Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Hiduplah dengan Bahagia


__ADS_3

Pagi hari di teras rumah utama, Ray ditemani Abyan menunggu Litha, bersiap untuk jalan-jalan seharian kemana istrinya mau.


"Apa kau tidak penasaran Ray, alasan apa yang membuat Firza menghabisi Sebastian?" tanya Abyan.


"Aku penasaran tapi aku juga menghargai privasinya, selama tidak ada hubungannya dengan Litha, itu bukan urusanku."


"Kau percaya padanya?" tanya Abyan lagi.


"Ya. Aku percaya padanya."


Terdengar suara langkah kaki perlahan menuju mereka. Ray dan Abyan berbalik, ada Litha yang digandeng Vania ke arah mereka. Vania masih saja membujuk kakaknya untuk tidak didampingi Abyan saat belajar menyetir hari ini.


"Sudah siap, Sayang?" sapa Ray ketika Litha meraih lengan kekar suaminya, ia mengangguk dan tersenyum sumringah. Mengenakan dress berwarna hijau sage dan make up tipis, Litha terlihat sangat manis dengan aura ibu hamil yang memukau.


"Kami tidak sarapan di rumah. Kalian sarapanlah dulu yang banyak, karena adu mulut itu memerlukan energi yang besar," sahut Ray melihat Abyan dan Nia. Keduanya mencebik tentu saja Ray kesenangan melihat mereka.


"Kak ..."


Nia berusaha memohon terakhir kali. Tapi malah ditanggapi Litha, "Belajar yang benar, Asisten Yan adalah orang yang sabar. Buktinya hanya dia yang sanggup berada di samping Tuan Muda."


Ray tergelak, makin tergelak melihat muka adik iparnya tertekuk jadi delapan lipatan. Lucu sekali, dan Abyan hanya menghela nafas panjang.


"Cantik sekali ... Mau kemana, Ratuku?" Ray mengecup punggung tangan istrinya yang membuat Litha tersipu malu.


"Aku akan ikut kemanapun Yang Mulia Raja membawaku," jawab Litha memandang mesra manik suaminya.


"Cih. Lebayyy ...!" gerutu Vania seraya membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam ruang makan diikuti Abyan yang juga memasang mimik jengkel.


.


.


.


"Kapan mereka tidak bermesraan di depan orang, kekanak-kanakan sekali," gerutu Abyan setelah tiba di meja makan untuk sarapan.


"Kenapa? Kau kesal mereka saling mencintai? Makanya temukan pasanganmu untuk saling mencintai, jangan terus jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa mencintaimu," celetuk Lidya seraya menata meja.


Abyan mendengus sebal, Ibunya mulai berisik menceramahinya.


"Bibi, jatuh cinta itu seperti apa?" tanya Vania tiba-tiba.


"Kau jatuh cinta pada seseorang, Nona?" sindir Abyan ketus, ia melampiaskan kekesalannya pada Ibunya dengan menyindir Vania.


"Engg ... justru itu aku bertanya, jatuh cinta seperti apa? Jangan sampai aku jatuh cinta yang ternyata hanya sebatas kekaguman, lalu aku terjebak sampai tidak bisa melepaskan diri. Konyol kan?" Vania menyindir balik.


Abyan mengenggam erat sendoknya, belum saja pelajaran mengemudi dimulai, kekesalannya sudah di ubun-ubun.


"Jatuh cinta itu seperti kau menemukan seseorang yang selalu kau rindukan, terus mengagumi dan memikirkannya– juga ingin menghabiskan waktu bersama saat raga terpisah. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan yang mendalam ketika jatuh cinta bisa pudar. Rasa memuja yang intens pada awalnya bisa saja hilang," kata Lidya sedikit melirik ke putranya, "Jatuh cinta pada seseorang di hari ini bukan jaminan rasa itu akan tetap bertahan untuk selamanya. Berbeda dengan jatuh cinta– mencintai dengan hati yang tulus tanpa syarat akan lebih bertahan lama meskipun orang yang dicintai itu telah mengecewakan kita berkali-kali. Ini juga yang menjadi alasan seseorang untuk bisa terus mencintai pasangannya meskipun hubungan mereka sudah berakhir atau bahkan bagi yang belum memiliki hubungan sekalipun. Antara mengagumi, jatuh cinta dan mencintai sangat rumit untuk dibedakan."


