
Iring-iringan Senat yang akan memasuki auditorium dan MC meminta seluruh hadirin untuk berdiri, Litha, Ninda dan para tamu VIP bernafas lega, setidaknya Tuan Muda Pradipta tidak akan mengacau di depan rombongan Senat.
Litha banyak diam, meski beberapa kali ia tetap mendengar suara berbisik menyindir dirinya, sekarang ia bisa lebih menguasai dirinya, mengatur emosi dan menstimulan pikirannya agar tidak stuck di perkataan negatif orang-orang, praktek Slow Breathing pun ia lakukan tanpa menarik perhatian. Diusap-usap lembut perutnya karena bayinya terus bergerak.
"Ibu tidak akan sedih lagi, Nak. Biar saja orang-orang dengan pikiran mereka dan terjebak disana. Kita akan terus berlari Nak, jauh meninggalkan mereka. Ada Ayah di depan kita. Lihat, betapa mengagumkan ayahmu walau hanya dilihat dari belakang. Ibu jadi ingin memeluknya."
Litha mengambil ponselnya, ia mengetik chat ke nomor suaminya
Mas, aku tidak apa-apa. Melihatmu dari belakang cukup menguatkanku. Anakmu pun bergerak-gerak seperti ingin mengatakan, "Ibu, tenanglah ada aku." Persis seperti dirimu. Tapi aku sebal kenapa mereka yang memandangimu dari belakang tiba-tiba jadi genit.
Terkirim, dua centang biru, dan status sedang mengetik. Ray langsung membalasnya.
Maaf Litha, aku tidak bisa berbuat apapun tadi, sabarlah sedikit, aku akan mengembalikan harga dirimu lagi di depan mereka. Oh ya, kau sebal ya karena mereka genit, tapi kegenitan mereka tidak akan bisa menggodaku, tidak sepertimu. Kau diam saja, tongkat milikku sudah berdiri tegak.
Mata Litha membulat membacanya, diliriknya Ray, nampak punggung tangan suaminya menutupi bibirnya yang senyum-senyum sendiri. Hal ini diketahui Abyan.
"Hanya dengan pesan teks Nyonya bisa meredam amarahmu, Ray. Ckckck ... Lihat, malah kau sekarang kayak orang gila senyum-senyum sendiri." bathin Abyan menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
Beberapa susunan acara sudah terlewati, sekarang giliran Pak Rektor yang akan memberi sambutannya. Ia sudah dititipi pesan oleh Presdir Pradipta Corp. pada sambutannya, entah kenapa kali ini Pak Rektor agak sedikit gugup.
"Terakhir, seluruh civitas akademik Universitas ABCDE mengucapkan terimakasih setinggi-tingginya kepada Tuan Rayyendra Pradipta yang sepenuhnya mendukung acara Dies Natalis ke-36 ini. Ini didedikasikan olehnya untuk istri tercinta yang berulang tahun dan merupakan salah satu wisudawati diantara kita. Maka dari itu, saya pribadi dan semua anggota Rapat Senat Terbuka Wisuda kali ini mengucapkan selamat ulang tahun, panjang umur dan senantiasa berbahagia."
Kalimat pamungkas Rektor Universitas ABCDE benar-benar membuat gaduh, sampai MC harus beberapa kali menenangkan situasi yang ramai. Semua terkejut, berspekulasi dan mengira-ngira siapa istri dari Tuan Muda.
Ninda yang sudah tahu rencana suami sahabatnya tetap saja menganga tak percaya mendengar kalimat penutup sambutan orang nomor satu di universitasnya. Apalagi Litha, mematung dengan degup jantung yang berdentum keras.
"Apa? Apa itu tadi? Jadi, kemegahan wisuda kali ini untukku dari Mas Rayyendra."
