi di telepon tadi, cih!"
Abyan membathin saat membawa gadis yang ia sebut Bulan Kesiangan ke ruang keluarga, direbahkan Vania di atas sofa. Beberapa helai rambutnya yang panjang menempel di pipi yang basah karena airmata.
Abyan menyingkirkan rambut itu ke samping setelah merebahkannya. Bulan itu tidak lagi kesiangan karena ada rona merah di pipinya. Abyan sedikit terkesima dengan pahatan maha karya Sang Kuasa dari jarak begitu dekat, terlebih saat maniknya menatap bibir lembab yang entah kenapa membuatnya menelan saliva.
"Tuan, ini mungkin bisa membantu menyadarkan Nona."
Suara salah satu pelayan yang membantu Lidya menyiapkan kamar untuk bersalin mengagetkannya dari belakang. Ia menyodorkan kain yang sudah dibubuhi minyak kayu putih. Abyan mengambilnya dan dengan gugup mendekatkan kain itu ke hidung mancung Vania.
Gadis itu menggeliat siuman, matanya mengerjap beberapa kali. Abyan sedikit salah tingkah, ia segera menjauh, duduk di sofa seberang.
"Sudah sadar?"
Vania langsung duduk, "Kak Litha?"
"Masih di dalam, berjuang melahirkan penerus Pradipta."
"Kamar tidur utama, kamar tidur Tuan Muda Rayyendra dan Tuan Muda Firza juga ruang kerja dilengkapi dengan pengedap suara. Meski kau berteriak keras di dalam, yang diluar tidak akan dengar."
"Ooohh ... Pantasan saja--"
"Pikiranmu jangan kemana-mana, masih Bocah pikirannya mesum."
"Eh, siapa yang mesum! Aku mau bilang pantasan saja suara erangan Kak Litha bersalin tidak terdengar. Kau yang mesum, makanya jangan kelamaan sendiri, di makan usia jadi pikirannya traveling entah kemana."
Abyan tersedak air liurnya sendiri, kaget dan malu.
"Duh ... masih berapa lama ya? Aku ingin melihat Kak Litha," keluh Vania mulai menggigiti kuku ibu jarinya. Gugup mulai mendera kembali, air mata gadis cantik itu perlahan turun disertai isakan tertahan.
Abyan diam, memperhatikan dengan seksama gadis di depannya. Ada yang aneh dalam penglihatannya, seratus delapan puluh derajat berbeda dengan sosok yang baru saja menyentilnya dengan sarkas. Sisi lain Vania yang gugup, cemas, dan-- terisak tanpa suara membuat Abyan terhenyak.
"Apa ini? Kenapa dia begini?" alis pria itu menaut heran.
Agak lama Vania menangis tanpa suara sampai pintu kamar utama dibuka, Ia segera berlari menghampiri Lidya yang membuka pintu. Abyan pun berdiri berjalan mengikuti langkah lari Nia.
"Selamat, Nona. Tuan Muda Kecil telah lahir dengan sehat."
"Aaaaaaa .... Ponakanku laki-laki, Bi? Bagaimana Kak Litha? Apa aku boleh melihat mereka?"
Isak tangisnya berubah menjadi pekik kebahagiaan tiada tara. Abyan pun juga merasakan kebahagiaan dalam relung hatinya, bayi mungil yang dijaga oleh mendiang pamannya kini telah hadir di dunia menyemarakkan Keluarga Pradipta.
"Tuan dan Nyonya sedang berbahagia. Sekarang Nyonya lagi melakukan IMD. Hanya Nona yang diizinkan masuk." Mata Lidya melirik Abyan yang tanpa disuruh juga hendak ikut masuk.
( IMD : Inisiasi Menyusui Dini )
Vania langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Ia bergidik ngeri melihat tenaga medis sedang membereskan sisa-sisa persalinan, sedangkan Lidya mengambil alih mengurusi plasenta atau ari-ari bayi. Di sisi lain dr. Lena membantu Litha melakukan kontak fisik pertama dengan bayinya. Sebuah pemandangan haru melihat si bayi berusaha sendiri mencari pu*ting payu*dara ibunya.
Rayyendra terlihat menciumi berkali-kali pelipis istrinya dengan berurai airmata, sesekali mengusap lembut mahluk mungil di atas dada Litha.
"Kak ...." panggil Nia.
