
Setelah aksi heboh Ray yang menggendong istrinya tanpa baju, kafe mendadak sepi karena semua mengekori Ray. Kini yang tertinggal hanyalah Danu Kusuma, Evan, Pak Sas, pelayan kafe dan beberapa pengunjung yang bisa dihitung jari
"Tuan Kusuma, tidak semua orang seberuntung Anda mendapatkan investasi langsung dari Tuan Muda. Tapi, putra Anda yang sok tahu ini menggagalkan semuanya."
Pak Sas melangkah maju mendekati Evan dengan wajah tegasnya, membuat nyali Evan yang tadinya berapi-api mencecar Litha menciut bak biji kacang.
"Kau tahu Anak Muda, kau tidak bisa dibandingkan dengan Tuan Muda, bahkan selevel pun tidak. Hentikan perasaanmu pada wanita yang kau katakan seleranya buruk barusan, dan kusarankan kembali saja pada mantanmu yang baru menyicipi dunia hiburan."
Pak Sas mengusap-usap punggung tangannya, bersiap ingin memberi pelajaran. Evan tercekat hingga suaranya yang terdengar hanya suara cicitan anak tikus.
"Dia-- Dia seorang penguntit! Dia tahu semuanya tentangku! Kenapa ada orang semengerikan begini!"
"Mana aroganmu yang sampai membuat Nyonya Mudaku mengeluarkan air mata, hah!!!" teriak Pak Sas di depan muka Evan hingga Danu Kusuma harus dipegangi dua orang karyawannya karena shock melihat putranya diperlakukan demikian. Tapi ia juga tidak bisa membela putranya karena jelas-jelas salah dan menyinggung Tuan Muda Pradipta.
"Jika ayahmu tidak bisa memberimu pelajaran bagaimana cara laki-laki menghormati perempuan, aku yang akan memberimu pelajaran."
Buuugghhh ...
Kepalan tinju Pak Sas menghantam rahang kiri Evan hingga jatuh dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Evan tidak membalasnya bahkan juga dengan suara, ia hanya mengelap darah dengan punggung tangannya.
"Beruntung kau sepupu Nona Ninda, sahabat baik Nyonya sehingga Tuan Muda masih berbaik hati tidak turun tangan langsung menghajarmu, ia menyuruhku karena tenaga tuaku ini tidak akan menyakitimu."
"Tenaga tua apa! Kau menghajarku dengan sekali pukulan yang kuat, dasar tua bangka!" maki Evan dalam hati.
Setelah memberi Evan bogem mentah, ia berbalik dan keluar dari kafe menuju mobil dimana tuannya telah menunggu.
...***...
Hari yang melelahkan telah berakhir kemarin dengan semua kejutannya. Litha yang tidak sengaja bertemu Ramona dan Evan cukup membuat hatinya gusar tapi semua terhapuskan setelah ia bangun di ketiak suaminya.
Sekarang, rutinitasnya kembali seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan sebelum Ray berangkat kerja. Ia menyiapkan bubur ayam buatan sendiri di atas meja sambil menunggu suaminya bersiap.
"Aku sarapan apa hari ini, Sayang?"
"Bubur ayam, Mas."
Ray senyum-senyum sendiri mendengar kata bubur, ia mengingat bubur polos, julukan yang ia berikan dulu saat mengambil ciuman pertama istrinya karena menang taruhan.
"Kok senyum-senyum, mikirin siapa?" selidik Litha curiga.
"Seseorang yang aku ambil paksa ciuman pertamanya," jawab Ray menggoda istrinya.
Hati Litha sedikit panas mendengarnya, "Siapa?" masih dengan nada normal.
"Menurutmu?"
Ray makin senang menggoda istrinya yang meskipun nadanya biasa saja tapi wajahnya mulai ditekuk. Ia menahan tawa dengan meminum air madunya.
"Oh, Ramona maksudnya," tukas Litha enteng sambil menyiapkan piranti makan untuk Abyan yang sedikit lagi datang menjemput.
Uhukkk ...
Ray terbatuk, dia salah tingkah sendiri karena godaannya pada Litha menjadi boomerang buat dirinya sendiri.
"Huh! Tidak sopan mengungkit wanita masa lalu di depan wanita masa kininya." Litha mencebik, hatinya panas tapi masih bisa bicara dengan nada normal.
