Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Pulang


__ADS_3

Litha memeluk erat Bibi Rima dan Vania sebelum naik ke pesawat pribadi milik Keluarga Pradipta.


"Baik-baik di sana ya, Nak ... Semoga kamu dan bayimu sehat-sehat. Kalau ada yang melukaimu lagi, kau tidak perlu naik kereta ke sini, tapi kami yang akan ke sana langsung menjemputmu."


Suara Bibi Rima sengaja dikeraskan agar suami keponakan yang sudah ia anggap putrinya sendiri dapat mendengar dengan jelas. Pesan untuk Litha dan peringatan untuk Ray. Semua yang mendengarnya menahan tawa dengan tersenyum termasuk Pak Sas, manusia yang ekspresinya selalu datar, kecuali Paman Tino, hanya ia yang berwajah tegang dengan perkataan istrinya.


"Cih, si Bibi, berani-beraninya ia menyindirku terang-terangan begini, untung saja dia bibi kesayangan Litha. Huh! Di mata keluarga istriku yang menganggapku Tuan Muda hanya Paman Tino."


Ray memaksakan senyumnya dengan kaku, ditambah lagi istrinya semakin memberi peringatan keras.


"Kalau Bibi sampai menjemputku nanti, itu artinya tidak ada kesempatan kedua. Aku akan di Kota A selamanya dengan anakku."


"Lithaaaaaa .... !" pekik Ray dalam hati, senyumnya sudah tidak bisa dipaksakan lagi dan emosinya sudah naik ke mulutnya.


"Hei, kau hanya bisa pergi tanpa izinku. Kalau kau berani kabur, akan kukejar sampai dimanapun, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Hidup dan matimu ada di tangan suamimu, mengerti!!!"


Setelah berkata demikian Ray pergi begitu saja meninggalkan mereka. Semua melongo melihat kemarahan Ray yang tidak mereka sangka, padahal Bibi Rima dan Litha hanya bercanda.


"Hei, Tuan Muda Suamiku! Katamu kalau aku kabur kau akan mengejarku sampai dimanapun, kenapa sekarang kau yang meninggalkanku!" teriak Litha.


Langkah Ray terhenti, ia langsung berbalik, dan dengan memasang wajah dingin ia segera melangkahkan kakinya kembali. Bibi Rima merasa tidak enak bercanda tidak pada tempatnya apalagi Paman Tino, kakinya sudah gemetar.


"Jadi kau mau dikejar?" kata Ray menatap tajam netra istrinya.


Litha tidak bisa menjawabnya, jantungnya berdegup keras, hatinya seperti gelombang yang naik turun ditatap suami sendiri seperti itu. Tajam tapi tak menyakiti, tajam yang langsung menghunus rasa di hati. Tapi yang dilihat Paman Tino, Bibi Rima dan Vania yang belum terlalu mengenal Rayyendra, yang tidak mengenal arti tatapan matanya, mengartikan bahwa Ray sedang marah pada Litha.


"Ma-- maaf Nak Rayyendra, Bibi tidak bermaksud menyindirmu, Bibi hanya-- "


Belum habis perkataan Bibi Rima, Ray melu*mat bibir istrinya. Mata Litha terbelalak kaget, ia berusaha memberontak dengan mendorong badan suaminya yang sudah menempel padanya. Tapi bukan Ray jika tidak memaksa, di tekannya punggung Litha ke arah dadanya dengan satu tangan, satu tangan lainnya meraih tengkuk dan menekannya dengan lembut. Pagu*tan Ray semakin memabukkan Litha yang juga tidak bisa menahan gelora dalam dirinya. Tidak lagi terbelalak, kini Litha memejamkan matanya dan menikmati ciuman suaminya.


Bibi Rima dan Paman Tino salah tingkah menyaksikan kissing lip secara live di hadapannya, sedangkan Abyan sibuk menutup mata Vania yang juga sibuk membuka celah dari jari-jari tangan Abyan.


"Ini bukan untuk dilihat anak dibawah umur," sahut Abyan.


"Sedikit saja, Asisten Yan. Betapa indahnya mereka berciuman, kalau di kartun pasti ada lope lope yang bertebaran di sekeliling mereka," rengek Vania yang masih mencoba merenggangkan jemari Abyan di matanya.


Ehemmmmm ....


Pak Sas berdehem keras, sengaja untuk menghentikan aktivitas privat Tuannya. Benar saja, Ray. melepas pagu*tannya. Bibir Litha nampak kemerahan, ditambah pipinya yang juga merah seperti kepiting rebus, karena baru disadarinya ia melakukan ciuman di depan orang banyak. Ia tidak bisa mengangkat mukanya, malu sekali.


