Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kecewa


__ADS_3

Manik Litha bertemu dengan manik suaminya. Mereka duduk saling menghadap di meja kerja Rayyendra. Ada dua buah map diatasnya beserta satu amplop di diletakkan sejajar.


"Litha, semua proses pengalihan harta warisan Nenek sudah selesai, sesuai pintamu, ini 20 persen diatasnamakan Firza. Dia sungguh lelaki beruntung mendapatkan cinta dan harta tanpa susah payah," kata Ray menunjukkan salah satu dari map di atas meja.


"Kenapa sih kau selalu menyindir Kak Firza di depanku?" gerutu Litha sambil membuka dokumen-dokumen di dalam map itu.


"Terima kasih." Litha menutup kembali map.


"Tapi aku ingin tahu alasanmu?"


"Alasan apa?"


"Kenapa tidak untukmu saja 20 persen itu? toh Firza juga bukan bagian keluarga Pradipta, dia hanya beruntung diangkat cucu oleh Nenek."


"Apa bedanya denganku? Aku juga beruntung diwasiatkan untuk menikah denganmu. Jadi 20 persen itu memang bukan untukku."


"Lalu kenapa dia?"


"Dia? Oh, maksud Tuan, Kak Firza? Nenek pernah mengatakan padaku bahwa Pradipta Corp. tidak akan seperti sekarang ini kalau tidak ada campur tangan Kak Firza dibalik layar. Meskipun Tuan hebat di depan semua orang tapi tanpa sokongan dari belakang yang kuat, Tuan tidak akan bisa bertahan. Aku hanya mengikat Kak Firza agar tidak pergi meninggalkan Keluarga Pradipta dengan 20 persen itu agar Pradipta Corp. tetap berjaya. Percayalah Tuan, Kak Firza tidak akan menghabiskan bagiannya dengan berfoya-foya tidak jelas atau berniat serakah menguasai semua aset Pradipta."


"Hah! Kau yakin sekali! Tetap saja dia orang luar dari keluargaku."


"Tapi Nenek mempercayainya, dan itu seharusnya sudah cukup buat Tuan untuk mempercayainya. Kak Firza tidak akan menghianati keluarga ini."


Rayyendra mendengus sebal. Firza, Firza, dan Firza ... Nama itu sudah malas didengarnya.


"Kau mencintainya kan?"


"Apa!?! Hahahahahaha .... sangat bagus dibuat judul novel, Mencintai Kakak Iparku judulnya hahahahaha ... Tuan ada-ada saja. Sudahlah. Lalu ini apa?" tunjuk Litha di map satunya.


"Hufffttt. Jawaban yang membingungkan. Jawab saja ya atau tidak, atau sebenarnya kau memang ada hati untuknya ya tapi dianya tidak." gumam Ray di benaknya.


"Ini surat pernyataan bahwa kau bersedia bercerai denganku, jika kau mau," jawab Ray.


"Jika kau mau? maksud perkataannya apa?" tanya Litha dalam hati, bingung.

__ADS_1


"Ini bukan berarti kita sudah bercerai. Tentu saja harus melalui sidang di pengadilan. Ini hanya untuk pegangan Pak Prasojo dalam mengajukan gugatan nanti, agar prosesnya tidak lama, tentu saja jika kau mau." kata Ray lagi.


"Jika kau mau lagi? apa sih maksudnya?"


"Ya, kalau memang bisa membantu, aku akan menandatanganinya," ucap Litha.


Ada semburat kecewa di mata suaminya ketika Litha berucap demikian.


"Litha, aku minta maaf. Tidak seharusnya malam itu aku menodaimu. Aku tahu kau kecewa denganku. Tidak bisakah kita bersama saja daripada berpisah?"


Ray mencoba meraih tangan Litha, tapi Litha keburu menarik tangannya dan menyimpannya di bawah meja.


"Tuan berkata demikian karena rasa bersalah, padahal sudah kubilang, anggap saja itu resiko ku. Aku yang membuat isi perjanjiannya, aku lupa jika setiap hal ada resikonya. Setidaknya yang mengambil perawanku suamiku sendiri dan dalam ikatan pernikahan yang sah. Jadi, Tuan tenang saja, rahasia ini akan kusimpan rapat-rapat sampai mati."


Cesssss .... setetes rasa kecewa mengecilkan hati Rayyendra.


"Apa aku salah bicara? Litha, aku memang ingin kau bersamaku disini seperti dulu sebelum aku menidurimu. Tapi, kalau kau memang tidak mau, aku tidak bisa memaksamu. Mungkin bisa jadi kau sudah ada rencana dengan laki-laki itu. Hahhhh!! menyebut namanya saja walaupun dalam hati membuatku marah!"


Litha mengambil pulpen yang ada di pen holder di atas meja. Tanpa ragu ia menandatangani surat pernyataan bersedia cerai dengan suaminya.


"Bukalah."


Litha membukanya, ada dua buah cek, yang satu senilai 5 Milyar, satunya lagi 30 Milyar, berkali kali lipat dari cek pertama. Litha paham, ini bayarannya tapi ...