"Siapa yang mengungkit wanita masa lalu? Kau sendiri yang menyebut namanya."
"Oh, iya aku lupa, dia wanita yang tak boleh disebut namanya ya?" sindir Litha ketus, nadanya agak berubah sedikit meninggi.
"Litha, hentikan! Ini masih pagi, aku tidak mau berselisih paham denganmu. Wanita yang kuambil paksa ciuman pertamanya itu kamu, sebagai hadiah pemenang mengupas kulit telur, kau ingat, kan? Atau perlu kuingatkan?"
Ah, ya ... Litha mengingatnya, ciuman pertamanya diambil paksa. Ada rasa senang dan malu mendengar pengakuan suaminya, "Kenapa kamu sweet gini sih, Suamiku. Aku kan jadi malu sekarang."
"Tapi ciuman pertama Mas sama Ramona, kan?" sungut Litha menutupi rasa malunya.
"Hah! Sampai kapan pembahasan ciuman pertama ini selesai. Aku mau menikmati sarapanku dengan tenang, Litha. Ya ampun, kau ini memang tidak pernah puas ya kalau membahas Ramona."
__ADS_1
"Ciuman pertamaku memang diambil Ramona karena dia kan pacarku saat itu dan Ramona yang menyerahkannya dengan sukarela. Tidak seperti kamu, aku yang memaksamu. Kau tahu kan aku ini pemaksa, aku suka memaksa, termasuk memaksa untuk menciummu. Sampai disini paham!"
Ray yang niat menggoda malah dia yang kena. Litha melihat suaminya menjelaskan dengan mengomel. Tentu saja Litha bahagia, ia punya tempat tak tergantikan di hati suaminya.
"Sayang,"
Litha mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya dan didongakkan wajahnya menatap netra suaminya.
"Aku tidak peduli siapa pemilik ciuman pertamamu, itu adalah masa aku sebelum bersamamu. Aku hanya peduli masa sekarang, dan pemilik ciumanmu sekarang adalah aku, hanya aku. Aku juga peduli masa depan, karena aku ingin akulah satu-satunya pemilik ciuman terakhirmu."
Hati Rayyendra meleleh mendengarnya, ia tidak bisa berkata-kata untuk membalasnya. Hatinya sangat berbunga-bunga yang dibawa terbang sampai ke angkasa. Betapa bahagianya ia dicintai oleh seseorang seperti ini.
"Aku mencintaimu dan kau pemilik ciumanku sampai akhir." Ray mengecup bibir Litha dengan lembut, bukan pagu*tan buas seperti biasa.
Ting Tong ....
Ray mengehela nafas kesal, "Kenapa kau selalu muncul di saat krusial begini, Yan. Dan kenapa kau lebih cepat menjemputku dari biasanya?"
Litha tergelak, "Sudah, mungkin dia ingin menikmati sarapan lebih lama bersama kita, Mas."
Litha membuka pintu, "Silahkan, Asisten Yan. Suamiku juga belum menghabiskan sarapannya," ujar Litha menyilakan, lalu seperti biasa menyalakan TV untuk menonton berita pagi setelah kedatangan Asisten Yan.
"Ray, tadi malam utusan Mr. Anderson meminta jadwal besok untuk bertemu denganmu dan Nyonya." Abyan memberitahu sambil menyuap buburnya.
"Hemm."
"Berarti besok aku ikut ke kantormu, Mas?" tanya Litha
"Ya, tapi jangan jadi beban, biar nanti aku yang bicara, kau hanya pemanis di sampingku."
Litha mengangguk, sedetik kemudian ia berseru, "Lihat! Asisten Yan masuk TV." sambil mengambil remote untuk mengeraskan suara.
Hahahahahahaha ....
Litha dan Ray tertawa melihat tayangan media TV yang menyorot Abyan berlari dengan celana pink di Color Run Festival yang dilaksanakan kemarin pagi. Media begitu pintar menyorot dari angle yang membuat Abyan makin bersinar di mata perempuan tapi terlihat menggelikan di mata laki-laki. Belum lagi narasi yang disampaikan pembawa berita membuat itu adalah hal yang penting untuk diperhatikan.
"Hahahahahahaha ... Yan, kau sangat mencuri perhatian. Aku yakin kau akan segera menemukan wanitamu, iya kan, Sayang?"