"Kemanapun kau pergi akan kukejar dengan ciuman seperti tadi. Jadi, jangan pernah berpikiran untuk pergi dariku," pungkas Ray masih menatap dalam netra istrinya, terlihat jelas ada cinta dan kejujuran di sana.


Litha berat sekali mengangkat wajahnya, ia masih malu sekali apalagi di depan Vania, ia sudah memberikan contoh yang tidak seharusnya.

__ADS_1


Litha pamit dengan wajah tertunduk, "Paman, Bibi dan Vania, kami pamit dulu ya. Nanti kalau Vania punya hari libur, sampaikan saja. Nanti kalian bisa mengunjungiku di Ibukota, hitung-hitung liburan."


Lucunya, Vania tidak merespon pamitnya Litha, dia hanya ikut menunduk menyembunyikan wajahnya, "Apa mungkin dia malu melihat Suamiku menciumku di depan matanya? Ah, Mas Rayyendra ini memang suka cari perkara. Mata adikku yang masih suci kini sudah ternoda," gerutu Litha dalam hati.


"Kamu kenapa, Sayang? Mau kucium lagi?" goda Ray membelai pipi Litha.


"STOP! Jangan berlaku dan bicara sembarangan, ada anak dibawah umur disini!" sungut Litha mengalihkan rasa malunya dengan melirik adik perempuannya.


Huahahahahaha ....


Kontan saja semua terbahak termasuk Ray, kecuali Vania karena masih saja tertunduk.


"Pasti kau malu kan, Sayang? Makanya jangan mengerjaiku," bisik Ray di telinga Litha yang dijawab dengan dengusan kasar. Lagi-lagi Ray terbahak.


"Hahahaha ... Semuanya, kami pamit ... Kami akan kabari jika sudah sampai disana," ujar Ray berpamitan yang dijawab dengan anggukan kepala. Lalu mereka menuju tangga pesawat dan berbalik sekali lagi melambaikan tangan tanda perpisahan.


Litha akan memulai hidupnya sesungguhnya di Ibukota menjadi Nyonya Pradipta, menjadi seorang istri dan ibu. Tidak ada yang lebih penting dari suami dan anaknya, dan sekarang mereka berdua yang menjadi prioritas utama.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Hampir 3 bulan Ray meninggalkan Ibukota dan kini ia kembali memboyong istri dan calon anaknya. Kebahagiaan yang mendampingi hidupnya semakin membuatnya bersemangat untuk bekerja. Sepanjang perjalanan di atas pesawat ia sibuk dengan apa saja yang telah menjadi rencana dam sasaran bagi Pradipta Corp. ke depan, sedangkan Litha dimanjakan dengan berbagai makanan dan pemandangan langit dari jendela pesawat.


"Tuan atau Ray?" tanya Abyan menanyakan sebutan untuk memanggil Tuan Mudanya.


Litha yang menjawabnya, Abyan terkekeh melihat Ray mendengus sebal karena tidak bisa membantah istrinya.


"Baik, Nyonya, terima kasih atas pengertiannya." Abyan sengaja menekankan kata Nyonya di kalimatnya, Ray terlihat makin kesal dibuatnya.


"Ray, AutoTech Inc. sudah memberikan respon terkait penawaran kerjasama yang kita tawarkan bulan lalu. Ini sangat bagus sekali Ray mengingat baru kita perusahaan di Asia yang direspon oleh mereka. Direktur mereka akan menemui kita langsung minggu depan," kata Abyan seraya memperlihatkan email balasan dari perusahaan tersebut di laptopnya pada Ray yang tengah mencium rambut Litha yang ada di jemarinya.


"Lith, wangi rambutmu saja sudah membuatku terhanyut, apalagi aroma khas tubuhmu. Ah, shitt! bicara apa aku, ngelantur di saat begini," ucap Ray dalam hati menelan salivanya.


Litha yang sedang menikmati buah segar menoleh memperhatikan gelagat suaminya, lalu ia kembali menikmati santapannya


"Bagus sekali! Padahal aku sudah pesimis karena banyak perusahaan besar di Asia juga ikut menawarkan kerjasama dengan AutoTech Inc."


"Tapi-- Ada satu syarat yang harus kita penuhi. Kalau kau tidak menyetujuinya maka AutoTech Inc. tidak mau menjalin kerjasama dengan Pradipta Corp. sekarang ataupun nanti."


