
Nguing ... Nguing ... Nguing ...
Lampu rotator menyala dan sirene bersahut-sahutan dari tiga mobil ambulans yang sedang membelah jalan di keheningan tengah malam.
Entah bagaimana kabar begitu cepat menyebar hingga di halaman rumah sakit sudah banyak pewarta berita berlomba-lomba memberitakan tragedi di Jalan Perkawanan yang melibatkan seseorang yang banyak diperbincangkan beberapa hari terakhir.
Termasuk Nezar, yang sudah siap dengan kamera di tangannya, tapi hatinya tidak tenang begitu mendengar kabar dari seniornya bahwa Tuan dan Nyonya Pradipta tersangkut di tragedi itu.
"MUNDUR! MUNDUR! BERI JALAN!" teriak lantang seorang kru rumah sakit menyibak pewarta berita di halaman rumah sakit yang menutupi akses pintu IGD.
Satu persatu brankar dari ambulans diturunkan. Pertama, seorang ibu hamil yang bersimbah darah, bahkan darah masih saja mengalir meski sudah ditekan kuat oleh seorang pria yang tampilannya sangat berantakan. Ia ikut berlari mengimbangi roda yang di dorong cepat oleh perawat ke dalam IGD.
Kedua, brankar yang terisi oleh seorang pria tua yang tidak bergerak dan tidak terlalu banyak mengeluarkan darah, juga didorong cepat oleh perawat diiringi lari seorang lelaki yang wajahnya sangat tegang dan cemas dengan keadaan Sang Paman.
Ketiga, seorang wanita dengan luka tembak di bagian dadanya, namun yang mengiringnya adalah dua orang anggota polisi.
.
.
.
Nezar menyusup di antara petugas tenaga medis, bukan mencari berita, tapi ia ingin mencari tahu kondisi terakhir BeautyHeartPradipta-nya.
Ray sudah tidak dapat menahan airmatanya ketika dokter mengatakan bahwa istrinya kehilangan banyak darah akibat luka tusuk di arteri subklavia kirinya.
Dalam anatomi manusia, arteri subklavia dipasangkan arteri utama dari dada bagian atas , di bawah klavikula (tulang) . Mereka menerima darah dari /lengkung aorta. Arteri subklavia kiri memasok darah ke lengan kiri dan arteri subklavia kanan memasok darah ke lengan kanan, dengan beberapa cabang mensuplai kepala dan dada. (Sumber: Wikipedia)
"Tuan Muda, Nyonya harus segera dioperasi dan melakukan transfusi darah. Nyonya mengalami exsanguination atau pendarahan besar-besaran, sekitar 25%. Sekarang Nyonya mengalami hypovolemic shock dan membutuhkan darah sekitar 3 sampai 4 kantong darah. Sayangnya, golongan darah Nyonya adalah O rhesus (Rh) negatif yang tidak banyak dimiliki orang. Saat ini di bank darah Ibukota hanya tersedia 2 kantong saja." jelas seorang dokter yang menangani Litha.
"Golongan darah saya O dokter, ambil saja darah saya!"
"Saya harus memastikan dulu rhesus golongan darah Tuan karena ibu hamil dengan rhesus negatif harus menerima darah dari rhesus yang sama," kata dokter itu lagi.
"Sama saja dokter! hanya berbeda di plus min saja, apalah artinya itu," cebik Ray gelisah.
"Tidak bisa Tuan, golongan darah Nyonya hanya dapat menerima dari golongan darah yang sama dengan rhesus yang sama juga, kalau tidak akan sangat berbahaya bagi tubuh Nyonya."
Amarah Ray kembali terpantik, tapi Abyan mengusap pundak Ray, "Jangan keras kepala! Dokter yang lebih tahu. Kita siapkan saja siapa yang memiliki golongan darah O, untuk rhesusnya biarkan mereka yang memeriksanya."