Semua menoleh ke arahnya, meski wajah Litha kelelahan, senyum kakak perempuannya mengembang saat menyambutnya, "Sini, Nia. Lihatlah ... kau pasti sangat menyukainya."
Vania mendekat ke sisi dr. Lena melihat sang keponakan menggunakan insting manusianya mencari sumber kehidupannya di tubuh ibunya. Dokter berkacamata itu memberikan tempat buat Vania yang gemetaran.
"Kakaaakkk ... Ini ponakanku?"
"Bukan, ini boneka!" sahut Ray mengusap airmatanya.
Bibir Vania mengerucut sebal, tapi binar matanya mengatakan rasa bahagia yang teramat sangat.
"Kakak, apa aku boleh menyentuhnya?"
__ADS_1
Litha mengangguk, tapi Ray langsung mencegahnya, "Sterilkan dulu tanganmu, baru menyentuh putraku."
"Ishhhh ...," gerutu Vania tapi ia tetap menurut perintah kakak iparnya.
Memiliki anggota baru dalam keluarga adalah hal yang sangat disyukuri dan membahagiakan. Bayi yang awalnya hadir tanpa sengaja nyatanya menjadi perekat kuat cinta Rayyendra dan Litha.
...***...
Vania tidak beranjak dari sisi Litha dan box bayi. Ia terus berbicara dan bersenandung pada bayi baru lahir itu.
"Kak, dia lucu sekali, kenapa sukanya tidur terus?" cerocos Vania. Litha sudah malas menjawab pertanyaan adiknya yang berulang-ulang.
"Kak, aku jatuh cinta padanya, tidak-- tidak-- aku mencintainya."
Litha hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat antusiasme Vania terhadap putranya. Namun ia pun juga merasakan hal yang sama, jatuh cinta dan mencintai bayi mungil yang sedang terlelap itu.
"Nyonya, makanlah sup ayam hangat ini. Sup ini bisa mengembalikan tenaga Nyonya yang terkuras."
"Terimakasih, Bi. Bibi dari mana tadi? Bibi belum lihat putraku, kan?" tanya Litha beringsut bersandar pada heardboard dibantu Vania untuk menyantap sup ayam.
"Bibi tadi bersama Pak Is mengurus plasenta Tuan Muda Kecil. Kami tanam di dekat kebun belakang," jawab Lidya seraya berjalan ke arah box bayi. Ray dan Abyan masuk ke dalam kamar setelah kembali dari mengantar dr. Lena dan rombongan ke depan pintu utama.
"Ya Tuhan ... Tuan Muda Kecil sangat mirip dengan Tuan Muda saat baru lahir. Mata ini-- mata Tuan Muda ... Mata milik Tuan Edwin," kata Lidya memandang takjub bayi penerus Pradipta.
Litha menghentikan suapannya, Ray dan Abyan saling memandang.
Mata ini-- mata Tuan Muda ... mata milik Tuan Edwin.
Lidya tidak sadar, kalimat spontannya akan menguak sebuah rahasia yang selama ini ia tutupi.
"Bibi kenal ayahku?" tanya Ray mendekati box bayi, ia mengamati mata bayinya.
" ... "
"Bibi ...." Ray meminta penjelasan.
Lidya menghindari tatapan Abyan yang juga menuntut penjelasan.
"Bi ...." pinta Litha dengan suara pelan.
"Maafkan aku, Nyonya Besar, aku tidak bisa menjaga mulutku," kata Lidya dalam hati, mencoba tersenyum, tapi yang ada malah terlihat canggung.
"Saat Abyan berusia 10 bulan, Bibi dipanggil Nyonya Besar kembali ke rumah utama. Waktu itu Nyonya Rianti dalam keadaan koma setelah Tuan Muda lahir dalam keadaan belum cukup bulan."
Lidya menjeda ceritanya, melihat setiap mata yang terhenyak dengan penuturannya. Ditariknya nafas panjang sebelum melanjutkan kembali.
"Apa boleh Bibi menggendong Tuan Muda Kecil, Nyonya?" Litha mengangguk memberi izin, "Bayi Nyonya Rianti butuh susu. Nyonya Besar menginginkan cucunya diberi ASI, bukan susu formula, meski susu terbaik bisa Nyonya Besar dapatkan. Dan Nyonya Besar tidak mau ASI dari wanita yang tidak dikenalnya. Sejak itu Bibi, suami Bibi dan Abyan tinggal di rumah utama hingga Tuan Muda berumur dua setengah tahun," cerita Lidya sembari menggendong bayi Litha.
