Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Percaya Padaku


__ADS_3

# Lounge Bar Amore Club&Party #


"Gimana, Van? Si Litha itu udah bisa hilang dari otakmu gak?" tanya Renata menyesap rokoknya dan menyerahkan sebungkus bubuk putih.


Evan meraihnya cepat dan menyembunyikan ke dalam saku celananya. Diserahkannya sejumlah uang dengan senyum kecut, akhirnya ia memilih shabu-shabu untuk segera move on dari Litha dan melampiaskan kemarahannya pada Danu Kusuma, yang kemarin ikut menghajarnya juga karena kehilangan investor kelas kakap untuk bisnisnya.


"Siapa sih dia? Aku penasaran seperti apa dia sampai bisa membuatmu begini? Hahahahahahaha ... Kau termakan sumpahmu sendiri, Van. Kau bilang tidak akan menyentuh barang haram ini lagi, nyatanya kau membutuhkannya hahahahaha ... Namanya yang haram itu enak, Van."


"Daripada aku tersiksa dan juga tidak ada yang peduli padaku."


"Kau belum menjawabnya. Siapa dia?"


"Hah! Kenapa kau penasaran dengannya?"


"Aku mau tahu rivalku walau dari masa yang berbeda."


"Jangan mimpi, Ren. Aku jadi pacarmu agar kau tidak membully Ninda. Litha tidak pernah jadi pacarku tapi dia ada disini," ujar Evan menunjuk dadanya.


"Bul*shitt!!!"


Renata menggeram, ia masih tidak terima pengakuan bahwa Evan, pacar SMA-nya bersamanya hanya untuk melindungi Ninda.


"Hahahahaha ... Kenapa kau marah? Apa kau masih menyukaiku? Padahal jelas-jelas aku menyakitimu dulu."


"Karena itulah aku ingin kau kembali jadi pemakai, dan lihat saja nanti jika sepupu bodohmu atau orangtuamu tahu. Hahahahahaha ... " Renata mencibir dalam hatinya.


"Aku tidak marah. Buat apa juga aku marah? Hubungan kita sudah lama berakhir dan aku sangat menikmati kehidupanku sekarang. Aku hanya penasaran, gadis seperti apa yang membuatmu seperti tidak ingin hidup lagi."


"Yang jelas dia tidak bisa dibandingkan denganmu, Ren. Memang dia tidak secantik dirimu, tapi aku menyukai pribadinya yang baik. Bahkan dia bisa mengatasi serangan panik Ninda akibat bully-anmu dulu."


"Aku tidak baik di matamu rupanya dan ternyata dia temannya Si Gadis Cupu itu. Hah! Cengeng, serangan panik apa? Sepupumu membual!"


Evan geram, Ninda dicela oleh Renata karena ia pernah melihat langsung sepupunya itu terkena serangan panik di kost dan Litha berusaha menenangkannya hingga mereda.


Dicengkeramnya dagu Renata dan matanya menghujam mata gadis cantik itu. "Kau tidak tahu dampak bully-anmu yang membuat hidup Ninda berada dalam kecemasan, jadi jangan asal bicara. Aku masih menghargaimu karena kita punya cerita meski itu cerita yang tidak kuinginkan."


Renata menyingkirkan tangan Evan dari dagunya, matanya menantang Evan,


"Cih. Itu urusannya. Tapi apa kau tahu juga dampak perbuatanmu padaku? Kau memacariku tanpa sedikitpun rasa, mengambil keperawananku lalu mengatakan tidak menginginkanku? Dimana hati nuranimu?!?" teriak Renata di depan muka Evan.


"Kau yang memberinya dengan sukarela. Aku lelaki normal, Ren."


"Aaarrrgggghhhhh ... tetap saja Brengsekkkk!" maki Renata dengan suara keras, ia benar-benar kesal.