Dengan tangan gemetar, ia mengetikkan pesan chat,
Mas yang melakukannya? Untukku? Karena ulang tahunku? Aaaaaaaa aku ingin menangis memelukmu #emoji_menangis
Ray tersenyum membaca chat dari istrinya, "Baru segini sudah terharu," bathinnya.
Mau memelukku ya? Peluk saja sekarang.
Tentu saja tidak sekarang. Orang-orang kan, tidak tahu aku istrimu, mereka hanya tahu istrimu wisuda dan berulang tahun. Untung Pak Rektor tidak menyebutkan namaku tadi. Bisa mati berdiri aku, Mas.
#emoji_tertawa_ngakak Kapan kau mau memelukku? Aku tidak ingin saat malam.
Loh kenapa?
Kalau malam aku tidak mau dipeluk, maunya dijepit.
Huuaaaaaa ...... #emoji_kabur
Litha dan Ray asyik sendiri dengan chat mereka sembari senyum-senyum dengan ponsel masing-masing, tidak peduli sambutan Gubernur, namun pada akhirnya mereka terdiam mendengar kalimat terakhir sang pemimpin daerah.
"Kepada Nyonya Pradipta, saya mewakili para tamu undangan mengucapkan selamat ulang tahun. Ini adalah hadiah terbaik yang pernah kami saksikan. Hiduplah dengan saling mencintai dan bahagia. Terimakasih."
Tepuk tangan bergemuruh diikuti senyum Tuan Gubernur langsung menjurus ke Litha dan Ray. Sekarang Litha yakin bahwa tamu-tamu undangan yang duduk sebaris dengan suaminya tahu siapa istri Tuan Muda. Suasana kembali riuh, semakin ramai menduga-duga siapa pemilik hati pria yang dijuluki Singa Pradipta.
Akhirnya acara inti akan dimulai, pemindahan tali topi toga oleh Rektor kepada para calon sarjana. Mereka akan dipanggil namanya satu per satu sesuai urutan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dari yang tertinggi sampai yang terendah ke atas panggung untuk dipindah tali toganya dan diberikan salinan ijazah. Untuk para lulusan cumlaude diberikan piagam dan bagi peraih IPK tertinggi di tiap-tiap jurusan akan diberikan buket bunga dan selempang bertuliskan The Best Graduate Dies Natalies XXXVI.
Sebab inilah yang menjadikan Gayatri meradang setelah tahu nama Litha masuk sebagai calon sarjana yang diwisuda periode ini. Terakhir ia bertemu ketika sama-sama menunggu dosen pembimbing lalu Litha menghilang karena ibunya meninggal dan hamil. Ia sangat senang Litha cuti kuliah, dengan kata lain, tidak ada saingan terberatnya dan ia bisa wisuda dengan mendapatkan gelar yang sudah ia idam-idamkan. Namun harapannya kandas tiga hari sebelum hari wisuda, karena Litha yang mendapatkan gelar lulusan terbaik.
Ting...
Aku bangga padamu, Istriku. Aku yakin siapapun yang mengenalmu pasti bangga.
__ADS_1
Ray mengirim pesan chat lagi tapi tidak Litha balas, ia hanya tersenyum menunggu giliran namanya dipanggil naik ke panggung. Gadis Ragnaya itu terlalu antusias menunggu, karena inilah hasil jerih payahnya selama ini. Antusiasnya menular ke bayi dalam perutnya yang selalu bergerak-gerak, mau tidak mau Litha sering mengusap-usap di bagian mana bayinya aktif.
Mas, anakmu bergerak terus dari tadi.
Gantian Ray tidak membalas chat istrinya ia hanya tersenyum dan bergumam dalam hati, "Siapa suruh ibunya mengabaikan ayahnya, hahah ..."
"Nin, setelah aku, kamu yang dipanggil?" tanya Ninda.
"Tidaklah, Tha. Sadar diri IPK ku berapa. Aku cuman numpang duduk di suruh sama suamimu untuk menemanimu."
"Oh."