"Ternyata rumit ya Bi, kadang kita sendiri juga tidak bisa paham sebenarnya perasaan kita itu masuk kategori mana apalagi kalau cinta tak berbalas. Aku jadi takut untuk jatuh cinta, eh bukan– mencintai maksudku," timpal Vania.


"Dasar bocah, di umur segini memangnya dia mencintai siapa?" ketus Abyan.


"Tidak– tidak ada orang lain yang aku cintai selain Kak Litha. Aku mencintai semua yang ada di dirinya."


Lidya tersenyum mendengarnya, ucapan tulus dari Vania cukup menyejukkan hatinya di pagi hari.


.


.


.


"Mas, apa Vania bisa bersikap sopan tidak ya sama Asisten Yan?" tanya Litha khawatir.


"Tidak usah memikirkan mereka. Kalau mereka ribut, tutup mata telinga saja. Sekarang nikmati waktu kita berdua. Abaikan yang lain, apa kau mau berbelanja?"


Litha mengangguk. Ray senang akhirnya black card yang ia berikan ke istrinya sejak menikah akhirnya digunakan.


...***...


Gubrakkk!


Vania masuk dengan setengah berlari mendorong keras pintu dapur rumah utama menuju kamarnya. Lidya dan Pak Is yang tengah berbincang kaget bukan kepalang, dikira ada yang jatuh.


"Yan, Nona Vania kenapa?" tanya Lidya melihat Abyan melangkah masuk.


"Dia menabrak kandang burung di peternakan belakang. Kubilang injak rem, dia malah injak gas. Kerjaannya ngoceh mulu."


"Ya ampun, tapi Nona tidak apa-apa kan? Bagaimana kalau Nyonya pulang dan Nona mengadu? Kau ini, mengajari Nona Vania saja tidak becus." Lidya memukul lengan Abyan dengan keras dan langsung berjalan cepat menuju kamar Vania.


"Malah bagus Bu. Aku tidak perlu mengajarinya lagi!" teriak Abyan kesal.


"Kau tidak pernah sekesal ini dengan perempuan, Yan. Jaga sikapmu, Nona Vania adalah adik kesayangan Nyonya."


"Aaarrrggghhhh ... Bodo amat Pak Is!" sergahnya sambil berlalu ke belakang dan segera pulang ke apartemennya.


.


.


.


Tok. Tok.

__ADS_1


"Apa Bibi boleh masuk, Nona?"


"Masuklah, Bi. Kamarku tidak dikunci," jawab Vania dari dalam.


Lidya masuk, dilihatnya Vania tengah mengusap matanya yang memerah.


"Apa Nona terluka? Apa anak Bibi menyakiti Nona?"


Vania menggelengkan kepalanya, Lidya makin mendekat dan menggenggam kedua tangan Vania, "Jika dia menyakiti Nona, Bibi sebagai ibunya minta maaf, mungkin Bibi belum cukup baik mengajarkannya bagaimana memperlakukan perempuan."


"Tidak, Bibi. Mungkin aku yang keterlaluan, tapi sudahlah."


"Apa ada yang ingin Nona ceritakan?"


"Maaf Bi, aku lagi tidak ingin menceritakannya dan Bibi jangan bilang apapun yang Bibi lihat hari ini ke Kak Litha juga ke Kakak Ipar ya?"


Lidya tersenyum, "Baiklah. Bibi akan menutup rapat mulut Bibi," katanya seraya membuat gerakan menutup mulut.


Vania pun dengan senang hati memeluk ibu dari pria yang bertengkar dengannya barusan.


"Bibi, apa Asisten Yan pernah mencintai wanita sebelumnya?" tanya Nia mengurai pelukan.


"Kenapa tiba-tiba Nona menanyakannya?" Lidya menyampirkan rambut gadis itu ke belakang telinga.


"Dia sensitif sekali ketika ku singgung dokter itu. Aku takut dia benar-benar marah. Dia tidak pernah membentakku sebelumnya, Bibi," adu Vania.


Lidya menghela nafasnya, ia kadang ingin menyerah menghadapi keras kepala anaknya sendiri.