"Ren, kau kenapa? Berteriak seperti orang gila. Lihat semua menatapmu aneh? Bagaimana kalau ada seseorang yang lihat dan merekamnya lalu dishare ke media sosial? Ingat kau lagi di pun*cak popularitas."


Suara seorang laki-laki muncul dari belakang Renata sembari menepuk bahunya, Renata menoleh, "Hei, Luke. Kenapa kau ada disini? Bagaimana kalau penjaga tahu? Bisa habis nanti kau!"


"Ppsssttt ... " Lukas meletakkan telunjuknya di bibir berlipstik merah milik Renata, menyuruhnya diam.


"Pergerakanku halus, tenang saja. Disini banyak mangsa-mangsa besar, sayang jika dilewatkan. Padahal bisnis kita ini sangat bagus sekali. Sayang, pemiliknya terlalu kuno. Mana ada jaman sekarang bar tanpa narkoba." ujar Lucas.


"Siapa dia, Ren?" tanya Evan memicingkan matanya, mencoba melihat jelas di antara keremangan lampu bar.


"Aku memanggilnya Luke. Aku membeli shabu-shabu darinya. Untuk seterusnya kau bisa hubungi dia kalau ingin beli. Jangan menghubungiku lagi! Aku muak melihatmu, bukankah kau tidak menginginkanku?" Renata meng*hisap rokoknya lagi.


"Hahahahahahaha ... lelaki mana yang tidak menginginkanmu, Ren? Dia tidak normal kalau begitu. Kau cantik, sexy, terkenal. Apa dia impoten?"


"Apa kau bilang !?!" Evan bangkit dari duduknya ingin menghajar Lucas yang menghinanya.

__ADS_1


"Luke! Evan! Stop!!!" Renata berusaha melerai sebelum terjadi perkelahian. "Jangan buat keributan disini! Luke ayo pergi kalau kau masih ingin mengedarkan daganganmu di sini. Dan Evan! bersikap baiklah dengannya, meski ia terhitung baru di dunia narkoba, tapi dia sudah memegang kendali peredaran di Ibukota. Kau akan membutuhkannya!" bisiknya tajam takut kalau-kalau penjaga klub mendengar yang ia katakan.


"Hah! Terserah! Sekali lagi dia mengatakanku impoten, kucabik mulut besarnya itu!"


"Hahahahahahaha ... Memang kau im-- Aaauuuuwww... "


Renata langsung mencubit kuat pinggang Lucas dan menyeretnya menjauh dari Evan. Ia tidak ingin mempertaruhkan karir yang sedang berada di pun*cak popularitas dengan keributan dua lelaki brengsek tanpa ia ketahui ada sepasang mata yang memperhatikan tindak-tanduk mereka bertiga dari tadi.


.


.


.


# Apartemen Lantai 52 #


Ray memeluk istrinya dari belakang, berbaring di atas ranjang. Tanpa sehelai benang, hanya tertutupi selimut setelah melakukan pergumulan yang cukup membakar kalori.


"Kau lelah, Sayang? Maaf aku tidak bisa menahan hasratku, padahal perutmu sudah makin membesar," ucap Ray meletakkan dagunya di atas pundak istrinya. Ia menghirup aroma peluh Litha yang menguar di hidungnya, terasa manis baginya.


Litha tidak menjawab, namun ia tersenyum, menumpukan tangannya di atas tangan suaminya yang mengusap lembut perutnya. Ia pun juga sama menghirup aroma peluh Ray yang menguar di hidungnya, aroma yang selalu dinantikannya di penghujung hari.


Rayyendra sebenarnya ingin berbincang serius, mengutarakan niatnya untuk membuka kembali kasus Tisha. Namun yang ada, hasratnya terpantik setelah melihat istrinya, terpaksa ia tunaikan dulu kebutuhan biologisnya.


"Lith, apa kau merasa aman bersamaku?"


