
Dihari yang sama saat Litha meratapi kepergian ibunya, di lantai Presdir terjadi keributan. Ramona memaksa masuk ke ruangan Rayyendra, namun ditahan oleh penjaga di depan pintu lift.
"Kalian tidak tahu siapa aku? Aku tidak perlu punya janji untuk ketemu Presdir!" Ramona meninggikan suaranya.
"Nona Ramona, sudah kusampaikan tadi malam, Tuan Muda hanya ingin membahas laporannya denganku, Nona bisa bergabung kecuali Nona sendiri yang membuat laporannya. Silahkan Nona pergi, jangan memancing kemarahan Tuan Muda. Nona Ramona pasti tahu kemarahan Tuan Muda seperti apa, kan?" kata Abyan yang muncul bersama Sasha.
"Aaarrrgghhhh.... Ray tidak pernah seperti itu. Pasti kau, Abyan, yang mempengaruhinya, kenapa? Apa kau sudah lelah membantuku?"
Abyan menghela nafasnya pendek, "Kalau Anda sudah tahu, kenapa tidak Nona sendiri yang membuatnya, Nona kan direkturnya. Seperti kerbau punya susu tapi sapi yang punya nama. Aku yang kerja tapi Nona yang dapat nama."
Abyan berlalu pergi diikuti Sasha, tidak peduli Ramona masih mengomel marah, ia tetap tidak bisa masuk ke ruangan Presdir.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Ray begitu Abyan masuk ke dalam ruangan Presdir.
"Tuan Muda tahu wataknya, dia tidak akan pergi dari sini sebelum tujuannya tercapai. Tapi setidaknya dia tidak bisa masuk kesini, Tuan."
Ray mengangguk, "Apa sekarang Litha tinggal di kostnya Ninda?"
"Heh, Ray, kenapa baru kau peduli sama istrimu yang sudah hampir sebulan pergi dari rumah!"
"Aku masih tidak punya muka untuk mencari Litha, Yan. Terakhir aku melihatnya, dia sangat membenciku, sampai tidak mau melihatku. Kesalahanku sepertinya sangat fatal."
Ray seakan tahu apa yang dikatakan Abyan dalam hatinya.
"Kau mulai curhat, kan. Makanya buang itu gengsimu, memangnya apa yang kau perbuat sih sampai Litha sangat membencimu, kau saja tidak mau cerita padaku, tapi aku yang ikutan pusing. Untung Bona sudah tidak merengek Ninda lagi."
Tiba-tiba ponsel Abyan berbunyi, ia mengangkatnya dan berbicara sebentar. Ekspresi wajahnya terkejut.
"Tuan, Nyonya Muda sekarang dalam perjalanan ke Kota A dengan kereta api tadi pagi, ibunya dalam keadaan kritis. Tapi sekarang Ibu Nyonya Muda sudah meninggal dunia. Pak Sas segera menuju kesana dengan mobil."
Rayyendra kaget namun tidak mengucapkan apa-apa, ia hanya terdiam.
"Tuan, Anda tidak ingin kesana? Sekedar berbelasungkawa?"
Ray masih tetap diam.
"Besok ada rapat evaluasi triwulan, Firza akan datang. Aku mau menyerahkan bagiannya. Nanti akan kupertimbangkan setelah itu," katanya tanpa melihat Abyan, pandangannya hanya tertuju pada laporan yang dibuat asistennya tapi pikirannya ke Litha.
__ADS_1
"Dasar Bocah Egois. Apa susahnya kau berempati sedikit? paling tidak tunjukkan pada keluarganya kalau kau berduka cita atas ibu mertuamu. Justru kalau tidak datang, Nyonya akan semakin sulit," umpat Abyan dalam hatinya.
Menjelang tengah malam, Pak Sas tiba di rumah duka yang dipenuhi karangan bunga kiriman dari semua perusahaan di bawah naungan Pradipta Corp. Ia disambut Paman Tino dan Bibi Rima.
"Pak Tino dan Bu Rima, saya mewakili seluruh keluarga besar Pradipta mengucapkan turut berdukacita."