"Abyan tidak pernah berlaku kasar pada perempuan. Bibi akan sangat marah jika dia sampai melakukannya terhadap wanita, siapapun wanita itu."


"Tapi tadi dia membentakku, bahkan dia menyebutku 'Bulan Kesiangan' di depan wajahku. Bagaimana aku tidak sakit hati. Apa kulitku sangat jelek?" suara Vania memelan mengingat umpatan Abyan padanya.


( Bulan Kesiangan adalah peribahasa yang memiliki arti muka yang sangat pucat dan lesu, putih dalam artian sangat tidak menarik. )


"Benarkah? Bibi akan memarahinya. Semua perkataannya tidak benar. Justru kulit Nona adalah idaman para wanita, seputih susu, halus dan lembut. Ini anugerah dari Yang Maha Kuasa. Mata Abyan yang rusak."


"Jangan Bi. Jangan berkata apapun padanya, nanti dia makin membenciku dan mengataiku Pengadu. Jangan ya... " Nia memohon dengan menggenggam kedua tangan Lidya dan memohon dengan sangat.


Entah kenapa hati Lidya menjadi terenyuh, dalam hati ia sangat jengkel hanya karena menyinggung dokter itu Abyan membuat Nona Mudanya menjadi minder dengan kulitnya yang begitu cantik.


"Ya, Bibi tidak akan mengatakan apapun. Tapi Nona harus percaya diri lagi dengan kulit Nona ini, ya."


Vania tersenyum kecut, dulu awal dia dirundung di sekolah karena kulitnya, sekarang pun ia diumpat dengan membawa embel-embel kulitnya lagi. Di saat seperti ini ia sangat ingin memeluk kakaknya.


.


.


.


"Kak ..." sambut Gadis Bulan Kesiangan itu memeluk Litha begitu tiba di rumah saat menjelang makan malam.


"Lho, bukannya kamu belajar mengemudi kenapa malah jalan-jalan pakai motor?" tanya Ray kaget bercampur heran.


"Hhhh ... Semuanya kacau Kak, pokoknya aku lebih baik tidak usah belajar menyetir mobil daripada diajari Asisten Yan. Aku juga masih bisa wira-wiri dengan motor, lebih cepat lagi, gak kena macet."


"Pasti kau yang berkata lancang dan tidak sopan hingga Asisten Yan tersinggung."


"Kak Litha jangan menuduhku seenaknya. Aku menabrak kandang burung di peternakan belakang. Aku salah injak, harusnya rem tapi yang kuinjak gas."


"Bagaimana caranya Abyan mengajarimu hingga kau tidak bisa membedakan mana gas mana rem?" sahut Ray sedikit emosi.


"Mas ..." Litha menyentuh pundak suaminya untuk mengendalikan suara tingginya karena Vania agak sedikit terkejut.


"Maaf Lith," Ray meminta maaf pada istrinya, kemudian menoleh ke arah adik iparnya, "Maaf Nia, aku tidak bermaksud memarahimu, aku hanya kesal Abyan tidak mengajarimu dengan baik."


Vania menggeleng pelan, Ray mengusap pucuk kepalanya, "Tidak ada yang boleh melukai adik kesayanganku, Abyan sekalipun. Tenanglah, kau tetap akan diajarinya menyetir sampai bisa."


Litha terharu, suaminya tulus menyayangi adiknya. Tapi Vania tidak terhibur, "Tidak perlu, Kak. Aku sudah tidak mau."


"Kau menyerah? Tidak malu sama ini?"


Ray menunjukkan SIM A dan SIM C atas nama Vania. Gadis yang baru saja memiliki KTP itu membelalakkan matanya dengan binar persis milik istrinya.


"Kalau bukan Kakakmu yang mengurusnya aku tidak akan setuju. Apa-apan SIM tembak? Cih, aku saja mendapatkannya dengan jalur yang semestinya," sahut Litha mendudukkan dirinya di sofa, Ray yang membantunya hanya terkekeh.


"Besok kau tetap belajar. Aku dan Litha akan di rumah menemanimu," kata Ray ikut duduk di sebelah istrinya


"Kenapa harus Asisten Yan sih, yang mengajariku?"


"Hanya dia yang aku percaya, Nia."


"Ck."