Ray memejamkan matanya sejenak, mengambil nafas, "Umumkan segera semua karyawan Pradipta Corp. yang memiliki darah O untuk ke rumah sakit sekarang kalau tidak mau kupecat!"
"Dokter, cek rhesus golongan darahku sekarang!" titahnya pada Sang Dokter.
Nezar yang mendengar dari balik tembok sebelah terdiam dan matanya membeliak. Seketika ia ingat seorang petugas dari puskesmas pernah mengatakan padanya kalau golongan darahnya bersifat universal, artinya ia bisa mendonorkan ke semua golongan darah dan semua rhesus. Ia bisa menjadi malaikat penolong. Sayangnya, ia harus menjaga dirinya karena darahnya hanya bisa menerima dari golongan dan rhesus yang sama. Dengan kata lain, golongan darahnya sama dengan Nyonya Pradipta, O Rh negatif.
Tanpa menunggu ia langsung berlari menuju ruang transfusi darah dan mendonorkan darah sebanyak yang bisa ia berikan.
.
.
.
Ray duduk dengan wajah kusut menunggu hasil pemeriksaan rhesus golongan darah. Ia baru tahu bahwa dalam transfusi darah, min plusnya dan itu memiliki peranan penting. Ia pun baru tahu juga kalau ibu hamil yang memiliki golongan darah Rh negatif harus diberi perhatian khusus. Sedangkan ia tidak tahu thesusnya negatif atau positif. Jika ia dan istrinya ternyata memiliki rhesus yang berbeda dan bayi mereka mengikuti rhesusnya, tentu saja memiliki kemungkinan bahaya. Untungnya, untuk kehamilan pertama masih bisa diselamatkan, tapi tidak untuk kehamilan berikutnya. Itu sedikit info penjelasan dari petugas laboratorium saat darahnya diambil.
"Ya Tuhan, mengapa Engkau menciptakan darah dengan segala kompleksitasnya?" gumamnya lirih.
Abyan hanya menepuk pundaknya lagi tanpa mengucapkan sepatah kata, membantu menguatkan.
"Tuan Muda," panggil Sang Dokter didampingi petugas laboratorium.
Ray dan Abyan berdiri, siap mendengar hasilnya.
"Tuan, Golongan darah Anda O rhesus positif."
__ADS_1
Seketika Ray luruh ke bangku di depan pintu laboratorium. "Litha ... Maafkan aku!"
Airmatanya menetes, kepalanya tertunduk dalam. Ia merasa tidak berguna sama sekali sekarang, bahkan kekayaannya yang tidak bisa dihitung juga tidak bisa merubah keadaan rhesusnya.
Abyan pun terdiam untuk sesaat, tangannya meremas pundak Ray yang duduk. Dalam hati ada ketakutannya akankah terulang kisah yang sama 30 tahun lalu, saat dimana akhirnya seorang ibu memilih kehidupan bayinya daripada kehidupannya sendiri.
"Ya Tuhan, apakah harus terjadi lagi. Bagaimana Ray akan menghadapinya ..." tanpa sadar ia meremas kuat pundak sahabatnya dengan mata terpejam.
"Tapi Tuan, hidup Nyonya diberkati. Saat ini ada seorang pemuda yang memiliki O rhesus negatif dengan sukarela mendonorkan darahnya untuk Nyonya. Ia tidak mau diberitahukan identitasnya. Katanya ini bentuk rasa terimakasihnya pada Nyonya," ujar Sang Dokter.
Ray spontan berdiri kembali, jantungnya berdegup kencang begitu juga dengan Abyan.
"Be-- benarkah, Dokter?" tanya Ray tidak percaya.
Dokter senior itu hanya mengangguk sembari tersenyum, "Berdoalah Tuan Muda. Kami akan segera menyiapkan operasinya, tolong tandatangani surat persetujuannya dulu."
"Ray, Nyonya adalah orang baik, banyak yang mencintainya, bukan hanya dirimu. Akan kucari tahu siapa pemuda itu dan kenapa sampai ia sukarela mendonorkannya, padahal bisa saja kau memberinya apapun yang dia minta," kata Abyan yang ditanggapi anggukan Rayyendra.