Litha mengangguk senang, ia memang ingin Asisten Yan segera punya seseorang di samping agar tidak kesepian. Ia merasa mendzolimi hati laki-laki itu dengan sering menampakkan kemesraan dengan suaminya.
"Aku sangat berharap Asisten-- " Litha meletakkan sendoknya ke mangkok demi melihat tayangan di TV yang diputar setelah video Abyan berlari santai dengan celana pink.
Ray dan Abyan mengikuti pandangan Litha yang terpaku.
"Yan, apa kau tidak bisa menyuruh mereka untuk tidak menayangkannya?" protes Ray, abyan hanya mengedikkan bahu.
"Gerak mereka cepat sekali. Aku tidak bisa mengontrolnya sama seperti terungkapnya pernikahanmu beberapa waktu lalu. Sebelum ditayangkan di TV, media sosial sudah ramai lebih dulu dan jadi trending." Abyan.menjawab sekenanya.
"Mentang-mentang badanmu bagus dan atletis, mau pamer gitu ya? Dan Mas makin kesenengan kan, melihat mereka mengagumi seperti itu!" sindir Litha dengan suara keras.
Kali ini Litha tidak dapat mengontrol nada suaranya, hatinya yang sudah sejuk kembali panas. Ray dan Abyan saling berpandangan, bingung kenapa tiba-tiba Litha marah, bukankah ia sudah tahu hal ini kemarin, saat suaminya menggendong tanpa baju hingga ia terbius aroma yang menenangkannya.
"Aku tahu kau menggendongku tanpa baju tapi haruskah wanita-wanita itu melihatmu seperti mata mereka mau lepas. Ah, shitt! Ninda juga sempat mengagumi badanmu. Aku tidak relaaaaaa ... your body is my mine."
Litha menghentak-hentakkan kakinya kesal bukan kepalang, "Apa mereka yang melihatmu tidak takut bola mata mereka meloncat keluar! Apa mereka tidak punya suami, pacar, saudara, tetangga atau siapapun yang bisa dilihat seperti itu!"
Ray semakin bingung apalagi setelah Litha mematikan TV, ia melirik Abyan lagi, tapi yang dilirik menundukkan kepala dan mengulum bibirnya, sekuat tenaga menahan tawa melihat Nyonya Mudanya cemburu dengan orang-orang yang memelototi tubuh kekar milik Ray.
"Mas! Aku kesal sekali! kesal sama mereka, rasanya aku ingin mencongkel mata mereka semua. Dan Mas juga! Sudah tahu badanmu akan dipandangi begitu, masih saja pasang aksi menggendongku, untuk apa? Untuk memamerkan ototmu itu ya? Kenapa Mas tidak ikut binaraga saja sekalian!"
Litha mengomel tanpa henti sambil tangannya membereskan sarapan Ray dan Abyan yang belum selesai, padahal mereka baru saja akan menyendok bubur. Abyan tidak berani bersuara, Ray juga diam, tidak tahu harus bagaimana menanggapinya tapi ia senang melihat istrinya meracau dan berjalan kesana kemari dengan perutnya yang makin membesar.
"Lucu sekali kalau dia mengomel begitu, ingin ku cubit-cubit dia. Ah, Litha kenapa kau menggemaskan begini," bathin Ray tersenyum memandang istrinya.
"Nyonya kalau cemburunya sudah tidak bisa ditahan, omelannya panjang bak kereta api hahahahahaha ... " Abyan juga membathin, masih menahan tawa.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ternyata Mas memang senang ya dipandangi dan jadi pusat perhatian para wanita?" tuding Litha menuju kamar.
__ADS_1
Ray hanya mengusap tengkuknya, kali ini ia harus sabar menghadapi kecemburuan ibu hamil. Ia biarkan Litha mengomel sampai puas, lagi pula omelannya sama sekali tidak menakutkan malah sangat menggemaskan.
"Sana sama mereka saja. Tidak usah sama aku lagi!"
Brakk ... Ceklik ...
Litha menutup pintu kamar dengan keras dan menguncinya. Ray seketika kelabakan, digedor-gedor pintunya dan memanggil-manggil namanya, tapi tidak ada jawaban dari dalam, Ray semakin panik.