Litha menaikkan bola matanya, heran dengan pertanyaan suaminya, "Ya. Kenapa bertanya seperti itu?"


"Kau percaya padaku?"


"Tentu. Segalanya aku percayakan padamu. Tidak ada siapa-siapa yang bisa aku harapkan selain suamiku. Ayah dan Ibuku kan sudah tiada."


"Apa aku boleh membuka kasus kakakmu? Setidaknya memberi keadilan buat keluargamu?"


Deg ...


Jantung Litha serasa berhenti, "Bukankah sudah kubilang aku tidak mau mengungkitnya?"


Ray mengeratkan pelukannya, ditepikan rambut panjang Litha yang menganggu sentuhan kulitnya, ia ciumi bahu istrinya.


"Kau bilang segalanya percaya padaku. Berarti kau bohong, ada satu memori yang tidak kau serahkan padaku."


"Mas ... Aku hanya-- " Litha membalikkan badannya untuk berhadapan dengan suaminya.


"Aku tahu. Itu luka-mu, kan? Berikan padaku, aku akan mengobatinya."


Litha diam, namun dadanya naik turun, itu cukup menggambarkan ada gejolak dalam hatinya.


"Izinkan aku, buka sedikit untuk ku obati, mungkin terasa sakit, tapi itu akan menyembuhkan ketimbang kau membiarkannya mengering sendiri, tapi tidak tahu apakah luka itu suatu hari akan menyebabkan infeksi atau tidak," ujar Ray beranalogi. Ia sangat hati-hati sekali membicarakan hal ini dengan istrinya. Ia tahu bagaimana kerasnya Litha menyembuhkan dirinya sendiri dari kesakitan masa lalu.


Litha masih dengan diamnya, kali ini air matanya luruh setelah Litha menutup matanya yang terasa panas. Ray segera menyekanya, lalu dicium kedua mata istrinya, "Percayalah, aku tidak akan membiarkan mata ini menangisi kejadian masa lalu lagi. Ini yang terakhir kali."


Litha membuka matanya, "Bagaimana bisa?"


Ray tersenyum, dalam hatinya dia sudah selangkah lebih maju meluluhkan hati istrinya. "Ada saksi kunci yang bisa menjerat pelakunya dengan hukuman yang berlaku. Aku akan meminta Pak Prasojo untuk melaporkan kembali kejadian itu."


Litha terkejut mendengar ada saksi kunci, "Siapa?"


"Teman Kakakmu yang malam itu juga melakukan praktikum di lab."

__ADS_1


Litha mengernyit mengingat-ingat siapa orangnya. Tidak lama matanya terbuka lebar, "Maksud Mas, Kak Vivian?"


"Kau tahu kalau dia saksi di malam itu?" Bukannya menjawab malah Ray ikut terkaget.


"Tidak. Aku tidak tahu. Sebelum Kak Tisha ke lab sore hari, ia mengabarkan padaku kalau dia bersama temannya yang bernama Vivian akan membuat laporan praktikum. Dilakukan malam karena sebenarnya mereka berdua terlambat mengumpulkan tugas laporan, tapi dosen memberikan kesempatan buat mereka agar besok pagi laporan itu sudah ada di meja. Aku dengar dari Ibu, Kak Vivian meski tidak sering, ia beberapa kali mengunjungi Kak Tisha di RS. Dharma Yasa. Bahkan setelah sehari ia diwisuda, aku bertemu dengannya dan ia membawa bunga untuk Kak Tisha. Aku sebenarnya ingin bertanya apa yang ia ketahui, karena ia yang bersama Kak Tisha malam itu. Tapi ku urungkan, karena Kak Vivian juga sama denganku, terluka melihat Kak Tisha. Jadi aku memintanya agar tidak mengingatnya lagi."


Ray terhenyak di saat istrinya terluka saat itu ia masih bisa memikirkan perasaan orang lain.