.
.
.
Nezar memegangi titik tempat bekas jarum ditancapkan di dekat pelipatan siku saat pengambilan darah. Ia sempat berdebat dengan petugas medis yang mengambil darahnya, ngotot untuk terus diambil darahnya karena ia tahu Nyonya Pradipta membutuhkannya banyak, sedangkan biasanya seseorang diambil darahnya hanya satu kantong atau 470 ml. Akhirnya petugas medis itu mengambil kantong darah satu lagi daripada pemuda itu nekat mengamuk di dalam ruangan donor.
"Zar, kemana saja kamu? Semua pada sibuk mencari berita, kamu malah hilang entah kemana," cecar Senior Nezar.
"I-- iya Kak, Ada urusan mendesak tadi. Ada kabar terbaru apa Kak?"
"Tiga korban dalam keadaan kritis, Nyonya Pradipta dan asistennya, serta seorang wanita yang menurut rumor mantan kekasih Tuan Pradipta yang kamu foto kemarin. Dia tertembak katanya, sedangkan yang menembak kabur belum tertangkap ... Polisi masih mencarinya, hanya anak buahnya saja yang audah tertangkap."
"HAH!!!" pekik Nezar, kakinya langsung diinjak Si Senior karena mengundang semua mata menatap mereka.
"Pelankan suaramu! Masih rumor, aku masih mencari faktanya. Kau carilah foto yang tidak biasa, seperti waktu itu. Babun akan membeli fotomu dengan nilai tinggi."
"Cepatlah! Cari foto itu, sana ... sana!" usirnya.
"Oke Kak," sahut Nezar lalu berbalik arah mencari sesuatu yang 'bernilai'.
Ia kembali menyusup masuk ke dalam rumah sakit. Ia sangat pintar berbaur tanpa terlihat mencolok diantara lalu lalang orang, pasien, tenaga medis maupun polisi dan ia menuju ruang operasi. Dua lampu di atas pintu menyala menunjukan dua ruangan operasi itu sedang bekerja.
Adanya Tuan Muda dan beberapa orang yang menemaninya di depan salah satu pintu ruang operasi cukup jadi penanda bahwa di dalam adalah Nyonya Pradipta, sedangkan pintu satunya hanya ada seorang wanita paruh baya yang duduk menangis, kemungkinan dia ibu dari pasien di dalam.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Nezar membidik kamera dari angle yang pas sehingga menghasilkan gambar yang dramatis. Keputusasaan dan harapan di wajah Tuan Muda sangat nampak dari foto yang diambilnya, sedangkan foto di sebelahnya hanya ada sebuah keputusasaan.
.
.
.
"Ini akan menjadi trending berita besok pagi, Yan," ujar Firza yang menemani Abyan melihat pamannya di beri tindakan yang tidak kalah kritisnya.
Pendarahan otak akibat benda tumpul yang dipukulkan oleh John di bagian belakang kepala Pak Sas menyebabkan mati batang otak dan pendarahan di dalam otak. Karena di bagian itu adalah tempat yang paling sensitif (khususnya bagian bawah kepala). Terdapat otak kecil yang jika terkena pukulan akan mengakibatkan meninggal dunia atau gangguan jiwa. Di kepala banyak sistem syaraf koordinasi yg berfungsi sebagai penerima dan penyalur rangsangan dari luar tubuh ke otak.
Abyan memandangi tubuh lemah pamannya dari balik dinding kaca ruang ICU. Perasaannya campur aduk, antara marah, sedih dan menyesal, karena kedatangannya yang terlambat juga tidak merespon telepon pamannya karena kebiasaan buruknya yang sering memodekan senyap ponselnya.