Pak Sas menunduk memberi hormat pada jenazah ibunya Litha, ia berucap, "Nyonya, terima kasih Anda telah mengizinkan putri Anda masuk dalam Keluarga Pradipta. Anda tidak perlu khawatir, saya akan memegang janji saya pada Nyonya, menjaga dan melindungi Nyonya Muda. Beristirahatlah dengan tenang, Nyonya."
Ia kembali menghampiri Pak Tino dan Bibi Rima yang berjaga, "Apa keadaan Nyonya Muda baik-baik saja? Nyonya pasti sangat terpukul."
"Nyonya Muda ada di dalam kamar Tuan, sedang beristirahat. Kondisinya sangat terguncang hingga dua kali jatuh pingsan," jawab Paman Tino yang menyebut Litha dengan sebutan Nyonya Muda jika di depan Keluarga Pradipta.
"Tuan Sasmita. Ada yang ingin kami bicarakan dengan Anda, ini menyangkut Nyonya Muda."
Bibi Rima langsung menyela setelah suaminya menjawab pertanyaan Pak Sas. Spontan mata Paman Tino melotot ke arah istrinya, tapi istrinya cuek, baginya ia harus membela apa yang menjadi hak Litha.
Pak Sas mengangguk. Kemudian ia mengikuti Paman Tino dan Bibi Rima ke sudut ruangan.
"Sebelumnya kami mohon maaf Tuan. Kami hanya ingin menyampaikan apa yang seharusnya diketahui walaupun Nyonya Muda menentangnya."
Pak Sas hanya diam, ia cukup menjawabnya dengan ekspresi siap mendengarkan.
Pak Sas masih diam, menyimak dengan ekspresi datar dan memperhatikan mimik Bibi Rima yang semakin serius dan tidak lagi menyebut Nyonya Muda. Paman Tino disampingnya hanya menyenggol-nyenggol paha istrinya agar pelan-pelan bicaranya. Kadung emosi, Bibi Rima semakin cepat melanjutkan.
"Apa Tuan tahu jika Tuan Muda Pradipta pada akhirnya meniduri paksa Litha. Meski mereka suami istri tapi bukankah ada kesepakatan yang harus dipatuhi karena selama pernikahan Litha sangat mematuhi apa yang menjadi syarat Tuan Muda dengan baik? Dan apa Tuan tahu sekarang Tuan Muda itu malah menceraikan Litha dengan menjatuhkan harga diri Litha memberi 30 Milyar sebagai ganti rugi atas keperawanannya yang diambil paksa?"
Kali ini ekspresi Pak Sas tidak datar lagi. Ia terperanjat, bagaimana mungkin Tuan Mudanya bisa berbuat seperti itu pada istrinya sendiri.
Bibi Rima sudah tidak tahan lagi, dengan linangan air mata ia berkata, "Apa Tuan Muda menganggap putri kami wanita bayaran? Meski keluarga kami tidak bisa dibandingkan dengan Keluarga Pradipta, tapi kami masih punya harga diri yang tidak bisa ditakar dengan uang."
Hati Pak Sas bergejolak tidak menentu, ia kini paham kenapa Nyonya Mudanya selalu menolak setelah berkali-kali ia membujuk untuk kembali ke rumah utama, bahkan paling tidak sampai ia resmi bercerai jika terjadi perceraian.
"Tuan, akibat perbuatan Tuan Muda, sekarang Litha hamil 14 minggu. Meski ia tidak mengatakannya tapi kami tahu ia depresi. Badannya sangat kurus dan kondisinya lemah. Tentu ini tidak baik baginya dan janin yang dikandungnya," ujar Bibi Rima terisak.
Demi apapun yang ada di dunia ini, mendengar Litha hamil Pak Sas sangat terkejut, ia sudah tidak berharap rencananya akan membuahkan hasil, tapi ternyata ia salah. Perhitungan masa subur Nyonya Mudanya dari dr. Lena sangat tepat, ditambah asupan makanan yang terjaga untuk keduanya dari Pak Is. Hatinya begitu gembira karena hanya dengan satu malam, segalanya berjalan sesuai harapan.
"Bu Rima apa benar yang Anda katakan? Nyonya Muda hamil?" tanyanya memastikan lagi.
__ADS_1
"Ya. Dokter di rumah sakit sendiri yang mengatakan setelah Litha pingsan pertama kali. Tapi Litha tidak ingin menuntut apapun atas kehamilannya. Ia menerima perceraian itu. Ia akan membesarkan anaknya sebagai ibu sekaligus ayah."