"Ray, Tenang."
"Tenang? Bagaimana bisa? Selama kami menikah tidak pernah sekalipun kami mengunci pintu jika kami berada di ruangan yang terpisah. Kalau begini aku tidak bisa ke kantor, Yan."
Abyan melihat jam dipergelangan tangan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi, menghela nafas panjang dan memijat keningnya, "Ya Tuhan, rasanya mau kuikat saja mereka berdua dan kulempar ke kutub selatan, hhhhhhhh ... "
Abyan mengirim pesan ke Sasha
'Sha, undur jadwal Tuan Muda hari ini 2 jam. Ada urusan mendesak.'
"Istrimu tidak apa-apa. Beri waktu lima belas menit, baru kau panggil lagi." Abyan menenangkan Ray yang gelisah.
Lima belas menit menunggu terasa satu tahun bagi Ray. Ketika akan mengetuk pintu kamar, Ray dikejutkan dengan suara bel pintu. Ada Pak Sas di balik pintu, terengah-engah dan air mukanya panik.
"Ma-- maaf Tuan, saya kira Tuan sudah ke kantor." Pak Sas memberi hormat pada Ray sambil masih mengatur nafasnya.
"Pelan-pelan saja Pak Sas. Masuklah dulu. Ada apa sampai terburu-buru begini?" Ray mempersilakan masuk dan Abyan memberi pamannya air minum untuk mengembalikan nafasnya yang naik turun.
"Tiba-tiba Nyonya menelepon sambil menangis dan minta agar saya datang kesini secepatnya. Saya khawatir ada apa-apa dengan Nyonya karena Tuan jam segini ada di kantor. Tadi saya menelepon Asisten Yan berkali-kali tapi tidak diangkat." Pak Sas melirik tajam sebentar ke arah Abyan yang cengar-cengir karena ponselnya ada di dalam saku celana dengan mode silent.
Ceklek.
Pintu kamar dibuka. Nampak wajah Litha dengan bekas airmata, mata dan hidungnya memerah. Ia membawa tasnya, hendak pergi. Pak Sas memberi hormat pada Litha.
"Sayang, mau kemana?"
"Minggat ke rumah Nenek," jawab Litha ketus. Ia lalu melihat ke arah Pak Sas, "Pak Sas, aku kesal sekali sama laki-laki yang sok pamer badan untuk mendapat perhatian, apalagi wanita itu melihatnya dengan bola mata yang mau keluar dan air liur yang menetes. Aaarrgghhh ... Katakan pada lelaki itu agar dia lebih menjaga perasaan istrinya. Aku sudah tidak suka disini, aku tunggu di bawah saja."
Pak Sas yang belum mengerti maksud Litha kini ditinggal begitu saja. Hening untuk sesaat.
Huahahahahahahaha ...
Abyan sudah tidak tahan, tawanya meledak sangat keras, "Bola mata yang mau keluar dan air liur yang menetes. Oh, Tuhan ... kenapa Nyonya lucu sekali? Apa Nyonya habis menonton kartun di dalam kamar? huahahahaha ... Dan Nyonya-- Nyonya mengadu pada Pak Sas seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya hahahahaha ... "
"Diam kau!" Ray melempar bantal sofa ke muka Abyan, " Kita ke kantor sekarang."
"Asisten Yan." Pak Sas mengingatkan Abyan agar tetap menjaga bicaranya meski Tuan Muda adalah sahabatnya.
Ray menghampiri Pak Sas dan berkata, "Pak Sas, tolong temani istriku. Kalau dia tanya apa Pak Sas sudah menasehatiku, bilang saja sudah dan aku menyesal, tidak akan mengulanginya lagi."
"Baik Tuan, saya pastikan Nyonya baik-baik saja." Pak Sas mengerti apa yang terjadi, kemudian ia membungkukkan kepalanya, pamit dan beranjak keluar.
"Yan, sebelum ke kantor aku mampir ke makam Nenek. Tadi dia menyebut rumah Nenek, aku jadi ingat beliau."
"Oke, hahahahaha ... "
"Hentikan tawamu!"
"Oke, ppppfffftttt ... "
"Yan!"
"Oke."
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Kali ini double up, tapi please like dan komentarnya merata buat dua bab ini ya Kak ☺️☺️
__ADS_1