"Apa ini?" Litha menunjukkan cek bernilai 30 Milyar ke Rayyendra.


"Aku telah melanggar perjanjian dengan menyentuhmu. Apa kurang?" tanya Ray ringan.


Air muka Litha yang tadi santai seketika berubah menjadi raut kecewa dan marah. Matanya memerah dan berair.


"Kau mengkompensasiku karena kau meniduriku?" tanya Litha tertahan, ada rasa sakit yang teramat sangat disana.


"Aku hanya ingin bertanggungjawab, kupikir cukup. Tapi kalau kurang, kau minta berapapun akan kuberikan."


"Bertanggungjawab dengan memberi uang?" tanya Litha lagi tidak percaya. Kantong matanya sudah penuh air, sedikit saja tersenggol, tumpah sudah.

__ADS_1


"Lah, tadi aku tawarkan untuk tidak berpisah, kau tidak mau, sekarang kuberi uang juga tidak mau. Apa aku salah?"


🙋 Caramu yang salah Ray! Kau itu jadinya melukai harga diri Litha, memberi uang sebagai ganti perawannya yang telah diambil paksa 🙋


Litha semakin geram karena Ray diam saja. Di kepalkan tangan satunya di atas pahanya. Matanya panas menahan agar tidak berkedip, ia takut kalau berkedip air yang sudah berkumpul di kantong mata akan tumpah begitu saja.


"Litha, kau kenapa?" tanya Ray bingung, sama sekali tidak peka.


"Kau ...."


Matanya berkedip dan airmata kini mengucur begitu saja tanpa diminta. Litha merobek cek ditangannya yang bernilai 30 Milyar di depan suaminya.


"Sudah kubilang itu resiko ku. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi kalau kau mau memberi nilai untuk menghapus rasa bersalahmu, seisi dunia inipun kau beri tidak akan bisa menghapus rasa kecewaku, Ray. Aku ditiduri paksa suamiku sendiri, bukan wanita yang biasa dibayar untuk ditiduri. Ku harap kau tahu bedanya!"


Ray tercengang. Kenapa Litha menangis hebat seperti itu? Dia pikir Litha akan senang menerima cek tambahan itu, tapi yang ada justru Litha patah arang dan marah.


"Hubungan kita sudah berakhir. Cek 5 Milyar ini kuambil, karena ini memang hak ku. Sekarang juga aku akan keluar dari rumah ini dengan koperku yang di gudang. Terima kasih sudah memberiku kesempatan menjadi Nyonya Pradipta."


Litha menangis sesenggukan, sesenggukan hingga merintih. Luka dan sakit hatinya menjejak hingga relung hati terdalam. Sangat ironis, ia yang mencintai suaminya tapi suaminya sendiri menganggapnya seperti wanita panggilan, yang dibayar setelah ditiduri.


Ray makin bingung, ia sedih melihat Litha menangis apalagi menangis seperti itu. Ia berdiri dari duduknya dan menghampiri istrinya.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak mau melihatmu lagi!"


Litha menepis tangan Rayyendra yang menyentuh bahunya. Litha segera berdiri dan berlari keluar dari ruang kerja sambil mengelap airmatanya yang tidak mau berhenti. Sayangnya Ray masih saja dalam kebingungan.


Pak Is yang berada di ruang makan mendengar samar suara tangis wanita kini menjadi fakta, melihat Nyonya Mudanya keluar dengan airmata berderai menguatkan berita yang baru saja didengarnya dari Pak Sas bahwa Tuan Muda akan segera mendaftarkan gugatan perceraiannya ke pengadilan setempat melalui Pak Prasojo.


"Nyonya .... " lirih Pak Is sedih memegang dadanya.


Nyonya Mudanya yang baik hati, yang selalu ramah pada semua orang di rumah ini, yang selalu menyapa tiap kali berpapasan bahkan tidak sungkan membantu para pelayan di rumah belakang. Nyonya Mudanya yang tidak malu ikut ke pasar dan suka membagi-bagikan uang tunai di dompetnya pada orang yang ia kasihani dan selalu membawa sesuatu yang bisa dimakan setiap kali keluar rumah untuk para penjaga dan pelayan di rumah utama.


"Tuan Muda Suamiku tiap malam selalu mengecek dompetku, Pak Is. Kalau tidak habis atau berkurang banyak, aku pasti dimarahi, katanya ia tidak menafkahi istrinya. Padahal apa yang kurang di rumah? semua ada. Ya sudah kubagi-bagikan saja sama orang yang kulihat kasihan." ujar Litha ketika Pak Is menegur Litha terlalu baik, sebab bukan saja pada peminta-minta ia memberikan lembaran uang nominal tertinggi tapi juga tukang parkir, tukang sampah, tukang sapu bahkan pedagang dan pembeli yang ia rasa iba.


"Ah, Nyonya ... dimana lagi Tuan Muda mendapatkan istri seperti Anda jika akhirnya berpisah."

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2