"Tha, siap-siap. Setelah ini jurusan kita yang maju. Kau akan dipanggil pertama."
Litha mengangguk, ia merapikan lagi penampilannya.
"Harusnya aku yang dipanggil duluan," celetuk Gayatri ketus.
"Itu memang takdirmu karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah mengalahkan Litha, huh," balas Ninda tak kalah ketus.
Fakultas Z, Jurusan X
Satu, Navia Litha Sarasvati dengan IPK 3,87
Suara pembaca surat keputusan rapat senat terbuka membahana menyebutkan Litha sebagai lulusan terbaik karena namanya disebutkan urutan pertama.
Litha berdiri, dan mulai melangkahkan kakinya maju ke atas panggung menerima pemindahan tali topi toga dan salinan ijazah.
Rasa bangga menyeruak di hati Ray melihat istrinya dipanggil pertama kali, begitu juga dengan keluarga, sahabat dan siapapun yang mengenal Litha.
Tapi, tiba-tiba hati Ray gusar melihat anak tangga di sisi kiri dan kanan yang dipakai naik turun para wisudawan/wisudawati ke atas panggung.
Pasalnya, selama Litha hamil, Ray melarangnya beraktifitas di tangga. Sekarang melihat Litha naik turun empat anak tangga dengan pakaian yang tidak ringkas membuatnya bergidik.
"Yan, aku lupa bagian ini. Litha harus naik turun tangga, aku takut," bisik Ray di telinga Abyan.
Litha berjalan sambil sesekali mengusap perutnya, tapi terus terang ia agak kesusahan melangkah naik turun tangga dengan pakaian kebaya modern dan rok kain panjang yang ia kenakan di dalam jubah toganya.
Wajah cantik nan ayu hasil perpaduan dari dua tanah kelahiran yang berbeda terpampang di layar besar di halaman auditorium. Oskarita dan Ana bersorak melihatnya.
"An, Nyonya Baik Hati ... itu ... Nyonya Baik Hati. Ya Tuhaaan, Nyonya bagai malaikat turun dari kayangan."
"Kak, Nyonya nomor satu, Kak. Waaahhh, Nyonya hebat! Pantas saja Tuan Muda sangat mencintai Nyonya."
Paman, Bibi dan Vania pun bertepuk tangan keras saat nama Litha disebutkan, mereka sangat bangga, terlebih Bibi Rima, ia sampai meneteskan air mata bahagia.
"Kakak Ipar Sena dan Tuanku Putri, lihat putri kalian akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya, ia sudah menunaikan janjinya pada kalian."
Bukan tanpa alasan, maju ke atas panggung untuk menerima prosesi pemindahan tali toga adalah impian Aryasena dan Asmarini yang tidak pernah sampai karena harus memperjuangkan cinta mereka, begitupun juga Tisha, dan Litha sempat terhenti namun ia tetap bertekad menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
Lita menunduk saat tali toganya dipindahkan dari kiri ke kanan oleh Pak Rektor yang berucap pelan, "Suamimu sangat bangga padamu. Selamat Litha. Jadilah ibu yang cerdas."
Litha tersenyum dan mengangguk tanpa suara, hatinya melompat senang mendengar pernyataan Pak Rektor. Setelah itu ia menerima salinan ijazah dan piagam penghargaan sebagai lulusan cumlaude dari Bu Marisa, dekannya. Disematkan pula selempang, setelahnya Litha diberi sebuket bunga.
Dua, Gayatri Mustika Dewi dengan IPK 3,75
Nama Gayatri disebut dan ia berjalan menuju panggung dengan penuh percaya diri, itu artinya Litha harus segera turun dan menyerahkan panggung itu buat Gayatri.
Cling ...
Mata Ray menajam, ia menangkap kerepotan istrinya yang sedang hamil menuruni tangga membawa map berisi salinan ijazah, piagam penghargaan dan buket bunga sambil memegangi kain yang membalut kakinya. Nyatanya memang Litha kerepotan dan bingung bagaimana caranya turun karena ia merasa kesusahan melangkah.