Hati Ray dan Abyan sama-sama berdetak kencang, tak bisa berkata apa-apa, begitu juga kakak beradik perempuan yang ada disana.
"Abyan akan digendong ayahnya ketika Bibi menyusui Tuan Muda dan juga sebaliknya Tuan Muda akan dijaga suami Bibi jika Abyan yang menyusu. Kami serasa memiliki dua anak, hehehehe ...."
"Bibi ... Apa itu berarti Kakak dan Asisten Yan saudara sepersusuan?" tanya Vania.
Bukannya menjawab, Lidya justru terpana dengan bayi mungil dalam gendongannya, ia tersenyum, "Sangat mirip. Bedanya ukuran bayi Nyonya lebih besar dari Tuan Muda, karena Tuan Muda dilahirkan dalam keadaan darurat."
Bayi Litha ternyata sanggup menghipnotis wanita paruh baya itu dengan wajah polosnya hingga tanpa sadar Lidya keceplosan akan sebuah rahasia yang menyangkut masa lalu ayah Si Bayi.
Abyan yang mengetahui sejarah kehidupan Rayyendra, segera mengalihkan topik pembicaraan, "Bu, Ibu belum menjawab pertanyaan Nona, apa berarti aku dan Ray saudara sepersusuan?"
"Ya. Kalian meminum ASI yang sama," jawab Lidya, ia lalu beralih ke Ray, "Maaf Tuan, sebenarnya Bibi sudah berjanji pada Nyonya Besar untuk menyimpan rahasia ini karena Nyonya Besar khawatir Tuan Muda tidak bisa menerimanya, tapi ternyata Bibi tidak bisa menjaga mulut."
"Hah! Jadi, lelaki ini adalah saudara susuku? Yan, bagaimana perasaanmu?"
" ... "
Abyan ragu menjawab, saat ini ia tidak bisa menebak isi hati sahabatnya, marah atau senang? Kemudian Ray meraih bayi dari gendongan Lidya, diciuminya dengan penuh kasih sayang,
"Kau anugerah Tuhan yang paling besar buatku, Sayang. Karena kehadiranmu dalam rahim Ibumu, Ayah mendapatkan hatinya, kini karenamu jualah Ayah mendapatkan saudara susu yang luar biasa. Tuhan sungguh baik pada Ayah. Dia memberi Ayah anugerah besar tanpa diminta."
Dengan mata berkaca-kaca, Ray berucap lagi, "Kunamakan putraku Zeandra Putra Pradipta, selain berarti seorang pemimpin pekerja keras yang tangguh dan bertanggung jawab. Zean juga mengartikan bahwa Tuhan sangat baik memberikan seorang putra pada keluarga Pradipta."
"Zean ... Aku suka nama itu," gumam Litha terharu dengan nama yang diberikan suaminya untuk putranya.
"Yan, kemarilah ... Lihat keponakanmu! Dia mewarisi seluruh ketampananku," seru Ray narsis.
"Ishhh ..." dengus Vania.
Abyan mendekat, menatap lekat bayi Zean yang mulutnya bergerak-gerak, "Ray, dia memang sangat mirip denganmu, tapi kuharap dia mewarisi sifat ibunya."
Ray mendelik kesal ke arah Abyan yang berada di sampingnya, namun ia panik ketika bayi Zean menangis dan menggeliat mencari sesuatu dengan mulut mungilnya, suara tangisnya memenuhi seisi kamar. Lidya segera mengambil bayi Zean setelah meminta izin untuk diberikan pada ibunya.
"Bayi Zean haus," sahut Lidya membantu Litha menyusui bayinya dengan menutupi bagian yang tidak seharusnya terlihat.
"Ray, terimakasih, aku sudah jadi Paman. Akan kujaga dia dengan nyawaku," peluk Abyan terharu.
Ray balas menepuk punggungnya. Dari balik punggung Abyan ia melihat tatapan tulus seorang ibu yang sedang menyusui putranya. Pemandangan terindah yang pernah dilihatnya, pemandangan yang tidak bisa ia beli meski dengan seluruh harta kekayaan Pradipta, dan itu merupakan pemandangan yang ia rindukan selama hidupnya.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa hadiah buat Baby Zean-nya ya Kak, udah di launching sama Authornya ini 😁
__ADS_1