Sekonyong-konyong Pak Is datang diikuti tiga orang pelayan lain di belakangnya, tangan mereka penuh dengan segala macam kotak dan tentengan, "Nyonya, ini mau diletakkan dimana?"


"Eng ... Disini saja dulu Pak Is."


Lagi-lagi mata Vania membulat, "Buat apa Kak Litha beli coklat sebanyak ini? Terus cupcake, es krim, roti, puding, dan kue-kue. Astaga! Ini semua kesukaanku ...."


"Iya, ini kesukaan kita, Nia! Bentuknya lucu-lucu dan pasti rasanya enak," ujar Litha tidak kalah berbinar.


Ray hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak memahami isi dalam kepala istrinya. Ia kira istrinya akan shopping seperti wanita pada umumnya dan ia juga membayangkan akan menenteng goodie bag dari outlet brand fashion ternama dunia. Ternyata ... istrinya lebih tertarik menyusuri toko-toko kue, es krim, coklat dan makanan lainnya.


"Tapi, Nyonya, kadar gula pada makanan ini–"

__ADS_1


"Ih, Pak Is, berilah kelonggaran sedikit padaku. Aku selalu makan makanan sehat di rumah ini, lagipula Suamiku yang membelikan semua ini."


Pak Is melirik Ray dan lelaki bertubuh tinggi tegap nan kekar itu hanya bisa tersenyum salah tingkah, "Anakku yang menginginkannya," kilahnya.


"Apa sebagian sudah di bagikan ke belakang, Pak Is?"


"Sudah, Nyonya."


Setiap Litha membeli sesuatu yang bisa dimakan, selalu ia beli dalam jumlah banyak karena ia tidak enak makan sendiri. Semua pelayan dan penjaga di rumah utama pun juga akan ikut menikmati.


"Oh ya, mana Bibi Lidya? Aku tidak melihatnya dari tadi?"


"Tadi siang dia pergi ke apartemen Abyan dengan taksi online. Urusan dengan putranya hari ini menyita energinya hingga dia meminta ijin untuk beristirahat sebentar."


Litha memandang suaminya heran, sedangkan Vania sudah teralihkan dan mengagumi dengan semua kudapan yang dibeli kakaknya, hingga ia tidak begitu mendengar apa yang Pak Is katakan.


"Ternyata Bibi Lidya sudah meringankan pekerjaanku."


"Maksudnya?"


"Aku tidak perlu bicara dengan Abyan karena sudah diwakili Bibi. Yuk, ganti baju, buat dirimu nyaman," ujar Ray berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri.


"Nia, makanlah duluan apa yang kau mau. Tapi ingat, jangan sampai membuatmu kekenyangan karena kita akan makan malam," kata Ray lagi setelah istrinya berdiri dan akan beranjak ke kamar.


"Lah, Kak Litha tidak ikut makan ini bersamaku?" Vania menunjukkan sebuah cupcake berbentuk lucu.


"Dia punya appatizer lain yang harus di prioritaskan ... Auw!"


Litha mencubit kuat perut suaminya untuk menjaga perkataannya, namun malah dibalas dengan rangkulan mesra dan sedikit cumbuan.


.


.


.


# Apartemen Skylight No. A.84 #


"Sudahlah, Bu. Jangan mencampuri urusanku," Abyan menghela nafas, duduk di sofa setelah Lidya mencecarnya tanpa henti.


"Ibu sudah berhenti mencampuri urusanmu, Abyan. Terserah apa yang mau kau lakukan, bahkan Ibu sudah tidak lagi memintamu menikah. Tapi, tolong hilangkan bayangan wanita itu jika kau berada di rumah Keluarga Pradipta. Nikmati saja mimpimu sendirian!"


"Lalu bagaimana jika justru ada yang mengungkitnya di sana?"


"Maksudnya Nona Vania?"


Abyan diam, dia berdiri menghadap jendela kaca yang lebar, menatap pemandangan langit luas terbentang. Apartemennya terletak di lantai 84, lebih tinggi dari apartemen Rayyendra karena ia menyukai ketinggian. Sama halnya dengan istri sahabatnya yang menyukai pemandangan dari ketinggian, karena bisa melihat sesuatu dari semua sudut pandang. Membuatnya bisa berpikir lebih rasional dan bijak, kecuali masalah hati dan perasaannya sekarang.


