
Tidak terasa dua bulan berlalu sejak Litha dan Ray menikah. Firza telah kembali ke London, namun ia belum merelakan Litha sepenuhnya, hatinya perih melihat kebersamaan Litha dan Ray, meski demikian doa terbaik untuk keduanya.
"Yan, bagaimana perkembangan proses pengalihan harta warisan Nenek?"
"Sudah saya hubungi Pak Prasojo, katanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena kekayaan Nyonya Besar sangat banyak, Tuan."
Mata Ray memandang ke luar jendela, "Kenapa Litha meminta 20 persen bagian untuk Firza? Bisa saja dia minta untuk dirinya sendiri?"
Abyan hanya diam, tidak menjawab gumaman Ray.
"Yan, apa menurutmu ada rencana mereka di belakangku? Apa setelah kami bercerai, Litha akan bersama Firza?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi setahuku, Nyonya bukan orang licik yang memanfaatkan sesuatu."
"Hmmmpppfffhhh ... dia melayaniku sangat baik sekali, bahkan aku sudah terbiasa dengan semua yang dia lakukan untukku. Dari buka mata hingga mau tidur kembali," keluh Ray.
"Anda menyukainya, Tuan?"
"Ya, aku menyukainya. Suka dengan ekspresi wajahnya, caranya dia melayaniku, cara dia berdebat denganku, cara berpikirnya dan bibirnya kalau mengomel. Kau tahu Yan, sebisa mungkin aku menahan diri untuk tidak menciumnya meski kadang kebablasan juga."
"Litha sangat kompleks buatku. Dia bisa membuatku nyaman dan membuatku merasa aneh kalau tidak melihatnya di rumah. Aku takut aku tidak bisa melepaskannya nanti," sambung Ray.
"Ya ... jadikan saja Nyonya istri Tuan yang sesungguhnya kalau Tuan menyukainya."
"Hahahahahaha ... bisa-bisa aku dilempar piring dan gelas, Yan. Bona saja dihajarnya hanya karena mencium temannya."
"Litha sudah menaruh hatinya pada Firza, coba kau bayangkan saja 20 persen kekayaan Pradipta dialihkan ke Firza tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya." Ray masih melanjutkan kerisauannya.
"Bagaimana dengan Nona Ramona, Tuan? Dia masih mengharapkan Tuan dan Tuan memberikannya harapan," tanya Abyan.
"Perasaanku ke Ramona sekarang lebih ke arah kasihan, Yan. Dia diperalat ayahnya sendiri untuk mencari keuntungan. Aku menyayanginya, tapi lebih seperti saudara mungkin karena aku tidak ingin memilikinya."
"Tapi Ramona menganggap sebaliknya, Tuan."
"Karena itulah, aku takut dia akan menyakiti dirinya sendiri kalau aku mengatakan perasaanku padanya sudah tidak seperti dulu."
"Anda lebih menyakitinya lagi kalau terus membiarkan berlarut-larut seperti ini."
"Entahlah Yan, aku pusing memikirkan semua ini. Ada kabar Sebastian setelah ia dipecat?"
"Sementara ini tidak ada, Tuan. Dia sudah pindah ke rumah yang lebih sederhana, semua aset yang dia miliki telah kami sita."
Ray mengangguk mengerti, pikirannya melayang ke Litha. Masih teringat jelas percakapan tadi malam di sofa kamar.
"Ray, apa ada kabar tentang proses balik nama? Sampai dimana progressnya? Berapa lama lagi aku menjadi istrimu?"
Litha bertanya bukan tanpa alasan, dia hanya ingin pergi dari rumah utama Keluarga Pradipta, ia tidak ingin perasaannya semakin sulit ia kendalikan. Perasaan nyaman jika di samping Ray, meski hanya mengobrol dan saling mencela. Ia tidak ingin berharap karena sejak awal ia tahu, tempatnya bukan disini.
"Entahlah, nanti kutanyakan. Kau tidak betah disini ya?"
"Bisa jadi, aku lelah mengurusimu yang makin hari semakin manja. Kau kira aku ibumu apa?"
"Aku memang belum pernah merasakan punya ibu, apa punya ibu membuat kita jadi manja?"
Litha sadar ia salah bicara. Ia menyesal mengungkit kata ibu pada Rayyendra. Betapa malang hidup Ray yang tidak pernah mengenal sosok ibu.