"Aku tidak menyangka Ramona bakal senekat itu atas nama cinta. Heh, bahkan dia melindungi Ray dari tembakan Sebastian," kata Firza lagi memandang Pak Sas yang tubuhnya penuh dengan peralatan medis.
"Kenapa dia tega sekali mencelakai putrinya sendiri ... Jelas-jelas Ramona berada di depan Ray, tapi ia tetap menembak. Apa yang ada di kepalanya sampai menembak anaknya sendiri?"
Dengan menahan marah, Abyan menjawab, "Sebastian memiliki dendam pada Keluarga Pradipta karena wanita yang ia cintai memilih ayah Rayyendra. Dia ingin menghancurkan Keluarga Pradipta dengan mengambil alih semua kekayaannya. Karena ia tidak memiliki anak perempuan yang akan ia jodohkan dengan Ray, maka ia mengadopsi seorang anak perempuan korban kebakaran, dan anak itu adalah Mona."
__ADS_1
"Adopsi ... anak perempuan ... korban kebakaran ..." gumam Firza dalam hati bingung.
"Kau tahu darimana cerita masa lalu seperti itu?" tanya Firza menyelidik.
"Dari dia ... pamanku. Bukankah dia dan Pak Is yang paling tahu sejarah Keluarga Pradipta."
Abyan menatap hampa ke arah pamannya, entah apa yang ia rasakan, tapi ia tahu hidup pamannya tidak akan bertahan lama.
"Pak Sas pamanmu?" tanya Firza tercekat.
Abyan mengangguk, matanya tak lepas dari sosok pamannya
"Apa Ray tahu semua ini?"
Abyan menggeleng lemah, "Dia tidak tahu apa-apa. Pak Sas baru memberitahuku semuanya beberapa bulan lalu. Kisah tragis seorang ibu yang memilih nyawanya untuk diberikan pada bayinya saat Ray lahir. Sebastian adalah biang keladi semua ini. Ray tidak tahu kalau Pak Sas adalah kakak ibuku. Dia juga tidak tahu Ramona diadopsi dan diperalat hanya untuk tujuan dendam pribadinya. Ironisnya Ramona justru terjebak dengan permainan yang diciptakan Sebastian."
Abyan menghela nafas panjang yang berat, "Aku tidak ingin Rayyendra terbebani jika ia mengetahui semuanya. Ia baru merasa kebahagiaan sesungguhnya bersama Litha. Aku tidak menyangka Sebastian bisa segila ini. Apa Tuhan tidur hingga baji*ngan bang*sat itu bisa kabur? Atau Tuhan sedang menyiapkan suatu penghakiman buatnya?"
Suaranya bergetar, menggeram tertahan, ada amarah yang sangat ia tahan. Melihat pamannya yang selalu perkasa di matanya menjadi lemah tak berdaya dan sekarang hidupnya di topang dengan alat-alat yang menempel di badannya, sangat menyakiti hatinya.
Tap ... Tap ... Tap ...
"Abyan, bagaimana keadaan pamanmu?"
Lidya datang berlari mendekati mereka, tangannya merayapi dinding kaca ICU dengan deraian airmata yang mengalir deras.
"Maaass... " lirihnya pilu.
Abyan sekuat tenaga menahan tangisnya.
"Bu, Paman menjaga Nyonya hingga akhir. Ia menepati janjinya, tidak akan ada penyesalan meski hal terburuk terjadi. Paman tidak akan kehilangan muka jika bertemu Nyonya Besar nanti."
Luruh juga airmata lelaki yang selalu bijaksana itu, bagaimanapun hatinya jelas tersayat ditinggalkan pria yang selama ini menjadi pengganti ayahnya.
Lidya menangis hebat, tersedu-sedu mendengar kalimat putranya. Semenjak ayahnya menelantarkan mereka setelah ibu mereka meninggal, tumpuan harapan hanya ia letakkan pada Sasmita, saudara satu-satunya yang ia miliki. Meski hidup hanya beratapkan langit dan beralaskan tanah, ia tidak pernah merasa sedih ataupun takut selama ia dalam penjagaan kakaknya.