"Aku ingin bertemu dengannya, Mas. Aku tidak akan bertanya apapun tentang malam itu. Dia bersaksi dan menceritakannya kembali nanti, itu pasti akan berat buatnya. Dia butuh seseorang untuk menguatkannya atau paling tidak tempat untuk bersandar. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya karena kata Ayah, temannya itulah yang menolong Kak Tisha, menutupi rapat-rapat aibnya hingga tidak ada yang mencela dan menemani di masa krisis kesadarannya hingga tidak sampai hilang akal untuk bunuh diri. Keluarga kami berhutang banyak untuk apa yang telah dilakukan Kak Vivian padahal kami tahu ia juga mengalami trauma."


Ray tersenyum melihat istrinya, ketulusan inilah yang membuatnya jatuh hati hingga ke dasar. Direngkuhnya tubuh yang kian berisi itu dalam pelukannya, lalu ia berbisik "Terima kasih, Litha, kau memilih menjadi Ibu dari anak-anakku. Anak-anakku sangat beruntung memiliki Ibu yang luar biasa hebatnya dan begitu tulus."


Litha tersenyum dan dengan lirih berkata, "Sama-sama. Aku pun juga bahagia menemukan impianku bersamamu. Hidup dalam pernikahan yang mencintai dan dicintai."


Ray mengurai pelukannya lalu dikecup bibir istrinya, menatap dalam netra yang penuh dengan cinta.


"Bulan depan kau ulang tahun. Apa kau menginginkan sesuatu atau mungkin ingin merayakannya dimana?"


Litha terkekeh, "Tidak perlu memberiku hadiah setiap ulang tahun, karena aku sudah memiliki wajah ini." Kedua tangan Litha menangkup wajah suaminya, "Tubuh ini." Litha memeluk tubuh Ray sesaat lalu melepasnya, "Dan hati ini." Ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada Ray.


Rayyendra serasa disanjung tanpa batas. Litha sangat pandai membuat suaminya terbang ke angkasa hingga wajahnya bersemu merah.


"Apalagi yang kuinginkan? Tidak ada. Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu dan anak-anak kita nanti."


Rayyendra mencium kening istrinya, "Semoga Tuhan memberikan kita takdir bahagia hingga akhir usia. Sekarang istirahatlah, agar besok kau bisa berkemas, jangan terlalu banyak, bawa yang diperlukan saja."


"Kita mau kemana?"


"Kembali ke rumah utama."


"Aaaaa ... benarkah? Aku senang sekali. Aku tidak bicara dengan tembok-tembok lagi, hehehehe ... "


Ray tergelak, "Maaf, sudah membuatmu kesepian saat aku ke kantor."


"Kumaklumi. Sekarang beri aku ciuman selamat tidur," pinta Litha.


"Tidak bisa. Menciummu bisa membuat tongkat saktiku bangkit kembali kecuali kau mau melayaniku lagi."


"Aihhh ... Punya suami maniak begini ternyata sungguh merepotkan!"


"Apa?!? Kau mengataiku maniak. Katakan, dari mana kau dengar kata itu?"


"Dari Asisten Yan. Hahahahahahaha .... "


"Awas kau, Litha! Menguping pembicaraan orang ya,"


Ray sudah siap akan menerkam istrinya karena justru Litha yang seperti ini lebih menggodanya daripada sebuah ciuman.


Hahahahahahaha ...


Litha tergelak dan menghindari suaminya dengan menarik seluruh selimut hingga tubuh suaminya yang tanpa busana terpampang nyata dan entah kenapa Ray sangat malu karena seakan dilihat oleh teman Litha, si tembok-tembok.


"Lithaaaaa ... "


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Kakak-Kakak Readers jangan lupa hadiah dan votenya yaaa... minimal tinggalkan jejak like dan komen, udah kubela-belain ini ninggalin cucian demi update 😂😂

__ADS_1


Salam sehat dari si tembok-tembok ....


__ADS_2