"Apa boleh aku meminjam tanganmu?" Litha meminta izin. Ray menjawab dengan isyarat mata. Litha menangkupkan kedua tangannya di salah satu telapak tangan suaminya.
"Aku minta maaf, Ray. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Aku salah membawa kata ibu padamu," ujar Litha merasa bersalah.
__ADS_1
"Heheh, tidak apa-apa Lith. Aku sudah terbiasa apatis dengan kata ibu. Bahkan dulu saat kelas 1 SD aku dibilang berasal dari buah kelapa yang ditemukan Nenek ditengah hutan, hahahaha ...."
Ray tertawa, tapi ada kegetiran yang jelas dalam tawanya dan Litha menangkap itu.
"Boleh aku memelukmu?"
Selama ia mengenal Rayyendra, baru kali ini Litha ingin memeluk suaminya, kini ia merasa jauh lebih beruntung dari suaminya, meski hidup tidak bergelimang harta, namun ia lebih dari cukup mendapat kasih sayang dari ayah dan ibu.
"Tentu saja."
Litha memeluk Ray agak lama. Memeluk dengan segenap hatinya dan mengusap lembut punggungnya. Ray terbawa suasana, suasana rindu akan sosok ibu dan rindu kehilangan neneknya, tanpa ia sadari ada setitik air keluar dari sudut matanya.
Wanita yang memeluknya ini luar biasa hebatnya, dia bisa mentransfer semua rasa kasih sayang hingga Ray bisa merasakan rindu dan menghilangkan apatis yang selama ini bercokol di hatinya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Ninda ... !!!" seru Bona memanggil Ninda
Bona kini berada di kampus Z, nekad bertemu Ninda disini karena gadis selalu menghindarinya.
"Ngapain kamu disini?" tanya Ninda heran.
"Kau tidak pernah mengangkat teleponku."
"Urusan kita sudah selesai. Jangan ganggu aku lagi."
"Tapi Nin, Mami sakit."
"Terus hubungannya denganku apa?"
"Mami ingin kau menemuinya."
Bona memegang kepala dengan tangan kanannya, gadis ini sulit ia taklukan. Bukan, bukan semata-mata karena maminya yang terus menanyakannya tapi ia sendiri penasaran dan tertarik. Awalnya Ninda yang menawarkan untuk jasa pemain peran dibayar, begitu Bona serius ingin melanjutkan perannya, dia menolak. Maunya apa?
Dari kejauhan, Evan melihat Ninda berbicara dengan seorang pria. Evan nampak familiar dengan wajahnya. Ah, yaaaa.... Dia Tuan pemilik klub malam yang ia hancurkan beberapa bulan yang lalu.
"Permisi Tuan, apa yang Anda lakukan disini?" tanya Evan.
"Kau....?" Bona berusaha mengingat lelaki di hadapannya.
"Aku Evan, sepupunya Ninda."
"Ooh ya ... ya ... Bagaimana kabarmu? Kau sudah berterima kasih pada sepupumu yang menyelamatkanmu?"
"Hahaha ... tentu saja, itupun aku dihajarnya dulu. Tapi ada apa Tuan menemuinya disini. Bukankah urusan di klub kemarin sudah selesai?"
"Wah ... dia persis sama dengan temannya, main hajar. Ckckckckck ... Aku ada perlu dengan Ninda tapi ia tidak bersedia. Hhhhhhhhh ... mungkin kau ada cara bagaimana membujuk sepupumu yang galak itu?"
"Hahahahaha ... apa yang kudapat jika aku membantumu?" tanya Evan.
"Cih. Kau ternyata licik juga. Sepupumu sudah mengganti rugi semua perbuatanmu, sekarang malah kau mencari keuntungan darinya. Kalau aku calon suami sungguhannya, sudah kupatahkan tanganmu."
"Baiklah. Apa ini yang kau mau?" Bona menunjukkan kartu member VIP Amore Club & Party berwarna emas.
"Ah, ya.... Itu yang kuinginkan." Bona meraih kartu itu dari tangan Bona, tapi dengan cepat Bona menarik tangannya.
"Kau tahu kan fasilitas apa yang kau dapatkan dari kartu emas klubku. Jadi aku harap kau tidak mengecewakanku, kalau kau melakukannya, kau aendiri yang menerima akibatnya dan jangan harap Ninda akan membantumu lagi," ucapnya lagi memperingatkan.
"Tenang saja. Ninda tidak akan mengabaikanku."
__ADS_1
"Kau begitu yakin?"