Hanya satu kali ia merasa hidupnya hilang, ketika nyawa kakaknya berada di ujung tanduk akibat terluka saat berusaha menyelamatkan diri dari mafia penjual organ tubuh manusia, namun kemudian diselamatkan Nyonya Besar. Kini perasaan itu muncul lagi dan kian terasa nyata. Lidya bahkan lebih tegar saat suaminya meninggal, tapi tidak jika ia harus kehilangan kakaknya, ia belum siap.
"Paman ..." gumam Abyan tercekat saat sejumlah dokter dan perawat dengan sigap masuk ke dalam ICU melakukan tindakan medis pada tubuh pamannya.
Ia segera memeluk Lidya, membuat ibunya membelakangi dinding kaca ICU agar tidak melihat apa yang terjadi di dalam. Airmata wanita paruh baya itu membasahi bahu putranya, membagi segala lara yang ia rasakan.
Tiiiitttt ....
Elektrokardiogram berbunyi panjang dan monitor menampakkan garis lurus tanpa henti. Seorang dokter berusaha memberikan resusitasi (tindakan yang diberikan pada seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung oleh sebab apapun), namun tidak berhasil.
Abyan menutup kedua matanya dan memeluk kuat Sang Ibu, tubuhnya berguncang tanpa suara. Lidya tahu apa yang telah terjadi, ia mengusap pelan punggung putranya, "Lepaskan, Abyan. Jangan kau tahan tangismu ..."
AAAARRRRGGGGGHHHHH ...
Seketika suara tangisan dari seorang lelaki meraung keras menyayat hati seiring malam mulai berganti pagi. Tak pernah hatinya sesakit ini. Paman kesayangannya telah meninggalkannya untuk selamanya.
- Bersambung -
Sekilas info:
Saat melakukan transfusi darah, penerima donor dengan Rh+ bisa menerima darah pendonor Rh+ ataupun Rh- sedangkan penerima donor dengan Rh- hanya bisa menerima donor darah dari pendonor yang memiliki Rh-. Apa jadinya Rh- menerima darah darah dari Rh+? Bila kondisi ini terjadi, maka bisa terjadi komplikasi yang berbahaya.
Pemilik golongan darah O Rh positif (dalam kisah ini adalah Rayyendra) dapat mendonorkan darahnya ke siapa pun dengan golongan darah rhesus positif, seperti A+, B+, AB+, dan O+. Namun, pemilik golongan darah O Rh positif hanya bisa menerima transfusi darah dari golongan darah O Rh positif juga atau O Rh negatif.
Sedangkan golongan darah O Rh negatif (dalam kisah ini adalah Litha) sering disebut juga “donor universal” karena siapa pun dapat menerima sumbangan sel darah merah dari pemilik golongan darah ini. Namun, pemilik golongan darah O Rh negatif hanya dapat menerima darah dari golongan darah O Rh negatif juga.
Pada orang yang mengalami trauma besar dan kehilangan banyak darah, banyak rumah sakit mentransfusikan darah O positif, bahkan ketika golongan darah pasien tidak diketahui. Hal ini karena risiko terjadinya reaksi jauh lebih rendah dalam situasi kehilangan darah yang sedang berlangsung dan persediaan darah O+ biasanya lebih banyak dari O-. Karena itu, darah O+ sangat penting dalam perawatan trauma.
Begitu juga dengan golongan darah tipe O negatif. Golongan darah O negatif juga paling umum digunakan untuk transfusi ketika golongan darah tidak diketahui. Inilah sebabnya darah O- paling sering digunakan dalam kasus trauma, darurat, pembedahan, dan situasi di mana golongan darah tidak diketahui. O- adalah golongan darah yang universal, sehingga suplai golongan darah ini seringkali yang pertama kali habis.
__ADS_1
(Berbagai sumber dari Google)
Kalau Kakak Readers, golongan darahnya apa nih?