Saat Litha berusaha turun dan Gayatri sudah naik di atas panggung, dengan sigap Ray berdiri dari duduknya dan setengah berlari mendekati istrinya, mengulurkan tangannya memberi bantuan.
"Sini ijazah, bunga dan piagammu! Aku yang pegang," perintah Ray.
__ADS_1
Litha tertegun melihat suaminya sudah berdiri di samping tangga, keriuhan kembali lagi terjadi, menyoraki Tuan Muda yang tiba-tiba menghampiri Si Lulusan Terbaik Jurusan X. Namun Litha tidak memiliki pilihan lain selain menerima bantuan suaminya karena rok kain panjang ini membuatnya benar-benar susah menuruni tangga.
Semua benda yang ada di tangan Litha diberikan pada Ray dan ia memegangnya dengan satu tangannya yang besar. "Mana tanganmu? Kubantu kau turun," titahnya lagi.
"Tidak usah, kita sudah jadi tontonan, Mas. Aku bisa sendiri," tolak Litha.
"Perintahku tidak pernah ditolak. Atau ... kau mau kugendong?"
"Aaaaaa ... Kau gila apa! Main gendong-gendong saja. Kau tidak tahu betapa malunya aku waktu kau menggendongku tanpa baju. Sekarang di acara seresmi ini kau mau menggendongku lagi. Tidak ... Tidak ... Aku lebih baik menurutimu, Suamiku, Tuan Pemaksa."
Akhirnya Litha mengulurkan tangannya dan dituntun Ray untuk menuruni anak tangga yang tidak banyak. Semua mata memandang penuh tanda tanya, bahkan ada beberapa dari fakultas lain yang berspekulasi bahwa istri Tuan Muda adalah Litha tapi tidak bagi teman-teman satu jurusannya mereka malah mencibir dan mencemooh, mengatakan Litha tidak tahu malu memanfaatkan kehamilannya untuk mencari simpatik kebaikan Tuan Muda.
"Bibi, kenapa Kakak Ipar sangat romantis? Ah ... meleleh aku Bi ... Pengen punya suami seperti Kakak Ipar, tapi cari dimana? Kakak Ipar tidak punya kembaran," celoteh Vania melihat kakak perempuannya diperlakukan bak ratu.
"Belajar yang benar. Lulus lah dengan baik, baru kau bisa bertemu dengan lelaki baik. Kau ini belum apa-apa sudah memikirkan suami."
"Haissshhh ... " Nia mengerucutkan bibirnya, "Kak Litha nikah dulu baru lulus."
"Anak ini membantah terus kalau dikasih tahu. Apa kau mau Bibi nikahkan sekarang ha?" Bibi Rima mencubit lengan Vania jengkel.
Paman Tino di sebelahnya hanya tertawa melihat istri dan keponakannya beradu mulut. Vania memang berbeda dengan dua kakaknya yang penurut, remaja kelas 3 SMA itu sering membantah jika diberi tahu, maunya sendiri saja. Ia hanya akan tunduk dan patuh jika ibunya sudah menatap tajam langung ke matanya tanpa bicara, tatapan seorang Putri Ragnaya.
Di luar gedung auditorium, Oskarita dan Ana berteriak tertahan menyaksikan Tuan Muda menuntun istrinya menuruni tangga.
"Kak, ini sih couple goals banget," pekik Ana tertahan di samping kakaknya, Oskarita pun mengiyakan dengan semangat.
Litha sudah duduk di kursinya kembali, Ninda langsung menyambutnya, "Tha, kau membuat iri semuanya. Uhhh ..."
Litha tersenyum, meski sempat menolak, ia senang diperlakukan demikian manis oleh suaminya, bahkan semua benda miliknya yang dibantu pegang masih berada pada suaminya. Ray dengan bangga memperlihatkan semua pencapaian istrinya pada Abyan dan para tamu yang duduk di dekatnya, mereka pun memberi selamat pada Ray.