"Yan, Nona Vania hanyalah seorang anak-anak yang mulai beranjak besar. Dia kehilangan kedua orangtua di usianya yang sangat muda. Beruntung masih ada Nyonya tempatnya bersandar. Kau lihat sendiri bagaimana dia mencintai Nyonya saat ini, karena tidak ada lagi yang bisa dia andalkan. Remaja seusia Nona Vania, pikirannya itu masih labil dan terkadang rapuh, dia hanya butuh perhatian."


"Tapi tidak juga mencari perhatian dengan mengusik privasi orang lain, Bu."


"Ya, kau cukup mengatakan kalau kau tidak suka privasimu diusik."


"Sudah, Bu! Tapi dia malah semakin menyulut emosiku sampai–"


Lidya mengerutkan alis, "Sampai ?"


Abyan gelagapan, "Sampai– sampai aku emosi dan tidak membantunya mengerem saat dia menginjak gas."


"Dasar bodoh! Kau membahayakan nyawa Nona. Bagaimana kalau Nyonya tahu kau membahyakan nyawa adik kesayangannya." Lidya memukuli Abyan dengan bantal sofa bertubi-tubi.


"Dia sendiri yang menginjak gas. Dia menguji kesabaranku, Bu." Abyan membela diri dengan melindungi kepala dengan tangannya.


"Aarrgghhh ... Anak bodoh!!!"


Lidya menjambak rambut anaknya dengan kesal.


"Sa– sakit, Bu .... Sakitttt!!!!" pekik Abyan tidak melawan.


"Ibu tidak mau tahu! Besok kau harus minta maaf pada Nona Vania, Nyonya dan Tuan Muda. Kau juga harus tunjukkan penyesalanmu dengan bertanggungjawab mengajari Nona menyetir sampai mahir."


"Tapi–"


"Satu kali lagi kau berkata tapi, Ibu pulang kampung," ancam Lidya.


"Ck." Abyan menyerah kalau Ibunya sudah mengancam.


"Ibu tidak akan mengurusi hidupmu lagi, termasuk urusanmu dengan dokter itu, bahkan kalau kau tidak mau menikah gara-gara dia, Ibu juga sudah tidak peduli. Kau sangat keras kepala ... Ingat Yan, jatuh cinta bisa kapan saja tapi tidak dengan mencintai. Hidup hanya satu kali, hiduplah dengan bahagia. Cintailah orang yang tepat yang juga mencintaimu. Sebelum kau mencintainya lebih dalam, jatuh cintalah lagi pada orang lain."


Lidya merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena habis memukuli anaknya. Ia mengambil tas dan seraya berkata, "Ini nasehat Ibu yang terakhir. Terserah mau kau indahkan atau tidak. Kau sudah dewasa ... sudah bisa memilih dan mengambil keputusan dengan sadar juga bijaksana. Supaya adil, kau juga jangan campuri urusan Ibu, apapun itu."


"Bu, jangan begitu ...."


Abyan tahu ia sudah membuat Ibunya terluka dengan membuat sekat tinggi nan tebal antara dirinya dan Ibunya, padahal di dunia ini hanya tinggal Ibunya saja keluarga yang ia miliki.


"Tidak usah mengantar Ibu pulang ... Ibu sudah memesan taksi online. Kau istirahat dan makanlah dengan baik. Ibu menyayangimu, Abyan." Lidya pamit dengan mengecup pucuk kepala putra kebanggaannya.


"Bu–"


Ceklik.


Pintu tertutup, kini tinggal Abyan sendirian. Keheningan melanda, kerisauannya meluap kembali. Ia mengusap wajahnya dengan menghela nafas yang sangat panjang. Sesaat terngiang-ngiang kembali kalimat ibunya.


Hidup hanya satu kali, hiduplah dengan bahagia.

__ADS_1


Setiap Ibu pasti menginginkan anaknya bahagia, namun belum tentu versi kebahagiaan antara anak dan sang ibu selalu sama dan sejalan. Pertanyaannya, apakah mencintai seseorang dengan terus menikmati mimpinya sendirian akan membahagiakan hidup? baik menurut versi Ibu dan– si anak.


- Bersambung -


__ADS_2