Bibi Rima semakin terisak, suaminya di samping mengusap-usap bahunya dengan kepala tertunduk.
"Bu Rima dan Pak Tino. Saya tidak akan membiarkan Nyonya Muda menderita, apalagi ada darah Pradipta pada anak yang akan dilahirkan Nyonya. Saya akan berusaha mencegah perceraian mereka. Namun, jika pada akhirnya takdir mereka harus berpisah, saya akan keluar dari rumah utama Keluarga Pradipta untuk menjaga Nyonya Muda dan anaknya sepanjang hidup saya. Bahkan Nyonya Besar telah membagi langsung harta kekayaannya khusus untuk anak yang ada di dalam kandungan cucu menantunya."
Paman Tino dan Bibi Rima tercengang sampai tidak bisa berkata-kata sangking terharu dengan ucapan Pak Sas. Tidak disangka Nyonya Besar sampai berpikir sejauh itu, menjamin kehidupan keturunannya.
Pak Sas pamit, ia akan menginap di hotel terdekat malam ini dan kembali esok saat pemakaman. Setelahnya ia akan bertemu langsung dengan Nyonya Muda.
Pria paruh baya itu menatap langit dini hari, "Nyonya Besar, tugasku sudah kutunaikan. Untuk membalas semua jasa baikmu, aku akan menjaga Nyonya Muda dan anaknya."
Ia mengambil telepon genggam di saku, mencari sebuah nama dalam buku telepon ponsel, kemudian meneleponnya.
"Ya, Paman. Ada apa tengah malam begini meneleponku?"
"Yan, apa Tuan Muda meneruskan gugatannya? Terakhir Prasojo mengatakan gugatannya ditunda, jadi belum sempat didaftarkan."
"Hmmm ... sepertinya Tuan Muda tidak pernah menyinggung soal gugatan itu lagi. Paman, bagaimana keadaan Nyonya Muda? Pasti dia sangat sedih ibunya telah berpulang. Sudah kutawarkan Tuan Muda untuk menghadiri pemakaman, tapi agenda besok ada rapat evaluasi dan Tuan Firza juga datang, ia ingin memberikan bagian Tuan Firza secara langsung."
"Yan ... " Kalimat Pak Sas menggantung.
"Ya, Paman."
"Kau cari bagaimana caranya agar Tuan Muda tidak bercerai dengan Nyonya Muda."
"Bagaimana caranya, Paman? Ini masalah hati, tidak bisa dipaksa, aku juga bingung dengannya, mau tapi gengsi."
"Nyonya Muda hamil 14 minggu."
Deg.
Abyan di seberang sana mematung, tidak bersuara sedikitpun. Bagaimana bisa Nyonya Muda hamil tanpa berhubungan? Pak Sas menceritakan semua yang Bibi Rima sampaikan tadi. Ia meminta agar Abyan memberitahu Ray mengenai kehamilan istrinya. Masalah ia mau menerima atau tidak, itu urusan belakangan.
"Brengsek kau, Ray! Apa yang membuatmu berpikir membayar hubungan se* pada istrimu sendiri? Kalau aku jadi Litha, tidak sudi aku melihatmu lagi," umpat Abyan setelah menutup sambungan telepon dari pamannya.
Abyan Pratama, anak pertama dari dua bersaudara yang dilahirkan dari adik perempuan Pak Sas. Sejak lulus SMA ia diberi tugas secara diam-diam oleh Pak Sas atas perintah Nyonya Besar agar menjadi teman Ray di Amerika sekaligus menjaganya selama ia jauh di negeri orang. Ditempatkan di satu apartemen mewah dan satu jurusan di universitas yang sama semasa kuliah. Ia berhasil mendapatkan kepercayaan Ray dan menjadi sahabat bahkan asisten pribadinya hingga sekarang. Abyan sengaja diberi tempat di sisi Ray karena Pak Sas mengetahui rencana Sebastian akan menaruh umpan untuk Rayyendra. Abyan merupakan generasi penerus yang dipersiapkan Sasmita untuk menjaga Keluarga Pradipta.
__ADS_1
- Bersambung -