Sayangnya, senyum Litha hilang ketika mendengar suara-suara sumbang dari belakang yang mengatakan bahwa ia sedang mencari mangsa baru dengan memanfaatkan situasi. Namun sekarang Litha tidak ambil pusing, ia lebih santai menanggapinya. Ray sudah memenuhi kebahagiaan di seluruh ruangan di hatinya, hingga ia tidak bisa menempatkan hal-hal lain lagi, selain cinta dan kasih sayang suaminya.
Di penghujung acara, Tuan Muda Pradipta dipersilakan maju untuk mengucapkan sesuatu oleh MC. Sosok tegap nan berwibawa itu berdiri dan mengancingkan kembali jasnya, berjalan ke arah mimbar dimana Pak Rektor dan Tuan Gubernur tadi memberikan sambutannya. Rayyendra Putra Pradipta dengan sumringah menatap lekat istrinya hangat dan penuh cinta dari atas mimbar.
"A-- apa lagi ini? Ya Tuhan, ini kedua kalinya kau membuat jantungku serasa berhenti berdetak, Rayyendra Putra Pradipta! Apa yang mau kau katakan di atas sana ... Kuharap kau tidak mengatakan pada semua orang kalau aku adalah istrimu." jerit Litha dalam hati.
Ninda yang melihat muka Litha pucat seputih kapas tertawa, lalu ia membisiki sahabatnya itu, "Kau jangan pingsan ya nanti, eh, bukan ... jangan berpura-pura pingsan hahahaha ... "
Litha makin terkesiap, Ninda sudah memberi petunjuk akan ada sesuatu yang akan dilakukan suaminya.
Abyan menoleh sejenak ke arah Litha, tersenyum kemudian matanya kembali mengamati Ray. Sementara dari kursi tamu undangan wisudawan/wisudawati, Paman Tino, Bibi Rima dan Vania juga ikut tegang menahan nafas meski mereka sudah tahu ini akan terjadi.
Ehemm ...
Ray berdehem mengambil suara.
- Bersambung -
Just Info
Sebagaimana dikutip dari laman inovasee.com, berikut makna toga wisuda:
Warna hitam yang berati kegelapan
Warna hitam melambangkan keagungan. Selain itu, warna hitam mempunyai kesan misterius dan juga gelap yang jelas. Berarti misteri dan kegelapan inilah yang harus dikalahkan oleh seorang sarjana. Dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapatkan pada masa kuliah, seorang sarjana diharapkan dapat menyibak kegelapan.
Topi persegi yang artinya sudut pandang
Sudut-sudut pada topi ini dimaksudkan agar mahasiswa yang telah memakainya, dituntut untuk berpikir secara rasional. Tidak hanya itu, topi toga juga berarti seorang sarjana harus memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang.
Maksud pemindahan tali toga dari kiri ke kanan
Pemindahan tali pada topi toga diibaratkan sebagai otak. Awalnya di sebelah kiri karena pada saat kuliah, mahasiswa menggunakan otak kiri yang berhubungan materi, bahasa, dan juga hafalan. Ketika wisuda, tali dipindah ke kanan dengan harapan sarjana lebih menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas dan juga inovasi. Selain itu tali toga juga diibaratkan sebagai simbol pita pembatas buku. Pembatas akan dipindahkan saat membuka lembaran buku yang baru. Ini diartikan sebagai seorang sarjana hendaknya terus belajar dan menambah wawasan walaupun sudah lulus dan wisuda sehingga ilmunya berkembang.
Sumber : amanat.id
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf sekali lagi Kakak kalau dirasa ngegantung, karena Babnya udah 2000 kata lebih di luar informasi. Ini lagi nguatin mata buat ngetik lagi, butuh kopi nih kayaknya 🤭🤭🤭