Abyan melirik Litha di yang sedang menikmati sajian buah segar di samping kanan suaminya dan berada di sisi jendela.


"Siapa dia hingga bisa menentukan kebijakan AutoTech Inc.?" tanya Ray dengan mulut penuh potongan buah karena disuapi istrinya.


"COO ini anak dari adik perempuan Mr. Anderson, CEO AutoTech Inc. dan apa yang dinilainya dari sudut pandangnya berpengaruh besar dalam keputusan yang diambil Mr. Anderson." jawab Abyan sembari mengembalikan posisi laptopnya ke tempat semula, di hadapannya.

__ADS_1


"Oke, apa syaratnya?"


Ray bergantian mengambil garpu yang dipegang Litha dan menyuapkan beberapa potong kiwi ke mulut istrinya.


"Terimakasih, Tuan Muda Suamiku ... " sahut Litha tersenyum sambil mengunyah, memperhatikan lagi gelagat suaminya.


"Syaratnya, saat ia datang untuk membicarakan proposal penawaran yang kita ajukan kemarin, ia minta agar Nyonya Pradipta diikutsertakan dan akan ikut dalam diskusi. Pendapat Nyonya Pradipta yang akan menentukan apakah proposal kita akan dilanjutkan ke Mr. Anderson atau tidak." Abyan mengatakannya tanpa melihat Rayyendra, matanya difokuskan ke layar laptopnya.


"Apa!!!" pekik Ray, ia refleks menjatuhkan garpu yang tadi dipegangnya. Litha pun melongo mendengarnya.


"Kenapa aku? Siapa aku?" Litha bertanya-tanya dalam hati.


Abyan sudah mengira Ray akan bereaksi seperti itu, makanya ia tidak mau melihatnya.


"Entahlah Ray, apa maksudnya. Jangan bertanya padaku karena dia juga tidak memberikan alasannya, nanti kau bisa menanyakan langsung padanya saat bertemu."


"Karena dia sudah terpesona pada istrimu, Bocah Egois. Hahahahahahahah ..... " bathin Abyan.


"Kapan waktunya?"


"Untuk pastinya kapan, dia belum memberitahukannya. Apa kau menyetujui syaratnya, Ray?"


"Ck, oke kan sajalah. Nanti kita lihat apa yang sebenarnya dia mau," jawab Ray menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, tangan kanannya menggera*yangi paha kiri Litha sampai ke bagian pangkal pahanya bagian dalam.


"Siapkan saja jantungmu kalau kau bertemu dengannya, Tuan Muda. Hhhhhhh .... Sempat-sempatnya tangannya itu mengajak mesum Litha di depanku, cih!" gerutu Abyan dalam hati jengkel karena menangkap pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.


"Hahahahaha ... kenapa dengan wajahmu, Yan? Tidak suka melihatku dengan istriku? Makanya jangan kelamaan jomblo, hahahahahaha..... Litha saja tidak protes pahanya kuraba, eh, malah kau yang belingsatan hahahahaha .... "


"Sayang, kau tidak keberatan kan, dengan syarat direktur itu? Kau ikut dalam pertemuan nanti dan mengutarakan pendapatmu tentang penawaran kita." tanya Ray dengan mencium-cium pundak Litha yang masih saja mengunyah. Ia sengaja melakukannya untuk menggoda Abyan.


"Boleh, tapi singkirkan dulu wajah tampanmu itu dari pundakku juga tanganmu dari pahaku, Mas. Semua ada tempatnya, kau mau mengajarkan anak kita menjadi orang yang tidak tahu malu. Dan Asisten Yan, nanti berikan aku segala hal yang berhubungan dengan penawaran yang dimaksud untuk aku pelajari," ujar Litha sambil menggeliat menghindari wajah suaminya.


"Ppppffffttttt .... pasti Nyonya ... pasti akan kuberikan."


Abyan menahan tawanya melihat muka Ray yang asam. Ia anggap apa yang barusan Litha katakan sebagai pembelaan untuknya.


"Oke, begitu sudah ditempatnya, habis nanti kau, Lith"


Ray melepas tangannya dan menjauhkan wajahnya dari istrinya. Ia mulai mengatur nafasnya , menurunkan sesuatu yang nampak berdiri di balik celana bahannya, dan itu semua dilihat istrinya sejak awal.


"Aihhh ... aku harus cari alasan supaya nanti dia tidak menghabisiku. Hhhhmmmppphhh... "


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2