" Tentu saja. Ninda adalah malaikat penjagaku. Kapan aku akan membantumu?"
"Aku akan menghubungimu."
Dalam hati Bona bertanya-tanya, apa ada kisah masa lalu antara Evan dan Ninda hingga Ninda sangat peduli pada Evan yang hanya sepupunya.
🍀 flashback on 🍀
#SMA Harapan Kita#
Ninda menangis di belakang toilet, tampilannya berantakan, ia habis dirundung habis-habisan oleh sekelompok siswi. Penyebabnya adalah Ninda dianggap terlalu imut untuk siswi kelas 1 SMA dan mereka yang merundung tidak menyukainya. Ninda dianggap noda bagi mereka yang tengah remaja.
Selama tiga hari ia berangkat ke sekolah namun sepanjang jam pelajaran ia di belakang toilet menangis.
"Ninda, kamu ngapain disini? Kukira kamu sakit dari kemaren aku nyariin. Untung belum kutanyakan sama Tante Murni." Evan kaget melihat Ninda berjongkok memeluk lututnya sembari sesenggukan.
"Aku takut, Van. Mereka selalu mengejekku dan memukulku," sahut Ninda masih terisak.
"Siapa?" tanya Evan kaget, siapa yang merundung sepupunya yang imut ini, Ninda yang ia kenal sangat baik dan manis, tidak suka mencari masalah.
"Renata dan teman-temannya." Ninda menjawab pelan dengan menunduk.
Renata adalah siswi yang terang-terangan selalu mencari perhatian pada Evan. Ia menyukai Evan yang tampan dan berbadan atletis karena Evan salah satu pemain basket favorit di tim sekolahnya, banyak siswi yang menyukainya termasuk Renata.
"Kenapa ia membullymu? Kau membuat masalah apa?"
"Wajahku. Ia tak suka wajahku, tidak tahu kenapa," adu Ninda.
"Aku takut masuk kelas, Van, dia dann gank-nya pasti akan mengerjaiku. Kalau pulang aku takut ditanya Mama, aku takut akan bertambah panjang nanti kalau aku mengadu ke Mama."
Evan berpikir sebentar. Ia tersenyum, kemudian merangkul sepupunya dan berkata pelan, "Ayo masuk, aku temani. Aku jamin ia tidak akan merundungmu lagi kalau perlu kau akan dijaganya."
"Tidak mungkin, Van. Yang ada dia akan menghabisiku."
"Udah, tenang ada aku. Yuk, kalau kamu gak mau, aku aduin ke Tante Murni. "
"Jangan, Van."
"Ya udah, ayo ... "
Ninda dengan langkah gemetar memeluk tasnya kembali ke kelas. Tangannya digandeng Evan, menuntun Ninda. Sesampainya di kelas, ia langsung mendekati Renata dan berbisik di telinga gadis berambut panjang itu.
"Ren, asal kau tahu Ninda adalah sepupuku yang paling kusayangi. Kalau kau ingin aku jadi pacarmu, alih-alih kau membully-nya, kau harus menjaganya dari siapapun yang melukainya."
Air muka Renata pias, ia tidak tahu kalau Ninda adalah sepupu dari siswa yang sangat ia sukai. Selama ini ia selalu diacuhkan oleh Evan dan sekarang Evan sendiri yang datang menukarkan dirinya dengan Ninda.
"Ma-- maaf aku tidak tahu ia sepupumu, Van."
" Nin, duduklah dan ikuti pelajaran seperti biasa. Pulang sekolah aku akan bertanya padamu bagaimana harimu di kelas dan jangan kau sembunyikan satupun dariku," ujar Evan ke Ninda.
"Ren, kesempatan tidak datang dua kali. Kau bisa memilih antara orang yang kusukai atau orang yang kubenci," sahutnya lagi sambil berlalu melewati Renata yang mematung.
Sejak saat itu, Ninda menjalani masa SMA dengan tenang. Ia tak lagi dirundung Renata dan gank-nya karena Evan bersedia memacari Renata hingga lulus. Evan mengorbankan perasaannya hanya untuk melindungi Ninda.
Sebab itulah Ninda berhutang budi pada Evan, bahkan saat Evan kepergok Ninda mengkonsumsi shabu-shabu, ia menutup mulutnya dari keluarga besar mereka. Ia paksa Evan untuk menjalani rehabilitasi secara mandiri hingga sembuh, untungnya Evan baru saja menjadi pemakai.
🍀 flashback off 🍀
__ADS_1
- Bersambung -